
"Hai, Ricci. Apa kabar?" sapa gadis itu ramah. Ia menghampiri Coco dan bermaksud untuk mencium pipi pria itu. Akan tetapi, dengan segera Coco menghindarinya. Lucia pun terdiam dengan raut sedikit kecewa.
"Kekasihmu tidak ada di sini. Ia tak akan bisa melihat kita," ujar gadis itu dengan setengah bergumam.
"Francy memang tidak di sini, tapi aku menitipkan kesetiaanku pada kepercayaan yang ia berikan, dan aku tak ingin mencari masalah dengannya. Jadi, kumohon jangan membuatku harus bertindak keras padamu," ucap Coco tegas.
Lucia mengeluh pelan. "Baiklah. Aku hanya ingin menyapamu. Apa kau tahu di mana kakakku? Sudah beberapa lama kami tidak berkomunikasi."
"Aku tidak tahu!" jawab Coco ketus, membuat Lucia mengeluh pelan.
......................
Keesokan harinya, Matteo kembali beraktivitas seperti biasa. Ia melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda selama dirinya pergi ke Roma. Sudah hampir enam puluh persen pesanan dapat ia selesaikan dengan bantuan dari Valerie. Kebetulan, kedua anak buah Matteo yang lain tengah pergi ke Palermo untuk mengambil beberapa peralatan.
Sepanjang hari itu, Matteo terlihat begitu fokus pada pekerjaannya. Hal tersebut membuat Valerie begitu kagum padanya. Gadis dengan tato di hampir seluruh bagian tubuhnya itu, tak henti-hentinya mencuri pandang pada sosok tampan yang tengah fokus pada pekerjaannya tersebut.
“Ada apa? Kenapa kau melihatku terus?” Matteo yang menyadari tingkah Valerie, makin lama semakin merasa risih. Tanpa menoleh kepada gadis itu, Matteo terus menyelesaikan target yang sudah ia buat untuk hari itu.
“Tidak apa-apa, Tuan. Kemarin-kemarin rasanya sangat membosankan karena Anda tidak ada di sini,” ujar Valerie dengan jujur.
“Oh, ya?” Matteo masih tetap tak menoleh. Ia terlalu fokus pada pekerjaannya.
Valerie kembali menghentikan pekerjaan yang sedang ia lakukan. Gadis itu menopang wajahnya dan memperhatikan Matteo dengan sorot mata yang terlihat penuh dengan binar-binar indah. “Tuan, bolehlah aku bertanya sesuatu kepada Anda?”
Matteo tetap tidak menoleh. Namun, pendengaran pria itu masih tajam dan dapat menangkap suara sekecil apapun dengan jelas, meskipun tanpa harus melihat objeknya. “Tanyakan saja,” jawab Matteo datar dan dingin, seperti biasanya.
“Anda tampan dan memiliki segalanya. Apa Anda tidak tergoda untuk mencari pasangan lain selain nyonya de Luca?” sebuah pertanyaan yang terbilang sangat pribadi dan terlalu berani, meluncur begitu saja dari bibir bertindik Valerie.
Matteo seketika terdiam. Kali ini, ia mengalihkan tatapan kepada gadis yang telah berani bertanya tentang hal yang sangat pribadi padanya. Valerie mungkin sudah merasa mengenal Matteo, tapi ia tidak tahu seperti apa Matteo de Luca yang sesungguhnya. “Aku tidak suka membahas masalah pribadi dengan seseorang yang tidak benar-benar dekat denganku,” jawab Matteo dengan nada cukup tegas.
“Ah, iya. Aku bukan orang terdekat Anda,” ujar Valerie kecewa.
__ADS_1
“Kau harus mengetahui satu hal. Sangat sulit untuk masuk ke dalam lingkaran kehidupanku, kecuali aku sendiri yang menginginkannya. Jadi, fokuslah pada pekerjaanmu dan jangan pikirkan hal yang macam-macam,” tegas Matteo lagi seraya kembali mengalihkan perhatiannya pada sepucuk senjata yang telah selesai ia rakit. Itu adalah senjata terakhir yang ia rakit pada hari tersebut, karena kedua anak buah Matteo yang ia perintahkan ke Palermo ternyata belum kembali juga.
“Betapa beruntungnya nyonya de Luca karena bisa menjadi seseorang yang istimewa bagi Anda. Akan tetapi, tolong beri aku kesempatan untuk mengutarakan sesuatu yang sangat penting kepada Anda,” ujar Valerie lagi dengan penuh harap, membuat Matteo yang saat itu tengah memeriksa senjata terakhirnya kembali terdiam. Ia meletakkan senapan laras panjang tersebut di atas meja dan kembali menoleh kepada Valerie. Tatapan tajam pria itu, Valerie artikan sebagai sebuah pertanyaan yang tidak Matteo ucapkan padanya.
“Tuan. Sejujurnya aku sudah tertarik padamu dari semenjak pertama kita bertemu. Aku tahu jika ini hanya akan membuatku terlihat bodoh di depan Anda, dan juga pastinya menjadi sesuatu yang sia-sia. Akan tetapi, aku selalu gelisah karena hal ini, jadi sebaiknya kukatakan saja,” tutur Valerie dengan raut wajah yang terlihat cukup resah.
“Tidak perlu bertele-tele,” Matteo menanggapi ucapan Valerie dengan biasa saja.
“Baiklah, Tuan. Kumohon jangan marah ataupun membenciku jika kukatakan bahwa aku benar-benar telah jatuh cinta padamu,” ungkap Valerie dengan polosnya. “Aku tahu Anda tidak akan menganggap pengakuanku ini sebagai sesuatu yang serius, tapi aku lebih dari serius dengan apa yang kukatakan tadi,” gadis berkepang dua itu tertunduk. Ia menyembunyikan wajah di balik topi yang dikenakannya. Valerie mungkin ingin menarik kembali kata-kata yang telah lama tersimpan dalam hatinya, ketika mendapati Matteo yang tak segera memberikan jawaban.
Gadis bertato itu sudah memperkirakan hal tersebut. Namun, rasa kecewa tetap saja ada dan membuat rasa malu yang selama ini selalu ia abaikan tiba-tiba hadir dan melumpuhkan semua sikap tak acuhnya. Valerie rasanya ingin berlari dari sana dan mungkin tak sanggup untuk bertatap muka lagi dengan Matteo yang nyatanya tak mengeluarkan sepatah kata pun sebagai jawaban.
“Aduh, bodohnya aku!” Valerie merutuki diri sendiri sambil berkali-kali menepuk keningnya.
Melihat hal itu, Matteo menggumam pelan. Setelah sekian lama, pada akhirnya pria itu mengeluarkan suaranya juga. “Aku sudah menikah dan juga sangat mencintai Mia. Itu saja yang perlu kau tahu,” jawab Matteo datar. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada senapan laras panjang yang tengah diperiksa tadi. “Pulanglah terlebih dahulu, karena aku masih ada sedikit urusan di sini,” titahnya kemudian.
Tanpa banyak bicara lagi, Valerie segera berdiri. Ia memundurkan bangku kayu yang didudukinya tadi, kemudian berbalik. Seketika Valerie tersentak dan tak mampu berkata apa-apa. Wajah gadis yang dihiasi tindik itu tiba-tiba menjadi gugup. “Ny-nyonya ....” ucapnya tergagap, membuat Matteo pun ikut menghentikan aktivitasnya. Pria itu segera menoleh ke belakang, di mana Mia berdiri dengan tenangnya.
“Aku baru saja tiba. Zucca yang mengantarkanku kemari,” ujar Mia dengan senyum lembutnya. “Lihatlah, aku membawakanmu arancini. Aku pikir kau dan Valerie butuh kudapan untuk menambah energi,” Mia menunjukan wadah stainless yang ia bawa di tangan kanannya.
“Kebetulan sekali, Cara mia. Sayangnya, nona Nikolaev akan segera pulang,” sambut Matteo terlihat sumringah saat mendengar kata arancini.
Mia mengalihkan pandangannya kepada Valerie. Senyuman manis dan lembut yang sangat bersahabat, masih ia perlihatkan kepada gadis yang baru saja menyatakan cintanya kepada Matteo. Namun, Mia seakan tak memedulikan hal itu. “Sayang sekali, Val. Jika kau mau, mintalah pada pelayan di dapur. Hari ini aku membuat lebih banyak dari biasanya,” ucap Mia ramah.
Valerie tersenyum polos dan mengangguk pelan. “Iya, Nyonya. Terima kasih. Baiklah, aku permisi dulu. Aku tidak ingin menjadi penonton yang terabaikan di sini,” ujarnya diakhiri tawa.
“Kau ini bisa saja. Hati-hati di jalan, Val,” pesan Mia, ketika Valerie sudah berlalu ke arah tangga.
“Terima kasih, Nyonya,” seru gadis itu. Tak berselang lama ia sudah menghilang di balik pintu utama bengkel perakitan senjata tersebut.
Kini, hanya ada Mia dan Matteo di dalam sana. Pria bermata abu-abu itu terlihat salah tingkah ketika Mia memperhatikannya dengan lekat. Matteo paham dengan arti dari tatapan Mia terhadapnya. “Ayolah, Sayangku. Jangan berpikiran macam-macam tentang suamimu,” pintanya dengan nada merayu.
__ADS_1
“Memangnya kau tahu apa yang sedang aku pikirkan?” tanya Mia seakan menantang Matteo.
“Ya, aku bisa menebaknya. Mataku memang buta oleh cinta saat melihatmu, tapi instingku masih dapat bekerja dengan sangat baik,” balas Matteo menanggapi ucapan Mia.
“Sekarang tebaklah, apa yang aku pikirkan?” tantang Mia.
Matteo terdiam untuk beberapa saat. Pria itu memikirkan kata-kata apa yang akan ia persiapkan untuk menjawab pertanyaan Mia. “Kau cemburu padaku?” nada bicara Matteo terdengar ragu-ragu.
Tak disangka, wanita cantik itu malah terbahak. “Kau hebat, Sayang. Dengan mudahnya kau mengetahui isi hatiku,” goda Mia sembari melayangkan tatapan genit, sementara jemari lentiknya menyusuri rahang kokoh Matteo dan terus bergerak turun menjalari dada bidang itu.
“Jadi, kau tadi sempat mendengar perkataan Valerie?” tanya Matteo lirih.
“Aku mendengar semuanya sejak kata pertama Valerie yang tengah menyatakan cinta. Aku bersembunyi di balik dinding itu,” Mia mengarahkan jari telunjuknya yang lentik pada dinding putih polos yang berfungsi sebagai sekat antara bagian depan bengkel dengan ruang perakitan.
“Astaga,” Matteo menangkup mukanya sendiri dengan kedua tangan, “tapi, tentu kau mendengar jawabanku juga, bukan?” buru-buru Matteo membuka tangannya dan menyentuh telapak tangan Mia.
“Ya, aku mendengar semuanya. Terima kasih atas kesetiaanmu padaku, Theo,” ucap Mia sungguh-sungguh. Setitik haru singgah di sudut hatinya.
“Oh, Cara mia. Tentu saja aku akan selalu setia padamu. Entah kenapa aku merasa sangat yakin bahwa kau lah sebenar-benarnya cinta sejati sekaligus cinta terakhirku. Aku sudah bisa membayangkan dengan jelas bahwa wajahmu lah yang kulihat terakhir kali sebelum aku mati,” tutur Matteo.
“Sst, Sayangku. Berhentilah mengungkit masalah kematian. Aku ingin kita hidup lama, agar bisa menyaksikan anak dan cucu kita tumbuh dewasa,” telunjuk Mia bergerak menutup bibir Matteo agar berhenti bicara.
“Lagi pula ....” Mia tersenyum sembari mengerling manja.
“Lagi pula?” ulang Matteo.
“Lagi pula, ada kejutan manis ini untukmu,” Mia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah alat test pack berbentuk lonjong dan pipih. Ia kemudian memberikan benda itu kepada Matteo.
Matteo menerimanya dengan mata terbelalak. Ia seakan tak percaya atas apa yang dilihatnya. “Cara mia? Benarkah ini?” Matteo menunjuk dua garis yang tercipta di tengah alat itu.
“Benar sekali, Cintaku. Tuhan telah memberikan kepada kita satu nyawa lagi,” jawab Mia seraya memeluk Matteo dengan erat.
__ADS_1