Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Campo de'Fiori


__ADS_3

Kerinduan yang Coco rasakan saat itu begitu besar. Tatapan matanya tak jua lepas dari sosok bertubuh semampai yang telah berhasil menawan hati dan membuatnya melepaskan diri dari citra seorang petualang cinta, yang selama ini melekat dalam dirinya. Coco menunjukkan rasa tertariknya dengan terang-terangan kepada Francesca.


 


Sementara Francesca sendiri terlihat memasang raut wajah yang aneh. Ia tampak sedikit was-was, meskipun terus berusaha untuk ditutupinya. Namun, Coco dapat merasakan hal itu dengan sangat jelas. Ia juga mengerti akan posisi Francesca. “Apa kau takut dengan kekasihmu, Francy?” tanya Coco sambil terus mengemudi.


 


“Sudah kukatakan jika aku yang akan menemuimu di Brescia,” sahut Francesca tanpa menoleh sama sekali.


 


“Aku tidak tahu kapan kau akan datang ke sana. Karena itu saat Mia mengatakan bahwa ia akan kemari, maka aku langsung ikut. Aku pikir kau senang bertemu denganku,” ucap Coco dengan nada yang tersengar sedikit kecewa. Hal itu membuat Francesca merasa tidak nyaman. Ia segera mengalihkan pandangannya pada pria tampan yang masih fokus pada kemudi.


 


Disentuhnya lengan berbalut jaket kulit dengan lembut, hingga Coco menoleh untuk sesaat sebelum kembali mengalihkan tatapannya ke depan. “Jangan marah, bukan itu maksudku. Aku hanya merasa tidak nyaman. Aku harap kau bisa memahami posisiku, Ricci,” pinta gadis bermata hazel itu pelan.


 


“Sudah kukatakan padamu, kenapa tidak kau putuskan saja pria itu. Apa sulitnya?” balas Coco dengan raut yang agak kesal.


 


“Kau tidak mengetahui siapa Fillipo yang sebenarnya. Ia sangat berpengaruh dan setahuku ia juga memiliki ....”


 


“Jangan meremehkanku, Francy! Aku bukan pria lemah yang akan langsung mundur dengan sekali gertakan!” sela Coco dengan tegas.


 


Francesca membetulkan posisi duduknya, seraya kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Ia tahu seperti apa karakter Coco. Tak mungkin pria itu dapat menjadi sahabat seorang Matteo de Luca, jika Coco merupakan pria pengecut. Akan tetapi, rasa khawatir itu tetap saja ada mengingat ancaman yang pernah Fillipo tujukan untuk Coco dulu, meski tidak secara langsung di hadapan pria bermata cokelat tersebut.


 


“Kita akan ke mana?” Francesca mengalihkan topik pembicaraan.


 


“Terserah kau saja. Aku akan mengikuti apapun kemauanmu,” sahut Coco dengan lirikan lembut, membuat Francesca hanya dapat mengela napas pelan. Harus diakuinya jika Coco memang jauh lebih menawan jika dibandingkan dengan Fillipo.


 

__ADS_1


“Bagaimana jika kau temani aku ke Campo de’ Fiori?” Francesca melirik ke arah Coco. “Kita bisa mencari makanan enak di sana,” lanjutnya. Ia mencoba mencairkan suasana yang terasa sedikit canggung. Coco kembali menoleh. Ia juga mengangguk setuju. Pria itu mengemudikan mobil sesuai dengan arahan dari Francesca. Tidak berselang lama, mereka pun tiba di tempat tujuan.


 


Campo de’Fiori atau dalam istilah Bahasa Inggris adalah “Field of Flower” merupakan sebuah tanah lapang yang dijadikan pasar sayur, buah, dan bunga. Selain itu, di sana juga terdapat beberapa kedai dan penginapan. Tempat itu selalu ramai, baik siang maupun malam.


 


Coco memarkirkan mobilnya di seberang salah satu kedai yang Francesca pilih. Setelah membukakan pintu untuk gadis itu, mereka berjalan bersama dan memilih meja yang dirasa nyaman. Tak berselang lama, seorang pelayan datang menghampiri dan menyodorkan buku menu.


 


Francesca membuka lembar demi lembar buku menu tersebut. Ia pun memilih salah satu menu yang membuat Coco mengernyitkan keningnya. Namun, setelah itu Coco segera saja memilih menu yang ingin ia pesan. Sesaat kemudian, pelayan berseragam itu pun meninggalkan mereka dengan membawa catatan dan buku menu tadi.


 


“Makanan apa yang kau pesan?” tanya Coco seraya menatap lekat gadis cantik di hadapannya.


 


“Aku sedang menjalani program diet. Jadi, aku harus mengontrol porsi dan juga asupan gizi yang masuk ke tubuhku,” jelas Francesca dengan entengnya.


 


“Ya, Tuhan. Tubuhmu sudah ramping seperti itu. Apakah kau tidak tergoda untuk sedikit bersenang-senang dan melakukan sesuatu dengan bebas?” protes Coco.


 


 


“Kehidupan yang sangat membosankan,” ujar Coco yang sama sekali tak digubris oleh Francesca, karena ia tengah sibuk membalas pesan dari seseorang. Gadis itu mengabaikan Coco untuk sesaat. Sementara Coco masih terus memperhatikannya dengan intens. Hingga beberapa saat kemudian, Francesca baru meletakan kembali ponselnya ketika pelayan tadi kembali dengan membawakan pesanan mereka.


 


Coco terdengar mengeluh pelan. Ada rasa kecewa yang ia tujukan untuk gadis pujaan hatinya itu. Namun, Coco tak ingin banyak bicara dan merusak momen pertemuannya dengan Francesca. Ia memilih untuk diam dan segera menyantap makanannya.


 


Francesca dapat melihat perubahan dalam bahasa tubuh yang Coco tunjukkan. Terbersit rasa bersalah dalam hatinya. Bagaimanapun juga, perasaannya terhadap pria bermata abu-abu tersebut memang sangat besar. Akan tetapi, ada beberapa alasan yang membuatnya seakan kesulitan untuk menentukan sikap.


 


“Bagaimana makanannya?” Francesca mencoba untuk berbasa-basi dan sedikit mencairkan suasana, karena dilihatnya raut wajah Coco yang agak masam.

__ADS_1


 


“Enak, meskipun aku tidak tahu seberapa kandungan gizinya,” jawab Coco dengan seenaknya membuat Francesca segera terdiam. Jelas sudah jika Coco sedang kesal padanya. Tak berselang lama, ponsel milik Coco bergetar. Pria itu meletakkan sendok dan garpu yang dipegangnya. Ia segera memeriksa panggilan masuk yang berasal dari sebuah kontak dengan nama Lucia.


 


“Luci?” sapa Coco membuat Francesca menghentikan makannya. Ia menatap Coco dengan tajam dan seakan ingin melayangkan protes keras.


 


“Aku sedang di Roma dan baru akan kembali lusa. Apa kau ke bengkel?”


 


Raut wajah Francesca terlihat semakin gusar. Ia menunduk dan kembali melanjutkan makan, berpura-pura tak mendengar percakapan Coco dengan gadis bernama Lucia tersebut. Entah sudah yang keberapa kalinya, Francesca mengetahui jika gadis bernama Lucia itu kerap menghubugi Coco, di saat ia tengah bersama pria itu. Ya, meskipun tidak ada perbincangan yang terdengar mencurigakan baginya.


 


“Apa gadis itu selalu menghubungimu, Ricci?” tanya Francesca pelan. Pandangannya masih tertuju pada makanan di dalam piring, yang tengah ia santap.


 


“Tidak juga. Kami berteman baik,” jelas Coco datar. Ia kembali menikmati makanannya.


 


“Sejak kapan seorang pria dan wanita dapat menjadi teman baik tanpa ada sesuatu yang lebih? Setahuku, biasanya selalu berujung dengan ....” Francesca tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Coco terlebih dulu menyela.


 


“Kau cemburu, Francy?” ditatapnya gadis yang sejak tadi hanya tertunduk. Francesca tak menjawab pertanyaan Coco. Ia segera menghabiskan makanannya. Coco pun melakukan hal yang sama. Ia seakan tak mau ambil pusing dengan jawaban yang akan diberikan oleh Francesca.


 


Beberapa saat kemudian, mereka telah sama-sama selesai makan. Francesca meminta agar Coco mengantarkannya pulang. Setelah membayar di kasir, pria itu kembali mengemudi untuk menuju ke apartemen yang ditempati Francesca. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi keduanya untuk tiba di depan apartemen yang terbilang mewah itu. Apartemen tersebut memang sengaja Fillipo berikan sebagai bukti rasa cintanya terhadap gadis itu. Fillipo pun tak jarang memanjakan Francesca dengan kemewahan lainnya.


 


Francesca segera melepas sabuk pengaman yang melintang di dadanya. Sebelum turun, ia sempat mencium pipi sebelah kiri Coco dengan lembut. “Kau tidak akan mengajakku mampir, Francy?” tatap mata Coco menyiratkan sesuatu yang dapat diterima baik oleh Francesca. Namun, gadis itu tampak ragu. Coco pun dapat memahaminya. “Baiklah,” ucap Coco pelan. Lagi-lagi ia terdengar kecewa.


 


“Sebentar saja,” ucap Francesca pelan seraya menyentuh punggung tangan Coco.

__ADS_1


 


“Tak apa jika kau tak mau,” Coco masih terdengar kecewa. Sikapnya membuat Francesca menjadi semakin serba salah. Gadis itu pun mendekat dan kemudian mencium Coco dengan mesra. Sebuah ciuman yang pada awalnya terasa lembut, tetapi lama-kelamaan menjadi sebuah ciuman panas yang membuat keduanya terbakar. Adegan itu berlangsung hingga beberapa saat lamanya, sampai terdengar sebuah ketukan di jendela kaca mobil tersebut.


__ADS_2