Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Two Days


__ADS_3

Mia terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, gadis itu menggeleng dengan tegas. “Tidak, Ayah! Theo tidak ada hubungannya dengan mayat di Kanal Utara itu,” bantah Mia dengan sangat yakin. Hal itu membuat Matteo kembali menatap Mia dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan. Matteo tidak mengerti kenapa Mia bersikap seperti itu terhadap dirinya.


“Bagaimana kau bisa seyakin itu, Mia?” Mr. Gio kembali pada nada bicaranya yang cukup tegas. Tentu saja, ia adalah seorang pria yang berpikir dengan logika, bukan dengan perasaan seperti yang tengah terjadi pada Mia saat ini. Mr. Gio hanya ingin meyakinkan dan membuka mata Mia, agar ia dapat melihat hal lain yang tidak dapat gadis itu lihat dari seorang Matteo.


“Iya, Ayah. Aku percaya padanya! Aku yakin jika Theo adalah pria yang baik dan tidak seperti yang Ayah pikirkan!” jawaban yang telah membuat Matteo merasa tertampar. Ia semakin yakin untuk menjauh dari gadis itu. Ya, Mia bukanlah gadis yang tepat untuk ia bawa ke dalam kehidupannya yang keras.


“Perbincangan yang sangat membosankan!” gerutu Daniella. Gadis itu membetulkan sikap tubuhnya menjadi lebih tegak. Ia lalu menghampiri Matteo dan berdiri di sampingnya.


“Jadi, bagaimana keputusanmu, Ayah? Apakah Ayah akan mengizinkan Theo untuk menginap di sini atau tidak?” Daniella meminta keputusan yang jelas kepada sang ayah. Sementara Mr. Gio tidak segera menjawab. Pria paruh baya itu kembali melayangkan tatapan tajamnya kepada Matteo yang sejak tadi memilih untuk lebih banyak diam.


“Baiklah. Aku akan mengizinkanmu untuk tinggal selama dua hari. Akan tetapi, tidak di rumahku, Anak Muda!” ujar Mr. Gio. “Kau boleh kembali ke kedai dan lanjutkan tidurmu di sana. Lagi pula, selama kau bersembunyi di dalam gudang, aku tidak merasa kehilangan apapun dari kedai-ku, itu artinya kau bukan seorang pencuri yang berpura-pura terluka,” lanjut pria itu dengan nada bicara yang mulai tenang.


Matteo tidak menjawab. Ia hanya mengguman pelan. Matteo kemudian mengangguk setuju. Sedangkan Daniella terlihat sebaliknya. Gadis itu jelas tidak suka dengan keputusan Mr. Gio. Ia ingin agar Matteo dapat tinggal di rumah itu meskipun hanya dua hari.


Lain Daniella, lain juga dengan Mia. Gadis itu bersyukur karena akhirnya sang ayah dapat berbaik hati dan mengizinkan Matteo untuk tetap tinggal meskipun tidak untuk waktu yang lama.


“Oh, syukurlah! Aku percaya bahwa akan selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah. Ini sudah terlalu malam," sela Magdalena. "Theo, sebaiknya kau segera kembali ke kedai dan jagalah tempat itu dengan baik!” ucap wanita itu lagi seraya berdiri. Ia merasa lega karena malam itu tidak terjadi keributan yang jauh lebih parah dari yang sempat ia bayangkan sebelumnya.


Magdalena kemudian meminta Mr. Gio untuk mengantarkannya ke kamar, meskipun Mr. Gio terlihat ingin menolak. Namun, sepertinya ia tidak dapat melakukan hal itu terhadap wanita yang sangat dicintainya.


“Mia, berikan kunci kedai kepada anak muda ini dan suruh ia untuk segera pergi! Aku tidak mau ia terlalu lama berada di sini!” suruh Mr. Gio seraya berlalu bersama Magdalena menuju kamar mereka.


Sementara itu, Mia menatap Matteo untuk sesaat, sebelum akhirnya ia beranjak ke kamarnya untuk membawa kunci kedai.

__ADS_1


Daniella tampak tidak terlalu bahagia. Niatnya untuk membuat Mia cemburu menjadi gagal total, karena keputusan tegas sang ayah yang tidak dapat ditentang oleh siapa pun. Namun, itu bukan berarti ia tidak dapat sedikit bersenang-senang dengan Matteo.


Daniella meraih wajah Matteo tanpa permisi terlebih dahulu. Ia kembali mencium pria itu dengan mesra, meskipun Matteo bersikap tidak seperti saat mereka berciuman di luar. Matteo bahkan terkesan membiarkan Daniella menikmati permainannya sendiri.


“Ah, maaf!” Mia segera menundukan wajahnya. Ia tidak ingin melihat adegan itu lagi. Sedangkan Matteo segera menjauhkan wajahnya dari wajah Daniella. Ia menatap Mia yang kembali diliputi rasa kecewa. Mia bahkan menyerahkan kunci kedai dengan begitu saja.


Setelah Matteo menerima kunci itu, Mia segera kembali ke kamarnya. Ia tidak mau ambil pusing dengan apa yang akan dilakukan oleh mereka berdua. Mia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Ia telah berusaha untuk membantu Matteo dengan segenap kemampuannya.


“Ayo, kuantar kau sampai depan!” ajak Daniella. Ia meraih tangan Matteo dan mengajaknya untuk segera keluar dari sana.


“Hentikan, Dani! Jangan lakukan hal seperti itu!” sergah Matteo sebelum ia benar-benar pergi.


“Apa maksudmu, Tuan Bellucci?”


Berjalan sendirian, Matteo menyusuri gang sempit di antara bangunan tinggi dengan pencahayaan yang minim. Ia tidak dapat membayangkan saat Mia pulang sendirian dari kedai. Pantaslah jika Mr. Gio begitu mengkhawatirkan gadis itu, ketika Mia pulang terlambat.


Suasana di sepanjang jalan itu memang terbilang sepi. Matteo sempat menghentikan langkahnya. Ia berdiri untuk sesaat. Instingnya mulai bekerja, dan dengan segera ia menajamkan indera pendengarannya.


Matteo kemudian menggerakan kedua bola matanya ke samping kanan. Ia merasa jika di belakangnya ada seseorang yang tengah mengawasinya. Namun, Matteo tidak ingin bersikap mencurigakan.


Matteo terlihat tenang, tapi ia tetap waspada. Ia melanjutkan langkahnya menuju kedai yang berjarak sekitar lima ratus meter dari kediaman Mr. Gio.


Mateo kian menajamkan instingnya. Ia semakin berhati-hati, bahkan ketika telah tiba di depan kedai. Ia segera membuka kunci pintu masuk kedai tersebut.

__ADS_1


Sebelum masuk, ia sempat melihat ke sekeliling tempat itu. Suasana di sana begitu sepi, karena saat itu malam telah semakin larut. Pandangan Matteo kemudian tertuju pada dinding sebuah bangunan yang ia rasa menjadi tempat persembunyian seseorang yang menguntitnya.


Namun, Mateo tidak ingin melakukan apapun. Tangannya sudah terasa gatal, tapi belum saatnya bagi Matteo untuk menyelesaikan semua kekacauan. Matteo pun memutuskan untuk segera masuk dan kembali mengunci kedai itu dari dalam.


Sementara orang yang sejak tadi mengintai dirinya, segera pergi dari sana.


Matteo kembali berada di dalam gudang, sendirian dan termenung dalam cahaya temaram ruangan itu. Ia duduk seraya menyandarkan tubuhnya dan menekuk kaki kanannya, sementara kaki kirinya ia biarkan menjulur. Tidak ada sarana apapun yang dapat ia gunakan sebagai alat komunikasi. Ia tidak dapat menghubungi siapa pun.


Matteo berkali-kali mengela napas panjang. Ia merasa sangat lelah. Sebenarnya, luka di lengan kanannya telah pulih. Namun, entah kenapa Mia masih menahannya untuk pergi dari sana.


Perlahan, Matteo memejamkan kedua matanya. Tanpa ia sadari, akhirnya pria itu pun terlelap. Ia baru kembali membuka matanya ketika didengarnya ada suara seseorang yang masuk ke kedai itu.


Rupanya malam telah berlalu. Suasana sudah mulai terang. Matteo tersenyum simpul, ia yakin jika Mia telah datang untuk membawakannya sarapan. Dengan penuh semangat, Matteo bangkit dan menuju pintu gudang.


“Mia aku tahu kau ....” Matteo tidak melanjutkan kata-katanya. Ia tertegun ketika mendapati seseorang yang berada di sana. Malu dan kecewa bercampur menjadi satu. Matteo kembali memerlihatkan wajah datarnya.


“Kenapa, Theo? Kau berharap putriku yang datang?” ujar Mr. Gio dengan nada bicaranya yang tidak pernah berubah, tetap terdengar tegas dan berwibawa. Ia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya perlahan.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2