Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Uninvited Guests


__ADS_3

Sekitar pukul empat pagi, Mia mulai membuka mata. Ia kemudian melihat ke samping, kepada Matteo. Ditatapnya wajah sang suami yang masih terlelap dalam buaian mimpi. Mia tak berani membangunkannya. Ia merasa tak tega jika harus mengganggu Matteo, yang tampak sangat pulas bagaikan seorang bayi. Akan tetapi, makin lama Mia terlihat semakin gelisah. Ia lalu mencoba untuk bangun. Namun,, tubuhnya terasa begitu berat, sehingga Mia hanya dapat terengah-engah.


Raut wajah Mia tampak semakin resah. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk membangunkan Matteo. “Theo ....” sebutnya pelan. Namun, Matteo tak merespon. Pria itu masih terlelap di bawah selimut yang menutupi hingga sebatas perutnya.


“Theo ....” sebut Mia lagi dengan suara yang agak parau. Ia menggerakkan tangannya dan berusaha untuk menggapai wajah  Matteo. Seketika pria itu terbangun dan mencekal kencang pergelangan Mia dengan tatapan tajam, membuat Mia tersentak dan meringis pelan. “Ah, sakit!”


Mendengar rintihan Mia, dengan segera Matteo tersadar. Ia melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan sang istri dan langsung menyentuh wajah wanita cantik itu. “Mia, Sayangku,” Matteo tampak menyesal. Ia menatap Mia untuk sesaat. Wajah cantiknya terlihat aneh. Wanita itu meringis pelan. “Apa yang sakit, Mia?” tanya Matteo cemas. Ia bangkit dari tidurnya dan bermaksud untuk memeriksa keadaan Mia. Namun, seketika Matteo terdiam.


“Aku tidak bisa menahannya, Theo,” ucap Mia pelan, antara malu dan menyesal. Ia lalu menundukkan wajah, memandang bagian bawah pakaiannya yang basah kuyup.


“Kenapa kau tidak membangunkanku?” Matteo turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Mia.  Ia duduk di tepian tempat tidur dan membantu Mia untuk bangun. Setelah itu, Matteo kemudian membopong tubuh sang istri menuju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Matteo mendudukan Mia pada sebuah bangku khusus yang memang sudah sengaja disiapkan sebelumnya. Ia mulai menyalakan kran air panas dan membiarkannya sesaat hingga suhunya dirasa cukup. Selagi menunggu, Matteo kemudian melepas seluruh pakaian yang Mia kenakan, tanpa terkecuali. Sementara Mia hanya duduk pasrah. Ia tak bisa melakukan apapun, karena itu Mia diam saja dan tidak menolak saat Matteo tengah membersihkan tubuhnya.


Perlahan, Matteo mulai membasuh tubuh Mia dengan air hangat sedikit demi sedikit. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, terlebih karena kaki Mia saat itu masih dipasangi gips. Setelah dirasa cukup, Matteo segera mengeringkan tubuh sang istri dan memakaikannya bathrobes. Matteo lalu kembali membopong tubuh Mia dan mendudukannya di atas kursi roda. “Tunggu sebentar, aku akan mengambil pakaian dulu,” ucapnya seraya berlalu menuju walk in closet. Tak berselang lama, Matteo kembali dengan membawa sebuah dress beserta pakaian dalam untuk Mia.


“Maafkan aku, Theo. Aku sudah merepotkanmu,” ucap Mia pelan saat Matteo mulai memasangkan pakaian dalam untuknya. Pria itu melakukan semuanya dengan begitu cekatan dan tanpa rasa canggung sedikitpun.


“Kenapa kau harus meminta maaf? Ini sudah menjadi kewajibanku, Mia. Sama seperti saat kau merawatku dulu, maka itu juga yang akan kulakukan saat ini padamu,” ucap Matteo dengan yakin sambil memasangkan bra di tubuh Mia. Setelah itu, ia segera memakaikan baju dan merapikan turban yang menutupi kepala sang istri.


Matteo kemudian berlutut di depan Mia. Ia menggenggam jemari lentik wanita itu dan menciumnya lembut. Pria bermata abu-abu tersebut lalu menyentuh wajah Mia dan menciumnya dengan mesra untuk sesaat. “Kau akan selalu menjadi yang paling indah untukku, Mia. Sangat sulit bagiku untuk jatuh cinta. Namun, aku langsung merasakan hal itu saat pertama kali melihatmu,” ungkap Matteo pelan.


“Kau tahu, Cara mia? Aku sangat menyukai bantal yang kau berikan padaku ketika aku harus tidur di kedai Mr. Gio. Setiap saat aku bisa menghirup aroma rambutmu, karena itu aku selalu memeluknya,” tutur Matteo lagi dengan penuh perasaan.


“Sekarang aku sudah tidak memiliki rambut, Theo,” bantah Mia dengan lirihnya.

__ADS_1


“Tak masalah, karena kau masih memiliki aku. Aku akan menjadi rambut, tangan, kaki, dan apapun yang kau butuhkan. Aku akan menjadi segalanya untukmu. Tolong jangan pernah meragukannya,” Matteo kembali mencium Mia dengan lembut, membuat hati wanita cantik itu langsung tersentuh.


“Aku ke kamar mandi dulu. Setelah ini, aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke luar,” Matteo bangkit dan berlalu meninggalkan Mia. Mia menatap pria itu untuk sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya pada tempat tidur yang basah.


Dengan tenaga yang masih lemah, Mia memutar kursi roda itu dan mengarahkannya ke tepian ranjang. Susah payah ia mencondongkan tubuhnya untuk meraih ujung seprei dan menariknya dari sana. Mia berusaha mengganti seprei yang basah itu seorang diri.


Satu tarikan yang terlalu kencang, membuat sebuah bantal yang terletak di dekat laci meja yang menempel di sisi ranjang, terlempar ke gelas di atas laci. Benda itu pun terjatuh dan pecah berhamburan, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Beberapa saat kemudian, Matteo berlari dari dalam kamar mandi dengan kencangnya. Ia tampak sangat terburu-buru dengan wajah yang begitu cemas. Sepertinya, Matteo tengah mandi. Itu semua terlihat dari badannya yang masih basah oleh air. Tetesannya membasahi lantai kamar. Beruntung karena iia masih sempat memakai handuk.


“Ada apa, Mia? Apa kau terjatuh?” tanya Matteo was-was. Ia segera menghampiri Mia dan memeriksa keadaannya.


Wajah Mia tampak pucat pasi karena panik. “A-aku hanya berusaha mengganti seprei yang basah karena ulahku,” jawabnya terbata.


“Astaga! Kenapa kau lakukan itu? Untuk apa aku mempekerjakan puluhan pelayan kalau harus kau yang mengerjakan semuanya,” tegur Matteo. Matteo kembali berlutut dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri, membuat jarak di antara mereka berdua begitu dekat. Mia bahkan dapat mencium aroma sabun yang begitu segar dari tubuh basah sang suami.


“Theo, aku tidak mau pelayan mengetahui bahwa aku mengompol di kasur,” sahut Mia begitu lirih. “Aku malu, Theo. Apa yang akan mereka pikirkan tentangku," ucap Mia lagi dengan nada bicara yang terdengar sedikit manja.


“Kenapa harus malu?” Matteo menangkup wajah Mia dengan lembut.


Mia terdiam mendengar pertanyaan sang suami. Ditatapnya wajah Matteo yang dipenuhi oleh titik-titik air. Dagu pria itu pun mulai ditumbuhi bulu lebat yang terlihat cukup berantakan. Biasanya, Mia lah yang membantu merapikannya, karena Matteo bukanlah tipikal pria yang terlalu peduli akan penampilan. Padahal, pria itu memiliki keindahan wajah dan fisik yang jauh di atas rata-rata. “Kenapa kau terlihat sangat tampan?” sanjung Mia dengan senyum manisnya.


“Jangan mengalihkan pembicaraan, Sayang,” protes Matteo pelan. Sementara, tatapan mata abu-abu itu masih lekat ia tujukan untuk wanita cantik di hadapannya, membuat Mia akhirnya menyerah.


Mia pun kemudian membuka mulut dan mulai bercerita, “Dulu saat pertama aku pindah kemari, tanpa sengaja aku mendengar beberapa pelayan yang sedang membicarakan tentang diriku. Mereka mengatakan jika aku tak pantas bersanding denganmu. Camilla lah yang jauh lebih sesuai untuk mendampingimu.”


“Katakan seperti apa ciri-ciri pelayan yang berbicara tidak sopan seperti itu! Akan kupecat mereka saat ini juga!” raut Matteo yang awalnya terlihat sangat lembut, berubah menjadi garang seketika.

__ADS_1


“Sudahlah, lupakan. Aku juga sudah tidak ingat seperti apa rupa mereka. Terlalu banyak orang di sini,” elak Mia sambil memijat pelipisnya. “Bagaimana jika kita jalan-jalan saja, Theo. Kau tadi sudah berjanji padaku," Mia kembali mengalihkan topik pembicaraan.


Jarum jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Sebenarnya, masih terlalu dini untuk mengajak Mia jalan-jalan keluar. Matteo berpikir sejenak, kemudian mengangguk. “Tetaplah diam di tempatmu. Aku akan melanjutkan mandiku sebentar,” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya. Kali ini, Mia menuruti suaminya. Ia menunggu Matteo selesai membersihkan diri dengan menjalankan kursi rodanya ke dekat jendela. Memandangi hamparan kebun anggur, tak pernah membuatnya merasa bosan, hingga tepukan lembut di pundak dan kecupan hangat di puncak kepala, membuat Mia menoleh.


“Kita keluar sekarang,” dengan hati-hati, Matteo mendorong kursi roda istrinya ke luar kamar. Perlahan ia menurunkan kursi itu menyusuri lorong yang jalannya terus menurun, menuju ke perkebunan.


Terlihat beberapa pekerja yang mulai berlalu lalang. Sesekali Mia mengangguk pada mereka dan tersenyum ramah. “Udaranya segar sekali, Theo,” ujarnya sembari menghirup udara dalam-dalam dan merentangkan tangan. Kepalanya sedikit mendongak sehingga Matteo dapat memperhatikan dengan jelas wajah cantik sang istri. Tak mau melewatkan kesempatan, Matteo segera mengecup bibir ranum Mia dan tertawa.


Akan tetapi, kemesraan mereka segera terhenti tatkala Matteo melihat sesosok pria tampan sedang melangkah ke arahnya. “Selamat pagi, Tuan De Luca. Tuan Baresi yang mempersilakan saya masuk,” jelasnya sebelum Matteo sempat menyahut.


“Selamat pagi, Nyonya de Luca. Anda tetap terlihat cantik, seperti biasanya,” Adriano membungkuk dan meraih punggung tangan Mia lalu mengecupnya.


“Apa tidak ada waktu yang lebih tepat untuk bertamu selain di pagi buta begini?” sindir Matteo.


“Maafkan aku, tapi ini menyangkut pembicaraan kita di rumah sakit waktu itu. Ada permintaan mendesak dari luar negeri. Mereka sangat tertarik dengan rakitan senjata Anda yang beredar di pasar gelap. Mereka ingin memesannya secara langsung dari Anda dalam jumlah banyak, secepatnya!” jelas Adriano.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2