Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Memoirs of Venice


__ADS_3

Sungguh sesuatu yang sulit dikira. Waktu memang berlalu dengan begitu cepat. Usia Miabella kini sudah menginjak satu tahun. Balita itu semakin lucu dan aktif. Mia pun seringkali kewalahan dalam mengasuhnya. Sementara Marco dan Daniella memutuskan untuk pindah ke Palermo. Mereka tinggal di Istana de Luca dan telah memiliki seorang putra. Sementara Francesca masih disibukan dengan berbagai kegiatan modelling, dan Coco selalu setia menunggu hingga tunangannya tersebut merasa benar-benar siap untuk ia persunting.


Siang itu, terlihat kesibukan yang tak biasa di Casa de Luca. Suara gelak tawa terdengar menghiasi rumah megah bergaya Tuscany itu. Daniella dan Marco datang berkunjung dengan membawa putra mereka yang diberi nama Romeo. Rencananya, hari itu ketiga pasangan tersebut akan berangkat ke kota Venice. Kota yang telah sekian lama ditinggalkan, tapi menyimpan berjuta kenangan yang tak mungkin terlupakan.


"Cara mia, pastikan Bella merasa nyaman dengan pakaiannya. Jangan sampai putri kecil kita masuk angin dan sakit," pesan Matteo sebelum memasuki jeep kesayangannya.


"Pasti, Theo. Aku tak akan mengabaikan hal itu," sahut Mia yang tengah berjalan sambil menuntun putri kecilnya yang sudah mulai berjalan meskipun masih tertatih.


"Aku dan Francy akan naik motor," ujar Coco seraya duduk di atas motor sportnya. Francesca mengiyakan. Gadis itu sudah bersiap dengan helm dan perlengkapan safety lainnya. Ia takut terjatuh dan membuat kulit mulusnya jadi tergores. Tentu saja itu tak akan terlihat baik bagi seorang model seperti dirinya.


"Aku naik mobilmu saja, Theo. Rasanya melelahkan jika harus menyetir sendiri. Dalam dua hari ini, jam tidurku tidak teratur," ujar Marco yang saat itu tengah menggendong Romeo. Sementara Daniella merengkuh pundak sang suami dengan mesra dan mencium pipinya lembut. "Tenanglah, Sayang. Ada aku yang akan selalu memijit pundakmu setiap malam," ucap wanita yang tetap memiliki bentuk tubuh indah, meskipun sudah melahirkan seorang putra.


Marco menoleh dan membalas ucapan mesra sang istri dengan sebuah senyuman yang diiringi ciuman hangat.


"Jadi ini yang dirasakan Coco saat melihat kita bersikap seperti itu," Matteo berdecak dan menggeleng pelan seraya berlalu menuju pintu sopir. Sementara Mia hanya terkikik geli. Ia pun mengikuti Matteo masuk dan duduk di kursi belakang bersama Daniella. Sedangkan Marco duduk di sebelah sang sopir.


Sebelum mereka berangkat, tampak Damiano melambai dari kejauhan. Pria itu tengah disibukan oleh segala sesuatu yang berkaitan dengan perkebunan dan produksi anggur, ya memang selalu seperti itu. Minggu ini, adalah jadwal pendistribusian Du Fontaine, yang kebetulan telah mulai merambah hingga ke seluruh negara di Eropa.


Matteo yang saat itu sudah bersiap di belakang kemudi dengan mengenakan kacamata hitam, menyembulkan kepalanya keluar lewat jendela. "Apa kau ingin ikut juga, Damiano?" seru pria itu dengan cukup nyaring.


Damiano berjalan semakin mendekat, hingga akhirnya berdiri tepat di sebelah mobil jeep Matteo. "Tidak usah, Anakku. Kalian bersenang-senanglah. Aku masih harus memeriksa gudang," jawab pria dengan topi kesayangannya tersebut.

__ADS_1


"Sayang sekali, Paman. Mungkin lain kali kita bisa bepergian bersama," Mia ikut menimpali dari jok belakang.


"Iya, tentu saja. Jaga cucu-cucuku dengan baik," pesan Damiano. Ia tersenyum lembut kepada Miabella dan juga Romeo. Kedua bocah itu pastinya belum memahami apa yang orang-orang dewasa itu perbincangkan. "Ya, sudah. Berangkatlah, Nak. Hati-hati di jalan. Tuhan selalu memberkati kalian semua," pesan yang begitu dalam dari sosok orang tua satu-satunya di Casa de Luca. Matteo menanggapi hal itu dengan sebuah senyuman. Sesaat kemudian, ia mulai menyalakan mesin mobil. Tak berselang lama, jeep hitam tersebut melaju dengan gagah meninggalkan halaman Casa de Luca. Sedangkan Coco dan Francesca sudah berangkat terlebih dahulu.


Selama di jalan, kedua balita itu terlihat tenang dan menikmati perjalanan meskipun sesekali mereka merengek karena merasa bosan. Namun, untungnya lalu lintas saat itu terbilang lancar, terlebih dengan gaya mengemudi ala Matteo yang masih segesit dulu, sehingga mereka dapat tiba di kota Venice dengan jauh lebih cepat.


Mia segera membawa putri kecilnya turun. Wangi aroma kerinduan menyeruak dan menerpa hati terdalamnya. Ada banyak hal yang telah berubah dari kota kecil itu. Namun, tidak dengan seluruh kenangan yang sudah tercipta di sana. Semuanya akan selalu tergambar dengan jelas dalam setiap detailnya. Mereka lalu menyusuri setiap lorong penuh cerita.


Matteo dan Mia saling pandang, ketika melewati gang sempit di mana pertama kalinya Mia mendapatkan ciuman pertama dari seorang pria, yaitu Matteo sendiri. "Kau masih ingat apa yang terjadi di tempat ini, Cara mia?" bisik Matteo kepada Mia yang berjalan jauh di belakang Marco dan Daniella.


Mia tersipu malu. "Kau memang seorang penjahat, Theo," ucap Mia. "Kau telah mencuri ciuman pertamaku tanpa permisi," lanjut si pemilik senyuman indah itu.


"Sejak kapan seorang pencuri harus meminta izin terlebih dahulu, Sayangku?" goda Matteo. Ia lalu mencium pipi Miabella yang terlihat nyaman berada dalam pelukannya. Mia dan Matteo terus berjalan hingga mereka tiba di area yang dulu menjadi tempat kedai milik mr. Gio berada.


"Sudahlah, Cara mia. Hidup harus terus berjalan. Seseorang yang telah pergi biarkan tenang dan jangan terus-menerus ditangisi. Cukuplah kau kenang setiap kebaikannya, dan maafkan segala keburukan yang telah membuatmu merasa tersakiti. Itu akan membuat beban dalam hatimu menjadi jauh lebih ringan," tutur Matteo dengan tatapan menerawang pada riakan air kanal yang tercipta akibat hilir-mudiknya gondola di sana.


"Suatu saat nanti, kita juga pasti akan berpisah. Entah kau atau aku yang pergi terlebih dahulu. Namun, yang jelas bahwa hanya kematianlah yang akan membuatku pergi darimu, bukan karena alasan yang lain. Aku harap kau pun berpikir seperti itu, Cara mia," Matteo melirik sang istri yang saat itu tengah menatapnya dengan penuh cinta.


"Aku akan selalu mencintaimu, Theo. Kau adalah pria terbaik dalam hidupku, dan akan selalu menjadi seperti itu. Aku akan selalu berada di dekatmu. Kau benar, hanya kematianlah yang dapat memisahkan kita berdua," balas Mia dengan senyuman indah di bibirnya.


Tanpa rasa canggung, Matteo menyentuh bibir manis Mia dengan lembut. Mereka baru berhenti berciuman ketika Coco dan Francesca datang menghampiri. Tak lama, Marco dan Daniella pun datang ke sana. Untuk beberapa saat, ketiga pasangan itu menikamati indahnya kota Venice. Dengan wajah yang berseri, mereka menyaksikan puluhan gondola yang hilir-mudik tanpa henti, membuat kanal berair bersih itu terlihat kian semarak.

__ADS_1


"Apa kalian tidak ingin berkeliling naik gondola?" tanya Coco setelah beberapa lama mereka hanya berdiam diri.


"Itu ide yang bagus, Ricci," sahut Daniella ceria. "Bagaimana, Sayang?" ia lalu melirik kepada Marco yang setuju saja dengan usulan Coco.


"Apa kau juga ingin naik gondola, Cara mia?" tawar Matteo kepada Mia yang masih terdiam menatap langit cerah di kota Venice. Mia menoleh dan tersenyum. Binar indah matanya menyiratkan sebuah jawaban yang tak perlu diucapkan dengan lisan. Akan tetapi, Matteo sudah dapat memahami hal itu dengan sangat baik. Ia memeluk erat tubuh Miabella yang saat itu tertidur dengan posisi kepala yang berada di atas pundaknya.


"Baiklah, ini adalah waktu bagi kita untuk bersenang-senang. Aku juga ingin mengenang masa kecilku yang bahagia," ujar Matteo dengan senyum lebar yang menghiasi paras tampannya. Ia menggenggam jemari lentik Mia sambil terus menggendong Miabella.


Mereka pun akhirnya memesan masing-masing, berhubung saat ini sudah ada peraturan baru tentang jumlah penumpang dalam satu gondola. Mia duduk manis bersama Matteo. Miabella juga sudah terbangun dari tidurnya. Dengan penuh sukacita, sepasang suami-istri itu menikmati setiap detail moment indah tersebut. Sesuatu yang pastinya akan menjadi sebuah kenangan tak terlupakan untuk masa yang akan datang.


Tak ada yang tahu dengan hari esok. Entah Mia atau Matteo yang akan pergi terlebih dahulu. Namun, satu hal yang pasti bahwa kebersamaan di antara mereka berdua, telah tertulis dalam sebuah buku tebal bertinta emas. Ini bukanlah kisah para dewa atau raja dari cerita Romawi kuno. Ini, hanya sepenggal kisah hidup dari seorang Matteo de Luca dan Florecita Mia.


Setiap manusia pasti akan selalu memiliki sisi lain dalam hidupnya. Setap orang tentu terlahir dalam sebuah kebaikan. Keadaan yang menjadikan dan membangun karakter mereka menjadi berbeda. Namun, satu hal yang pasti, semuanya tentu akan selalu memiliki tujuan hidup yang memang sudah terlukis dalam benak mereka. Terwujud atau tidak, itu hanya masalah waktu, karena Tuhan pasti telah mempersiapkan segala sesuatu untuk seluruh umat-Nya, dari sebelum mereka terlahir ke dunia.


Kota Venice yang indah. Kota kecil dengan berjuta kisah di dalamnya. Suatu saat nanti. Mia akan kembali ke sana, dan kembali menciptakan sebuah kenangan yang tak terlupakan.


...- End -...


Berakhirlah kisah tentang Matteo de Luca dan seluruh sepak terjangnya dengan berbagai pesona yang ia miliki. Nantikan spin off dari novel ini. Jangan lupa, follow ceuceu othor agar bisa mendapatkan notifkasi terbaru dari judul novel yang akan rilis. Maaf untuk segala keterbatasan dalam penyampaian, semoga reader menyukainya dan terhibur.


Salam Sayang,

__ADS_1


🍒 Komalasari


__ADS_2