Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Forte Shock


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan detektif dari kepolisian pada hari kemarin, Matteo tampak banyak merenung. Ia memikirkan cara untuk menutupi kematian Antonio. Sementara Mia, merawatnya dengan sangat telaten, dan kerap mengajaknya bercanda.


Setiap satu minggu sekali, seorang dokter spesialis ortopedi datang ke sana untuk memeriksa perkembangan luka Matteo. Biasanya, dokter itu datang setiap hari Kamis, selepas praktik dari rumah sakit tempatnya bekerja.


 


Seperti halnya hari itu. Sekitar pukul sembilan pagi, Mia sudah menyiapkan air hangat di dalam baskom untuk menyeka tubuh sang suami, meskipun Matteo kerap protes terhadapnya. "Kenapa tidak kau mandikan aku sekalian, Sayang?" Matteo mencoba mengalihkan pikirannya. Sedangkan Mia hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Ia sibuk menyiapkan pakaian yang akan Matteo kenakan.


 


"Sebentar lagi, Theo. Kau harus belajar untuk menjadi lebih sabar," sahut Mia lembut. Ia lalu menghampiri Matteo yang saat itu tengah duduk di atas kursi kayu dekat jendela. Mia kemudian meletakan baskom berisi air hangat tadi di atas meja sebelah kursi tersebut. Setelah itu, ia mulai memasukan sapu tangan handuk dan memerasnya.


 


Dengan lembut dan sangat hati-hati, Mia menyeka setiap sudut tubuh tegap Matteo. Sudah beberapa hari dari setelah kejadian mengerikan di Pulau Elba, ia melakukan hal itu dengan penuh cinta. Sementara Matteo selalu terdiam ketika Mia menyeka tubuhnya. Rasa hati ingin menarik dan memeluk wanita muda itu, tetapi apa daya karena ia masih merasakan sakit jika melakukan pergerakan yang terlalu kuat. Akhirnya, Matteo hanya dapat pasrah dan menahan dirinya seraya mengembuskan napas dalam-dalam.


 


Matteo paling menyukai ketika Mia menyeka dada dan perut, meskipun hal itu justru membuatnya amat tersiksa karena harus melawan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Sentuhan Mia terlalu lembut dan seakan membangkitkan gairah kelelakiannya meski tanpa sebuah perlakuan yang terlalu menantang. Akan tetapi, entah mengapa karena keinginan Matteo untuk membawa Mia ke dalam kekuasaannya, selalu muncul tiap kali ia berdekatan dengan wanita berambut panjang tersebut. Terlebih ketika dirinya merasakan tangan berhiaskan jemari lentik itu bersentuhan langsung dengan kulitnya.


 


"Mia ...." de•sah Matteo lirih. Suaranya terdengar seperti sebuah hembusan napas pelan di telinga Mia. Namun, ibarat sebuah magnet yang bertemu dengan besi, Mia sudah dapat mengerti dengan isyarat yang Matteo tunjukkan kepadanya lewat tatapan mata abu-abu itu. Ia segera menyudahi semuanya dan mulai mengeringkan tubuh bagian atas Matteo.


 


"Aku ke dapur dulu," ucap Mia dengan gelisah. Ia mencoba untuk menghindar, karena kini dirinya mulai merasa tidak nyaman saat itu. Mia tahu jika Matteo menginginkan sesuatu yang lebih darinya. Satu hal yang telah lama tidak mereka lakukan, akibat kondisi Matteo yang belum pulih. Namun, saat itu Matteo segera meraih bagian bawah dress yang Mia kenakan, sehingga mau tak mau Mia harus mengurungkan niatnya.


 


"Theo, kau sangat nakal!" protes Mia dengan mata melotot. Akan tetapi, makin lama tatapannya semakin lembut. Sebuah senyuman manis pun tersungging di bibir red cherry yang tampak begitu segar dan menggoda. Mia lalu membalikan badannya dan berdiri di hadapan Matteo yang masih duduk dengan bertelanjang dada.


 

__ADS_1


Ditatapnya wajah rupawan sang suami. Sepasang mata abu-abu itu seakan memohon sesuatu kepadanya, dan Mia tak tega untuk menolak hal itu. Ia lalu mencondongkan tubuhnya sehingga wajahnya kini tepat berada di hadapan wajah Matteo dengan jarak yang sangat dekat. Mia meletakan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan Matteo, pada lengan kursi kayu itu. Meski tanpa permintaan secara lisan, tetapi Mia begitu memahami pria tersebut. Ia segera memberikan apa yang sang suami inginkan darinya.


 


Dikecupnya bibir berhiaskan kumis tipis dengan lembut. Pria itu segera membalasnya dengan sebuah luma•tan penuh gairah yang seketika membakar tubuh Mia hingga ia merasa kepanasan. Mia menjadi begitu gelisah ketika ia merasakan setiap isapan lembut dengan permainan lidah yang membuat seluruh tubuhnya seketika merinding.


 


Sesaat kemudian, Mia melepaskan ciumannya. Sedangkan Matteo masih berada dalam posisinya saat itu. Ia tak berkata apapun, tatapan matanya telah mewakili segala hal yang ia inginkan. Mia pun menjalarkan ciumannya pada leher Matteo, membuat pria itu segera bereaksi. Helaan napas berat mengiringi semua sentuhan bibir merah Mia yang kini telah berpindah ke dada dan perut dengan pahatan tegas dan begitu sempurna.


 


"Ayo, Mia. Kita lihat, seberapa pintar kau melakukannya," tantang Matteo ketika Mia bersimpuh di hadapannya dan mengeluarkan kumbang jantan yang telah siap untuk terbang. Namun, Mia tak akan membiarkannya terbang dengan mudah. Digenggamnya sang kumbang dan dilahapnya dengan perlahan. Sedikit demi sedikit, hingga akhirnya Mia hampir melahap seluruh tubuh si kumbang tersebut.


 


Seketika Matteo menahan napasnya. Tubuhnya bergerak perlahan. Perasaannya mulai tak karuan. Hasrat yang kian besar terus berpacu dengan gairah yang sudah tak dapat ia bendung lagi. Helaan napas berat dan dalam pun terus meluncur dari bibirnya. Ingin rasanya ia membawa wanita itu ke tempat tidur dan menghabisinya di sana dengan tanpa ampun. Namun, lagi-lagi Matteo sadar karena kondisi tubuhnya tak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Matteo hanya dapat bersikap pasrah dan menerima setiap perlakuan Mia terhadapnya.


 


 


Mia tersenyum kecil. "Kondisimu belum pulih, Theo," ucapnya pelan.


 


"Aku tidak selemah itu, Mia," sanggah Matteo dengan pelan tapi terdengar sangat yakin, sehingga membuat Mia dengan terpaksa menuruti permintaan dari sang suami.


 


Mia kemudian bangkit dan menurunkan segitiga berbahan lace yang dikenakannya. Ia lalu naik ke atas pangkuan Matteo, yang saat itu menatapnya dengan sorot mata yang terlihat sangat aneh. Namun, dengan segera mata berwarna abu-abu itu terpejam ketika si pemiliknya merasakan sebuah himpitan kuat, yang membuatnya kembali menahan napas untuk sesaat. Tidak lama kemudian, helaan napas berat Matteo pun terdengar dan berbaur dengan desah manja Mia, yang bergerak indah dan menggoda dalam pangkuan sang suami.


 

__ADS_1


Makin lama, gerakan Mia semakin cepat dan menjadikan sebuah guncangan yang cukup kuat pada tubuh Matteo. Pria itu tampak meringis kecil. Tubuhnya seperti tengah menahan perasaan nikmat yang bercampur dengan rasa sakit yang timbul dari luka yang memang belum sepenuhnya pulih. Namun, semakin lama Matteo tampaknya semakin kesakitan. "Ah, Mia ...." ringisnya pelan membuat Mia segera menghentikan gerakannya.


"Theo!" wajah panik Mia begitu terlihat. Ia segera turun dari atas pangkuan Matteo. Dengan tergesa-gesa, Mia membetulkan letak celana suaminya dan mengusap kening Matteo yang dipenuhi bulir-bulir keringat. Terlihat jelas mimik tampan pria itu yang tengah menahan sakit.


"Sudah kukatakan, kau masih belum pulih. Kenapa kau keras kepala sekali, Theo?" omel Mia dengan wajah khawatir. Sementara Matteo hanya tertawa renyah melihat Mia yang ketakutan.


"Sepadan dengan rasa nikmatnya, Cara mia. Sayang sekali apa yang kita lakukan tadi tak tuntas," sahut Matteo sambil meringis memegangi dadanya.


"Theo!" nada suara Mia meninggi. Sikap konyol Matteo membuatnya tidak habis pikir. Mia hendak melanjutkan kalimatnya, tetapi suara ketukan di pintu membuatnya harus mengurungkan niatnya.


Mia segera merapikan bajunya, lalu melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan. Seorang pria tua berkemeja rapi telah berdiri di hadapannya dengan senyuman ramah. "Selamat pagi, Nyonya de Luca," sapanya.


"Dokter, kebetulan Anda datang," Mia mengela napas lega sembari menyentuh dadanya sendiri. Dengan gerakan tubuh, Mia mempersilakan dokter itu masuk dan memeriksa Matteo. "Suami saya kesakitan. Saya harap Anda bisa melakukan sesuatu padanya," ujar Mia penuh harap.


"Bagaimana bisa? Apa yang membuatnya kesakitan? Padahal hasil pemeriksaan X-ray kemarin menunjukkan kondisi tulang selangka Tuan de Luca yang sudah mulai merekat dan hampir sempurna," tutur dokter itu keheranan.


"Itu karena, ehm ...." wajah Mia merah padam. Jawabannya juga tergagap. Ia tak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada sang dokter, atas kegiatan panas yang baru saja ia lakukan dengan suaminya. Sedangkan Matteo meng•ulum senyumnya sambil sesekali meringis.


Dokter tadi mengamati suami istri itu secara bergantian. Dua-duanya berkeringat dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Beberapa saat kemudian, dokter yang berusia kira-kira separuh abad itu tertawa pelan. Ia sudah bisa menebak penyebabnya, ditambah lagi dengan sorot malu-malu dan pipi kemerahan Mia, semakin memperkuat keyakinannya.


"Tuan dan Nyonya de Luca, saya hanya bisa menyarankan satu hal. Jika Anda tidak dapat menahan gairah dan ingin melakukannya, maka lakukanlah dengan perlahan. Apabila retakan tulang Tuan de Luca kembali terbuka, Anda harus mengulang prosedur perawatan mulai dari awal lagi," tegas dokter itu. "Tentunya Anda berdua tak ingin hal itu terjadi, bukan?" jelasnya seraya tersenyum ramah.


Mia dan Matteo menggeleng dengan serempak. Setelah itu mereka saling pandang dan melempar senyuman. Sesekali, Mia melotot kepada sang suami, sedangkan Matteo hanya tersenyum kalem saat menanggapinya.


Beberapa saat kemudian, dokter itu mulai memeriksa kondisi Matteo dengan saksama. Ia terlihat begitu serius saat melakukan tugasnya hingga selesai. "Kondisinya semakin membaik, tapi itu bukan berarti Tuan de Luca sudah bebas melakukan sesuatu yang terlalu berat. Setidaknya untuk enam sampai delapan minggu ke depan. Namun, jika melihat kondisi Tuan de Luca saat ini, saya rasa enam minggu cukup untuk memulihkan kondisi Anda ... dengan catatan seperti yang sudah saya jelaskan tadi," terang sang dokter membuat Mia dan Matteo kembali saling pandang seraya melempar senyuman.


"Terkadang Matteo begitu keras kepala," ucap Mia dengan setengah bergumam.


Dokter itu tersenyum ramah. "Saya dapat memahami hal itu, apalagi jika Tuan de Luca memang seseorang yang aktif sebelumnya. Pasti sangat membosankan saat menghadapi kondisi seperti ini. Namun, saya sarankan Anda harus jauh lebih bersabar," tutur dokter itu seraya menoleh ke arah Matteo yang saat itu hanya menggumam pelan.


"Jangan lupa juga untuk melakukan chek up ke rumah sakit dua minggu lagi. Silakan buat janji terlebih dahulu," pesan dokter itu. Sesaat kemudian, ia pun berpamitan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2