Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Bad News


__ADS_3

“Kau sudah pulang, Nak?” Damiano terlihat kikuk menyambut kedatangan Matteo. Ia sepertinya kebingungan harus berkata apa. Sedangkan Matteo masih merasakan ada sesuatu yang lain. Ia tahu jika Damiano tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


Matteo kemudian berdiri di dekat sofa. Sementara Damiano menyandarkan tubuhnya pada dinding berlapis batuan alam itu. Sesaat kemudian, Matteo mendekat kepada Damiano. Ia meletakan helmnya dan berdiri di hadapan pria paruh baya itu. Matteo belum pernah menatap pria yang telah mengasuhnya selama ini, dengan tatapan setajam itu. Kuat, tangannya mencengkeram lengan Damiano hingga pria tua itu memejamkan matanya  demi menahan tenaga Matteo yang besar.


Melihat hal itu, Coco yang sejak tadi hanya terdiam segera bertindak. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Matteo. Dilepaskannya cengkeraman tangan Matteo dari lengan Damiano. Coco pun berusaha untuk menenangkan sahabatnya dengan mengajak pria itu duduk di atas sofa. Coco juga mengambilkan Matteo segelas minuman dan kembali duduk di sebelahnya.


“Katakan apa yang terjadi?” Matteo menatap tajam raut-raut gusar di depannya itu. Mata abu-abunya beralih pada Coco setelah sekian lama mencari jawaban pada Damiano yang tak kunjung membuka mulutnya.


“Il Signore Roberto dan Signora Gabriella, mereka … mereka,” Coco terbata.


“Mereka apa? Cepat katakan!” Matteo kembali berdiri dan mencengkeram kerah kemeja Coco. Wajahnya kini hanya terpaut beberapa senti dari sahabatnya itu.


“Mereka tewas, Theo. Mobil yang mereka kendarai meledak saat perjalanan pulang,” jawab Coco lirih.


Matteo melepaskan cengkeramannya perlahan. Ia kembali terduduk saat mendengar berita yang serasa mengguncang dunianya. Tubuhnya lunglai seakan tak bertenaga. “Bagaimana … bagaimana bisa?” Matteo yang terkenal dingin dan tak pernah menampakkan emosinya, kini meneteskan air mata. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mengepalkan tangannya. Matteo menoleh pada tembok batu bata coklat yang terbentang di belakangnya. Permukaan dinding yang dingin, menarik Matteo untuk ia jadikan sasaran pukulan.


Matteo berdiri. Berkali-kali ia melayangkan tinjunya, hingga terdapat sedikit retakan di tembok itu. Ia tak berhenti meskipun punggung tangannya mengeluarkan darah.


“Hentikan, Il Mio Bambino! Sudah!” sekuat tenaga Damiano menahan tangan Matteo agar tak menyakiti dirinya dengan lebih jauh lagi.

__ADS_1


“Tenangkan dirimu!” perlahan Damiano memeluk tubuh Matteo yang membeku. Diusapnya punggung pria yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya, demi meluruhkan segala amarah dan kesedihannya.


“Seharusnya aku habisi mereka semua tanpa tersisa!” geram Matteo.


“Jangan pikirkan itu dulu, Nak! Sekarang polisi sedang menyelidiki kasus ini. Jika diteruskan, organisasi kita akan terkuak. Tentu ayahmu tak akan menyukai hal itu. Klan de Luca adalah peninggalannya,” tutur Damiano.


Matteo terdiam sejenak. Ia masih belum percaya dengan berita buruk yang baru ia dengar. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi kepada kedua orang tuanya. “Ini tidak masuk akal! Keamanan di Casa de Luca begitu ketat! Bagaimana mungkin ada orang asing yang bisa masuk dengan leluasa dan memasang bom di mobilku?” Matteo menatap Coco dan Damiano secara bergantian.


“Entahlah, Nak. Aku rasa pasti ada orang dalam yang melakukan hal itu. Kita harus menyelidikinya dengan segera,” sahut Damiano. “Berhubung bom itu di pasangkan di mobilmu, pastilah yang menjadi sasaran mereka adalah dirimu,” lanjut pria paruh baya itu lagi.


“Aku rasa apa yang dikatakan Damiano benar. Kematian Tuan dan Nyonya de Luca seharusnya tidak terjadi,” timpal Coco. Ia menghampiri Matteo dan memegangi pundak sahabatnya. Sebagai seseorang yang sangat mengenal Matteo, Coco tahu jika sahabatnya adalah pria yang sangat kuat. Namun, yang namanya kehilangan kedua orang tua pastilah akan terasa begitu berat bagi siapa pun. 


Sementara itu di tempat lain. Kabar tewasnya Roberto dan Gabriella de Luca telah sampai ke telinga Vincenzo. Pria berwajah tegas itu terlihat begitu emosi karenanya. Ia bahkan sempat menampar anak buahnya yang menyampaikan berita buruk itu. “Aku tidak pernah memerintahkan kalian untuk menghabisi nyawa Roberto dan Gabriella!” bentak Vincenzo pada ketiga anak buahnya yang saat itu datang menghadap. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat wajah dan melawan tatapan tuannya yang tengah murka, karena kegagalan rencana atas pembunuhan yang ditujukan untuk Matteo.


“Maafkan kami, Tuan. Kami ....”


“Jangan berani-beraninya membuat alasan di hadapanku! Kalian hanya orang-orang bodoh yang tidak becus bekerja!” sergah Vincenzo. Ia kemudian menyuruh ketiga anak buahnya untuk pergi dari hadapannya. Setelah itu, Vincenzo terlihat menghubungi seseorang.


“Bagaimana kalian bisa gagal melenyapkan Matteo?” Vincenzo berkata tanpa basa-basi terlebih dahulu.

__ADS_1


“Maafkan aku. Aku sama sekali tidak menyangka jika mobil itu justru malah digunakan oleh Tuan dan Nyonya de Luca, bukannya Matteo,” kilah seorang pria dari ujung telepon.


“Kalian semua tidak dapat diandalkan. Sei stupido!(Dasar bodoh!),” maki Vincenzo. Kemrahannya atas kegagalan rencana pembunuhan Matteo sungguh telah membuat amarahnya tak terbendung lagi. Ia dapat memastikan jika setelah kejadian ini, maka Matteo pasti akan bersikap jauh lebih waspada. Selain itu, ia juga mengenal dekat Roberto de Luca. Hubungan mereka sangat harmonis, baik dalam dunia bisnis maupun di luar urusan kerja sama yang mereka lakukan.


Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, Du Fontaine merupakan minuman andalan yang selalu tersedia di club milik Moriarty yang tersebar hampir di seluruh Italia. Kerja sama itu sudah terjalin sejak lama. 


“Aku tidak menyangka jika mobil itu ternyata tidak dipakai oleh putra de Luca. Aku juga tidak mungkin melepas bom itu begitu saja, karena pasti akan memakan waktu yang cukup lama. Sedangkan suasana di pesta begitu ramai dan ada beberapa penjaga yang terus mengawasi di area parkir. Aku tidak ingin mengambil risiko,” kilah pria itu lagi.


“Bom itu dirancang untuk meledak saat pengendara mobil menambah kecepatannya terlalu tinggi. Pedal gas akan memicu bom untuk segera aktif,” lanjutnya.


“Kau terlalu banyak alasan!” ujar Vincenzo. Pria itu tidak mentolelir sebuah kegagalan. “Aku yakin tidak lama lagi, putra de Luca pasti akan segera mengetahui jika kau adalah pelaku yang memasang bom di mobilnya. Berhati-hatilah, ia bukan anak muda biasa!”


Terdengar gelak tawa dari seberang sana. Pria yang menjadi lawan bicara Vincenzo itu masih terdengar sangat tenang dalam menanggapi segala kemarahan pria tiga puluh dua tahun itu.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Tuan Moriarty! Seharusnya kau bersiap-siap, karena putra de Luca pasti akan segera mencarimu untuk membalaskan kematian orang tuanya,” pria itu terdengar mengancam balik Vincenzo. “Kau sudah mengetahui seperti apa kekuatan putra de Luca. Ia telah melenyapkan adikmu berserta seluruh anak buahnya hanya seorang diri, bukan tidak mungkin ia bisa melakukan hal yang sama pada dirimu,” ucapnya lagi.


Vincenzo tidak menjawab. Apa yang dikatakan pria di ujung telepon itu memang tidaklah salah. Matteo memang bukan pria sembarangan. Meskipun usianya masih relatif muda, tapi kehebatannya memang patut untuk diacungi jempol. Keberanian serta kepintarannya pun tidak dapat diragukan lagi. “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Vincenzo seraya mulai menyulut cerutunya.


Terdengar kembali suara tawa pria misterius itu. Ia masih terdengar setenang sebelumnya. “Ada beberapa rencana yang telah kususun. Meskipun rencana kali ini gagal, tetapi aku rasa itu tidak terlalu merugikanku. Selalu ada sisi baik dari setiap kegagalan, Tuan Moriarty,” ujarnya. “Kau ingin nyawa Matteo de Luca? Tunggulah sebentar lagi. Pemuda itu pasti akan menyerahkannya dengan sukarela padamu,” gelak tawa kembali mengiringi ucapan pria itu sebelum ia mengakhiri percakapannya dengan Vincenzo.

__ADS_1


Sedangkan Vincenzo sendiri, saat itu hanya termenung seraya terus mengisap cerutunya. Ia memikirkan kematian Roberto dan istrinya. Satu nyawa dibayar dengan dua nyawa sekaligus, meskipun itu bukanlah nyawa yang ia inginkan.


__ADS_2