
Sepertinya, Matteo tak bisa pergi ke bengkel jika melihat sikap manja Mia yang tak mau melepaskan dirinya sama sekali. Sepulang dari memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan, tiba-tiba Mia memutuskan untuk langsung pulang, padahal rencana awal mereka adalah menuju rumah makan seafood yang sudah menjadi langganan Matteo sejak lama. Matteo hanya dapat mengikuti apapun keinginan dari sang istri, termasuk ketika Mia benar-benar meminta buah lemon dan mencicipinya. Wanita yang tengah mengandung enam minggu tersebut, seakan begitu menikmati lemon dengan ukuran yang cukup besar itu.
“Apakah rasanya enak, Cara mia?” Matteo meringis kecil melihat kelakuan Mia.
“Segar sekali, Theo. Kau mau?” tawar Mia menyodorkan potongan lemon itu kepada sang suami yang segera menggeleng. “
"Ayolah, Theo! Cicipi sedikit saja. Kenapa kau bersikap seperti itu?” rengek Mia cemberut.
“Ya, Sayangku. Aku tahu itu pasti segar, tapi aku tidak sedang hamil,” tolak Matteo lembut. Ia harus ekstra sabar dalam menghadapi sikap manja Mia.
Kebetulan, saat itu Damiano datang menghampiri mereka. Ia mengernyitkan keningnya melihat Mia yang tengah menyantap buah lemon dengan begitu lahap. “Mia, Anakku. Bagaimana keadaanmu sekarang?” sapa pria paruh baya itu lembut dan penuh perhatian. Ia duduk tak jauh dari Mia dan Matteo sembari terus memperhatikan sikap aneh istri dari putra asuhnya tersebut.
“Baik, Paman. Apa kau ingin mencicipi lemon ini?” tawar Mia. Ia menyodorkan potongan lemon yang lain kepada Damiano.
“Tidak usah, Nak. Asam lambungku akan kumat jika menyantap sesuatu yang terlalu masam seperti itu,” tolak Damiano dengan halus. Ia lalu melirik Matteo yang terlihat sedikit memelas. Rasa lucu menghinggapi perasaan pria yang dikenal dengan sikap bijaksananya. “Nikmatilah prosesnya, Theo,” ucapnya.
“Ya, tentu,” sahut Matteo pelan dan lesu.
“Omong-omong, kapan Marco akan kembali? Kau harus bicara secepatnya dengan sepupumu dan mulai melakukan persiapan. Aku rasa kau akan sedikit bekerja keras saat menjelaskan semua rencanamu kepada para tetua,” ucap Damiano lagi. Rasa ragu kembali menghinggapi perasaannya. Akan tetapi, Damiano juga harus menghormati keputusan Matteo.
“Kau tak perlu mengkhawatirkan hal itu, Damiano. Aku justru tengah memikirkan sesuatu yang lain saat ini,” ucap Matteo dengan tatapan menerawang.
“Apa itu, Anakku?” tanya Damiano.
Sedangkan Matteo tak langsung menjawab. Sebelumnya, ia menoleh kepada Mia yang masih asyik dengan buah lemon di tangannya. “Jangan terlalu banyak, Cara mia. Apalagi kau belum mengisi perut sejak tadi. Paksakanlah untuk makan, Sayang. Aku akan menyuruh pelayan agar menyiapkan sesuatu untukmu,” Matteo terlihat khawatir dengan tingkah Mia saat itu.
“Theo benar, Anakku. Setidaknya isi perutmu sedikit saja,” timpal Damiano lembut dan penuh kasih.
Mendengar ucapan kedua pria itu, wajah Mia seketika merengut. Ia menatap sayu kepada Matteo. “Rasanya tidak enak, Theo. Tak ada makanan yang terasa nikmat di dalam mulutku,” keluhnya pelan.
“Iya, aku bisa memahami itu. Akan tetapi, kau juga harus ingat bahwa saat ini kau sedang hamil dan membutuhkan banyak nutrisi demi janin di dalam kandunganmu,” rayu Matteo lembut. Kesabarannya benar-benar diuji saat itu. Hal tersebut membuat Damiano tersenyum. Ia tak pernah membayangkan jika Matteo yang selama ini begitu liar dan beringas, bisa berubah total menjadi seperti saat ini.
Kekuatan cinta memang sungguh luar biasa. Ia seperti air, angin, dan juga api yang maha dahsyat. Dengan mudahnya, cinta membalikkan kehidupan dan karakter seorang Matteo. Pria itu bahkan kini telah mantap untuk meninggalkan dunia hitam yang telah mendarah daging dalam dirinya.
Setelah mengantarkan Mia ke kamar untuk beristirahat, Matteo memutuskan kembali melanjutkan perbincangan dengan Damiano di ruang kerjanya. Ia merasa cukup tenang, karena Mia bersedia untuk makan meskipun hanya sedikit. Setidaknya, wanita itu tidak tidur dengan perut kosong.
__ADS_1
“Seandainya ibuku masih ada, mungkin ia bisa memberikan sedikit wejangan bagi kami berdua dalam menghadapi kondisi Mia yang seperti ini,” sesal Matteo seraya duduk tak jauh dari Damiano.
“Sudahlah, Anakku. Kau tak harus menyesali semua yang telah terjadi. Ambil saja sisi baiknya, meskipun rasanya pasti berat saat kehilangan orang yang teramat kita kasihi,” ucap Damiano dengan bijaksana. Ia menatap lekat kepada Matteo, seakan tak ingin melewatkan untuk terus melihat putra asuh yang sangat ia sayangi. “Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanyanya kemudian.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Damiano, Matteo menyulut cerutu yang sudah tersedia di atas meja. Asap tipis mengepul dari dalam mulutnya. Sesekali, pria bertato itu menyentuh ujung hidung yang mancung dengan punggung jari telunjuk. “Ini tentang D’Angelo,” jawab pria bermata abu-abu itu.
“Ada apa lagi dengannya? Mia sedang hamil saat ini, kau tak perlu terus merasa cemburu terhadap Adriano,” ujar Damiano menanggapi.
“Ah, tidak! Tentu saja bukan tentang hal itu. Ini sama sekali tak ada kaitannya dengan Mia,” sanggah Matteo seraya kembali mengisap cerutunya dalam-dalam dan mengepulkan asap tipis lagi. “Tadi Coco datang kemari. Ia mengatakan sesuatu tentang D’Angelo. Coco mengatakan bahwa salah satu pabrik yang memproduksi narkoba milik D’Angelo, merupakan milik Vincenzo Moriarty. Apa menurutmu mereka memang saling mengenal atau itu hanya sebuah kebetulan?”
“Setahuku, pengaruh Adriano D’Angelo sangatlah besar di dataran Eropa. Bukan hal yang tidak mungkin jika ia tak mengenal Moriarty. Kau tahu, Nak? Satu hal yang menjadi pertanyaanku adalah, mengapa ia tak dari dulu melebarkan sayap bisnisnya di Italia. Adriano seakan melewakan negara ini dan lebih memilih negara-negara lain. Padahal kita tahu seberapa besar potensi untuk berbisnis di sini,” tutur Damiano heran.
“Kau jauh lebih mengenalnya jika dibandingkan denganku,” Matteo menanggapi penuturan ayah asuhnya
tersebut.
“Ah, tidak juga. Aku hanya kebetulan mengenalnya dari seorang teman. Ia merupakan pria yang berasal dari Athena, dan juga rekan bisnis Adriano,” jelas Damiano. “Aku sangat terkesan dengan keramahan pria itu. Adriano adalah sosok dengan karakter yang begitu rendah hati dan mampu membuat siapa pun terkesan,”
lanjutnya.
“Astaga, Anakku Theo. Aku bisa melihat dengan jelas jika Mia sangat mencintaimu. Kau tak perlu takut kehilangannya,” ucap Damiano tenang.
“Aku tahu jika Mia tak akan meninggalkanku, justru aku takut sebaliknya,” nanar tatapan Matteo tertuju kepada ayah asuhnya itu. Nada bicara Matteo terdengar cukup aneh dan tak biasa. Pria itu seperti tengah merasakan sebuah ketakutan yang tak beralasan.
“Nak, kau boleh berubah menjadi pria penyayang dan perhatian yang penuh cinta. Namun, aku tak akan mengizinkanmu untuk menjadi seseorang yang mudah putus asa dan kehilangan keyakinan dalam hidupnya. Putraku tidak pantas bersikap seperti itu, dan aku tak menyukainya sama sekali,” tegas Damiano menanggapi sikap aneh Matteo. “Ternyata bukan hanya Mia yang mengalami masa-masa ngidam, tapi kau juga,” lanjut pria paruh baya tersebut seraya berdecak tak mengerti.
Matteo hanya tertawa pelan menanggapi sikap Damiano. “Aku hanya memikirkan yang terburuk. Kau tahu sendiri bagaimana risiko hidup dan tinggal di dunia mafia. Kau harus siap mati sewaktu-waktu,” tuturnya datar.
“Kau tidak akan mati, Nak! Setidaknya untuk saat ini, ataupun waktu-waktu yang akan datang! Aku selalu mendoakanmu agar kau tetap kuat dan bisa melindungi Klan de Luca, bahkan saat rambutmu sudah memutih. Meskipun dalam waktu dekat kau tak lagi menjadi ketua, tapi kehebatanmu tak akan tertandingi oleh siapapun!” saking berapi-api, Damiano sampai terengah-engah dalam mengucapkan kata-katanya.
Lagi-lagi Matteo tertawa. “Kau bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang, Damiano. Sudahlah, aku akan melihat keadaan Mia,” pria bertubuh tegap itu bangkit dan menepuk pundak Damiano pelan.
“Oh, ya. Kalau kau tak keberatan, aku ingin meminta tolong padamu,” Matteo berhenti sebentar di depan pintu lalu membalikkan badan ke arah ayah asuhnya itu.
“Apapun itu, Nak,” balas Damiano.
__ADS_1
“Aku tahu anak buahmu semuanya bisa diandalkan. Mereka adalah mata-mata paling hebat yang pasti dapat dengan mudah menyelidiki pabrik bekas Vincenzo, karena tak mungkin jika Stefano yang melakukan tugas ini,” ujar Matteo lagi.
“Kau masih penasaran dengan Adriano?” Damiano menggelengkan kepala, merasakan betapa kerasnya sifat Matteo.
“Ya, Damiano. Aku tak akan berhenti sampai rasa aneh yang mengganjal di hatiku ini hilang,” sahut Matteo seraya mengangguk, lalu meninggalkan Damiano yang termangu sendiri di dalam ruang kerja.
Pria paruh baya itu mulai memikirkan kata-kata Matteo. Ia pun segera meraih ponsel di dalam saku celana, kemudian mulai menghubungi beberapa bawahannya yang tersebar di berbagai wilayah Italia.
Sementara itu, di dalam kamar Matteo melihat Mia yang meringkuk di bawah selimut tebal. Hanya puncak kepalanya saja yang terlihat.
“Cara mia? Apa kau tertidur?” pelan dan hati-hati, Matteo menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya.
Sedangkan Mia hanya menjawab dengan gumaman pelan. Matanya rapat terpejam dengan kelopak yang sesekali bergerak-gerak.
Matteo tersenyum lembut melihat pemandangan yang damai dan menenangkan itu. “Baiklah, Sayangku. Beristirahatlah,” ucapnya seraya mengecup pelan kening Mia.
“Ti amo, Mia. Ti voglio bene (aku sangat mencintaimu). Aku sangat bersyukur bisa menemukan dan hidup bersama denganmu,” bisik Matteo lirih.
“Sampai maut memisahkan kita,” celetuk Mia dengan mata terpejam, membuat Matteo tertawa geli.
“Kau sangat menggemaskan, bahkan dalam keadaan tidur pun kau bisa menyahuti perkataanku, Cara mia. Sebesar itukah cintamu padaku?” Matteo kembali menciumi kening dan wajah Mia berkali-kali dengan gemas.
“Namun, jika memang suatu saat kita dipisahkan oleh maut. Aku ingin mati terlebih dulu agar aku tak perlu melihatmu meninggalkanku,” gumam Matteo. Sejenak kemudian, ia menyadari sikap dan perasaannya yang terasa aneh. "Aku rasa Damiano ada benarnya juga. Semua ini pasti karena pengaruh kehamilanmu, Cara mia,” ucapnya keheranan seraya menggeleng tak mengerti.
Matteo lalu berniat membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh Mia, ketika ponselnya bergetar di dalam saku kemeja. Segera ia merraih benda tersebut dan memperhatikan nama yang tertera di layar. Alisnya berkerut saat membaca nama Adriano di sana.
“Ada apa, Tuan D’Angelo?” tanya Matteo sesaat setelah mengangkat teleponnya.
“Tuan de Luca, anda tidak sibuk, kan? Bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan,” tutur Adriano dengan nada suara yang tak biasanya.
"Tentang apa, tuan D'Angelo?" tanya Matteo.
"Rasanya tak enak kalau dibahas lewat telepon. Bagaimana jika kita bertemu saja?" tawarAdriano.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa pergi. Datang saja ke Casa de Luca," tutup Matteo.
__ADS_1