
Malam kian larut. Akan tetapi, Matteo terlihat gelisah. Ia pun memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Sebelumnya, ia sempat membetulkan selimut yang menutupi tubuh Mia. Setelah itu, Matteo memilih keluar kamar dan pergi menuju dapur. Seperti biasa, ia mengambil sekaleng bir dingin dan berdiri di dekat bukaan ruang tamu.
Nanar, tatapan mata abu-abunya ia layangkan pada pekat malam yang menyelimuti kota Brescia. Pikirannya terasa kosong saat itu. Namun, entah apa yang membuatnya menjadi begitu gelisah.
Jam dinding berdentang sebanyak dua kali. Namun, rasa kantuk itu tak juga menghampiri. Matteo memutuskan untuk pergi ke ruang kerja. Ia mulai membuka komputernya dan memeriksa beberapa email yang masuk.
Niatnya untuk fokus mengurus perkebunan, telah benar-benar bulat, terlebih setelah ia mengetahui keadaan Mia saat ini. Matteo ingin mencurahkan segenap perhatiannya kepada sang istri. Ia tak mau kehilangan sedikitpun momen penting itu.
Lalu, kira-kira apa yang harus ia lakukan demi kelangsungan organisasi? Matteo tak mungkin mengundurkan diri begitu saja tanpa adanya persiapan yang matang.
Selesai memeriksa beberapa email, pria itu kemudian berdiri di depan foto kedua orang tuanya. Matteo menatap lekat-lekat wajah mereka yang teramat ia rindukan. Setitik kepedihan kembali muncul di sudut hatinya yang terdalam. Ada sebuah penyesalan yang begitu besar dan mengusik ketenangan jiwanya kini.
"Seandainya kalian masih ada dan melihatku saat ini secara langsung, maka kebahagiaan dalam hidupku akan terasa semakin lengkap. Aku tahu jika ayah dan ibu pasti terus mengawasiku dari kejauhan. Lihatlah aku sekarang, aku sudah menikah dan akan menjadi calon ayah ...." Matteo mengempaskan napas pelan.
"Ada banyak hal yang telah berubah dalam hidupku. Banyak sekali sampai-sampai aku tak tahu harus menceritakannya dari mana. Kau tahu, ibu? Kau memiliki menantu yang luar biasa, sama seperti harapanmu dulu, dan aku ... aku telah memantapkan hatiku hanya untuk Mia. Seperti halnya ayah yang mengunci hatinya hanya untuk ibu. Itu juga yang akan kulakukan kepada Mia, karena aku adalah Matteo putra dari Roberto de Luca. Meskipun aku tak bisa menjadi panutan seperti ayah, ketika semua orang mengenal dan menyanjungkan kebaikannya. Biarlah aku hanya menjadi Matteo, di mana hanya orang-orang terdekatku yang mengetahui seperti apa diriku ...." Matteo terdiam sejenak. Ia bingung harus berkata apa lagi.
Kembali diteguknya bir di dalam kaleng yang ia genggam. Matteo kemudian memejamkan matanya untuk sejenak. Bayangan masa kecil bersama kedua orang tuanya hadir dalam ingatan, dan sedikit mengobati rasa rindu terhadap mereka. Tak berselang lama, Matteo kembali membuka matanya lalu tersenyum. Setelah itu, ia terpejam lagi. Kini, bayangan wajah cantik Mia lah yang muncul. Sesaat kemudian, pria itu kembali membuka mata. Dengan segera, ia keluar dari ruang kerja dan menuju ke kamarnya.
Mia tertidur seperti seorang bayi. Wajahnya polos dan terlihat sangat lugu. Ia akan selalu dan menjadi satu-satunya wanita pujaan bagi Matteo, terlebih karena Mia kini tengah mengandung. "Sayangku," Matteo masuk dan menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik selimut. Ia kemudian memeluk Mia dengan erat. Wanita itu menggeliat perlahan dan membuka matanya.
"Apa ini sudah pagi, Theo?" parau suara Mia terdengar saat itu.
__ADS_1
"Belum, Cara mia. Kembalilah tidur. Biarkan aku memelukmu," bisik Matteo seraya mencium pipi Mia, membuat wanita itu tersenyum kecil dengan mata yang kembali terpejam. Mia kemudian memiringkan tubuhnya dan membelakangi Matteo yang kini memeluknya erat dari belakang. Beberapa saat kemudian, Matteo mencoba untuk memejamkan mata. Tanpa terasa, pria itu akhirnya tertidur lelap.
......................
Tidur jam berapa pun, Matteo akan selalu bangun pagi. Ia bahkan membuka matanya lebih dulu dari Mia. Seperti biasa, aktivitas pagi selalu ia awali dengan berlari kecil di sekitar perkebunan sambil memantau keadaan di sana. Matteo patut bersyukur karena panen anggur dari perkebunannya selalu melimpah. Ia bahkan menjual sebagian dari anggur mentah itu kepada ayah Camilla, yang juga membuka pabrik minuman di Italia. Kerja sama yang mereka lakukan berjalan lancar, sama seperti kerja samanya dengan Adriano.
Hingga saat itu, Mia belum juga memberitahu siapa Adriano D'Angelo sebenarnya. Matteo juga belum mendapat kabar apa-apa dari Coco yang sudah menyuruh Steffano untuk memata-matai ketua dari Tigre Nero tersebut.
"Selamat pagi, Anakku," sapa Damiano hangat. Pria itu tersenyum ramah, dan selalu dengan topi newsboy cap yang menjadi ciri khasnya. Ia berjalan menghampiri Matteo yang berdiri menatap kepada pria itu.
"Selamat pagi, Damiano. Kebetulan sekali, aku ingin bicara denganmu," sapa Matteo balik. Ia menyambut ayah asuhnya itu dengan sikap yang hangat pula.
"Masih terlalu pagi untuk membahas hal yang serius, Nak," ujar pria setengah abad itu.
"Oh, baiklah. Lagi pula, aku biasa tidur lebih cepat. Akhir-akhir ini, tubuhku sudah mulai ringkih," keluh Damiano seraya mensejajari langkah Matteo. Mereka pun memutuskan untuk berbincang-bincang sambil berkeliling perkebunan.
"Aku harap kau masih kuat untuk menggendong cucumu nanti, Damiano," ujar Matteo membuat pria tua di sebelahnya seketika tertegun dan menoleh.
"Katakan sekali lagi, Nak," pintanya dengan raut tak percaya.
Matteo membalas tatapan pria itu. Ia kemudian tersenyum seraya mengangguk. "Hari ini aku akan mengantar Mia periksa sebelum pergi ke bengkel. Aku harap semuanya berjalan lancar," ucap pria bermata abu-abu itu pelan. Mereka kemudian melanjutkan langkah mengelilingi perkebunan.
__ADS_1
"Tentu, Nak. Berdoalah untuk segala yang terbaik. Aku sudah tak sabar menantikan hal itu."
"Ada satu hal lagi yang tak kalah penting," ucap Matteo yang kembali membuat Damiano tertegun. Ada beberapa pekerja perkebunan yang sudah terlihat berlalu-lalang di sekitar sana. Mereka mengangguk hormat kepada Matteo dan juga Damiamo.
"Tentang apa, Anakku?" tanya Damiano seraya membetulkan bagian depan blazernya.
"Tentang organisasi kita," jawab Matteo dengan segera. Untuk kesekian kalinya, Damiano tertegun dan kembali melayangkan tatapan penuh tanda tanya kepada putra asuhnya tersebut.
"Organisasi? Apakah ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuanku?" selidik pria bermata hijau itu.
"Tidak ada. Aku hanya ingin merundingkan sesuatu yang sangat penting. Begini, Damiano ...." Matteo tak melanjutkan kata-katanya. Ia tampak berpikir untuk sejenak. Sedangkan Damiano masih menunggunya untuk kembali bicara.
"Begini, Damiano," Matteo kembali terdiam seraya menggaruk keningnya. Ia lalu mengempaskan napas berat. Namun, niat dalam hatinya sudah benar-benar mantap saat itu. "Aku sudah berjanji kepada Mia untuk segera mundur dari organisasi dan hanya akan fokus mengurus perkebunan. Terlebih saat ini Mia sedang hamil, aku ingin benar-benar mencurahkan perhatianku padanya. Apa kau punya saran untuk hal itu?"
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu, Theo?" Damiano mengingatkan Matteo. Raut wajahnya terlihat sedikit ragu.
"Aku sudah memikirkan ini sejak jauh-jauh hari. Keputusanku sudah bulat, setelah pesanan senjata selesai maka aku akan segera mundur dari jabatanku sebagai ketua organisasi," jawab Matteo yakin.
"Pikirkan lagi dengan matang, Anakku. Jika kau memutuskan untuk mundur, maka artinya posisimu akan kosong. Aku tak ingin hal tersebut menjadikan sebuah kisruh dalam tubuh keanggotaan. Kau pasti tahu dan menyadari hal itu. Ada segelintir orang yang menginginkan jabatanmu, tanpa memikirkan apakah mereka layak atau tidak," terang Damiano datar.
"Aku tahu itu, Damiano. Namun, aku sudah mengambil keputusan dan tak bisa kutarik lagi. Mia ingin agar kami bisa hidup dengan sewajarnya, tanpa intrik-intrik yang harus berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang. Kau juga tak perlu khawatir, karena aku sudah menyiapkan penggantiku," jelas Matteo dengan tatapan menerawang.
__ADS_1
"Siapa, Anakku?" tanya Damiano penasaran. Ia menatap lekat putra asuhnya yang kini telah menjelma menjadi pria dewasa.
Matteo kemudian mengalihkan pandangannya kepada Damiano. Seutas senyuman hadir di sudut bibirnya, seiring dengan datangnya sinar mentari pagi itu. "Marco de Luca," jawab Matteo dengan yakin.