Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Something In a Paper Bag


__ADS_3

Matteo tersenyum kecil. Sesekali ia menundukan wajahnya karena merasa malu. Sementara Mr. Gio tidak terlalu ambil pusing. Pria paruh baya itu langsung melakukan pekerjaannya, menyiapkan segala sesuatu, agar nanti siang ia dan Mia tidak terlalu keteteran.


 


Melihat Mr. Gio yang bekerja sendirian, Matteo pun berinisiatif untuk membantunya. Ia menurunkan kursi dari atas meja dan menatanya dengan rapi.


 


“Biasanya Mia yang datang kemari pada jam seperti ini,” ujar Matteo. Ia melihat Mr. Gio begitu serius dengan pekerjaannya.


 


Mr. Gio menghentikan pekerjaannya untuk sesaat. Ia lalu menoleh ke arah Matteo berdiri. “Putriku masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Untuk hari ini ia tidak terlalu terburu-buru seperti beberapa hari kebelakang,” sahut Mr. Gio tanpa bermaksud menyindir Matteo. Akan tetapi, hal itu telah membuat Matteo merasa sedikit tidak enak.


 


“Mia selalu datang tepat waktu,” ucap Matteo lagi. Entah kenapa ia merasa ingin terus membahas gadis itu. Sementara Mr. Gio hanya menggumam pelan. Ia kemudian beranjak ke meja kasir. Pria itu mengerjakan hal lain di sana. Sedangkan Matteo menyandarkan sebagian tubuhnya pada pinggiran meja.


 


“Mia, putri kandungku. Aku sangat menyayanginya. Selain itu, aku harus mengemban tanggung jawab atas janji yang telah kuberikan kepada mendiang istriku,” terang Mr. Gio dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba terlihat muram. Akan tetapi, hal itu tidak membuatnya menjadi larut dalam kesedihan. Mr. Gio adalah pria kuat yang pandai menyembunyikan segala duka di dalam dirinya.


 


“Apakah putri kandungmu hanya Mia?” tanya Matteo lagi. Ia mengambil sebuah kursi dan membaliknya. Matteo kemudian duduk seraya melipat kedua tangannya di atas sandaran kursi tersebut.


 


“Ya. Istriku sakit keras saat Mia masih kecil. Ia meninggal di usia yang relatif masih muda, sesuatu yang sangat disayangkan. Namun, itu semua adalah takdir yang tidak dapat kucegah dan harus kuterima,” Mr. Gio mengakhiri kata-katanya dengan sebuah senyuman kelu. Setelah itu, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Matteo masih menatap pria itu. Pria dengan usia yang tidak berbeda jauh dengan ayahnya, Roberto de Luca.


 


Mr. Gio tampak sudah menyelesaikan pekerjaannya di meja kasir. Namun, ia kembali menyibukan dirinya dengan hal lain.


 


“Apakah Anda sudah lama tinggal di Venice, Tuan?” tanya Matteo lagi. Ia tahu jika sebenarnya Mr. Gio adalah pria yang baik, di balik sikap keras dan tegasnya.


 


“Ya. Aku sudah berada di sini dari semenjak Mia berusia dua belas tahun,” jawab Mr. Gio. Ia mengela napas pendek. “Dulu aku tinggal di Milan dan bekerja di salah satu kantor pemerintahan di sana. Namun, setelah istriku tiada aku memutuskan untuk pindah kemari,” terang Mr. Gio seraya berdiri di depan Matteo. Ia menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja kasir dan menatap pria muda di hadapannya.

__ADS_1


 


"Kau tahu, Giovanotto? Aku bertemu dengan Magdalena di kota ini. Dia seorang aktris yang luar biasa. Aku menonton pertunjukannya. Satu kali, dua kali, dan pada akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diri untuk menyapanya. Magdalena wanita yang sangat cantik. Ia memiliki banyak penggemar, dan aku tidak seperti penggemarnya yang lain,” tutur Mr. Gio yang terlihat berseri saat mengenang masa lalunya bersama Magdalena.


 


“Maksud Anda?” tanya Matteo. Ia sepertinya tertarik dengan cerita cinta Mr. Gio saat muda.


 


“Aku tidak seperti penggemarnya yang lain. Aku datang padanya tanpa membawa apapun, bahkan tidak setangkai bunga sekalipun. Aku tidak yakin apakah ia akan mengingatku. Akan tetapi, ternyata hal itulah yang justru yang membuatnya tidak melupakanku. Terkadang apa yang kita takutkan, justru menjadi sebuah keberuntungan bagi kita. Lucu, kan?” Mr. Gio tersenyum simpul.


 


“Bagaimana Anda bisa begitu percaya diri saat itu, Tuan?” tanya Matteo lagi tanpa mengubah sikap duduk ataupun nada bicaranya. Pria itu masih setenang air danau.


 


Mr. Gio menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Ia juga mungkin tidak mengerti dengan jalan hidupnya sendiri. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya yang berhiaskan kumis cukup tebal.


“Aku tidak tahu keberanian itu datang dari mana, tapi yang pasti aku hanya membawa satu keyakinan dalam diriku. Aku tidak peduli meskipun akan mendapatkan sebuah penolakan yang menyakitkan, yang penting aku sudah bersikap jantan dengan menunjukkan apa yang ada di dalam hatiku. Aku tidak berpura-pura apalagi lari dan menghindar. Setidaknya ia telah mengetahui jika ada seorang pria bersahaja, yang telah jatuh cinta padanya dengan cara yang berbeda. Cara yang tidak biasa,” tutur Mr. Gio lagi membuat Matteo terdiam dan berpikir dalam-dalam. Matteo terdiam. Ia seperti mendapatkan sebuah suntikan dalam dirinya.


 


 


"Aku dan istriku sudah semakin tua. Kami berharap ketiga putri kami dapat menemukan pria yang akan menjaga mereka dengan sepenuhnya, yang tidak hanya pandai bicara."


 


 


Hingga menjelang tengah hari, Matteo menemani Mr. Gio di kedai. Saat itu, Mia baru datang ke sana dengan membawa sebuah paperbag berwarna putih tulang. Matteo yang baru selesai memasang meja di luar kedai, tampak menyeka keringat yang membasahi keningnya. Mereka berdua bertatapan untuk sejenak, sebelum akhirnya Mia memutuskan untuk masuk dan menemui sang ayah.


 


Mia tertegun saat memasuki kedai. Ia tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan di sana. Semuanya telah selesai dikerjakan, bahkan tempat tisu pun sudah siap di atas setiap meja.


 


Mr. Gio menghampiri Mia yang masih berdiri dengan perasaan heran bercampur geli. “Tuan Bellucci yang telah membantuku, Mia. Mungkin ia merasa malu karena hanya makan dan tidur di sini,” bisik Mr. Gio. Ia lalu kembali ke meja kasir.

__ADS_1


 


Mia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Matteo yang saat itu baru masuk ke kedai. Ia terlihat agak kikuk, meskipun sikap itu terus berusaha untuk disembunyikannya.


 


Tak ubahnya dengan Mia sendiri. Gadis itu bersikap jual mahal di depan Matteo. Namun, tak jarang ia mencuri-curi pandang terhadap pria rupawan itu.


 


“Theo,” panggil Mia pelan. Pada akhirnya ia mengalah dan menyapa terlebih dahulu.


 


Matteo menoleh dan menatap Mia dengan tatapan yang seperti biasanya. Tatapan yang membuat gadis itu kembali salah tingkah, terlebih ketika Matteo melangkah dengan gagahnya dan menghampiri Mia yang seketika terpaku di tempatnya berdiri.


 


“Ada yang bisa kubantu, Mia?” tanya Matteo. Suaranya terdengar begitu menggoda dan menyingkirkan segala kewarasan yang terus Mia coba untuk pertahankan.


 


“Um ... tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab Mia dengan agak gugup. Sesekali ia menundukan wajahnya dan mengulum bibirnya. Mia merasa bingung harus memulainya dari mana. Karena itu, ia akhirnya menyodorkan paperbag yang dibawanya tanpa banyak bicara.


 


“Apa ini?” tanya Matteo seraya melihat isi di dalam paperbag itu. Seketika Matteo mengernyitkan keningnya.


 


“Kau akan membutuhkan itu," ucap Mia seraya mengalihkan pandangannya ke segala arah. "Sudah berapa hari kau tidak mengganti pakaian dalam-mu?” jawab Mia dengan malu-malu. Ia merasa tidak enak karena harus membahas hal yang sangat pribadi dengan seorang pria yang masih asing baginya.


 


 


Matteo tersenyum. Sebuah senyuman yang terlihat jauh lebih luwes dan lebar jika dibandingkan dengan senyuman Matteo yang biasanya. Pria itu terlihat sangat rileks dan tidak terbebani sama sekali.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2