
Dua hari telah berlalu. Lenatta dan Coco kini telah tiba di kota Palermo. Mereka lalu menyewa sebuah penginapan yang terletak tidak begitu jauh dari mansion mewah milik Silvio Moriarty.
Silvio dan kakaknya, Vincenzo Moriarty memang tinggal terpisah. Vincenzo tinggal di mansion miliknya yang masih berada di kota Palermo. Namun, Vincenzo telah beberapa lama memutuskan untuk tinggal di Amerika, demi melebarkan jaringan kekuasaan dari organisasi yang dipimpinnya. Itu artinya, tampuk kepemimpinan Klan Moriarty di Italia, sepenuhnya berada di tangan Silvio.
Setibanya di penginapan itu, Coco segera menghubungi seorang kenalannya. Mereka berjanji untuk bertemu nanti malam. Selagi menunggu malam tiba, Coco dan Lenatta melakukan beberapa persiapan. Tanpa terasa siang pun berlalu dengan begitu cepat.
Malam itu, Lenatta sudah tampak bersiap. Seperti biasanya, ia tampil cantik dengan pakaiannya yang sangat minim, yang menonjolkan setiap lekukan indah dari tubuhnya. Kulit eksotisnya pun terlihat begitu mengkilap di bawah lampu sorot ruangan, yang akan menjadi tempat pertemuan antara mereka dengan seseorang bernama Fabio Flanelli.
Fabio Flanelli adalah seorang mucikari khusus yang biasa menyuplai gadis-gadis untuk dikirim ke mansion milik Silvio Moriarty. Semua gadis yang dikirim ke sana, adalah gadis yang sudah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh pihak Silvio.
Dalam satu bulan, setidaknya Fabio harus menyediakan sekitar sepuluh orang gadis cantik dan seksi untuk dijadikan penghibur, bagi Silvio dan anak buahnya yang bertugas di mansion itu.
“Hai, Kawan! Sudah lama kau tidak kemari,” sapa Fabio seraya merengkuh pundak Coco dengan hangat. Terlihat jika mereka adalah dua orang yang telah lama saling mengenal.
“Aku sangat sibuk akhir-akhir ini,” jawab Coco. Ia kembali duduk di dekat Lenatta yang malam itu terlihat sangat tenang. Tidak tampak ada keresahan atau takut pada raut wajahnya yang cantik, padahal Lenatta sendiri belum tahu kehidupan seperti apa yang akan ia jalani selama melakukan misi dari Matteo.
“Kapan terakhir kau pergi ke Brescia?” tanya Coco kepada Fabio yang kini tengah menyulut cerutunya.
“Sudah sangat lama, mungkin sekitar satu tahun yang lalu,” Fabio kemudian mengalihkan tatapannya kepada Lenatta seraya mengepulkan asap dari cerutunya.
Coco pun dapat memahami arti tatapan pria berusia empat puluh tahun itu. Dengan segera pria itu memulai pembahasan tentang tujuan utamanya datang ke sana.
__ADS_1
“Perkenalkan ini adalah Nona Valecia Mendez. Ia seorang imigran dari Spanyol,” Coco mengenalkan Lenatta dengan nama samarannya. Sementara Lenatta tersenyum manis dan hangat kepada Fabio. Ia harus terlihat seramah mungkin.
Fabio memerhatikan Lenatta dengan lekat. Sesaat kemudian, ia menyuruh Lenatta untuk berdiri. Lenatta menurutinya. Wanita muda itu berdiri di hadapan Fabio, berputar, dan menunjukkan bahwa dirinya adalah wanita yang patut untuk diperhitungkan.
”Bagaimana menurutmu?” bisik Coco.
“Cocok. Gadismu bahkan melebihi dari kriteria yang ditentukan oleh Silvio. Ia pasti berani membayarnya dengan sangat mahal,” ujar Fabio dengan seringai jahatnya. “Kau membawa barang yang sangat bagus, Kawan,” lanjutnya. Fabio terlihat sangat puas.
Coco tersenyum senang. Ia kemudian melirik kepada Lenatta yang masih berdiri dengan gaya sensualnya. Lenatta pun terlihat puas. Rasa percaya dirinya semakin tinggi. Setidaknya ia tahu, jika kecantikan dan keindahan tubuhnya sudah tidak diragukan lagi, karena telah mendapat pengakuan dari banyak pria.
“Jadi, kapan kau akan mengirim mereka ke Mansion Moriarty?” tanya Coco. Ia harus membuat banyak persiapan dan perencanaan yang sangat matang sebelum Lenatta benar-benar masuk ke tempat itu.
“Bolehkah ia menginap di sini malam ini?” tanyanya dengan tatapan yang terlihat sangat mesum.
Coco tertawa seraya berdiri. Pria itu kemudian merengkuh pundak Lenatta. Sementara Lenatta berharap agar Coco tidak mengizinkannya, karena meskipun selama ini kehidupan Lenatta begitu bebas, tapi ia tetap selektif dalam memilih lawan mainnya. Fabio, sama sekali tidak termasuk ke dalam kriterianya.
“Tidak bisa!” tegas Coco. “Selama aku belum menerima bagianku, maka gadis ini tidak akan aku lepaskan!” lanjutnya.
“Ayolah, Kawan! Aku belum tahu Silvio akan membanderolnya berapa, meskipun aku yakin jauh lebih tinggi dari gadis lain yang akan kuserahkan besok,” jelas Fabio. “Baiklah. Jangan lupa antarkan gadismu kemari besok pukul sepuluh pagi. Aku harap kau bisa tepat waktu!”
“Aku akan selalu tepat waktu jika untuk urusan uang,” jawab Coco. Setelah itu, ia dan Lenatta segera berpamitan. Mereka kembali ke penginapan dan menghubungi Matteo yang saat itu berada di bengkel, di Brescia. Coco mengabarkan jika Lenatta akan diberangkatkan esok ke mansion milik Silvio Moriarty.
__ADS_1
Sekali lagi, Coco memberi penjelasan kepada Lenatta. Ia memiliki sedikit informasi tentang mansion milik Silvio. Namun, sayangnya Coco tidak mengetahui seperti apa pastinya tentang seluk-beluk aturan di sana.
Fabio hanya mengatakan jika Silvio adalah pria yang senang berpesta pora, bersama para gadis di mansionnya.
Keesokan harinya, Lenatta kembali dibawa ke tempat Fabio. Ia akan segera diberangkatkan bersama gadis lainnya. Fabio pun memberikan uang muka kepada Coco. Ia juga berjanji akan segera memberikan bagian kepada Coco, jika Silvio telah memberi harga untuk seorang Lenatta.
Dengan menggunakan sebuah mobil van, Fabio mengangkut para gadis yang akan ia serahkan untuk menjadi penghibur di mansion milik Silvio. Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk dapat sampai di sana, karena kini mereka telah tiba di tempat tujuan.
Lenatta begitu takjub melihat kemewahan dari mansion itu. Halamannya sangat luas, dengan bangunan megah yang berdiri kokoh seperti sebuah istana. Para pengawal yang rata-rata berpakaian serba hitam, terlihat berlalu-lalang di sana. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing.
Fabio kemudian membawa para gadis untuk masuk. Keadaan di dalam mansion itu terlihat jauh lebih mewah. Segala sesuatu yang ada di sana tampak mahal dan berkelas. Hal itu tentu saja sangat menggiurkan, terutama bagi para wanita pemburu uang yang tidak peduli dengan norma dan aturan.
Beberapa saat kemudian, seorang pria datang menghampiri mereka. Ia tampak berbisik kepada Fabio. Fabio pun mengangguk-angguk saat mendengarkan ucapan dari pria itu. Entah apa yang tengah dikatakannya kepada mucikari kelas kakap tersebut. Sesaat kemudian, pria tadi lalu memberikan sebuah map kepada Fabio. Barulah ia pergi dari sana.
Fabio kembali menghampiri para gadis yang sejak tadi menunggunya. Ia membagikan formulir kepada setiap gadis untuk diisi dan ditanda tangani. Formulir itu berisi tentang kontrak dengan segala aturan yang wajib untuk mereka patuhi selama berada di mansion tersebut.
Lenatta membaca formulir kontrak itu dengan cermat sebelum ia mengisinya. Di sana tertera jika mereka akan berada di mansion itu untuk jangka waktu satu bulan.
Setiap harinya, mereka akan diberi waktu selama dua jam untuk keluar dari Mansion dan melakukan apapun yang mereka mau, misalnya berbelanja atau melakukan perawatan di salon kecantikan.
Mereka juga akan mendapatkan hukuman jika sampai kedapatan menjalin hubungan, apalagi sampai membawa pria lain ke area mansion. Itu artinya, Lenatta harus pintar-pintar mencari cara agar tetap dapat berkomunikasi dengan Coco tanpa diketahui.
__ADS_1