Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Matteo's Way


__ADS_3

Mia terus berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Matteo yang terasa begitu kuat, meskipun hanya dengan menggunakan tangan sebelah kirinya saja. Namun, pria itu tak terlihat merasa terganggu dengan protes dari sang istri. “Apa-apaan ini, Theo? Sakit,” rengek Mia karena Matteo yang terus mencengkeram pergelangannya. Namun, lagi-lagi Matteo sama sekali tak peduli. Ia terus berjalan menyibak kerumunan orang-orang yang tengah asyik berdansa di bawah lampu kerlap-kerlip.


Akan tetapi, ketika mereka berdua hampir mencapai pintu keluar, Matteo tiba-tiba tertegun. Ia lalu berbelok ke kanan dan mengikuti papan petunjuk yang menandakan arah ke kamar kecil. Ketika mereka sampai di sebuah pintu kayu dengan tulisan toilet wanita, Matteo segera membuka pintu itu dan membawa Mia masuk ke dalamnya.


Sontak saja, beberapa wanita yang tengah berada di dalam ruangan itu merasa terkejut. Mereka yang kebanyakan tengah bercermin di kaca wastafel, seketika berseru saking kagetnya ketika melihat sosok pria memasuki toilet wanita. Hal itu membuat Mia merasa benar-benar tidak nyaman. Baginya, sikap Matteo sudah sangat keterlaluan.


“Aku minta kemurahan hati kalian untuk keluar dari sini!” teriakan Matteo menggema di ruangan itu dan membuat ciut nyali siapa pun yang berada di dalam sana, termasuk orang-orang yang tengah berada di dalam bilik kloset. Mereka berbondong-bondong keluar dengan terburu-buru.


Setelah orang terakhir menutup pintu kamar kecil itu, Matteo menguncinya dari dalam. Ia kembali menghampiri Mia yang saat hanya diam membeku di depan meja wastafel yang terbuat dari porselen. Matteo berjalan semakin mendekat hingga tak ada jarak antara dirinya dan tubuh Mia, bahkan kini dada Mia melekat erat pada dada bidang Matteo. Sedangkan bibir mereka hanya berjarak sekitar beberapa mili saja.


“Aku tak akan pernah membiarkan siapapun untuk memandangmu dengan seenaknya, Mia! Kau adalah milikku! Hanya milikku!” geramnya.


“Jadi kau merasakan cemburu juga, Tuan de Luca? Sekarang kau paham bagaimana rasanya? Seperti itulah sakitnya hatimu ketika seseorang yang kau cintai, digilai oleh orang lain! Begitu pula yang aku rasakan ketika melihat sikap yang ditunjukkan Camilla padamu! Kau pikir aku merasa baik-baik saja?” Mia membalas ucapan Matteo dengan nada bicara yang cukup tinggi.


“Camilla dan aku berbeda!” kilah Matteo dengan tegas.


“Apanya yang berbeda!” Mia tak mau kalah.

__ADS_1


“Aku tidak pernah mencintainya. Aku juga tidak pernah memandangnya dengan tatapan memuja seperti yang Adriano lakukan padamu!” balas Matteo. "Ya, Tuhan Mia! Kenapa kau begitu polos? Apakah kau tidak dapat mengartikan maksud dari tatapan yang ditujukan pria itu padamu?" sepasang mata abu-abu Matteo menatap dengan begitu tajam kepada Mia. Itu merupakan hal yang tidak biasa Matteo lakukan.


"Selama ia menunjukan sikap yang sopan padaku, maka aku tidak punya alasan untuk bersikap kasar padanya. Kau saja yang terlalu berlebihan, Theo! Kau ....” belum sempat Mia berkata-kata, Matteo segera membungkamnya dengan sebuah ciuman yang kasar dan penuh gairah.


Mia tersentak. Tak ada lagi kelembutan dalam sikap Matteo dalam memperlakukannya. Pria itu mere•mas pinggang Mia dengan kencang, sehingga perut Mia merangsek sempurna di bagian depan tubuhnya. Matteo tak peduli meskipun Mia berusaha untuk melepaskan dirinya, ia terus melakukan hal itu dengan penuh emosi.


"Tidak, Theo!" tolak Mia. Ia tak suka dengan cara Matteo memperlakukannya saat itu. Namun, Matteo tak peduli. Ia kembali melu•mat bibir red cherry Mia dengan semakin beringas.


Matteo masih tetap terlihat perkasa dan berkuasa atas diri Mia, meskipun hanya dengan sebelah tangan. Kenyataannya Mia tetap tak berdaya. Ia tak mampu melawan, termasuk ketika Matteo menurunkan tangannya, menyingkap bagian bawah little black dress yang dikenakannya. Matteo kemudian mere•mas pinggul Mia dengan kencang.


"Aku tidak menyukai ini, Theo," ucap Mia saat melepaskan bibirnya dari bibir Matteo.


"Iya, tapi kau telah menyakitiku," resah Mia pelan, membuat Matteo kembali meletakan tangannya di tengkuk kepala Mia. Ia mere•mas leher sang istri dengan perlahan dan kembali menciumnya dengan jauh lebih lembut. Adegan itu bahkan berlangsung hingga beberapa saat. Sepertinya Matteo merasa bersalah, karena itu ia berhenti memperlakukan Mia dengan kasar. Kali ini, ia kembali pada Matteo seperti sedia kala.


Namun, sayangnya ciuman menggairahkan itu harus terhenti, ketika ponsel yang tersimpan di dalam tas kecil Mia yang sedari tadi tersampir di bahunya, berdering sedemikian nyaring. Dengan segera Mia melepaskan ciumannya dari Matteo dan mendorong dada pria itu dengan pelan. Ia lalu merogoh ponselnya. Mia kemudian memeriksa panggilan masuk tersebut, di mana tertera nama Francesca pada layarnya.


Segera wanita berambut cokelat itu menjawab panggilan dari sang adik dengan perasaan was-was. Pasalnya, Francesca tak pernah menghubunginya lebih dari jam sebelas malam. Sementara saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. “Ada apa, Francy?” tanya Mia cemas.

__ADS_1


“Mia, aiuto, aiutami (tolong, tolong aku)!” terdengar suara Francesca yang begitu cemas. Ia juga berbicara sambil terisak. Segera Mia mengubah panggilan itu ke dalam mode loud speaker, sehingga Matteo dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka berdua.


"Tenangkan dirimu, Francy dan bicaralah pelan-pelan," pinta Mia dengan wajah gusar. Sementara Matteo hanya mendengarkan dengan saksama. Ia seperti tengah mencoba untuk menerka, apa yang sedang dialami oleh adik iparnya tersebut.


"Mia, tolong datanglah ke apartemenku. Aku terkunci di sini dan tidak dapat berbuat apa-apa," isak Francesca lagi. Hal itu membuat Mia semakin merasa heran.


"Apa maksudmu, Francy? Kau terkunci di dalam apartemenmu sendiri?" Mia mengernyitkan keningnya. Sesaat ia melirik sang suami yang juga terlihat keheranan.


"Nanti kuceritakan. Sekarang tolong datanglah, karena aku juga sangat mencemaskan keadaan Ricci," ucap Francesca lagi. Mendengar ucapan Francesca saat itu, tanpa berkata apa-apa lagi, Matteo segera menarik tangan Mia dan keluar dari toilet. Ia membawa Mia berjalan dengan begitu tergesa-gesa.


Sesampainya di luar, Matteo segera menghentikan sebuah taksi dan langsung menuju ke tempat Francesca. Sementara Mia, terus berusaha menenangkan sang adik, meski ia sendiri pun merasa cemas. Tak berselang lama, mereka akhirnya tiba di gedung apartemen yang ditinggali Francesca. Dengan segera mereka menuju ke lantai dua puluh, yang menjadi tempat tinggal gadis itu.


Sesampainya di sana, Mia segera mengetuk pintu. "Francy!" panggilnya pelan. Ia tak ingin membuat kegaduhan di sana.


Francesca yang saat itu masih mondar-mandir tak jelas, segera berlari ke arah pintu. "Mia, apa itu kau?" tanyanya dari balik pintu.


"Iya, ini aku. Apa yang terjadi. Bagaimana bisa kau bisa terkunci di dalam?" tanya Mia masih tak mengerti.

__ADS_1


"Nanti kuceritakan, Mia. Aku hanya ingin keluar dari sini. Aku harus bertemu Ricci dan memastikan apakah ia baik-baik saja," isak Francesca membuat Matteo yang saat itu masih diliputi kemarahan segera berkata, "Menjauhlah dari pintu, Francy!" suruhnya dengan tegas.


__ADS_2