Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Salvare


__ADS_3

“Apakah kau harus pergi malam-malam begini, Theo? Bagaimana denganku?” Mia terlihat sangat cemas sambil mengikuti langkah suaminya yang terlihat sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke Roma.


“Ada Damiano yang akan menjaga kalian berdua, Sayangku,” ucapan Matteo terdengar lembut, tetapi tidak dengan wajahnya. Mimik muka yang garang kembali tampak dari wajah tampan pria tersebut. Sementara Mia tak lelah mengikuti Matteo yang kini memasuki ruang kerjanya. Pria itu tengah memencet tombol yang berada di samping rak buku, dan menempel di satu sisi dinding. Rak buku itu kemudian terbuka lalu memperlihatkan satu ruangan rahasia yang berada di dalamnya.


Mia terpana untuk sesaat, melihat ruangan yang baru ia ketahui. Segala macam model senapan dengan berbagai bentuk dan warna, terpajang di dinding. Matteo memilih salah satu pistol semi otomatis favoritnya. “Kau tidak pernah menunjukkan ruangan ini padaku,” gumam Mia sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu, bahkan langit-langit ruangan pun tak lepas dari pengamatannya.


“Untuk apa, Sayangku? Tak ada yang menarik di sini. Apalagi, kau memiliki kecemasan berlebih terhadap senjata dan kekerasan,” jelas Matteo seraya mendekatkan dirinya pada sang istri. Dibelainya rambut indah kecoklatan Mia. Ia menggenggam beberapa helai rambut indah itu dan menghirupnya dalam-dalam.


“Kau belum sembuh benar, Theo. Apa yang akan kau lakukan nanti di sana? Jelas kau tidak bisa bergerak leluasa. Bagaimana jika mereka mengancam keselamatanmu?” resah Mia seraya menatap was-was ke arah mata abu-abu suaminya.


“Aku akan baik-baik saja, Cara mia. Tunggu aku pulang,” jawab Matteo tenang, kemudian mendaratkan ciuman yang dalam dan penuh gairah di bibir Mia.


“Aku sudah siap, Theo!” seru Marco pelan saat Matteo masih asyik melu•mat bibir sang istri, sehingga dengan terpaksa kedua sejoli tersebut harus menghentikan adegan itu. Mia mengernyit keheranan pada Matteo, kemudian menoleh kepada Marco. “Kau juga akan ikut?” tanyanya.


“Aku yang menyetir, sekalian membantu pekerjaan Theo dan Coco di sana,” jawab Marco. Sesekali ia melirik pada Matteo yang menatap penuh arti kepadanya.


“Aku pergi dulu, Sayang,” Matteo mengecup bibir, pipi dan berhenti di kening Mia sebelum berjalan di belakang Marco menuju garasi luas yang terletak di luar bangunan Casa de Luca. Akan tetapi, Mia masih terus mengikuti Matteo sampai pria itu tiba di dekat jeep kesayangannya. Tampak Coco yang sudah bersandar di bodi mobil sembari bersedekap. Beberapa saat lamanya ia menunggu Matteo di sana.


“Di mana, Francy?” tanya Coco saat melihat Mia hanya sendirian mengantarkan kepergian mereka.


“Francy sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, Ricci. Aku menyuruhnya untuk diam di kamar,” tutur Mia pelan. Matanya tak lepas menatap Matteo dengan sorot gelisah dan cemas.


“Segera hubungi aku jika sudah tiba di sana,” bisik Mia pada Matteo yang sudah siap di kursi samping pengemudi, sementara Marco menyalakan mesin mobil itu.


“Si, lo faro,” Matteo mengiyakan permintaan Mia kemudian mengecup keningnya sekali lagi. Tak berapa lama, Jeep Wrangler hitam itu mulai melaju perlahan meninggalkan Mia yang masih setia berdiri di depan garasi sampai kendaraan yang ditumpangi suaminya menghilang ditelan kegelapan malam.

__ADS_1


Marco adalah pengemudi yang andal. Tanpa sepengetahuan Antonio, ia seringkali mengikuti balap mobil liar yang diadakan komunitas rahasia di Brescia, sehingga waktu yang mereka tempuh menjadi tak terlalu panjang. Terlebih jalanan malam itu juga begitu lengang, sehingga membuat laju jeep semakin leluasa.


Kurang dari lima jam, kendaraan mereka berhenti di depan gedung dua puluh lantai. Tanpa membuang waktu, Matteo segera turun dari jeep kesayangannya dan bergegas menuju lantai apartemen Daniella. Sementara Coco dan Marco terus mengikuti dari belakang.


Tiba di depan apartemen, Matteo tak segera masuk. Pintu yang setengah terbuka, membuatnya curiga. Ia pun memberi isyarat kepada Marco dan juga Coco untuk bergerak sesuai perintahnya. Matteo mengepalkan tangan dan mengangkatnya sejajar dengan kepala.


Suasana tampak hening di dalam sana, tak ada bunyi percakapan atau apapun. Hal itu semakin menambah kecurigaan Matteo. Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat lamanya, Matteo memutuskan untuk masuk. Matanya awas, sementara langkahnya waspada. Pistol yang sejak tadi tersembunyi di pinggang, segera ia keluarkan dan mengokangnya. Demikian pula Marco yang membawa revolver kesayangan Antonio, sedangkan Coco mempersenjatai dirinya dengan belati. Ketika tiga pria itu telah memasuki ruangan. Lalu, listrik tiba-tiba padam.


Matteo mulai merasakan pergerakan di belakangnya. Sigap, ia membalikkan badan dan melihat seseorang sudah bersiap menghunuskan pedangnya di belakang Marco. Mata abu-abunya berkilat menentukan titik sasaran. Dalam waktu sepersekian detik, senjatanya menyalak dan melubangi perut sosok asing itu, bersamaan dengan robohnya orang tak dikenal tersebut yang diiringi sebuah teriakan menggema dari kamar utama.


“Dani,” desis Matteo, kemudian melirik pada Marco. Seakan mengerti apa yang sepupunya itu isyaratkan, Marco bergerak perlahan dan hati-hati. Ia lalu beringsut di samping pintu kamar. Sementara Coco memiliki inisiatif sendiri. Ia meraba-raba dinding ruang tamu dan mencari letak saklar pusat. Coco kemudian menarik tuasnya. Listrik pun kembali menyala.


Tampaklah kondisi apartemen yang berantakan. Kursi dan meja terbalik, sementara wallpaper dinding sobek di sana sini. Coco menyapu pandangan dan berhenti di kamar yang pernah ia tempati ketika terluka. Terlihat sekelebat bayangan di dalam kamar itu sehingga membuat Coco tertarik untuk memasukinya. Ketika jemarinya memegang pegangan pintu, tiba-tiba saja pintu itu tertarik dan terbuka lebar. Dua orang keluar dari sana dan menyerang Coco membabi buta menggunakan pedang.


Coco segera mengelak dan mundur beberapa langkah, lalu meraih kursi makan yang kebetulan pada posisi terbalik di sisinya. Ia melemparkan kursi itu pada dua orang yang memegang pedang untuk mengalihkan fokus mereka. Di saat kedua orang itu menangkas kursi kayu, Coco langsung bergerak maju dan menghunuskan belatinya ke pergelangan tangan salah satu orang dan menendang pedang satu orang lainnya. Pedang itu terlempar ke atas.


Pria itu memekik kencang dan menghujamkan pedangnya ke arah Coco. Akan tetapi, Coco lebih dulu menangkisnya dengan kekuatan maksimal, sehingga pedang musuhnya patah menjadi dua. Sebuah kesempatan emas yang tak akan ia sia-siakan. Posisinya kini telentang menghadap pria itu. Pedang yang berada di tangan kanan, segera ia tusukkan ke dada kiri musuhnya. Dua orang takluk di tangan Coco.


Di kamar utama, Matteo melihat Daniella menangis tanpa suara dengan tangan dan kaki terikat di kursi, sedangkan mulutnya tersumpal kain. Seorang pria yang tak pernah Matteo lihat, berdiri di belakang Daniella, menggunakan gadis itu sebagai tameng sembari menodongkan pistolnya di puncak kepala gadis itu.


“Siapa kau?” tanya orang itu. “Kenapa kau yang datang? Mana Filippo?” cecarnya dengan wajah gelisah.


Matteo tetap pada rautnya yang datar dan dingin, memandang tajam pada pria yang berdiri di depannya. “Kau bukan orang Italia!” geramnya.


“Betul sekali. Aku Alexander dari St. Petersburg, tapi aku selalu setia pada klan D’Angelo! Aku adalah prajurit terbaik yang mereka miliki,” ungkapnya jumawa.

__ADS_1


Matteo menyeringai, seakan meremehkan ucapan pria itu. Ia membidikkan senjatanya kepada Alex, sementara Alex menempelkan moncong pistolnya pada kepala Daniela. Marco yang juga memegang senjata, hanya bisa gemetar melihat hal itu. Diamatinya Daniella yang berkali-kali melirik ke arahnya seakan meminta bantuan.


“Selangkah lagi kalian nekat maju, maka aku akan meledakkan kepalanya,” ancam Alex.


Matteo memutar otak, beberapa detik ia memperhitungkan arah peluru sampai ia memutuskan untuk menembak lampu gantung yang berada di atas kepala Alex. Spontan pria itu menunduk sambil menarik pelatuk senjatanya. Pelurunya melesat menembus langit-langit ruangan.


Tiba-tiba dari dalam lemari pakaian, melompatlah seorang pria tinggi besar ke arah Matteo dan mulai memukulinya dengan membabi buta. Pria rupawan itu terdengar mengumpat karena gerakannya tak bisa leluasa akibat arm sling yang membebat tangan kanannya. Terpaksa, Matteo melepas dan merobek arm slingnya, lalu menerjang pria tinggi besar itu hingga pria tersebut jatuh terjengkang ke belakang.


Matteo segera duduk di atas pria yang ukurannya hampir dua kali lipat tubuhnya. Ia melancarkan pukulan berkali-kali ke rahang dan hidung pria raksasa itu. Sudah tak dirasakannya bahu yang mulai nyeri dan punggung tangan yang mulai kesemutan. Namun, gerakannya terpaksa terhenti karena satu tembakan menyasar ke arahnya. Matteo segera merunduk dan menghindar. Ia menggulingkan badannya ke sebelah kiri si pria raksasa, sehingga peluru itu hanya melintas di atas kepala. Alex lah yang melesakkan peluru itu kepadanya.


Dengan gemetar, Marco membidikkan senjatanya kepada Alex yang sudah bersiap lagi untuk menembak Matteo. Tanpa pikir panjang, Marco menarik pelatuk tanpa memperhatikan arah tembakannya. Beruntung, tembakan itu tepat mengenai punggung tangan Alex, hingga pistolnya terlempar dan jatuh. Merasa terdesak, pria Rusia itu berlari keluar dan mengajak si pria raksasa meninggalkan apartemen.


Fokus Matteo kini beralih pada Daniella. Misinya adalah untuk menyelamatkan kakak tiri dari istrinya. Ia bangkit sambil memegangi bahunya yang mulai mati rasa. “Biar aku saja!” Marco menawarkan diri dan sigap melepaskan ikatan di tubuh Daniella.


Setelah terbebas, gadis itu langsung memeluk Marco sembari menangis sesenggukan. “Grazie ... grazie ....” ucapnya lirih. Tak berapa lama, Coco masuk ke dalam kamar dan menepuk pundak Matteo. “Kau tak apa-apa, Amico?” tanyanya.


Matteo menggeleng pelan. “Kita bawa Dani pulang, setelah itu aku akan membuat perhitungan dengan Adriano!” tegasnya.


🍒


🍒


🍒


Hai, santai dulu sejenak yuk reader setia Matteo. Jangan lupa cek novel keren di bawah ini ya dan ramaikan. Grazie🤗

__ADS_1



__ADS_2