Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Perfect Call


__ADS_3

Mia terdiam mendengarkan cerita dari Matteo, ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju ke kota Roma melaui jalur darat. Hingga saat itu, semuanya masih terasa belum jelas. Tak ada yang tahu apa yang terjadi dan ke mana Daniella pergi. “Apa kau yakin jika Dani telah diculik, Theo?” Mia terdengar ragu dengan perkiraan Matteo. Terlebih saat itu sang suami tak langsung menjawab. Pria itu terlihat berpikir dengan dalam.


“Kalaupun Dani pergi atas keinginan sendiri, lalu kenapa ia tidak membawa barang-barang pribadinya? Bukankah Francy mengatakan jika ia menemukan tas milik Dani di atas meja?” sela Coco sambil terus mengemudi. Sedangkan Marco tak bicara sepatah kata pun. Hati dan pikirannya diliputi keresahan akan keselamatan Daniella.


Selama ini, Marco dan Daniella memang belum mengikrarkan sebuah hubungan yang serius. Tak ada ikatan resmi sebagai kekasih di antara keduanya. Namun, Marco merasa begitu peduli dengan gadis berambut pirang itu, terlebih karena mereka sudah beberapa kali menghabiskan malam bersama. Hal itu, sedikit banyak telah membuat hatinya sedikit tertaut kepada kakak tiri Mia tersebut.


Setelah menempuh sekitar enam sampai tujuh jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di ibu kota Italia. Coco langsung mengarahkan mobil yang ia kendarai menuju ke apartemen tempat tinggal kedua saudari Mia. Pria itu terlihat begitu sumringah, ketika wajah sang kekasih yang ia rindukan tampak menyambutnya. Terlukis senyum kebahagiaan di mata keduanya saat itu.


“Apakah Dani tidak mengatakan apapun sebelumnya, atau mungkin terlihat ada sesuatu yang mencurigakan?” tanya Matteo kepada Francesca yang saat itu bergelayut manja di dalam dekapan Coco yang sesekali mencium pucuk kepala dan kening sang kekasih.


Francesca menggeleng pelan. “Seingatku tidak ada satu pun hal yang mencurigakan. Daniella terlihat biasa saja,” terang gadis bermata hazel tersebut.


“Apa kau tidak mencurigai siapa pun, Theo?” Marco yang sedari tadi terdiam, kini mulai bersuara. Ia menatap lurus kepada Matteo seakan ingin agar pria itu mempertimbangkan pendapatnya.


“Siapa maksudmu? Alex?” tebak Matteo. Ia tampak menyipitkan kedua matanya.


Sedangkan Marco menanggapi tebakan Matteo dengan mengangkat alis sebagai tanda setuju. “Bukankah hingga saat ini kau belum menemukan keberadaan pria itu? Bisa saja ‘kan, jika selama ini ia mengawasi Daniella dengan diam-diam dan mengambil waktu yang tepat untuk melakukan aksinya. Sementara Daniella tak menyadari jika ia sedang diintai,” jelas Marco. Sekali lagi, ia mengemukakan pendapatnya.


“Ya, aku setuju dengan pendapat Marco. Menurutku itu hal yang sangat masuk akal,” timpal Coco tanpa melepaskan tubuh Francesca dari dalam dekapannya.


“Jika memang Alex adalah dalang di balik menghilangnya Daniella, maka aku bersumpah akan mengulitinya hidup-hidup kali ini. Kalau begitu, kita harus segera bergerak untuk menemukan keberadaan pria itu,” ujar Matteo dengan seringai menakutkan dari wajahnya. Sedangkan Mia menjadi serba salah karenanya. Di satu sisi, ia tak ingin Matteo terlibat lagi dalam pertarungan apalagi harus kembali menghabisi nyawa seseorang. Akan tetapi, di sisi lain ia juga sangat mencemaskan keselamatan Daniella. Oleh karena itu, Mia lebih memilih untuk tak menanggapi ucapan Matteo. Wanita cantik bermata cokelat tersebut hanya terdiam.


Beberapa saat kemudian, ponsel milik Matteo bergetar. Ia segera meraih benda yang tergeletak di atas meja dan memeriksanya. Nama D’Angelo tertera di layar. Ia pun segera menjawab panggilan tersebut.


Sementara Marco memilih untuk beranjak dari duduknya. Pria berwajah kelimis itu meminta kunci mobil dari Coco. “Aku ingin mencari angin sebentar,” ujarnya lesu. “Siapa tahu aku bisa menemukan sebuah petunjuk, daripada hanya termenung di sini,” lanjutnya sambil berlalu keluar ruangan setelah mendapatkan apa yang ia minta.


Sementara itu, Matteo tengah menjawab panggilan dari Adriano di ruangan lain. “Ada apa, Tuan D’Angelo?” tanya pria bermata abu-abu itu dengan datar.

__ADS_1


“Apakah hari ini anda tidak pergi ke bengkel, Tuan de Luca?” terdengar pertanyaan Adriano dari seberang sana.


“Tidak. Aku sedang berada di Roma. Ada urusan yang jauh lebih penting,” jawab Matteo. “Ah, kebetulan sekali anda menghubungiku. Bisakah anda memberiku sedikit informasi tentang Alex? Di mana pria itu biasanya berada?”


Adriano terpaku mendengar pertanyaan Matteo. Raut wajah dan sorot matanya tampak sangat serius. Ia merasa penasaran untuk apa Matteo menanyakan keberadaan Alex. “Ada apa lagi dengan Alex, Tuan de Luca? Apakah ia berbuat ulah dan kembali mengusik ketenangan anda, Tuan?” tanya Adriano berpura-pura, padahal sudah jelas jika ia telah menghabisi Alex dan memerintahkan anak buahnya untuk membuang mayat pria itu entah ke mana.


Karena membutuhkan sebuah informasi, mau tak mau Matteo akhirnya memberitahukan semua yang terjadi kepada Daniella. Sementara Adriano mendengarkannya dengan saksama.


“Alex bukan merupakan bagian dari Tigre Nero lagi semenjak tindakan bodohnya dulu. Aku sudah memecatnya dari keanggotaan, sehingga aku tak mengetahui keberadaannya kali ini. Namun, jika anda mau, aku akan mencarikan informasi tentangnya,” terang Adriano yang kemudian berakhir dengan sebuah tawaran bagi Matteo. Seperti biasa, pria itu selalu menunjukan sikap ramah dan dermawannya terhadap rekan bisnisnya tersebut.


“Kalau begitu, tidak usah. Aku tak ingin merepotkan anda, Tuan D’Angelo. Aku bertanya karena kupikir anda mengetahui sesuatu tentangnya,” tolak Matteo halus. Ia tak ingin lagi harus merasakan balas budi atas semua bantuan yang Adriano berikan padanya.


“Ya, terserah anda saja. Namun, jika anda membutuhkan bantuanku, maka jangan sungkan untuk mengatakannya,” ucap Adriano meyakinkan.


Sesaat kemudian, mereka pun mengakhiri percakapan tersebut.


“Aku sudah di Monaco. Bukankah sejak semalam aku mengatakan jika akan kembali ke Monte Carlo,” sahut Sergei dengan yakin.


“Aku harap kau bukanlah dalang di balik menghilangnya Daniella. Jika benar, maka kusarankan agar kau segera bersiap-siap menemui ajalmu!” tegas, nada bicara Adriano terdengar penuh penekanan.


“Apa maksudmu? Aku tak tahu apapun tentang Daniella,” sanggah Sergei dengan wajah sedikit resah.


“Kuberitahukan satu hal padamu. Matteo de Luca bahkan tak segan untuk membunuh pamannya sendiri demi menyelamatkan Mia. Bukan tak mungkin ia akan meremukan seluruh tulang-tulang di tubuhmu saat mengetahui jika kau telah menculik kakak tiri istrinya. Aku tak akan ikut campur ataupun membantumu sama sekali jika hal itu terjadi,” Adriano kembali berkata dengan dingin dan tentu saja jengkel. Jika memang Sergei adalah pelaku penculikan Daniella, maka ia tak ingin hal tersebut membuat hubungan baik yang telah susah payah ia jalin dengan Matteo menjadi hancur.


“Aku ... aku tidak melakukan apapun terhadap gadis itu, maksudku ... belum ....” Sergei akhirnya menjelaskan meskipun dengan kaimat yang terpatah-patah.


“Sudah kukatakan berkali-kali agar kau belajar untuk mengendalikan nafsumu!” bentak Adriano tiba-tiba dengan keras dan begitu tegas. Napas pria rupawan tersebut mulai memburu. Ia yang selalu terlihat tenang, tak biasanya menjadi sangat emosional seperti itu.

__ADS_1


“Jika sampai kebodohan yang telah kau lakukan ini merusak hubungan baikku dengan Matteo de Luca, maka kupastikan bahwa potongan tubuhmu akan berakhir di dalam perut Camaro, harimau peliharaanku!” ancam Adriano dengan yakin.


Sergei tak menjawab. Ia hanya terdiam membeku setelah mendengar ancaman dari Adriano. Sesaat diliriknya sosok Daniella yang masih terduduk di atas tempat tidurnya. Gadis itu dalam posisi tangan dan kaki yang terikat dengan mulut tertutup lakban. Hal tersebut Sergei lakukan karena Daniella terus memaki dan melakukan perlawanan terhadapnya.


Sementara itu, Adriano terlihat kembali menghubungi seseorang. Entah siapa, tapi raut wajahnya begitu serius saat itu. Tak berselang lama, ia bergegas keluar dari apartemennya untuk terbang menuju Roma. Sedangkan Matteo dan Coco kembali berunding tentang langkah yang akan mereka ambil selanjutnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2