
“Mia?” suara berat dan maskulin milik Adriano terdengar parau saat itu.
“Anda mabuk lagi, Tuan D’Angelo?” perasaan Mia ragu-ragu antara melanjutkan untuk mengutarakan niatnya atau tidak. Namun, ia sudah terlanjur menghubungi Adriano.
“Ah, tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya menghabiskan sedikit anggur,” Adriano terkekeh pelan. Sesaat kemudian, ia kembali terdiam dan menunggu Mia untuk bicara.
“Sudahlah, lagi pula aku tak peduli. Dengar, tuan D'Angelo. Aku ingin bicara denganmu,” ucap Mia setengah berbisik dan terdengar was-was.
“Sekarang? Apa yang ingin kau bicarakan Mia?” nada suara Adriano terdengar begitu bersemangat.
“Tidak. Bukan sekarang. Besok ada festival karnaval di alun-alun pusat kota. Kita akan bertemu di sana,” jawab Mia pelan.
“Kau ingin kita bertemu jam berapa?” tanya Adriano dengan senyuman yang terkembang di wajah rupawannya.
“Kita bertemu jam sepuluh pagi. Setelah suamiku berangkat ke bengkel,” tanpa berbasa-basi lagi, Mia segera menutup sambungan teleponnya. Ia bahkan tak menunggu kalimat balasan dari Adriano.
Dengan sedikit berjingkat, Mia kembali ke kamar lalu membuka pintunya dengan sangat hati-hati. Sebisa mungkin ia mendekati ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Mia bernapas lega ketika mendapati Matteo masih tertidur pulas. Perlahan, ia menaiki ranjang dan menelusup ke balik selimut, lalu memeluk tubuh suaminya dari belakang, membuat
Matteo melenguh pelan saat tangan Mia melingkar di perutnya. Pria itu menoleh ke belakang untuk sesaat, kemudian tersenyum. “Cara mia, kau belum tidur?” tanyanya seraya memicingkan mata.
Mia menjawabnya dengan gelengan kepala. “Tidurlah, Theo. Kau harus bekerja keras besok,” ucapnya kemudian.
Matteo tersenyum kecil seraya kembali memejamkan mata. Digenggamnya dengan erat jemari Mia yang masih berada di perutnya. ”Aku mencintaimu Florecita Mia,” ucap Matteo dengan setengah bergumam.
“Aku juga mencintaimu, Matteo de Luca,” Mia menempelkan pipinya di punggung penuh tato milik Matteo sambil merasakan hangatnya permukaan kulit sang suami. Untuk sesaat, Mia tersentak. Baru ia sadari bahwa permukaan punggung Matteo tak semulus yang dipikirnya. Ada banyak guratan bekas luka yang samar tertutupi oleh gambar tato yang menutupi punggung pria itu. Mia menyentuh mengusap tiap bekas luka itu dengan penuh perasaan. “Hidupmu sangat keras ya, Theo? Aku bersyukur karena Tuhan selalu melindungimu,” bisiknya sembari mengecup punggung suaminya di berbagai titik.
“Mia, tolonglah,” keluh Matteo lirih. “Sekarang kau harus bertanggung jawab,” ia kemudian membalikkan badan sehingga wajahnya tepat berhadapan dengan wajah cantik Mia. Mata abu-abu itu memandang sayu pada mata indah Mia yang membulat sempurna.
“Kau telah menggodaku, Cara mia. Maka jangan salahkan aku jika ....” Matteo tak melanjutkan kata-katanya. Ia segera menyambar bibir ranum sang istri. Satu lagi dari sekian banyak malam dingin yang mereka lalui dengan percintaan panas, dan penuh gairah yang dihiasi oleh kecupan mesra. Semuanya berakhir dengan pelukan hangat hingga kedua sejoli itu tertidur lelap sampai pagi.
Saking lelapnya, lagi-lagi Mia terlambat bangun. Ia baru membuka mata ketika bulu-bulu halus di rahang Matteo menusuk pipinya. “Jam berapa ini, Theo?” Mia langsung terduduk. Tangannya meraba jam digital di atas laci.
“Jam sembilan, Cara mia,” jawab Matteo dengan senyum yang tak lepas dari wajah tampannya. Ia juga sudah berpakaian rapi dengan rambut yang tersisir ke belakang.
“Oh, tidak!” Mia tergagap seraya langsung menyibak selimutnya begitu saja. Ia bergegas masuk ke kamar mandi. Matteo yang terheran-heran segera mengikuti langkah istrinya. “Memangnya kau hendak pergi ke mana, Sayang?” tanyanya.
Mia yang tengah melepas pakaiannya, terdiam untuk beberapa saat. Ia menimbang-nimbang jawaban yang akan diberikannya untuk Matteo. “Aku ingin menghadiri festival karnaval di alun-alun pusat kota,” jawab Mia pada akhirnya.
“Kau akan pergi sendirian?” tanya Matteo lagi.
“A-aku, aku akan mengajak Ricci! Aku harap ia mau menemaniku,” sahut Mia dengan sedikit tergagap.
“Baiklah, kalau begitu. Aku senang kau memiliki kegiatan, daripada harus sendirian di Casa de Luca saat aku bekerja,” ujar Matteo seraya mendekatkan dirinya pada Mia yang mulai menyalakan shower.
“Theo, jangan! Kau sudah berpakaian rapi. Bagaimana jika nanti bajumu basah?” protes Mia.
__ADS_1
“Ada banyak baju di lemariku,” Matteo menyeringai nakal, tetapi segera dicegah oleh Mia.
“Kau akan terlambat, Sayangku. Kasihan Valerie jika harus menunggumu terlalu lama,” ujar Mia.
Mau tak mau Matteo mengalah, lalu mundur beberapa langkah. “Bene, bene. Aku akan berangkat. Jaga dirimu baik-baik, Sayangku. Aku tidak mau terjadi apapun padamu,” tegasnya.
“Jangan khawatir, Theo. Aku bisa menjaga diriku. Aku bukan anak kecil,” sahut Mia dengan seluruh permukaan tubuhnya yang kini sudah tertutupi oleh busa sabun. Dalam hati ia berdoa supaya Coco tidak memberikan jawaban yang mencurigakan kepada Matteo.
Beberapa menit di kamar mandi, Mia keluar dengan terburu-buru. Dalam keadaan tubuh yang masih basah, ia meraih ponselnya dan mulai menghubungi Coco. Tak membutuhkan waktu lama bagi pria berambut ikal itu untuk menjawab teleponnya. “Ada apa, Mia?” tanya Coco.
“Kau ada di mana? Apakah Theo sudah menemuimu?” tanya Mia.
“Ya, tadi dia mengatakan sesuatu tentang festival. Apa kau sedang merencanakan sesuatu?”
“Bersiaplah. Lima belas menit lagi, kita akan berangkat ke sana. Kutunggu kau di gerbang utama!” tanpa menunggu jawaban Coco, Mia segera menutup teleponnya dan berganti pakaian.
Tak berselang lama, Mia keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju gerbang. Ternyata Coco sudah menunggunya di sana. Ia bersandar pada salah satu mobil Matteo sembari menyilangkan tangan di dada.
“Kau membuat janji dengan siapa, Mia? Apakah orang itu sesuai dengan yang kupikirkan?” Coco memicingkan mata dan menatap Mia curiga.
“Aku berniat untuk menemui Adriano dan bicara padanya. Kuharap kau mau mendukungku,” pinta Mia was-was.
“Apa? Kenapa?” Coco terbelalak, seakan tak percaya.
“Aku ingin berbicara padanya. Kuharap kau mendukung dan menjagaku dari jauh,” Mia memasang wajah memelas.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam hingga mereka tiba di alun-alun kota. Suasana tampak begitu ramai. Mia dan Coco bahkan sampai harus berdesak-desakan di antara ratusan pengunjung.
“Kalian berjanji bertemu di mana?” Coco melirik Mia yan tengah menyapu pandangan di sekitarnya dengan sikap kebingungan.
“Aku hanya mengatakan padanya untuk menemuiku di alun-alun kota,” jawab Mia ragu.
“Alun-alun ini luas sekali, Mia,” Coco menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Apakah kau sudah lama menunggu, Nyonya de Luca?” tiba-tiba terdengar suara berat yang berasal dari belakang Mia. Ia mulai hapal dengan suara maskulin itu. Begitu pula halnya dengan Coco. Mereka berdua berbalik secara bersamaan dan melihat Adriano berdiri di sana.
Pria itu terlihat sangat menawan dengan balutan kaus polo berwarna merah marun. Ditambah kaca mata hitam elegan yang menutupi mata birunya.
“Tuan D’Angelo,” sapa Mia seraya memaksakan senyum.
“Akan kutunggu kau di sana, Mia,” tunjuk Coco pada gerai es krim yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Coco kemudian berlalu dari sana, meninggalkan Mia dan Adriano berdua.
Suasana canggung menyelimuti mereka untuk beberapa saat, sampai Adriano tersenyum dan melepas kacamatanya. “Apa kita akan terus berdiri di sini?” tanyanya basa-basi.
“Anda kuat berdiri, kan? Lagi pula, aku tidak akan terlalu lama berada di sini,” ujar Mia sambil memalingkan muka. Ia lebih memilih untuk memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dibandingkan wajah tampan di hadapannya.
“Kau boleh memintaku melakukan apapun, Mia” ucap Adriano sambil memamerkan senyum menawannya. Nada bicaranya terdengar penuh rayuan.
__ADS_1
“Ck!” decak Mia. “Aku tak mengira kau bisa menemukan keberadaanku secepat ini,” ujarnya.
“Sinyalku sangat kuat jika itu tentangmu, Nyonya,” ucap Adriano lagi dengan nada bicara yang sama, dan membuat Mia semakin kesal.
“Mari kita sudahi basa-basinya, Tuan. Aku mengajak bertemu di sini, hanya untuk menanyakan satu hal padamu,” tegas Mia.
“Baiklah. Aku mendengar dan menjawabnya dengan senang hati,” Adriano menegakkan badannya. Raut cerianya berubah menjadi amat serius.
“Katakan padaku, apa tujuanmu mendekati Theo-ku?” Mia sedikit mendongakkan wajahnya seakan ingin menantang Adriano.
Sedangkan pria itu hanya terdiam beberapa saat, sampai akhirnya ia tertawa pelan. “Apakah ini pertanyaan jebakan?” Adriano malah balik bertanya.
“Jawab saja pertanyaanku!” desak Mia. Sementara Adriano tak kunjung menjawab. Ia menatap nanar kepada Mia, sebelum akhirnya memalingkan muka dan berjalan menjauh.
“Hei, kau mau ke mana? Kau belum menjawab pertanyaanku!” seru Mia yang segera mengejar arah gerak Adriano dan berjalan di sisinya. Mereka terus menyibak lautan manusia dengan agak berdesakkan. Sesekali tubuh Mia terseok karena berbenturan dengan orang lain.
“Hati-hati, Mia!" Adriano bermaksud untuk memegangi tubuh Mia, tetapi segera wanita itu tepiskan. Adriano pun mengurungkan niatnya. "Anggap saja aku ingin lebih dekat dengan Tuan de Luca dan menjadi salah satu sahabat terbaiknya,” jawab Adriano lugas. Sedangkan Mia memiringkan kepala. Ia tak percaya begitu saja ucapan pria itu.
“Betapa indahnya jika keinginanku terlaksana. Aku dan suamimu bisa berteman akrab, sama seperti mendiang ayahnya dan pamanku dulu,” tutur Adriano dengan tatapan lembut.
“Ayah dan paman?” ulang Mia. Otaknya terus berputar memikirkan sesuatu. Ia kemudian tertegun dan membeku saat menyadari sesuatu. Kini Mia dapat mengingat dengan jelas, foto pria di laci kerja Matteo adalah sama persis dengan foto pria yang terpajang di ruang kerja rahasia milik Adriano, yang ia lihat pada malam itu.
"Kau keponakan tuan Moriarty?" tanya Mia dengan nada tidak percaya.
Adriano tertegun dan menoleh. Ia pun kembali tersenyum pada Mia. "Ya. Bukankah tuan de Luca dulu adalah sahabat Silvio? Lalu, apa salahnya jika aku juga ingin bersahabat dengan suamimu, Nyonya," jelas Adriano dengan sikap yang tenang.
__ADS_1