Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
The Wolf


__ADS_3

Mia terus berusaha untuk menolak. Sementara Adriano yang saat itu dalam pengaruh minuman, tetap memaksa agar Mia mau membalas ciumannya. Ia terus melu•mat bibir wanita malang itu dengan penuh nafsu.


Mia dapat memahami hal itu. Ia mencoba untuk memberikan sedikit toleransi, atas hilangnya kontrol dalam diri pria yang selama ini selalu bersikap sopan padanya. Namun, itu bukan berarti ia harus menerima, membalas, atau bahkan menikmati hal tersebut. Sekuat tenaga, Mia tetap berusaha untuk menghindar. Akan tetapi, tenaganya terlalu lemah untuk seorang pria bertubuh tegap seperti Adriano D’Angelo.


Pada akhirnya tak ada yang lagi yang bisa Mia lakukan. Wanita itu merasa lemas dan memilih untuk diam. Sedangkan air mata mulai membasahi pipinya, dan Adriano dapat merasakan hal itu.


Perlahan, Adriano membuka matanya. Ia juga melonggarkan cengkeraman kuat dari tangan Mia. “Mia ....” ia menangkup wajah polos wanita di hadapannya dengan suara isakan yang tertahan. “Maafkan aku ....” berat Adriano kembali berbicara dalam ruangan kedap suara itu. Akan tetapi, Mia tak ingin menanggapi permintaan maaf pria tersebut. Ia terlalu terkejut atas apa yang telah Adriano lakukan padanya.


Dengan segera, Mia mendorong tubuh tegap Adriano hingga menjauh. Ia pun mengusap bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan. Untuk sesaat, ia menatap nanar kepada pria yang kini terlihat menyesali sikap kurang ajarnya. Wanita itu pun kemudian berlari keluar tanpa memedulikan segelas air putih, atau buku-buku yang tergeletak di lantai berlapis karpet tebal. Mia hanya ingin segera menjauh dari Adriano.


Sementara Adriano masih berdiri terpaku. Dengan sisa kesadaran yang ada dalam dirinya, pria bermata biru itu mengusap wajah yang disertai sebuah helaan napas berat penuh sesal. Image baik dan sopan yang selama ini ia tunjukan di hadapan Mia, kini telah ia rusak dan ia hancurkan sendiri.


Adriano menurunkan tubuh tegapnya dan meraih buku-buku di atas lantai. Ia kemudian membawa buku itu keluar dari ruangan tersebut. Adriano merasa sangat kacau. Hatinya pun sakit. Padahal ia bisa mendapatkan wanita manapun yang diinginkannya. Akan tetapi, hanya untuk mendapatkan satu ciuman saja dari seorang Mia terasa begitu sulit bagi dirinya. Mungkin karena itulah, Adriano selalu menghindarkan dirinya dari kata jatuh cinta. Namun, kali ini ia tak berdaya. Sosok Mia telah merebut hati dan melumpuhkan logikanya.


Sementara itu, Mia sudah berada di dalam kamar. Ia bergegas menuju tempat tidur dan bersembunyi di dalam selimut. Matteo yang saat itu terbangun, merasa aneh dengan sikap sang istri. “Ada apa, Cara mia?” tanyanya.


Mia segera membalikkan badannya. Wajah polos itu terlihat semakin pucat. Sepasang matanya tampak sangat ketakutan dengan tubuh menggigil. “Theo, peluk aku!” pinta Mia. Ia berusaha untuk menahan tangisnya.


“Kau kenapa? Apa kau bermimpi buruk, Sayang?” tanya Matteo lagi dengan raut cemas. Sedangkan Mia tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan dalam dekapan hangat Matteo.


“Sudahlah, jangan takut. Aku ada di sini. Sebaiknya kau kembali tidur,” lembut Matteo mencium kening sang istri. Tak lupa, ia juga terus mengelus rambut pendek Mia, hingga wanita itu memejamkan mata dan terlelap dalam pelukannya.


Beberapa saat berlalu, Matteo tak lagi merasakan tubuh mungil istrinya gemetaran. Mia pun sudah kembali bernapas dengan teratur. Namun, benak Matteo mulai bertanya-tanya. Entah seburuk apa mimpi yang dialami sang istri, sehingga Mia benar-benar ketakutan seperti saat itu.


“Apakah kau memimpikan Valentino, Mia? Apakah kau memimpikan tragedi berdarah itu lagi?” bisiknya lirih. Namun, tentu saja Mia tak menjawab karena sudah tertidur lelap. Matteo sempat terdiam untuk sejenak. Lama-kelamaan ia pun ikut terbawa mimpi, dengan kedua lengan kokohnya yang terus memeluk sang istri.


Waktu merambat cepat, hingga tak disadari oleh kedua sejoli yang masih terbuai mimpi itu bahwa matahari pagi telah meninggi, dan terbit dengan gagahnya di atas kota Monte Carlo. Hiruk pikuk aktivitas manusia juga sudah berjalan sejak dini hari di mansion mewah Adriano.

__ADS_1


Seperti halnya di ruang makan dengan interior dan perabot berlapis emas itu, menu sarapan telah tersaji lengkap di atas meja. Adriano dan yang lainnya telah duduk di kursi masing-masing. Hanya Matteo dan Mia yang datang terlambat ke sana. Melihat kehadiran sepasang suami istri tersebut, Adriano segera menyapa mereka dengan hangat, tapi terlihat sedikit canggung. “Selamat pagi, Tuan de Luca,” sapa pria berkemeja hitam itu kepada Matteo.


“Selamat pagi, Tuan D’Angelo,” balas Matteo mencoba untuk seramah mungkin. Ia lalu menggeserkan kursi yang akan Mia duduki ke belakang, dan berbalas sebuah senyuman lembut dari wanita itu.


“Selamat pagi, Nyonya ....” Adriano mengalihkan tatapannya kepada Mia. Pagi itu, ia terlihat sangat segar dengan lipstik red cherry yang menghiasi bibirnya. Sesuatu yang sempat menjadi pusat perhatian Adriano saat itu.


Mia tidak membalas sapaan dari Adriano. Ia hanya mengangguk pelan tanpa menoleh kepada pria itu, sekadar untuk menghormati sang tuan rumah. Adriano pun sudah dapat memahami alasan Mia bersikap demikian. Namun, pria pemilik mansion mewah tersebut harus tetap dapat menjaga sikap dan tak boleh terlihat mencurigakan.


“Aku sudah menghubungi Valerie. Rencananya ia akan kembali hari ini dari Saint Petersburg. Ia terdengar sangat bersemangat saat kukatakan Anda ingin kembali mengajaknya ke bengkel perakitan senjata,” Adriano membuka percakapan dengan Matteo, meskipun ia harus terus berusaha menepiskan rasa canggung dalam hatinya. Sesekali, tatapan mata biru itu tertuju kepada Mia yang terlihat jauh lebih pendiam dari biasanya.


“Baguslah. Aku memang menyukai cara kerja Nona Nikolaev. Ia tak banyak bicara ketika sedang bekerja,” balas Matteo. “Ia juga sangat tekun dan cepat belajar,” lanjut pria bermata abu-abu itu seraya menyantap makanannya.


“Apa kau sakit, Mia?” tanya Francesca yang terlihat heran melihat sikap Mia pagi itu. Seketika wanita muda tersebut tampak sedikit gelagapan saat menoleh kepada Francesca.


“Aku rasa Mia masih memikirkan kejadian semalam,” ujar Matteo yang seketika membuat Adriano tersedak dan terbatuk. Pria itu segera meneguk minumannya.


“Memangnya ada apa semalam, Theo?” tanya Daniella penasaran.


“Jadi, semalam Mia ....” Matteo tak melanjutkan kata-katanya, karena terpotong oleh suara Adriano yang memanggil seorang pelayan. Pria itu meminta agar pelayan tersebut kembali mengisi gelasnya yang telah kosong.


“Mia kenapa, Theo?” Daniella terlihat tak sabar dengan apa yang akan Matteo katakan.


“Kenapa kau begitu penasaran, Dani?” sela Marco. Namun, akhirnya ia memilih untuk kembali melanjutkan sarapan ketika melihat Daniella melotot tajam padanya.


“Semalam, Mia terbangun pukul tiga dini hari dengan sangat ketakutan. Saat aku bertanya kenapa, ia menjawab jika dirinya mimpi dikejar oleh seekor serigala,” terang Matteo membuat Daniella tertawa geli.


“Astaga, Mia! Kau ini ada-ada saja. Itu hanya mimpi. Kau cukup mencubit tanganmu sendiri atau memukul pipimu,” ledek Daniellla. “Benar-benar mimpi yang tidak berbobot,” cibir gadis itu lagi.

__ADS_1


“Ayolah, Dani! Wajar jika siapapun merasa takut dengan hewan buas semacam serigala. Kau sendiri malah takut pada hewan semungil cicak,” balas Francesca. Ia seakan ingin membela Mia. Hal itu membuat Marco seketika tergelak.


“Diam kau, Francy! Aku tidak takut, aku hanya merasa jijik,” sanggah Daniella ketus. Ia lalu mendelik kepada Marco dengan tawanya yang penuh ejekan.


“Kau sendiri Francy, apa yang kau takutkan?” tanya Coco seraya melirik sang kekasih yang saat itu segera menoleh padanya.


“Aku? Aku hanya takut jika kau selingkuh, Ricci,” sahut Francesca dengan entengnya dan membuat yang lainnya tertawa lepas. Namun, tidak demikian dengan Mia. Wanita itu masih tampak sedikit murung. Adriano dapat melihat hal itu dengan jelas.


“Apa semua urusanmu di sini sudah selesai, Theo?” sela Mia di antara canda tawa saudari-saudarinya. Ia yang sejak tadi terdiam, kini mulai bersuara.


“Memangnya kenapa, Cara mia?” Matteo balik bertanya.


“Aku ingin agar kita secepatnya kembali ke Italia,” jawab Mia dengan segera.


“Ya, tentu. Jika kau ingin pulang, maka aku tinggal memajukan jadwal dan segera kembali, tapi kita belum sempat berjalan-jalan keliling kota,” sahut Matteo sedikit keberatan.


“Itu ide yang bagus, Theo! Selama ini aku hanya melihat Monaco dari gambar dan iklan televisi saja. Dari dulu aku sangat ingin berlibur kemari,” timpal Francesca antusias.


“Sebenarnya, aku pernah diajak kemari oleh mantan kekasihku, tapi aku menolak dan lebih memilih Kroasia. Jadi, kurasa sekarang saatnya untuk jalan-jalan mengelilingi negara ini,” Daniella pun mendukung keinginan adiknya.


Melihat semua orang yang seakan memaksanya, Mia merasakan sesak di dada. Bayangan Adriano yang memaksa untuk mencuri ciuman darinya kembali hadir dan benar-benar mengganggu. Rasa marah, sedih, malu, dan tak berdaya, bercampur menjadi satu membuat napasnya kian tak beraturan. Rasanya sulit sekali ia menghirup oksigen ke dalam hidungnya.


Tanpa sadar, sendok makan yang Mia genggam terjatuh saat jemarinya bergetar hebat. Sedangkan tangan kirinya kuat meremas dada untuk menghalau sesak yang semakin parah. Matteo melihat keanehan itu. “Cara mia, kau tak apa-apa?” tanyanya dengan raut yang terlihat sangat khawatir. Akan tetapi, Mia tak mampu menjawab. Wajahnya memucat seiring kadar oksigen yang semakin menipis di paru-paru. Pandangannya perlahan mengabur.


“Mia, jawab aku!" Matteo mencengkeram kedua lengan istrinya yang semakin melemah.


Adriano sigap berdiri dan mencoba menghampiri. Namun, ia teringat bahwa dirinyalah sumber ketakutan Mia, sehingga Adriano memilih untuk diam terpaku dan hanya bisa memperhatikan dengan pilu, saat wanita cantik itu kehilangan kesadarannya. Matteo segera membopong tubuh Mia dan membaringkannya pada sofa di dekat ruang makan.

__ADS_1


“Akulah serigala itu,” desis Adriano lirih.


 


__ADS_2