Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Altar Suci


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang, tetapi tubuh indah Camilla masih tertutup selimut hingga ke kepala. Ia sama sekali tak peduli pada ponselnya yang telah berdering puluhan kali. Salah satunya adalah nama Antonio yang tertera di sana. Akan tetapi, gadis itu masih tetap pada posisinya. Berbaring meringkuk ke samping, layaknya seorang pesakitan.


Beberapa saat kemudian, terdengar dering nada panggilan yang bunyinya berbeda dari panggilan sebelumnya. Camilla memang memberikan nada dering khusus, untuk panggilan masuk yang berasal dari kedua orang tuanya. Mau tak mau gadis itu harus menjawab panggilan telepon yang ternyata berasal dari sang ibu. “Ada apa, Madre?” Camilla menjawab panggilan masuk tersebut dengan malas-malasan. Ia hanya menyibakan sedikit dari selimut yang menutupi tubuhnya.


“Astaga! Kau baru bangun tidur?” seru suara seorang wanita dari seberang sana. “Cepatlah bersiap, dan hadiri pernikahan Matteo untuk mewakili kami!Tolong sampaikan padanya, kami tak bisa hadir. Masih ada urusan yang harus diselesaikan oleh ayahmu di Madrid,” pesan wanita itu.


Camilla mendengus kesal. Jika ibunya sudah memerintahkan sesuatu, maka tak ada alasan baginya untuk tidak taat. Sesungguhnya, berat bagi Camilla untuk menghadiri pernikahan Matteo, mengingat banyaknya kenangan yang sudah ia lalui bersama pria rupawan itu.


"Aku merasa tidak enak badan, ma," Camilla mulai mencari alasan.


"Ayolah, sayang jangan bersikap seperti itu! Aku tahu kau sangat mencintainya, tapi kau harus ingat jika kita memiliki pasangan yang telah ditakdirkan Tuhan. Yakinlah jika suatu saat nanti kau pun pasti akan menemukan seseorang yang lain, yang mungkin saja jauh lebih baik dari Matteo," petuah sang ibu.


Wanita itu begitu memahami apa yang Camilla rasakan saat ini, berhubung baru seminggu yang lalu Camilla bercerita tentang kedekatannya dengan Matteo. Ia pun sempat terkejut, ketika Damiano menghubungi sang suami yang merupakan kolega dekat mendiang Roberto, dan mengabarkan berita pernikahan Matteo. Namun, kedua orang tua Camilla harus bersikap bijaksana.


"Entahlah, ma," sahut Camilla lesu. Ia belum ingin beranjak dari tempat tidurnya. Sesaat kemudian, ia teringat akan pesan tanpa jeda yang dikirimkan oleh Antonio semalam yang tak satupun ia balas. Pria yang ia anggap sebagai paman, memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nuraninya.


Pendirian Camilla mulai goyah, antara menghadiri pernikahan ataukah tidak. Hingga pada akhirnya, Camilla memutuskan untuk tidak datang. Hatinya masih belum siap melihat Matteo mengucapkan sumpah setia, sehidup semati, dengan gadis lain yang bukan dirinya. Camilla lebih memilih untuk terus membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan kembali terlelap. Kali ini, ia membantah perintah dari sang ibu.


Keheningan di apartemen Camilla, berbanding terbalik dengan meriahnya suasana di Casa de Luca. Detik-detik menuju acara pemberkatan akan segera berlangsung. Para tamu yang terdiri dari para tetua dan kolega dari mendiang Roberto, sudah siap di tempat duduk masing-masing. Upacara sakral itu bertempat di tengah taman Casa de Luca, yang berbatasan dengan lereng rerumputan.


Di bawah sana, tampak hamparan luas perkebunan yang terlihat begitu indah dan menyejukkan. Dekorasi bunga dan hiasan lainnya sudah dipasang di sisi kanan dan kiri altar, tempat pengantin wanita akan berjalan sesaat lagi.


Siang itu, Coco terlihat sangat rapi dan tampan. Ia bertugas menjadi pendamping pengantin pria dan berdiri gagah di sebelah Matteo. Sorot matanya tak lepas dari sosok Francesca yang baru saja datang ke sana sembari menggandeng seorang pemuda tampan yang terlihat seumuran dengannya. Pemuda itu terlihat begitu jangkung dan ramah, tapi tentu saja Coco tetap merasa jika dirinya jauh lebih keren dari pria itu. Dengan angkuhnya, ia merapikan bagian depan tuxedo yang dikenakannya.


Namun, ternyata nuraninya tak bisa berbohong. Coco tak dapat tinggal diam melihat pemandangan yang membuat hatinya terbakar. Segera ditinggalkannya Matteo seorang diri untuk menghampiri Francesca. “Kau terlihat cantik, Francy,” pujinya seraya mengedipkan sebelah mata dengan senyuman nakal yang menggoda.


Francesca dan Filippo menoleh kepadanya. “Kau juga terlihat ....” Francesca tak berani melanjutkan kata-katanya, karena kini sang kekasih sedang melotot tajam ke arahnya.


“Ah, baiklah! Rupanya ada yang marah dan sebentar lagi akan meledak,” kelakar Coco sembari membalikkan badan dan melambaikan tangan. Satu tangannya ia letakkan di saku celana dengan tenangnya. Coco tidak menganggap kemarahan Filippo kemarin sebagai sesuatu yang serius. Ia seperti tengah menghadapi seorang anak kecil yang sedang merajuk.


Coco kembali membalikan badannya dan melihat ke tempat Francesca berada. Seketika senyum manis yang tadi ia berikan untuk gadis itu memudar, ketika Francesca tidak tampak lagi dalam penglihatannya. Coco mulai mengedarkan pandangannya ke setiap sudut taman itu, menyapu hampir semua wajah yang hadir di sana, yang rata-rata merupakan orang-orang dari kalangan atas. Akan tetapi, ia tidak menemukan wajah cantik bertubuh semampai tersebut. Entah ke mana Filippo telah membawa gadis itu.


“Aku minta izin untuk menghilang lima menit saja, Amico!” bisik Coco yang kemudian pergi dari samping Matteo tanpa menunggu persetujuan dari sahabatnya itu.


“Acara akan segera dimulai!” seru Matteo yang sama sekali tak dihiraukan oleh pria yang sedang dimabuk kepayang tersebut. Coco menerobos beberapa tamu yang masih berdiri bergerombol dan terus berjalan sambil mengedarkan pandangannya. Sorot matanya kemudian berhenti pada dua sejoli yang sepertinya sedang bertengkar di tepi kolam air mancur yang berada di salah satu sisi taman.

__ADS_1


“Apa ada masalah, Francy?” Coco berjalan mendekati Francesca dengan raut wajah tegang. Emosinya sedikit terpancing kala melihat sudut mata Francesca yang basah, seperti baru saja menangis. “Apa dia menyakitimu?” tanyanya lagi.


“Jangan ikut campur, orang aneh! Sudah cukup kau mengganggu kekasihku! Sebenarnya bisa saja aku memukulmu saat seenaknya memeluk Francyku di apartemennya waktu itu!” hardik pemuda itu panjang lebar.


“Oh, ya? Kenapa tidak kau lakukan?” Coco maju dengan sikap menantang. Tangannya pun sudah terkepal dan siap menyarangkan pukulan.


“Ricci, sudahlah!” rengek Francesca seraya menghalangi Coco yang semakin bergerak mendekat. Francesca tahu betul siapa Coco. Gadis itu pernah menyaksikannya menghajar lima orang sekaligus. Tidak akan sulit bagi Coco untuk melakukan hal yang sama terhadap Filippo yang sama sekali tidak menguasai ilmu bela diri.


Akan tetapi, Coco yang sudah dikuasai amarah, bersikap tak peduli. Ia semakin merangsek maju, sampai akhirnya ia berhenti saat merasakan sedikit nyeri di lengannya. Coco menoleh dengan segera. Ternyata Damiano tengah mencengkeram lengannya sembari melotot tajam. “Jangan merusak acara yang telah kupersiapkan setengah mati dalam dua hari ini!” geramnya. Sesaat kemudian, Damiano menjewer telinga Coco dan menariknya untuk sedikit menjauh dari Francesca dan kekasihnya.


Coco yang kehilangan harga diri di depan Francesca, hanya bisa mendengus kesal tanpa berani membantah terhadap Damiano. “Ini semua belum selesai!” desis Coco seraya menunjuk pada kekasih Francesca. Ia sempat menoleh kepada Damiano sebelum berlalu.


Memang Damiano lah yang telah menyusun daftar undangan. Ia harus bekerja keras demi menyiapkan segala sesuatunya hanya dalam waktu yang begitu singkat. Jika bukan karena kasih sayangnya yang terlalu besar kepada Matteo, maka ia pasti sudah menganggap ini semua merupakan suatu kegilaan, karena harus menyiapkan pesta pernikahan dalam waktu beberapa hari saja.


Sementara itu, Coco sudah kembali berdiri di sisi pengantin pria. Wajahnya tampak begitu suram yang tentu saja tak luput dari perhatian Matteo.


“Mukamu jelek sekali. Berbahagialah sebentar saja untukku,” ejek Matteo dengan entengnya.


Coco tak ingin menanggapi. Ia hanya memandang ke sekelilingnya, berharap Francesca akan segera duduk di tempat yang telah dipersiapkan.


Akan tetapi, yang dilihatnya saat itu hanyalah Daniella yang entah kapan datangnya, dan kini sedang antusias bercerita pada seorang gadis yang sepertinya seumuran dengannya. Pembicaraan Daniella tampak terhenti ketika tiba-tiba Marco datang dan seenaknya duduk di samping gadis itu sambil menebar pesona.


Tidak berselang lama, suasana yang tadi riuh rendah kini berubah menjadi tenang, ketika Mia muncul dengan gaun putihnya yang sederhana tetapi sangat indah. Gaun itu menjuntai hingga menyapu rerumputan yang Mia pijak dan lewati, untuk meniti setiap langkahnya menuju altar di mana Matteo telah berdiri dan menunggunya dengan rona penuh kekaguman. Sepasang mata abu-abu milik pria itu, selalu penuh dengan cinta ketika menatap pada sosok Mia.


Mia berjalan seorang diri menuju ke arah Matteo. Ia tak punya sosok ayah yang umumnya mendampingi sang putri hingga berdiri sejajar dengan pengantin pria. Dadanya kembali sesak, ketika mengingat sosok pri yang kini telah beristirahat dengan tenang di alam sana.


Seandainya tragedi itu tak pernah terjadi, mungkin Mr. Gio masih bisa berdiri di sana bersama dirinya.


Wajah Mia yang awalnya terlihat bahagia sekaligus syahdu, berubah menjadi sedikit cemas. Sorot matanya tajam dibalik birdcage veil yang hanya menutupi sedikit dari paras cantiknya hari itu. Mia terlihat takut dan agak ragu dalam melangkah. Hatinya begitu was-was. Tangannya mencengkeram erat buket bunga. Begitu kuat hingga ujung jarinya tampak memutih. “Tidak, jangan lagi!” gumamnya pada diri sendiri saat bayangan-bayangan mengerikan itu kembali melintas dalam ingatannya.


Mia memejamkan mata rapat-rapat sambil menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Langkah kakinya semakin goyah. Mungkin sebentar lagi ia akan terjatuh.


Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh calon pengantinnya. Matteo segera memutuskan untuk berjalan menghampiri dan menjemput sang wanita pujaan. “Kau tidak apa-apa, cara Mia? Bukankah sudah kukatakan jika kau cukup mengingat wajahku saja, bukan yang lainnya,” bisik Matteo seraya tersenyum lembut. Mia segera membuka matanya dan bernapas lega ketika Matteo sudah berada di dekatnya.


“Kita hadapi ketakutanmu bersama-sama,” ucap Matteo lirih dan begitu menggetarkan hati Mia.

__ADS_1


Matteo juga membiarkan Mia menggandeng lengannya dan menemani wanita muda tersebut hingga ke hadapan seorang pendeta, yang telah siap menunggu mereka untuk melakukan acara pemberkatan pernikahan.


Suasana terasa semakin khidmat ketika pendeta tersebut mulai melaksanakan langkah demi langkah prosesi acara sakral tersebut. Sementara Matteo mencoba untuk berkonsentrasi, meskipun sesekali ia menyempatkan dirinya untuk melirik Mia yang saat itu hanya tertunduk mendengarkan khotbah sang pendeta.


Matteo mengetahui persis apa yang sedang Mia rasakan saat itu. Ia pun sebenarnya merasa cemas. Akan tetapi, Matteo harus dapat menguasai dirinya. Ia harus membuat Mia merasa aman ketika berada di dekatnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2