
Coco menolak ikut ke Casa de Luca. Ia lebih memilih untuk menyendiri di dalam bengkelnya, mengenang semua yang pernah ia lakukan bersama Francesca. Pria itu melempar jaketnya begitu saja dengan kesal, setelah beberapa lama duduk termenung. Sementara Matteo pun sama saja. Ia langsung masuk kamar dan melepas mantel hitamnya. Matteo kemudian duduk di ujung tempat tidurnya dengan setengah membungkuk.
Pria bermata abu-abu itu menarik napas dalam-dalam, Matteo merasakan jika dadanya begitu sesak dan dirinya seakan tak dapat bernapas dengan leluasa. Ia pikir, dengan tertangkapnya para pelaku penyerangan yang menewaskan Mr. Gio dan juga Valentino, maka hubungannya dengan Mia akan jadi membaik. Ada secercah harapan bagi Matteo saat itu, tapi kini semuanya terasa gelap kembali. Ia seperti harus merangkak di dalam gua yang sempit tanpa ada udara.
“Kenapa kau lakukan ini padaku, Mia?” sesal Matteo pelan. Ia berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar. Dirogohnya kotak rokok dari dalam mantel yang menggantung begitu saja di tepian tempat tidur. Ia lalu mengambil sebatang dan segera menyulut rokok tersebut. Asap tipis pun mengepul dari dalam mulutnya. Matteo kemudian beranjak ke dekat jendela dan membuka jendela itu lebar-lebar. Ia kemudain duduk di sana, menikmati embusan angin pada sore itu.
Dikepulkannya lagi asap putih dari mulutnya. Matteo kemudian menyandarkan kepalanya pada pinggiran jendela. Setelah itu meletakan tangannya di atas lutut sebelah kanan yang ia tekuk. Matteo melayangkan tatapannya pada langit senja yang masih terlihat cerah. Untuk sesaat, ia melihat bayangan wajah Mia di sana. Entah ke mana gadis itu pergi? Ia sepertinya sengaja menghindar. Sebegitu bencikah Mia terhadap dirinya? Matteo kembali mengela napas dalam-dalam. Setelah berpikir untuk beberapa saat, akhirnya ia beranjak dari duduknya. Matteo kemudian meraih ponsel dan mulai menghubungi seseorang.
“Lorenzo, aku ingin bertemu secara pribadi,” Matteo langsung bicara tanpa basa-basi. Ia juga menyebutkan nama salah satu cafè yang terkenal di kota Brescia. “Aku tunggu pukul tujuh malam ini,” tutup Matteo. Ia mengakhiri pembicaraannya dengan pria yang ia panggil Lorenzo.
Malam yang ditunggu pun akhirnya tiba. Matteo baru sampai di cafè yang akan menjadi tempat pertemuannya dengan Lorenzo. Ternyata pria itu adalah orang yang sama, yaitu seorang detektif swasta yang kemarin memberinya informasi tentang para anggota organisasi. Matteo sepertinya menyukai hasil pekerjaan pria itu. Terlebih, karena pria itu juga selalu datang dengan tepat waktu. “Selamat malam, Tuan de Luca,” sapanya hormat.
Matteo mengangguk pelan seraya memersilakan Lorenzo untuk duduk. Seperti biasa, pria bermata abu-abu itu masih setia dengan ekspresi datarnya. Lorenzo sudah tidak merasa aneh lagi dengan pembawaan Matteo yang seperti itu.
“Boleh saya tahu ada apa Anda memanggil saya kemari?” tanyanya penasaran.
Matteo tidak segera menjawab. Ia menyodorkan kotak rokoknya kepada Lorenzo. Setelah menyulut satu batang, Matteo kemudian mulai berbicara.
“Santai saja, Lorenzo. Kita tidak sedang berada di Casa de Luca,” ucap Matteo mencoba mencairkan raut tegang pria itu. “Lagi pula, apa yang akan kita bahas kali ini tidak ada kaitannya dengan urusan organisasi,” lanjut Matteo lagi masih dengan raut datarnya. Pria bermata abu-abu itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Matteo kembali mengisap rokok yang ia apit dengan telunjuk dan juga jari tengah. “Aku ingin kau menemukan seseorang untukku,” titah Matteo seraya menggaruk pelipisnya dengan ujung ibu jari.
Lorenzo tampak semakin tertarik. “Tentu, Tuan,” jawabnya sigap. “Siapa yang harus saya cari?”
“Mia,” jawab Matteo dengan segera.
“Mia?” Lorenzo mengulang nama yang Matteo sebutkan.
“Ya, Mia,” jelas Matteo.
Lorenzo manggut-manggut. “Baiklah. Berikan saya informasi tentangnya,” balas Lorenzo lagi.
__ADS_1
Seketika Matteo terdiam. Ia berpikir dan mencoba untuk mengingat-ingat tentang semua hal yang bisa ia jadikan sebagai informasi penting dalam menemukan janda muda itu. Akan tetapi, makin ia berpikir, maka ia semakin merasa jika tidak ada hal penting apapun yang ia ketahui tentang Mia. Ia bahkan tidak mengetahui nama lengkap wanita muda itu. “Brengsek, bodohnya aku!” Matteo mengumpat pada dirinya sendiri. Matteo yang semula terlihat tenang, kini tampak sedikit gusar. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam.
“Bagaimana, Tuan?” tanya Lorenzo.
Matteo kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, dan agak mendekat pada detektif swasta itu. “Jujur saja, aku sama sekali tidak memiliki informasi penting apapun tentang Mia. Aku tidak mengetahui nama lengkapnya. Aku tidak menyimpan foto atau apapun tentang dirinya, tapi ....” Matteo tertegun sejenak. “Kau membawa kertas dan alat tulis?” tanyanya kemudian.
“Biar saya mintakan pada pelayan,” Lorenzo kemudian memanggil salah seorang pelayan cafè tersebut. Ia meminta kertas dan alat tulis kepadanya. Tidak berselang lama, pelayan itu kembali dengan semua yang Lorenzo pinta. Setelah itu, Lorenzo menyodorkannya kepada Matteo.
Matteo segera meraih kertas dan pensil tersebut. Ia tampak membuat coretan pada kertas itu. Matanya fokus memerhatikan setiap goresan pensil di atas kertas putih tersebut. Beberapa saat kemudian, ia menyodorkan kertas itu kepada Lorenzo yang segera mengamati apa yang terlukis di sana. Lorenzo melihat sketsa wajah seorang gadis yang sangat manis dengan rambut panjangnya yang sedikit bergelombang.
“Hanya itu yang bisa kuberikan padamu, Lorenzo. Selebihnya ... selebihnya aku tidak tahu apapun tentang Mia,” sesal Matteo pelan.
Lorenzo tampak berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian, pria itupun mengangguk pelan. “Baiklah,Tuan. Kita akan coba mencari informasi melalui sketsa ini. Dari mana saya harus memulai mencari tahu keberadaan tentang Mia?”
“Venice,” jawab Matteo dengan segera. “Dulu ia dan keluarganya tinggal di sana. Namun, saat ini aku tidak tahu ia dan adik tirinya pergi ke mana. Mia pergi dengan diam-diam ....” Matteo kembali terdiam. Ia lalu mengusap-usap dagunya yang dihiasi janggut yang belum sempat ia rapikan. Semua masalah yang bertubi-tubi, telah membuatnya mengabaikan penampilan.
“Tidak apa-apa jika kau memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menyelesaikan pekerjaan ini. Aku bisa memahaminya. Namun, aku sangat berharap agar kau dapat menemukan keberadaan Mia saat ini. Aku berjanji akan memberikanmu bonus yang sangat besar untuk pekerjaan tersebut” ucap Matteo dengan penuh harap.
Matteo mengangguk setuju. Ia lalu menuliskan alamat lama Mia di Venice. Ia juga menuliskan nama Daniella dan Francesca di sana. Matteo ingat jika dulu Daniella pernah menyebut nama lengkapnya saat mereka pertama kali bertemu di kedai Mr. Gio. Setelah itu. Matteo sedikit bercerita tentang Mia dan kedua saudarinya, untuk sekadar menambah informasi.
Hingga sekitar pukul sepuluh malam, Matteo baru memutuskan untuk pulang. Kepalanya terasa pusing. Saat itu, ia berpapasan dengan Marco yang juga baru pulang. Seperti biasa, pemuda tersebut baru pulang dari pesta, karena tampaknya ia sedikit mabuk. “Saluti al capo (Salam untuk ketua),” ujarnya dengan setengah membungukan badan. Setelah itu, Marco tertawa dengan nadanya yang terdengar mengejek.
“Tutup mulutmu pemalas!” sergah Matteo jengkel. Andai saja saat itu Marco sedang tidak dalam keadaan setengah mabuk, maka Matteo pasti akan langsung mengajaknya berduel. Namun, Matteo lebih memilih untuk menghindari pemuda itu. Ia segera berlalu ke kamarnya.
Sebelum merebahkan tubuhnya, Matteo menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya. Tumben karena Coco tidak menghubunginya sama sekali. Untuk sesaat, Matteo berpikir. Ia yakin jika Coco pasti mengetahui sesuatu tentang Francesca. Tanpa berlama-lama, Matteo segera menghubungi sahabatnya yang tengah dilanda patah hati.
Beberapa saat Matteo menunggu panggilannya diangkat, sampai akhirnya terdengar suara Coco yang malas-malasan. “Ada apa, Amico?” tanyanya.
“Beritahu aku apapun informasi tentang Francesca. Di mana sekolahnya? Siapa saja teman-teman dekatnya? Pasti ada satu dua temannya yang tahu dirinya pindah ke mana,” cecar Matteo tanpa berbasa-basi.
__ADS_1
Sementara Coco hanya menarik napas panjang. Dia tak segera menjawab pertanyaan Matteo hingga beberapa menit kemudian. “Aku tidak tahu siapa teman-teman dekatnya, tapi aku tahu di mana ia bersekolah,” sahut Coco dengan lesu. Seluruh semangat yang ada dalam dirinya, seakan telah menguap begitu saja.
“Berikan padaku alamatnya,” pinta Matteo dengan antusias.
Dengan segera pria itu mencatat informasi dari Coco. Setelah itu, Matteo kembali menghubungi Lorenzo dan memberikan alamat tersebut kepadanya. “Aku berharap banyak padamu,” ujar Matteo pada Lorenzo saat itu juga. Ia sedang dalam panggilan telepon dengan detektif swasta itu.
Matteo cukup menunggu di ruang kerjanya di Casa de Luca, sementara Lorenzo yang bergerak mencari informasi tentang Francesca. Lorenzo segera menuju salah satu sekolah menengah atas terbaik di Venice, tempat Francesca menimba ilmu. Tujuannya kini adalah kantor Tata Usaha, tempat segala arsip siswa berada.
Lorenzo sampai terpaksa harus menyamar sebagai wali dari Francesca.
“Keponakan saya memutuskan untuk menjual rumah tanpa sepengetahuan saya dan sekarang saya tidak tahu ke mana mereka pergi,” dalih Lorenzo ketika ia berhadapan dengan petugas di sana.
“Hmm, pihak sekolah hanya menyimpan alamatnya yang lama di dalam sistem. Lagi pula nona Ranallo pindah rumah setelah ia lulus,” papar pegawai Tata Usaha itu.
“Apakah tidak ada petunjuk sedikitpun? Ayolah! Saya pamannya. Saya ingin segera bertemu dengan keponakan saya,” desak Lorenzo. Aktingnya benar-benar terlihat meyakinkan.
“Beberapa minggu yang lalu, nona Francesca Ranallo sempat mengisi angket tentang kampus yang akan ia tuju selepas sekolah. Ia menjawab ingin kuliah di kota Milan. Mungkin anda bisa memulai pencarian di sana?” usul pegawai itu yang segera disambut dengan senyuman ceria Lorenzo.
"Baiklah. Terima kasih untuk informasinya, tapi mungkin Anda mengetahui nama universitas yang ia tuju di sana?" tanya Lorenzo lagi sebelum ia benar-benar pergi.
"Maaf, Tuan. Untuk hal tersebut, kami tidak mengetahuinya sama sekali," jawab petugas itu lagi.
__ADS_1