Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
The Ruler of The House


__ADS_3

Matteo merenung di ruang kerja sambil sesekali memainkan cangkir kopi yang tinggal berisi setengahnya. Lagi-lagi panggilan dan pesan dari detektif Fabrizio yang masuk ke ponselnya ia abaikan. Pria bermata abu-abu itu mengusap-usap dahi. Sesekali ia menyugar rambutnya yang tidak tersisir rapi. Matteo terus memikirkan alibi yang bisa ia sampaikan untuk menutupi kematian dan segala kejahatan Antonio.


Salah langkah sedikit saja, maka polisi bisa mengetahui sepak terjang organisasi mafia rahasia miliknya. Sementara, sejak berdiri hingga saat ini, organisasi itu begitu bersih dan tak pernah terjamah hukum sama sekali. Roberto dengan segala kecerdikannya telah berhasil menyamarkan perkumpulan hitam yang ia pimpin. Karena itu, Matteo tidak boleh sampai mengabaikan hal tersebut. Ia harus meneruskan apa yang sudah sang ayah bangun dan pertahankan selama ini.


Kembali, ponselnya berbunyi cukup nyaring. Namun, kali ini merupakan suara dari alarm yang telah ia setel untuk mengingatkan agenda pertemuan hari ini. Matteo lalu keluar dari ruang kerjanya dan melangkah menuju aula tempat pertemuan. Di sana telah menunggunya sekitar dua puluh orang pelayan dari berbagai bagian di Casa de Luca.


Matteo sengaja mengumpulkan mereka di tempat itu, sehubungan dengan semua insiden yang telah terjadi dan selalu melibatkan para pelayan di kediamannya. Berdiri dengan gagah meskipun masih memakai arm sling, pandangan Matteo tajam menatap wajah-wajah yang tak berani mereka tunjukkan secara langsung terhadap sang tuan besar. Semua pelayan tersebut menunduk takut dan merasa gugup, karena tidak biasanya mereka dikumpulkan di tempat itu.


Sesaat kemudian, Matteo mulai berkata meskipun dengan suara yang tidak selantang biasanya. Akan tetapi, aura tegas dan dingin yang telah menjadi ciri khas dan membuatnya begitu disegani, masih tetap terasa saat itu. “Ada banyak kejadian yang melibatkan pelayan di rumah ini. Aku tidak tahu apa yang melatarbelakangi para oknum pelayan itu melakukan hal tersebut. Apakah memang karena faktor uang, atau memang ada hal lainnya di luar itu. Akan tetapi, aku tidak akan mentolelir sebuah pengkhianatan sekecil apapun,” ucap Matteo dengan sorot tajam yang masih ia layangkan kepada wajah-wajah yang semakin menunduk dalam-dalam.


“Jadi, bagi kalian yang memang memiliki masalah denganku, maka aku persilakan untuk segera pergi meninggalkan Casa de Luca hari ini juga, sebelum aku mengambil tindakan yang lebih jauh. Ini bukanlah sebuah ancaman. Ini hanya berupa peringatan bagi siapa pun yang memiliki pikiran untuk melakukan suatu kebodohan yang akan membuatku terusik!" tegasnya lagi.


"Bagi siapa saja yang memang masih ingin mengabdi di sini, maka silakan dan jalanilah tugas kalian dengan semestinya. Aku tunggu dari kalian yang akan mengundurkan diri. Setelah itu, segeralah pergi dari Casa de Luca!”


Suasana begitu hening. Tak ada satupun dari para pelayan itu yang berani buka suara. Mereka tentunya tak akan pernah sanggup, jika harus berhadapan langsung dengan sang ketua klan yang begitu disegani. Sementara Matteo masih menuggu, tapi tak ada satu pun dari mereka yang bersedia untuk bergerak, apalagi sampai keluar dari dalam aula.


“Baiklah. Apakah itu sudah keputusan akhir kalian?” terdengar kembali suara tegas Matteo setelah beberapa saat berlalu. “Aku yakinkan pada kalian, jika aku pasti akan memperhatikan kesejahteraan semua yang bekerja di Casa de Luca. Kalian tidak perlu merisaukan hal itu. Akan tetapi, kalian juga harus selalu ingat satu hal, bahwa aku mengawasi semua pergerakan yang ada di tempat ini. Jadi, sekali lagi aku menekankan agar jangan sampai ada yang berani melakukan tindakan-tindakan di luar kewajaran!” tegas Matteo. “Itu saja. Kalian boleh kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing,” tutupnya. Ia mempersilakan semua pelayan untuk meninggalkan aula, sementara drinya masih berdiri di sana, hingga Damiano datang menghampiri.


“Bagaimana, Anakku?” tanya pria paruh baya tersebut. Damiano kemudian berdiri di dekat putra asuhnya.


“Sudah selesai, Damiano. Aku harus bersikap tegas, meskipun itu akan membuatku terlihat arogant di mata para pelayan,” jawab Matteo datar.


“Kau seorang pemimpin klan di sini. Tidak akan ada yang menganggapmu seperti itu,” ujar Damiano pelan. “Apakah kau juga sudah menyelesaikan urusanmu dengan Nona Rosetti?” tanya Damiano lagi.


Matteo tidak segera menjawab. Pria bermata abu-abu tersebut sepertinya enggan untuk membahas masalah itu. Bagaimanapun juga, Matteo memang merasakan ada sedikit penyesalan atas kebodohannya tiga tahun yang lalu, sehingga membuat Camilla menjadi berharap lebih terhadapnya. Akan tetapi, sesempurna apa kehidupan seorang Matteo? Ia nyatanya selalu diikuti oleh kesalahan yang membuatnya merasa menyesal. Untuk saat ini, Matteo tengah belajar agar dapat menjadi seorang pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Musim akan terus berganti. Badai ekstrim pun tak jarang datang melanda. Namun, bunga-bunga dan daun hijau pasti akan muncul dan menumbuhkan tunas yang baru. Begitu juga dengan kehidupan Matteo yang tengah belajar untuk lebih mengendalikan amarahnya, meskipun ia merasa kesulitan untuk dapat melakukan hal itu.


Kehadiran Mia di dalam hidupnya, akan terus menjadi sebuah lentera yang memberikan penerangan pada langkahnya yang kadang terseok-seok dalam kegelapan malam. Sosok Mia yang begitu lembut dan penyayang, akan selalu menjadi sebuah pengingat bagi Matteo, jika sebenarnya ia masih memiliki hati nurani. Termasuk saat ini, ketika ia teringat kembali akan kematian Antonio.


"Apa yang harus kulakukan Damiano? Kita sudah merahasiakan kematian pamanku dari semua orang ...." Matteo terdiam untuk sejenak. Ia lalu menoleh kepada Damiano yang juga terlihat sedang berpikir. "Apa kau yakin jika Adriano D'Angelo tidak akan membuka mulutnya kepada siapa pun?" Matteo tampak sedikit resah.


"Setahuku, Adriano pria yang baik. Aku mengenalnya sudah cukup lama," ujar Damiano. "Ia seseorang yang tidak suka banyak bicara. Namun, pastinya Adriano merupakan rekan bisnis yang akan sangat menguntungkan. Kekayaan pria itu seakan tak terbatas," Damiano tersenyum kecil.


"Adriano adalah seorang ketua dari organisasi bernama Tigre Nero (Macan Hitam). Bisnisnya meliputi perdagangan narkoba ke seluruh wilayah Amerika dan Eropa. Ia juga salah satu distributor senjata kita dan menyelundupkannya ke daerah-daerah konflik. Adriano sangat lihai menutupi kedok bisnisnya dengan club-club malam yang banyak ia dirikan di berbagai daerah di seluruh daratan Eropa. Mungkin kau bisa belajar sesuatu darinya,” tutur Damiano seraya menepuk punggung Matteo perlahan.


“Ck,” kekesalan Matteo tiba-tiba saja memuncak ketika Damiano memberikan puja-pujinya kepada pria itu. “Aku tidak menyukai caranya saat memandang Miaku,” ungkap pria itu. Ia tidak dapat menyembuyikan rasa cemburunya.


“Memangnya bagaimana cara Adriano memandang Mia?” tanya Damiano keheranan. Pria paruh baya itu tersenyum simpul.


“Siapa yang tertarik padaku?” tiba-tiba saja Mia sudah berdiri di belakang Matteo, membuat pria itu terhenyak dan menoleh padanya.


“Hai, paman Damiano. Aku mencari Theo sejak tadi, lalu seorang pelayan memberitahukanku bahwa suamiku ada di sini,” jelas Mia seraya memamerkan senyuman manisnya.


“Ya, Mia anakku. Pria yang kau cari sedang berada di sini. Apa kau sudah merindukannya sepagi ini, Mia?” goda Damiano sembari terkekeh. Sementara Mia lagi-lagi tersenyum seraya melirik Matteo yang trlihat canggung.


Dua sejoli di hadapannya itu seakan tak bisa terpisahkan, meskipun hanya beberapa detik saja.


Mia tersipu menanggapi gurauan Damiano. Berkali-kali ia melirik ke arah sang suami sambil mengulum senyumnya.


Matteo tak pernah bisa menolak keindahan yang tersaji di depan matanya. Semua rasa canggungnya karena godaan Damiano, segera ia singkirkan. Dengan segera ia merengkuh tubuh ramping Mia dan merangkulnya erat. “Untuk apa kau mencariku?” bisik pria tampan itu dengan nada bicara yang terdengar sedikit nakal.

__ADS_1


“Aku ingin mengajakmu ke Roma,” jawab Mia.


Matteo menjauhkan wajahnya dari Mia untuk beberapa saat seraya mengernyitkan keningnya. “Untuk apa kau mengajakku pergi ke sana?”


“Daniella mengalami sedikit masalah di restoran. Aku tak bisa jika pergi ke sana dan meninggalkanmu sendiri di sini. Nanti kau akan kesulitan melakukan semuanya sendiri, karena lenganmu belum benar-benar pulih,” terang Mia.


“Kalau hanya menyeka tubuh suamimu, aku bisa melakukannya,” sela Damiano yang sedari tadi hanya memperhatikan percakapan kedua orang itu.


Spontan Matteo mendelik mendengarkan hal itu. “Lebih baik aku ikut Mia,” sanggahnya dengan segera. “Lagi pula kau sudah terbiasa menjalankan perkebunan dan segala sesuatunya sendiri,” sambung Matteo.


“Namun, sebelum berangkat ke Roma, sepertinya aku harus mengunjungi detektif polisi terlebih dulu,” gumamnya dengan ekspresi yang terlihat khawatir.


"Apa kau sudah siap memberikan penjelasan pada pihak kepolisian, Theo? Saat detekrif itu datang kemarin, kau belum memberikan jawaban apapun," Mia menyentuh bahu Matteo dengan lembut. Jauh di lubuk hatinya, wanita berambut cokelat tersebut merasakan kekhawatiran yang lebih besar dari apa yang Matteo rasakan.


"Kau harus memikirkannya matang-matang, Theo. Ingatlah, satu kata yang terlontar tanpa kau perhitungkan dengan baik, maka itu akan menjadi sebuah bahan penyelidikan yang nantinya bisa memberatkanmu. Itulah mengapa sejak dulu Tuan Roberto selalu berusaha agar organisasi kita tak tercium hukum," Damiano mengempaskan napas pelan.


"Kau harus tetap terlihat tenang, Sayang," timpal Mia seraya mengalihkan sentuhannya pada wajah sang suami. "Sudahlah, ayo ikut aku! Kau harus merapikan rambutmu sebelum pergi ke kantor polisi," ucap Mia dengan senyumnya. Setelah berpamitan kepada Damiano, ia segera mengajak Matteo untuk ke kamar. Akan tetapi, sebelum sampai di sana, mereka berpapasan dengan Coco.


Rencananya, hari ini Coco akan kembali ke bengkel. Pria berambut ikal tersebut sudah terlihat rapi dengan jaket kulit kesayangannya. "Wow, kalian benar-benar pasangan yang luar biasa. Apa kau juga menemani Matteo saat ke toilet, Mia?" ledeknya geli.


"Kenapa kau belum pergi juga? Dasar penganggu!" sergah Matteo. Ia kesal karena Coco meledeknya terus sejak kemarin.


 


 

__ADS_1


__ADS_2