
“Sayang sekali karena aku juga tidak mengetahui alasannya dengan pasti, Tuan Detektif. Waktu itu, aku tengah dalam situasi berduka dan tidak dapat memikirkan apapun,” sahut Matteo datar.
“Aku bisa memahami hal itu, Tuan de Luca. Tak apa, itu akan menjadi tugas kami sebagai petugas untuk menyelidikinya,” Detektif Ranieri menanggapi kata-kata Matteo. “Aku ucapkan terima kasih atas kerja samanya kali ini. Aku akan sangat menantikan kembalinya Tuan Antonio ke Italia, agar kasus ini bisa segera diselesaikan dan tak semakin berlarut-larut,” tutup sang detektif.
“Oh, iya tentu saja. Kami akan menghubungi Anda kembali jika pamanku telah berada di Italia. Terima kasih atas pengertiannya, Tuan Detektif,” Matteo berdiri dan segera menyalami pria itu. Begitu juga dengan Marco dan Coco. Setelah itu, ketiga pria tersebut segera berpamitan dan kembali ke dalam jeep hitam Matteo.
“Segera hubungi mantan kekasihmu itu dan katakan agar ia secepatnya mengurus dokumen untuk keberangkatan Antonio,” perintah Matteo kepada Coco.
“Siap,” jawab pria bermata cokelat tersebut. “Amico, Imelda meminta imbalan lebih untuk pekerjaannya kali ini,” ucap Coco setelah membaca pesan di ponselnya.
“Beri saja berapa pun yang ia minta,” sahut Matteo seraya menyalakan mesin mobilnya. “Marc, tugasmu adalah mengirimkan dokumen-dokumen yang Imelda butuhkan untuk mengurus keberangkatan ayah bayanganmu,” titah Matteo lagi kepada Marco yang duduk di jok belakang. Marco yang saat itu mulai asyik dengan ponselnya, seketika menoleh dan mengangguk.
“Aku tidak menyangka situasinya akan menjadi seperti ini. Benar-benar memusingkan,” keluh Matteo. Ia tetap berusaha untuk fokus pada kemudinya.
“Tenanglah, Amico. Sebentar lagi kau akan terbebas dari masalah ini,” ujar Coco menanggapi keluhan sahabatnya.
Sesampainya di Casa de Luca, Mia sudah menyambut mereka dengan kursi rodanya di halaman depan. Melihat hal itu, Matteo segera mematikan mesin kendaraannya dan melompat turun menghampiri sang istri.
“Ada apa, Cara mia? Kenapa kau tidak beristirahat di kamar?” tanya Matteo was-was. Sementara Marco dan Coco terus mengikutinya di belakang.
“Tidak apa-apa, Theo. Aku hanya khawatir seandainya semua tidak berjalan sesuai rencana. Aku takut kau akan dipenjara. Aku tak mau berpisah denganmu lagi,” Mia sama sekali tak malu menunjukkan kecemasannya di depan semua orang.
“Aku tidak apa-apa, Sayang. Lihatlah, tidak akan ada yang dipenjara di antara kami semua. Kami sudah mengatasi segalanya dengan baik,” hibur Matteo seraya mengecup kening Mia.
Mia tak percaya begitu saja. Dia masih terus mengamati mata abu-abu yang tak juga berhenti memandanginya. “Kau sering berbohong padaku, Theo. Aku tidak yakin apakah kau berkata jujur kali ini,” keluhnya.
Matteo terkekeh pelan. Tanpa aba-aba, pria itu menggendong tubuh ramping Mia dan meninggalkan kursi rodanya begitu saja di halaman. Dengan tergesa-gesa, ia membawa Mia kembali ke dalam kamar dan mendudukkannya di tepian ranjang. “Berapa lama lagi kau harus menggendongku ke sana kemari, Theo?” tanya Mia. Wajahnya murung dengan tatapan sendu, menghadap ke Theo.
“Seumur hidup pun tak masalah bagiku,” jawab Matteo penuh rayuan sambil mengangkat kedua alisnya.
“Aku serius,” de•sah Mia pelan.
“Aku jauh lebih serius,” sahut Matteo yakin.
__ADS_1
Mia lagi-lagi tak puas dengan sikap yang ditunjukan Matteo. “Aku lelah, Theo. Aku ingin segera bebas dan tak terikat lagi dengan kursi roda ini,” keluhnya penuh sesal.
“Bersabarlah, Sayang. Tiga Minggu lagi, gipsmu akan dibuka. Setelah itu, aku akan menemanimu melakukan terapi hingga kau benar-benar sembuh,” ujar Matteo. Tak bosan-bosan ia menyemangati Mia.
“Tiga minggu lagi,” gumam wanita cantik itu seraya kembali mengeluh pelan.
“Tidak akan terasa, Sayang,” hibur Matteo. "Itu juga yang kurasakan dulu saat harus terus memakai arm sling setiap saat. Nikmati saja semua prosesnya, Cara mia. Dengan begitu kau akan jauh lebih merasakan dampak positifnya, meskipun aku akui memang sangat membosankan," ucap Matteo lagi seraya tertawa geli.
Benarlah ucapan Matteo saat itu. Sudah dua minggu berlalu tanpa terasa sejak suami istri tersebut bercakap-cakap. Pada suatu pagi, beberapa saat setelah Matteo mengajak jalan-jalan istrinya di sekitar area perkebunan, ia memutuskan untuk membawa Mia ke ruang kerja. Sudah beberapa hari ini Matteo menunggu email dari Imelda. Namun, yang diharapkan belum juga memberi kabar.
“Doakan aku, Cara mia. Dalam waktu dekat, aku akan meledakkan pesawat. Semoga rencanaku bisa berjalan lancar," ucap Matteo.
Mia tampak begitu terkejut. “Kau ingin aku mendoakan sesuatu yang buruk? Ah, Theo yang benar saja!” protesnya.
“Tak akan ada yang meninggal, Mia,” elak Matteo. “Ini semua demi menyelamatkan organisasi. Jangan sampai kegiatan klan terendus oleh pihak berwajib. Sudah hampir seratus tahun, organisasi klan de Luca bergerak 'di bawah tanah' dan aku ingin kondisinya tetap seperti itu. Apalagi aku pemimpinnya sekarang. Aku tak ingin gagal, Sayangku,” terangnya.
Mia tersenyum samar sambil mengulurkan tangannya ke wajah tampan. Ditariknya lembut wajah orang yang paling dicintainya itu hingga tak ada lagi jarak antara bibirnya dan bibir Matteo. Mia mencium bibir Matteo dengan lembut dan penuh perasaan. Sedangkan Matteo menanggapinya penuh dengan gairah yang membara. Tak ada kelembutan dalam ciumannya, mengalahkan gerak bibir Mia yang kini terengah.
Melihat istrinya yang gelisah, Matteo segera mengakhiri ciuman. Ia mengusap bibir ranum Mia yang basah oleh ulahnya. “Maafkan aku, Cara mia. Aku terbawa suasana,” kekehnya.
“Baik, baik, akan segera kuperiksa,” Matteo mengangguk beberapa kali, lalu setengah berlari menuju meja kerjanya.
Segera dinyalakannya laptop di atas meja itu. Matteo membaca setiap email yang masuk. Bola matanya berhenti ketika ia melihat email masuk dari Imelda. Matteo mulai membaca dengan saksama setiap informasi yang terdapat di dalamnya.
Tak berselang lama, ia kembali menggunakan ponselnya dan menghubungi Coco lagi. “Amico! Seluruh dokumen paspor dan visa Antonio sudah tiba di Amerika. Aku sudah memeriksa semuanya barusan,” tutur Matteo penuh semangat. Sementara Mia yang berada dua meter dari hadapan Matteo, ikut memperhatikan dengan saksama.
“Marco sudah bekerja sama dengan pihak imigrasi kita. Mereka sudah memberikan stempel perjalanan ke luar negeri. Kau tak perlu khawatir, Coco,” hibur Matteo, kemudian terdiam sesaat mendengarkan jawaban dari seberang sana.
“Jadi, nanti malam Imelda berencana menjalankan aksinya,” lanjutnya. “Pesawat milik D'Angelo juga sudah siap di Boston. Ia hanya perlu menunggu aba-aba dariku,” pungkas Matteo, yang kemudian mengakhiri panggilannya. Setelah itu, Matteo mengarahkan perhatiannya kepada Mia.
“Sebentar lagi, Cara mia. Jika semuanya berjalan lancar, maka Detektif Ranieri akan melepaskan kita,” ujar Matteo lalu mengecup bibir Mia singkat. Tak ada lagi yang dilakukan Matteo, selain menunggu kabar dari Imelda.
Hingga menjelang senja, sebuah panggilan telepon berbunyi nyaring di ponsel Coco. Tampak panggilan video dengan wajah Imelda yang memenuhi layarnya. Imelda memberitahukan bahwa ‘pamannya sudah siap untuk diterbangkan’.
__ADS_1
Amerika lebih lambat enam jam dari Italia, sehingga di sana waktu masih menunjukkan pukul dua siang, sedangkan malam sudah mulai menjelang di Italia.
Imelda tampak sibuk melihat persiapan. Beberapa orang perawat sedang membawa perlengkapan kesehatan ke luar kamar. Pria mirip Antonio itu juga terlihat siaga, sebelum akhirnya memilih untuk berbaring di atas brankar.
Para perawat itu mendorong brankar menuju landasan helipad di atap gedung. Setelah menaikkan Antonio ke dalam helikopter, mereka kemudian ikut turun setelah sebelumnya memasangkan alat-alat medis pada beberapa titik di tubuh Antonio palsu.
Helikopter itu terbang dengan kecepatan sedang, menuju bandara. Pada hanggar yang disediakan khusus untuk pesawat milik pribadi, seorang pilot berusia muda dan beberapa awak kabin, tampak bersiap-siap memakai parasut. Demikian halnya dengan pria yang disewa Marco untuk menyamar sebagai Antonio
Beberapa kemudian, pesawat sudah siap dan segera tinggal landas. Kecepatan yang stabil membawa jet pribadi itu melintasi samudera Atlantik. Sang pilot masih saja berdoa supaya misinya kali ini tak mengalami kendala yang berarti. Terlebih, Adriano sudah menjanjikan bonus yang sangat besar andai ia berhasil dalam tugasnya kali ini.
Ketika posisi pesawat sudah berada di tengah-tengah samudera, sang pilot mengubah posisi kemudi menjadi pilot otomatis. Ia bergerak ke bagian tengah badan pesawat. Di sana pria itu bertemu dengan beberapa awak kabin dan Antonio palsu.
“Kalian sudah siap?” tanyanya basa-basi.
Semuanya mengangguk, kemudian terdiam mengamati gerak sang pilot. Dengan santainya pilot itu memencet tombol merah di bahu nya.
“Pesawat ini akan meledak dalam waktu lima menit. Mau tidak mau, kalian harus mengikutiku,” sang pilot lalu berjalan ke sisi pesawat dan menggeser pintu darurat sampai terbuka.
Hembusan angin kencang menabrak wajahnya. Namun, pria itu tak peduli. Ia melompat begitu saja dan melakukan aksi terjun payung. Hal itu diikuti oleh beberapa orang tersebut. Mereka melompat keluar dari pesawat dan mulai melayang di udara. Sementara pesawat pribadi berukuran kecil itu masih terus melaju sampai lima menit kemudian. Benda itu meledak di udara dan hancur berkeping-keping.
__ADS_1