
Dengan mengendarai mobil jeep kesayangannya, Matteo menempuh perjalanan singkat dari Brescia menuju Milan. Berbekal alamat yang diberikan Adriano, ia langsung menuju ke apartemen mewah yang sengaja disewa oleh Sergei Redomir selama berada di kota mode tersebut.
Setelah memarkirkan kendaraannya, dengan langkah gagah penuh percaya diri, Matteo memasuki gedung puluhan tingkat itu. Tujuannya kali ini adalah lantai dua puluh tujuh, di mana Sergei berada. Selama di dalam lift, Matteo sempat merapikan jaket kulit yang ia kenakan. Sementara kacamata hitam masih setia menemaninya. Sesekali, pria itu juga mengusap rambut yang selalu tersisir rapi ke belakang.
Beberapa saat kemudian, pintu lift pun terbuka. Matteo melangkah keluar dan segera menuju ke ruang apartemen yang disewa Sergei. Di sana telah berdiri dua orang pria yang berjaga dan menatap curiga terhadap dirinya.
"Siapa kau?" tanya salah seorang dari mereka dengan setengah menghardik. Akan tetapi, Matteo masih terlihat tenang.
"Matteo de Luca. Aku ingin bertemu dengan bos kalian," jawab Matteo dingin.
Mendengar nama de Luca, kedua pria itu saling pandang. "Bos kami sedang sibuk. Ia tidak bisa diganggu," ujar salah satu dari mereka lagi.
"Masuk dan sampaikan pada bos kalian jika aku datang menemuinya. Aku kemari dengan membawa kesabaran tinggi. Jika tidak, maka kupastikan kalian akan mengganti rugi karena pintu apartemen yang jebol," ucap Matteo masih dengan nada bicara yang sama.
Kedua pria itu saling pandang. Mereka tentunya tak ingin mengundang keributan di sana. Akhirnya, salah seorang dari kedua pria itu masuk, dan satunya lagi tetap berjaga. Sebenarnya, jika mau maka Matteo dapat melumpuhkan penjaga itu hanya dengan satu kali tendangan saja. Akan tetapi, ia datang ke sana bukan untuk menyerang lawannya, melainkan ingin bicara dan meminta penjelasan.
Tak berselang lama, pria yang tadi melapor ke dalam telah kembali. Ia mempersilakan Matteo untuk masuk. Tanpa banyak bicara, Matteo segera melangkah ke dalam ruang apartemen dengan nuansa serba modern itu. Ia berdiri di depan pintu dan mengedarkan pandangannya pada setiap penjuru ruangan tersebut. Akan tetapi, Matteo tak menemukan siapa pun di sana. Sayup-sayup, terdengar suara tawa manja seorang wanita dari bagian dalam apartemen tersebut. Matteo pun memutuskan untuk menunggu sambil berdiri di tempatnya, hingga Sergei muncul dengan dua orang wanita di sisi kiri dan kanan pria itu.
Sergei menghentikan tawanya. Tangan yang awalnya merengkuh pinggang kedua wanita di sisi kiri dan kanan, segera ia turunkan saat melihat keberadaan Matteo di sana. "Terima kasih, Nona-nona. Kalian boleh pergi sekarang," ucap Sergei sambil menepuk pinggul kedua wanitanya dan menyuruh mereka untuk keluar dari sana. Sedangkan Matteo tak memberi respon apapun, termasuk saat kedua wanita tadi melayangkan senyum penuh godaan terhadapnya.
"Angin apa yang membawamu kemari, Matteo de Luca?" tanya Sergei dengan aksen Rusianya. Ia menyebut nama Matteo tanpa embel-embel kata 'tuan'. Dari sana, Matteo seperti sudah dapat menangkap gelagat tak baik dari pria bermata hijau tersebut.
"Tuan D'Angelo memberitahukan bahwa kau telah membatalkan pemesanan senjata dariku scara sepihak. Apa maksud semua itu?" tanya Matteo dengan penekanan yang cukup dalam.
"Oh, itu benar sekali. Ia bahkan mengembalikan orang suruhanku dalam keadaan tak bernyawa, sungguh tak menghargaiku," jawab Sergei tenang. Pria itu mungkin merasa tenang, karena ada beberapa anak buahnya di sana yang siap menodongkan senjata mereka andai Matteo melakukan sesuatu yang di luar dugaan.
"Aku memang sudah mengambil keputusan untuk membatalkan semua sisa pesanan, dan keputusanku sudah bulat," Sergei kembali menegaskan.
"Pesananmu hanya tinggal sedikit lagi, kau tahu bukan jika aku hanya memproduksi senjata sesuai permintaan?"
"Oh, itu bukan urusanku. Pelanggan adalah raja, dan aku berhak mengambil keputusan apakah akan melanjutkannya atau tidak," ujar Sergei seenaknya, membuat Matteo tersenyum ketus.
__ADS_1
"Kau boleh menjual sisanya kepada orang lain, karena aku sudah tidak berminat lagi untuk bekerja sama dengan seseorang yang telah menghabisi saudaraku dengan keji!" Sergei mengakhiri kata-katanya dengan sesuatu yang tak Matteo pahami. Pria bermata abu-abu itu mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya?" tanya Matteo seraya menatap lekat penuh waspada kepada pria di hadapannya. Insting dari ketua Klan de Luca tersebut mulai bekerja dan menangkap adanya sesuatu yang mengancam dirinya. Matteo menggerakkan tangan perlahan ke balik jaket kulitnya. Namun, sebelum ia sempat mengambil pistol yang terselip di dalam sana, dua orang anak buah Sergei yang entah dari mana datangnya sudah lebih dulu menodongkan senjata mereka kepada Matteo.
Pria itu tertegun. Ia semakin waspada. Mata abu-abunya bergerak mengamati keadaan dan mencoba untuk mencari celah.
Sesaat kemudian, Sergei tertawa dengan puas. Ia berjalan mendekat kepada Matteo. "Tiga lawan satu, dan kau tak bersenjata. Butuh waktu beberapa detik bagimu untuk mengambil pistol dari balik jaket. Akan tetapi, sebelum itu terjadi maka kupastikan bahwa peluru anak buahku sudah berhasil menembus kepalamu," ucap Sergei dengan seringainya.
"Apa maksudmu melakukan semua ini? Aku tidak pernah memiliki masalah denganmu sama sekali," tegas Matteo penuh penekanan.
"Kau masih berani mengelak bahwa dirimu telah menghabisi saudaraku?" sentak Sergei.
"Saudaramu yang mana? Sudah terlalu banyak orang yang kuhabisi!" balas Matteo tak kalah tegas.
"Alex!" Sergei menyebut satu nama dengan begitu nyaring, membuat Matteo tersentak dan berpikir untuk beberapa saat. Otaknya memproses dengan cepat segala informasi yang ia dapat selama ini.
“Jangan gila! Tuan D'Angelo mengatakan padaku bahwa ia telah menghabisi Alex karena pria itu berani menculik Daniella, kakak iparku,” tutur Matteo dengan nada ragu. “Apakah benar adikmu yang menculik Daniela?” selidiknya kemudian. Matteo memicingkan matanya dengan tajam ke arah Sergei.
“Aku tidak suka mengulang-ulang pertanyaan. Kau tinggal jawab, ya atau tidak!” nada suara Matteo terdengar begitu dingin, membuat suasana di sekitar semakin mencekam.
“Sepertinya ada sedikit salah paham di sini. Adriano rupanya berbohong, baik padamu maupun padaku,” Sergei mengangkat kedua tangannya ke depan dada, seakan berusaha memberi isyarat bagi Matteo untuk menahan diri.
“Jangan bertele-tele, Sergei!” sentak Matteo yang segera dihadiahi dengan todongan pistol tepat di belakang kepalanya. Anak buah Sergei tak tinggal diam ketika melihat majikan mereka terdesak dan ketakutan.
Hal itu malah membuat emosi Matteo semakin memuncak.
Dengan gerakan secepat kilat, Matteo memiringkan kepalanya. Ia mengepalkan tangan kanan lalu menghantam perut anak buah Sergei yang berdiri di sampingnya sejak tadi. Sementara pria yang menodongkan senjata ke belakang kepala Matteo tadi sigap mengarahkan tembakan padanya.
Namun Matteo lebih gesit. Ia membungkuk dan menerjang pria itu. Suara pistol menyalak beberapa kali, mengenai lampu kristal, dinding, hingga sofa. Tak satu pun yang mengenai tubuh Matteo. Pria itu menganggapnya sebagai suatu keberuntungan. “Doa Mia selalu melindungiku. Entah siapa yang akan mendoakanmu jika keadaannya seperti ini!" seringai Matteo yang sudah berhasil duduk di atas perut pria itu. Satu tangannya memukul rahang pria tersebut, sementara tangan yang lain mencengkeram erat pergelangan tangan si pria yang tengah memegang pistol. Cengkeraman tangan yang kuat membuat pria tadimelepas pistolnya.
Belum sempat Matteo meraih pistol itu, tembakan kembali diarahkan kepadanya oleh anak buah Sergei yang lain. Mereka berjumlah sekitar lima orang. Matteo pun beringsut ke samping pria yang telentang tak berdaya itu dan mengangkat tubuhnya hingga menutupi badan. Ia menggunakan pria itu sebagai tameng hidup, sembari menurunkan tubuhnya hingga Matteo mampu meraih pistol yang tergeletak tak jauh dari sana.
__ADS_1
Usaha pria bermata abu-abu itu berhasil. Ia merebut senjata tersebut dan mengokangnya. Matteo juga mencabut pistol di balik pinggang yang sudah ia bawa dari Casa de Luca. Dua tangannya kini telah menggenggam pistol semi otomatis yang siap ditembakkan.
Diarahkannya kedua senjata itu pada semua anak buah Sergei yang masih terus memberondongnya dengan tembakan. Beberapa peluru mengenai kedua tangan dan kaki lima orang itu. Hanya dalam beberapa menit, beberapa orang tersebut berhasil Matteo lumpuhkan, tanpa membunuh mereka tentunya.
Matteo tersenyum puas. Akan tetapi, senyum itu harus terhenti saat ia merasakan pergerakan di belakangnya. Ia segera berbalik dan menembak kaki pria yang tadi sempat terkapar karena ulahnya. Pria itu roboh dengan lutut yang lebih dulu mendarat di lantai. Terdengar bunyi retakan tulang yang begitu memilukan di telinga Sergei.
Pria Rusia itu berlutut sembari menutupi kedua telinganya. Ia semakin ketakutan kala Matteo berjalan santai mendekati dirinya.
“Hentikan! Hentikan!” racau Sergei seraya memejamkan mata.
“Aku sudah berjanji pada Mia-ku untuk tidak membunuh siapa pun lagi. Jadi, aku hanya melukai anak buahmu. Mereka tidak mati, tapi selamanya mereka tak akan bisa lagi memegang senjata. Aku membidik tulang yang berada di telapak tangan mereka. Jika tulang itu hancur, maka jangankan menembak, bahkan untuk menyendok spaghetti saja jari mereka akan gemetar,” Matteo tertawa lebar sampai terlihat giginya yang putih dan rapi. Lesung pipi juga tercipta di sisi bibirnya.
Dalam keadaan normal, Matteo akan terlihat sangat tampan. Namun, tidak dalam situasi seperti saat itu. Sergei semakin bergidik ngeri melihat sosok Matteo de Luca yang sebenarnya. Tak ada aura ketakutan sama sekali dalam diri pria bermata abu-abu tersebut sejak pertama kali melangkahkan kaki memasuki apartemen itu. Matteo tak merasa gentar walaupun ia sempat ditodong oleh banyak senjata.
Sergei Redomir kini mulai sadar dan menyesali perbuatannya. Ia mengaku salah karena telah mengusik pria yang saat ini berdiri gagah di hadapannya sambil menodongkan dua pistol yang siap menembak kepalanya hingga hancur jika Matteo mau.
“Maafkan aku, Tuan de Luca. A-aku tidak bermaksud ....” Sergei menangkupkan kedua tangannya.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi!” potong Matteo. Senjatanya kini bergerak tepat di depan mulut Sergei Redomir.
“Bicaralah yang jujur, atau aku akan membuat pengecualian. Akan kuingkari janjiku pada Mia. Akan kubunuh kau sekarang juga jika tak mau mengatakan yang sebenarnya!” ancam Matteo.
“A-Adriano berbohong! Semuanya berbohong padaku,” Sergei semakin meracau tak jelas.
“Satu ....” Matteo mulai menghitung sebagai penanda bahwa dirinya tak suka bertele-tele. Ia memperkirakan waktu yang tepat untuk menembak mulut Sergei. Pelatuk sudah mulai ditariknya dengan perlahan.
“Tunggu! Tunggu! Biar kujelaskan!” seru Sergei putus asa. Sementara Matteo hanya mengempaskan napas pelan.
“Akulah yang menculik Daniela! Adriano berbohong padamu, karena bukan Alex yang menculik kakak iparmu, melainkan aku! Lagi pula tak mungkin Alex yang melakukannya, karena Daniela mengatakan bahwa kau telah menghabisi nyawa anak buahnya, dan bahkan mungkin sama halnya terhadap Alex!” terang Sergei sambil terengah.
“Aku hanya membunuh kecoak-kecoak suruhan Alex, tapi adik pengecutmu itu lebih dulu lari sebelum aku sempat menghabisinya!” geram Matteo. “Tentu saja, jika aku mengetahui keberadaannya, maka ia tak akan kuampuni! Namun, ternyata hingga saat ini aku belum juga berhasil menemukan si brengsek itu,” lanjutnya.
__ADS_1
“Jika memang bukan kau yang telah menghabisi Alex, maka apakah mungkin bahwa sebenarnya ....” Sergei terdiam dan berpikir.