Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
The Cure


__ADS_3

Matteo memutuskan untuk kembali ke lantai atas. Ia segera menghubungi Coco yang saat itu ternyata masih tertidur lelap. Coco bahkan sengaja menyeting ponselnya dalam mode silent, sehingga semua panggilan dari Matteo berlalu begitu saja tanpa mengusik tidurnya sama sekali.


“Ah, brengsek! Apa yang sedang dilakukannya?” gerutu Matteo pelan. Ia lalu memanggil beberapa orang pengawal untuk membawa mayat pelayan tadi dari dalam penjara bawah tanah. “Berikan penghormatan yang layak untuk wanita itu!” perintah Matteo setelah mayat wanita tersebut berhasil dibawa keluar dari penjara. Kedua pengawal yang diberi tugas oleh Matteo mengangguk hormat, mereka pun berlalu dari hadapan pria bermata abu-abu tersebut.


Setelah dari sana, Matteo memutuskan untuk ke kamar Coco. Dengan mimik wajah yang terlihat kesal, ia masuk ke kamar sahabatnya yang kebetulan tidak dikunci. Pria berambut ikal tersebut, masih terlelap di bawah selimutnya dengan posisi tidur telungkup sambil memeluk bantal. “Bangun pemalas!”  Theo menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh Coco sehingga memperlihatkan pakaian dalam yang dipakai pria berambut ikal itu.


Coco memang selalu tidur dengan hanya memakai pakaian dalam saja. Entah mengapa, alasannya hanya ia yang tahu. Hal itu membuat Matteo segera memalingkan mukanya dengan jengkel. Sementara Coco hanya menggeliat sambil menguap panjang.


“Semalam kau tidak habis bercinta dengan seseorang, kan?” selidik Matteo karena melihat sahabatnya yang tampak sangat kelelahan.


“Bercinta dengan siapa?” sanggah Coco seraya duduk sambil melipat kedua lututnya. Ia meletakan kedua tangannya di atas lutut tersebut. “Francy masih sibuk dengan kekasihnya yang cantik,” keluh pria itu dengan malas-malasan. Ia bermaksud untuk kembali merebahkan tubuhnya, tetapi dengan segera Matteo menarik tangannya agar segera berdiri. “Hei, kenapa tidak sekalian kau jewer telingaku seperti yang dilakukan Damiano kemarin!” protes Coco dengan kesal. Ia merasa benar-benar terganggu dengan kehadiran Matteo di dalam kamarnya.


“Cepat mandi dan berpakaianlah seperti orang normal! Setelah itu pergilah ke penjara bawah tanah!” perintah Matteo dengan agak tegas. Nada bicaranya terdengar jika ia sedang menahan emosi yang teramat besar. Hal itu membuat Coco mengernyitkan keningnya.


“Tenanglah, Amico! Coba katakan ada masalah apa? Kenapa aku harus pergi ke sana?”


Matteo mengempaskan napas panjang seraya duduk di tepian ranjang. Ia bahkan sempat mendengus beberapa kali. Tampak jelas jika pria itu sedang dalam situasi yang tidak enak.


“Kau yang kemarin membawa pelayan itu ke penjara bawah tanah?” tanyanya.


“Ya. Tepatnya aku dan Damiano. Memangnya kenapa?” tanya Coco dengan penasaran. Ia masih berdiri di hadapan Matteo dengan kostum tidurnya. Matteo menoleh padanya untuk sejenak.


“Bisakah kau memakai celana? Geli rasanya melihatmu berdiri di hadapanku dengan tampilan seperti itu.” protes Matteo yang seketika membuat Coco tergelak. Ia kemudian segera meraih celana tidur dan memakainya.


“Baiklah, katakan ada apa?” tanya Coco seraya menarik tali pinggang celananya. Ia lalu mengambil kursi kayu dan membaliknya. Coco segera duduk dengan meletakan tangannya pada sandaran kursi tersebut.


“Pelayan yang kemarin kau dan Damiano bawa ke penjara bawah tanah, pagi ini ditemukan mati tergantung. Aku juga melihat mulutnya berbusa. Sepertinya ia sudah menenggak racun, tapi entah racun jenis apa,” terang Matteo. Ia memelankan sedikit suaranya.


Mendengar hal itu, Coco tampak sangat terkejut. Sambil merapikan rambutnya, pria bermata cokelat tersebut seperti tengah memikirkan sesuatu. “Kau bisa memeriksanya lewat kamera pengintai. Bukankah di sana ada beberapa kamera yang terpasang?”


“Itulah yang menjadi masalahnya!” geram Matteo. “Semua kamera di sana telah rusak. Ada seseorang yang dengan sengaja melakukan itu, tapi aku tidak tahu siapa pelakunya!”Matteo beranjak dari duduknya. Ia berjalan mondar-mandir di depan Coco sambil sesekali mendengus kesal. Sedangkan Coco masih terdiam memperhatikan tingkah sahabatnya yang tampak sangat gelisah. Tidak biasanya Matteo bersikap seperti itu.

__ADS_1


“Tenanglah, Amico! Kita harus berpikir dengan kepala dingin agar dapat memecahkan masalah ini secepatnya,” ujar Coco yang sedari tadi mengikuti pergerakan Matteo dengan matanya. “Kau membuatku pusing. Bisakah kau duduk dan bersikap seperti orang normal?”


Matteo tertegun seraya mendelik tajam ke arah Coco yang saat itu tersenyum sambil mengacungkan dua jari kepada Matteo. Namun, Matteo pun akhirnya kembali duduk di tepian ranjang itu dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya dengan perlahan. “Aku sangat mencemaskan keselamatan Mia. Entah mengapa aku merasa jika ada seseorang yang tidak menyukai kehadirannya di sini,” gumam Matteo setelah beberapa saat kemudian.


“Aku rasa bukan hanya kehadirannya di Casa de Luca, tapi juga kehadirannya dalam hidupmu, Theo. Kau ingat saat dulu kau pernah mengatakan padaku tentang masalah keturunan?” pertanyaan Coco membuat Matteo kembali berpikir. “Ah, sudahlah! Lupakan dulu hal itu. Apa kau mencurigai seseorang saat ini?” selidik Coco.


Matteo masih terdiam. Pria itu kembali menarik napas panjang. “Ya. Ada seseorang yang kucurigai dan saat ini sedang kupantau,” jawabnya pelan dengan rona penuh keraguan.


“Siapa?” tanya Coco serius.


“Damiano Baresi,” jawab Matteo membuat Coco seketika terperanjat dan bangkit dari duduknya. Pria dengan tato burung elang itu menatap Matteo begitu tajam. Jelas sudah jika ia tidak menyukai dari jawaban sahabatnya.


“Jangan gila, Theo!” sergahnya. “Kau boleh merasa stres dengan masalah ini, tapi kau tidak pantas menuduh Damiano sebagai otak dari semua insiden buruk yang telah terjadi! Aku akan menjadi orang pertama yang menentangmu seandainya kau benar-benar melanjutkan pikiran bodohmu itu!” Coco seketika tersulut emosinya akibat pemikiran konyol Matteo. Baru kali ini, ia berkata dengan sangat tegas sambil terus menunjuk-nunjuk ke arah sahabatnya tersebut. Hal itu membuat Matteo seketika beranjak dari duduknya dan segera berdiri di hadapan Coco.


“Lalu siapa yang harus aku curigai? Aku pantas mencurigai semua orang yang ada di rumah ini!” balas Matteo yang tak kalah emosinya.


“Oh, bahkan kau juga akan mencurigaiku?” Coco tertawa getir. “Bagus sekali, Theo! Aku sarankan sebaiknya kau pergi berlibur! Perbanyaklah berjemur di pantai agar hidupmu terasa lebih hangat!” sindir Coco. “Kau sungguh keterlaluan! Kau berani menuduh seseorang yang telah merawatmu sejak kecil. Kau anak yang tidak tahu terima kasih!” Coco mendengus kesal seraya menyingkirkan kursi kayu yang ada di dekatnya, hingga kursi itu terbalik. Setelah itu, ia lalu duduk di tepian ranjang dan mencoba menenangkan dirinya.


Matteo kemudian duduk di sebelahnya. “Mungkin sebaiknya aku mempercepat rencanaku untuk pergi ke Venice,” ucapnya datar.


“Untuk apa kau ke sana?”


“Menemui mereka yang berada di dalam tahanan. Aku rasa, mereka pasti masih menyimpan banyak informasi yang belum diungkapkan kepadaku,” jawab Matteo dengan setitik harapan untuk semua kegelisahannya.


“Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Aku senang karena kau masih menyisakan sedikit kepintaranmu,” celoteh Coco membuat Matteo mendelik tajam kepadanya. Sedangkan Coco bersikap tidak peduli. Ia lebih memilih untuk berlalu ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Matteo sendirian.


Sepeninggal Coco, Matteo memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Di sana, ia mendapati Mia tengah asyik berbincang dengan kedua saudarinya yang baru akan kembali ke kota Roma pada keesokan harinya. Melihat kehadiran Matteo di sana dengan ekspresi wajah yang tampak sangat menakutkan, Daniella dan Francesca segera turun dari tempat tidur.


“Ehm, kami pergi dulu, Mia,” pamit Francesca.


“Suamimu mengerikan,” bisik Daniella sembari menarik tangan adiknya keluar dari kamar.

__ADS_1


Sepeninggal kedua saudarinya, Mia yang juga merasakan suatu keanehan dalam diri Matteo, segera menghampiri sang suami yang saat itu tengah duduk di ujung tempat tidur. Mia berdiri di hadapan Matteo dan menunjukkan wajah manisnya dengan senyuman yang begitu lembut. Segera dielusnya rambut Matteo dengan penuh cinta. Pria itupun merangkul pinggang Mia dan membenamkan wajahnya pada perut sang istri.


“Ada apa, Theo?” tanya Mia pelan.


Matteo tidak segera menjawab. Ia masih membenamkan wajahnya di perut Mia untuk beberapa saat lamanya. Setelah merasa puas, barulah Matteo mengangkat wajahnya dan menatap Mia yang saat itu masih dengan senyum manisnya. Belaian lembutnya pun tak juga berhenti memanjakan rambut pendek Matteo yang kini selalu tersisir dengan rapi ke belakang. “Aku membutuhkanmu, Mia,” ucap Matteo. Suaranya terdengar begitu berat dan dalam.


Mia menggumam pelan. Tanpa diminta, wanita muda itu segera naik ke atas pangkuan Matteo. Duduk sambil menghadap kepada sang suami, Mia begitu nyaman melingkarkan kedua tangannya di leher Matteo. “Aku selalu ada kapanpun kau membutuhkanku, Theo,” balas Mia dengan setengah berbisik. Hal sederhana yang merupakan sebuah godaan berat bagi seorang Matteo de Luca. Tanpa banyak bicara, ia segera melu•mat mesra bibir merah sang istri.


Diangkatnya tubuh ramping Mia dan direbahkannya di atas ranjang. Amarah yang memuncak dan hampir membakar logikanya, seketika luruh kala menghadapi mata sayu dan senyum lembut Mia.


“Mia ....” Matteo begitu terpesona dengan baju yang dikenakan istrinya. Mia saat itu memakai kaus oblong milik Matteo yang tampak terlalu besar di badannya yang ramping, membuat wanita cantik itu terlihat semakin seksi.


Tangan kekar Matteo mulai nakal, merayap dan menelusup ke dalam kaus, kemudian bermain-main di dada istrinya. “Theo, kau belum mengunci pintunya,” cegah Mia.


“Sebentar saja, Sayang,” Matteo sama sekali tak menghiraukan ucapan Mia. Ia segera melepas kaus oversize itu dan membenamkan wajahnya di sana, di antara cup berenda dengan warna hitam. Tangan kanan Matteo berada di atas telapak tangan Mia seraya mere•mas jemari lentik itu dengan lembut. Sedangkan, tangan kirinya sibuk melakukan sesuatu yang membuat tubuh Mia terus menggelinjang.


Namun, tiba-tiba saja terlintas sesuatu dalam pikirannya. Matteo mengangkat wajahnya dan menatap Mia. “Besok kita akan pergi ke Venice,” ucapnya. “Kita akan mengunjungi Mr. Gio dan juga Valentino," lanjutnya.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2