
Waktu sudah menunjukan lewat tengah malam. Akan tetapi, Matteo masih terjaga saat itu. Ia berkali-kali mengempaskan napas gelisah seraya mondar-mandir dan sesekali mengusap rambutnya. Matteo tampak amat gusar menunggu kabar dari Adriano.
Sekitar pukul dua malam, barulah pria yang kini tengah berada di Monaco tersebut menghubungi Matteo. Tanpa banyak basa-basi, Adriano langsung saja pada inti dari pembicaraan yang akan ia sampaikan kepada Matteo. "Semua sudah selesai, Tuan de Luca. Anda bisa tidur dengan nyenyak malam ini," lapor Adriano membuat Matteo dapat sedikit bernapas lega.
"Sungguh?" tanya Matteo. Pria bermata abu-abu itu masih sedikit ragu.
"Ya, Tuan de Luca. Pilot dan para awak kabin sudah mendarat dengan selamat, begitu juga dengan 'paman' anda. Bersyukurlah karena rencana kita berhasil dengan sempurna," Adriano meyakinkan Matteo. Nada bicaranya terdengar sangat puas.
"Ya, syukurlah kalau begitu. Terima kasih atas semua bantuannya, Tuan D'Angelo. Aku sangat menghargai semua yang sudah anda lakukan," balas Matteo lagi. Belum pernah ia bicara dengan nada setulus itu kepada Adriano.
"Tak masalah, Tuan de Luca. Anda sudah tahu alasanku. Lagi pula, senang bisa menjalin kerja sama dengan anda. Aku harap, kita bisa berteman dengan baik dan melupakan semua kesalahpahaman yang pernah terjadi," sahut Adriano dari seberang sana.
"Ya, tentu," balas Matteo singkat. Sesaat kemudian, Matteo mengakhiri percakapannya di telepon. Ia segera menghubungi Zucca yang akan ditugaskan untuk berangkat ke Pulau Elba. Matteo memerintahkan pria tinggi besar itu agar membawa anak buahnya. Tujuan mereka ke sana tiada lain untuk membongkar makam Antonio. Selesai mengirimkan pesan, Matteo segera beranjak dari ruang kerja. Ia bergegas menuju kamar. Matteo tak ingin jika Mia terbangun dan tak mendapati dirinya ada di sana.
Saat masuk ke dalam kamar, ia melihat Mia masih tertidur lelap. Pria itu segera melepas sepatu dan T Shirt yang ia kenakan. Pria itu lalu naik ke tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhnya.
Sesaat, Matteo menatap langit-langit kamar dalam suasana temaram. Ia termenung memikirkan hidupnya. Matteo kemudian memiringkan tubuh dan menghadap kepada Mia yang masih terlelap. Ditatapnya wajah Mia. Wanita itu tetap terlihat cantik meskipun dalam keadaan tertidur. "Aku berjanji padamu, Mia. Kerja samaku dengan D'Angelo akan menjadi yang terakhir. Setelah ini selesai, maka kita akan memulai hidup baru seperti yang kau inginkan," gumam Matteo pelan. Ia terus memandangi wajah sang istri, hingga akhirnya pria itu pun terlelap tanpa ia sadari.
......................
__ADS_1
Keesokan harinya, Matteo kembali membuat janji bertemu dengan detektif Ranieri. Kebetulan sang detektif sedang berada di tempat, sehingga Matteo memutuskan untuk langsung menemuinya. Dengan ditemani Marco, Matteo berangkat ke sana. Setibanya di kantor detektif tersebut, Matteo dan Marco kembali disambut dengan hangat.
"Bagaimana, Tuan de Luca. Apakah sudah ada kabar dari Tuan Antonio?" tanya Detektif Ranieri. Pria itu terlihat sangat antusias. Namun, lain halnya dengan ekspresi yang ditunjukan oleh Matteo dan Marco. Mereka terlihat memasang wajah sendu, terutama Marco. Pria itu tiba-tiba tertunduk seraya menutupi mata dengan telapak tangan kirinya.
Melihat sikap yang ditunjukkan oleh Marco, Detektif Ranieri seketika terdiam. Pria itu memperhatikannya untuk sejenak, terlebih ketika Matteo mengusap-usap pundak sepupunya tersebut. "Ada apa, Tuan de Luca? Apa yang terjadi?" tanya pria itu dengan penuh penasaran. Ia mulai merasakan sesuatu yang tak beres.
Matteo mengela napas panjang dan mengempaskannya perlahan. Tampak ada sebuah beban besar dalam raut wajahnya yang rupawan. Tak berselang lama, pria bermata abu-abu itu pun berkata, "Begini, Tuan Detektif," Matteo memulai penjelasannya. "Semalam, aku mendapatkan telepon dari seorang rekan yaitu Tuan Adriano D'Angelo. Ia adalah selaku pemilik dari pesawat yang membawa pamanku dari Amerika," jelas Matteo. Ia lalu terdiam untuk sesaat.
"Lalu?" Detektif Ranieri terlihat semakin penasaran.
"Ia mengabarkan bahwa pesawat itu mengalami kecelakaan saat melintasi Samudera Atlantik. Saat ini, petugas tengah mencari titik koordinat di mana tepatnya pesawat itu mengalami kecelakaan," jelas Matteo lagi. Aktingnya terlihat sangat meyakinkan, sehingga membuat sang detektif tampak begitu terperangah karenanya.
Detektif Ranieri seperti tak tahu harus berkata apa. Pria itu terlihat kebingungan. Beberapa saat kemudian, sebuah keluhan pendek meluncur dari bibirnya. Ia begitu menyesalkan semua yang didengarnya dari Matteo.
"Seharusnya ia tetap berada di Amerika saja jika kutahu akan seperti ini jadinya," Marco terisak pelan meratapi sandiwara yang tengah mereka lakukan.
"Sudahlah, Marc. Siapa yang bisa menebak takdir Tuhan," ujar Matteo. "Aku juga sangat menyesalkan hal ini," ucap Matteo kemudian.
"Ya, Tuan de Luca memang benar," timpal Detektif Ranieri seraya mengembalikan ponsel milik Matteo. "Jadi, apa yang akan Anda lakukan setelah ini?"
__ADS_1
"Kami akan menunggu selama beberapa hari hingga pencarian dilakukan. Setelah ada kepastian, tentu saja kami harus memberikan penghormatan terakhir untuk pamanku. Bukannya aku berharap yang tidak-tidak, tapi mengingat kondisi pamanku yang masih lemah dan posisi perkiraan pesawat itu mengalami kecelakaan ... rasanya hal itu membuatku sangat pesimis," ujar Matteo masih memperlihatkan wajah penuh sesal.
Detektif Ranieri manggut-manggut. Sepertinya ia dapat memahami semua penjelasan Matteo. Ia pun harus mulai mencari langkah yang lain, dalam mengungkap kasus yang selama ini belum juga dapat ia pecahkan. Antonio yang menjadi harapannya, kini entah masih dapat ia andalkan atau tidak. Namun, jika mendengar dari penuturan Matteo tadi, rasanya ia setuju dengan pemikiran ketua dari Klan de Luca tersebut.
"Sejujurnya, aku sangat kecewa dan menyesalkan kejadian ini. Akan tetapi, seperti yang Tuan de Luca katakan tadi 'siapa yang dapat menebak takdir Tuhan', maka aku rasa ...." Detektif Ranieri mengempaskan napasnya dengan penuh keluhan. Ia tak dapat berkata apa-apa lagi. Suasana hening untuk sesaat, sebelum akhirnya Matteo dan Marco memutuskan untuk berpamitan karena tak ada lagi yang harus mereka bahas dengan Detektif Ranieri. Sang detektif pun mempersilakan mereka untuk pergi.
"Menggelikan," ujar Marco setelah mereka berada di dalam mobil. Pria itu tersenyum kecil.
"Aku terpaksa harus banyak membual karena masalah ini," balas Matteo seraya menyalakan mesin kendaraannya. Sesaat kemudian, mobil jeep hitam itu pun melaju dan meninggalkan halaman kantor Detektif Ranieri.
"Jadi, apa rencanamu sekarang?" tanya Marco.
"Aku sudah memerintahkan Zucca dan beberapa anak buahnya untuk pergi ke Pulau Elba. Mereka akan membongkar makam ayahmu dan membawa tulang belulangnya ke Casa de Luca. Kita akan menungu beberapa hari sampai pencarian dihentikan. Barulah setelah itu, aku akan mengadakan acara penghormatan terakhir untuk ayahmu, yaitu mengubur semua barang-barang kenangannya yang sangat berharga. Tentu saja beserta tulang belulangnya," jelas Matteo. Ia menoleh sesaat kepada Marco sebelum kembali fokus pada kemudinya.
"Aku ucapkan terima kasih karena kau bersedia memberikan penghormatan terakhir untuk mendiang ayahku," ucap Marco pelan. Namun, Matteo tak menanggapi ucapan pria tersebut. Ia terus fokus pada jalanan yang tengah dilaluinya. Matteo juga sepertinya sedang memikirkan sesuatu saat itu. Suasana hening pun hadir untuk beberapa saat.
"Kapan kau akan mulai memenuhi pesanan senjata dari Tuan D'Angelo?" tanya Marco lagi setelah mereka sama-sama terdiam.
"Secepatnya," jawab Matteo dengan segera. "Aku ingin segera menyelesaikan pesanan itu, karena aku sudah memiliki rencana besar setelahnya."
__ADS_1
"Boleh kutahu apa itu?" tanya Marco penasaran.
"Akan kuberitahukan nanti jika waktunya sudah tiba," jawab Matteo datar.