
Malam itu, Daniella baru akan menutup restoran, sedangkan semua karyawannya telah pulang terlebih dahulu. Namun, ia malah kedatangan tamu yang tak pernah diduga dan juga tak diharapkannya. Gadis berambut pirang tersebut, tak pernah menyangka bahwa Sergei Redomir akan mengikutinya hingga ke Roma. “Darimana kau tahu tempat ini?” sambutan yang tak bersahabat dari Daniella untuk pria Rusia yang duduk tenang di atas sofa, meskipun belum Daniella persilakan.
Sergei tersenyum kalem. Sebenarnya, pria itu cukup tampan dan memiliki perawakan yang jauh lebih macho jika dibandingkan dengan Marco. “Aku akan menemukanmu, meski kau berada di Mars sekalipun. Radarku tak pernah meleset saat mendeteksi wanita cantik seepertimu, Pirang,” ujar pria bermata hijau tersebut seraya menyeringai aneh kepada Daniella yang saat itu menjaga jarak darinya.
“Sayang sekali karena aku tak ingin kau temukan!” dengus gadis berambut pirang itu seraya melipat kedua tangannya di dada. Raut wajahnya tampak semakin ketus. Ia segera memundurkan tubuh, ketika Sergei mendekat dan berdiri tepat di hadapannya. “Menjauhlah dariku!” sergah Daniella tegas dengan sorot tajam.
Sementara Sergei tak peduli. Ia seakan ingin mengajak gadis itu untuk bermain-main. Sergei tertawa lebar dan seperti menikmati rasa tidak nyaman yang Daniella tunjukan saat itu. “Makin marah, kau terlihat semakin cantik. Aku menyukai wanita dengan karakter sepertimu, memberiku sebuah tantangan baru. Apa kau ingin mengetahui seperti apa diriku saat mendapati sesuatu yang menantang?” Sergei mendekatkan wajahnya dan meniup pelan kening Daniella, membuat gadis itu harus bertindak lebih tegas.
Daniella segera mendorong tubuh tegap pria di hadapannya hingga menjauh. Setelah itu, ia beranjak ke pintu dan bermaksud untuk membukanya. Akan tetapi, secepat kilat tangan Sergei meraih pergelangan kanan gadis itu dan mencengkeramnya dengan erat, membuat Daniella meringis.
“Astaga, kau membuatku semakin bergairah. Rasanya aku sudah tak tahan untuk ....”
“Tutup mulutmu dan segera pergilah dari sini, Brengsek! Dasar pria tak berotak!” umpat Daniella kesal sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Sergei. Ia lalu mengangkat tangan kirinya ke arah pria itu dan bermaksud hendak melakukan perlawanan. Akan tetapi, Daniella bukanlah lawan yang seimbang bagi pria seperti Sergei. Pria itu menyeringai sambil menahan dan memegangi tangan kiri Daniella.
Tak kehabisan akal, Daniella menggunakan lutut hingga mengenai pangkal paha Sergei. Dengan cukup keras, ia menghantamkan lututnya hingga sergei memekik pelan dengan tubuh sedikit membungkuk. Cengkeraman kencangnya pun terlepas dari Daniella.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh gadis itu. Ia bergegas menuju meja kerjanya untuk mengambil tas. Akan tetapi, baru saja Daniella hendak meraih tas tersebut, dari arah belakang Sergei membekap mulutnya dengan rapat. Daniella mencoba untuk berontak, tapi Sergei tampaknya telah menyiapkan rencana itu dengan begitu matang. Ia tak melepaskan gadis berambut pirang tersebut sedikitpun, hingga Daniella akhirnya merasa lemas dan menyerah. Pada akhirnya, tubuh sintal itu terkulai tak berdaya.
Dengan sigap, Sergei membopong tubuh Daniella dan membawanya keluar. Ia memasukan tubuh semampai gadis yang sudah tak sadarkan diri itu ke dalam mobilnya. Sementara pintu restoran ia biarkan begitu saja. Sergei begitu terburu-buru. Dengan segera, ia menjalankan kendaraan SUV hitam miliknya, dan meninggalkan area restoran La Florecita.
Sementara, malam kian larut. Di dalam apartemen, Francesca terlihat resah. Ia berkali-kali melihat jarum jam yang terus bergerak dan kini sudah menunjuk ke angka dua belas. Gadis itu terus mondar-mandir sambil menggenggam erat ponselnya. Sesekali ia melihat benda yang tengah dipegangnya itu, hingga akhirnya ia pun terlihat menghubungi seseorang. Akan tetapi, tak lama kemudian ia lagi-lagi terlihat gelisah.
Francesca kemudian memilih untuk duduk di sofa dan tampak berpikir. Dengan terpaksa, ia mengambil jalan lain yaitu keluar dari apartemen dan bergegas menuju ke restoran.
Perjalanan ke sana, hanya memakan waktu sekitar lima belas menit dengan berjalan kaki. Meskipun takut karena malam sudah begitu larut, tetapi Francesca memberanikan diri. Lagi pula, suasana di jalan belum terlalu lengang.
Tak berselang lama, Francesca pun tiba di restoran. Setengah berlari, ia bergegas menuju pintu masuk dan terkejut saat mendapati keadaan di sana. Pintu itu dalam keadaan tak terkunci. Francesca segera masuk. “Dani!” serunya dengan cukup nyaring. Ia tak berpikir macam-macam ataupun bersikap waspada.
Suasana di sana sudah sepi, tetapi sebagian besar lampu masih menyala, dan hanya lampu bagian belakang restoran saja yang sudah dimatikan. “Dani, apa kau masih di sini?” seru Francesca lagi seraya berjalan menuju ruangan sang kakak. Namun, Francesca lagi-lagi dibuat heran karena Daniella tak ada di sana. Ia bahkan menemukan tas milik gadis itu di atas meja tanpa sang pemiliknya.
__ADS_1
Francesca kemudian memeriksa ke dalam toilet. Akan tetapi, di sana pun kosong. Resah dan khawatir mulai menyelimuti wajah cantik gadis dengan bola mata berwarna hazel tersebut. Ia lalu duduk dan termenung sesaat. Pikirannya tak dapat menerka kira-kira ke mana atau apa yang terjadi pada sang kakak. Gadis bertubuh semampai itu tersebut akhirnya mengambil jalan terakhir. Dalam situasi perasaannya yang begitu kacau, tak ada hal lain yang ia ingat selain Mia.
Sedangkan, Mia saat itu tengah menemani Matteo di ruang kerja sang suami. Ia tidak mengatakan apapun tentang pertemuannya tadi siang dengan Adriano dan juga rahasia pria itu. Ya, tentu saja Mia tak akan melakukan hal tersebut. Mia tak ingin menduga-duga, meskipun dirinya mengetahui bahwa Adriano adalah keponakan dari Alessandro Moriarty.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah satu malam. Akan tetapi, sepasang suami istri itu masih asyik berduaan di dalam ruangan dengan nuansa warna teracota.
Saat itu, Mia duduk manis dengan posisi menyamping di atas pangkuan Matteo. Sesekali, ia tertawa pelan dan terdengar begitu manja saat menanggapi sikap nakal sang suami terhadapnya. Bagaimana tidak, Mia harus merasakan jari tengah Matteo yang merangsak masuk dan membuatnya gelisah. Sedangkan, si pemilik jari tersebut justru terlihat begitu puas.
“Ah, Theo ... kau sungguh nakal,” desah Mia pelan. Ia melingkarkan tangan kanannya di leher Matteo, sementara tangan kiri meraba bulu-bulu halus yang tumbuh pada sebagian wajah rupawan pria tersebut. Mereka kemudian saling menautkan bibir dengan mesra. Terlihat dengan begitu jelas, jika saat itu Mia sudah benar-benar dalam keadaan ‘terbakar’.
Akan tetapi, tidak dengan Matteo. Pria itu justru tampak semakin asyik mempermainkan sang istri.
Sesaat kemudian, Matteo melepaskan bibir Mia dengan perlahan. “Bagaimana jika sesekali kita bermain di sini?” cetusnya. Sebuah tawaran yang begitu nakal dan membuat Mia tersenyum malu-malu. Wanita itu tersipu dengan desa•han lembutnya, karena merasakan permainan jemari sang suami. Namun, senyuman lembut Mia perlahan memudar, ketika Matteo menambahkan jari telunjuknya di sana. Ia membuat Mia meringis dan sesekali mendesis pelan saat merasakan sensasi yang luar biasa.
“Aku sudah tak tahan, Theo,” bisik Mia seraya membenamkan wajahnya pada pundak Matteo. Lagi-lagi ia meringis pelan dan mere•mas rambut belakang pria yang tak juga memenuhi keinginannya. Bersamaan dengan hal itu, ponsel milik Matteo bergetar cukup lama. Sepertinya ada sebuah panggilan yang masuk ke sana. Namun, Matteo mengabaikan hal tersebut.
“Berdirilah, Sayangku,” bisik Matteo. Mia pun menurut tanpa banyak bertanya apalagi protes. Ia berdiri dengan posisi membelakangi pria bermata abu-abu itu.
Pria dengan tato di atas punggung tangannya itu mengeluh pelan. Rasa penasaran memecah nafsu syahwat yang sudah terkumpul di otaknya. Dengan agak malas, ia meraih benda yang telah mengganggu ritual kesukaannya bersama Mia. “Tunggu sebentar, Cara mia,” ucapnya seraya memeriksa ponsel. Nama Francesca tertera di sana, membuat Matteo seketika menautkan alisnya. “Di mana ponselmu, Sayang?” tanya pria itu.
Mia yang sudah dalam posisi siap memulai permainan, kembali menegakan tubuhnya dan menoleh. “Ponselku ada di kamar, memangnya kenapa?” ia balik bertanya.
Namun, Matteo tak menanggapi pertanyaan itu, karena ia terlebih dahulu menjawab panggilan masuk dari saudari iparnya.
“Francy? Ada apa menghubungiku tengah malam begini?” tanya Matteo yang sekaligus menjawab pertanyaan Mia. Matteo pun terdiam dan mendengarkan apa yang Francesca katakan dari seberang sana. Raut wajah sang ketua klan itu terlihat begitu serius.
“Tenanglah, Francy. Aku dan Mia akan segera ke sana. Kebetulan Coco juga sedang berada di Casa de Luca,” ucap Matteo beberapa saat kemudian. Hal itu membuat Mia mengernyitkan keningnya, karena rasa heran dan penasaran.
“Sekarang, ada baiknya kau kembali ke apartemen dan pastikan bahwa tak ada yang mengikutimu ke sana. Satu hal lagi, jangan membuka pintu untuk siapa pun sampai kami datang. Kau paham, bukan?” tegas, intruksi dari Matteo yang ditujukan kepada Francesca. Sesaat kemudian, ia lalu menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
“Theo, ada apa? Katakan padaku kenapa Francy menghubungimu tengah malam begini?” tanya Mia terlihat resah. Wajah cantiknya menyiratkan rasa khawatir yang begitu dalam atas adik kesayangannya.
“Bersiaplah, Cara mia. Kita akan pergi ke Roma malam ini juga,” ucap Matteo tanpa menjelaskan apa-apa. Ia segera mengajak Mia keluar dari ruang kerja untuk menuju kamar.
“Tunggu, Theo! Katakan dulu ada masalah apa?” desak Mia seraya terus mengikuti langkah cepat Matteo.
“Nanti kujelaskan di perjalanan. Aku akan membangunkan Coco terlebih dahulu, sementara kau berganti pakaian,” jawab Matteo seraya berbelok menuju lorong ke arah kamar yang ditempati Coco. Ia membiarkan Mia terpaku di depan pintu kamarnya dengan rasa penasaran yang sangat besar. Pada akhirnya, Mia pun masuk dan berganti pakaian.
__ADS_1