
Kedua tangan pendeta yang memimpin upacara pernikahan itu lalu terangkat, dengan telapak tangan mengarah pada kepala kedua mempelai. Pendeta tersebut kemudian melakukan pemberkatan bagi keduanya.
Selama ini, Matteo tidak pernah menghadiri acara-acara seperti itu. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di dalam bengkel dan berkutat dengan berbagai komponen senjata yang akan ia rakit. Namun, pada akhirnya kini ia harus berada dalam situasi semacam ini, dan rasanya ternyata jauh lebih menegangkan daripada ketika ia menghadapi lawan-lawannya yang bersenjata lengkap.
Lain halnya dengan Mia. Rasa was-was dalam dirinya perlahan sirna. Wanita muda itu tampak begitu khidmat, bahkan ketika pendeta menanyakan sumpah setia pasangan kepadanya. Mia menjawab dengan suaranya yang lembut, tetapi penuh keyakinan. Tatapannya pun tak teralihkan dari sosok Matteo, yang berdiri di sampingnya dan terlihat sangat gagah dalam balutan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu yang melengkapi penampilannya saat itu.
“Aku berjanji akan selalu setia dalam suka maupun duka, sehat ataupun sakit, semuanya akan kujalani bersamamu ... Florecita Mia,” ucap Matteo dengan sebuah senyuman di wajahnya. Ia menatap lekat ke arah Mia yang saat itu tampil sangat cantik dengan birdcage veil. Matteo kemudian mencium pengantin wanitanya dengan lembut. Mereka berdua pun akhirnya kini telah resmi menjadi pasangan suami-istri.
Tak ada hal yang paling membahagiakan bagi keduanya, selain saat ikatan perasaan di antara mereka kini benar-benar telah direstui oleh seluruh alam. Matteo tak pernah menyangka jika ia telah mengakhiri masa lajang, dan dapat bersanding dengan wanita yang sejak lama membuat hidupnya begitu tak karuan.
“Apa kau bahagia, Mia? Kau terlihat sangat cantik hari ini,” bisik Matteo ketika ia sedang berdansa dengan Mia. Hari itu, ia terlihat begitu anggun dengan tatanan rambutnya yang tampak berbeda. Rambut panjang Mia disanggul rapi dan diberi hiasan bunga yang cantik.
“Haruskah kau menanyakan hal itu, Theo?” Mia balik bertanya. "Kau juga terlihat sangat tampan dan berbeda," Mia memuji balik pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.
“Sejujurnya aku bingung harus berkata apa kepadamu. Tuxedo ini membuatku tidak nyaman. Apakah aku tidak terlihat aneh, Sayang?” bisik Matteo lagi, membuat Mia tersenyum geli. Namun, tak lama kemudian ia tersipu malu karena tangan Matteo mulai bergerak nakal di pinggang rampingnya.
“Jangan nakal! Sebaiknya kau fokus. Aku tidak mau jika kau sampai menginjak bagian bawah gaunku!” canda Mia saat menanggapi keisengan Matteo. Sementara Matteo hanya tersenyum kecil. Sesaat kemudian, Damiano datang menghampiri mereka. “Bolehkah jika aku berdansa dengan wanita tercantik hari ini?” tanyanya membuat Matteo dan Mia menoleh secara bersamaan.
“Kau mengganggu saja!” ujar Matteo pelan dan sedikit kesal. Ia lalu melepaskan tangannya dari pinggang Mia, dan menyerahkan pengantin cantik itu kepada Damiano. “Silakan Damiano,” ucap Matteo. “Aku akan mengambil minuman dulu,” lanjutnya seraya berlalu. Namun, belum ada lima detik, Matteo kembali berbalik. “Hanya sampai aku kembali dari membawa minuman!” pesannya kepada Damiano dengan tegas, tapi justru membuat pria paruh baya itu tergelak. Begitu juga dengan Mia. Ia tersenyum lebar seraya menautkan alisnya karena baru kali ini melihat Matteo bersikap sekonyol itu.
Sepeninggal Matteo, Mia lalu berdansa dengan Damiano. Pria itu begitu hangat. Ia telah mengingatkan Mia kepada sang ayah yang sudah tiada. Akan tetapi, Mia tak ingin larut dalam kesedihan. Terlebih saat itu adalah hari yang telah ia mimpikan sejak lama.
Mungkin itu juga yang terjadi kepada Daniella. Gadis itu tengah asyik menikmati hidangan yang ada di sana, ketika Marco datang menghampirinya. “Hai, Dani. Apa kau menikmati pesta ini?” tanyanya seraya menyodorkan segelas minuman kepada Daniella.
Daniella menoleh dan tersenyum. “Ya, meskipun hanya sedikit,” jawab Daniella dengan gaya bicaranya yang selalu terkesan ketus kepada siapa pun. “Sebenarnya, aku kurang suka karena Mia menikah lebih dulu dariku,” ujar gadis itu lagi membuat Marco tersenyum.
“Bagaimana jika kapan-kapan kuajak kau ke club favoritku. Aku punya teman-teman yang sangat menyenangkan. Kami biasa berpesta sepanjang malam di sana,” tawar Marco membuat Daniella seketika memandang ke arahnya dengan sangat antusias. Tentu saja, itu adalah tawaran yang luar biasa baginya.
“Bukan ide buruk,” jawab Daniella seraya tertawa pelan.
__ADS_1
"Oh, aku menyukai wanita yang bersikap terbuka sepertimu. Aku rasa kita akan cocok," balas Marco seraya mengangkat gelas berisi minuman miliknya. Ia mengajak Daniella untuk bersulang. Daniella melakukan hal yang sama. Ia merasa harus membalas perlakuan manis dari Marco, meskipun mereka baru saling mengenal. Akan tetapi, setidaknya Daniella mendapat sedikit hiburan karena patah hati yang ia rasakan terhadap pacar Rusianya. Mereka berdua pun melanjutkan obrolan yang membuat keduanya terlihat sangat akrab.
Sementara itu, Matteo asyik berbincang dengan Coco yang tidak ia temui sejak beberapa hari kemarin. Coco masih menanggapi semua obrolannya dengan Matteo, meskipun tak jarang ia melirik ke arah Francesca yang saat itu tengah berduaan dengan kekasihnya, Filippo. Ingin rasanya ia kembali menghampiri kedua sejoli itu dan memisahkan mereka, terlebih karena Francesca tampil sangat cantik hari itu.
“Aku ingin sekali menculik gadis itu,” ucap Coco seraya meneguk minumannya. Tatapannya terus tertuju kepada Francesca dengan gaun merahnya.
“Aku rasa pria itu bukan ahli bela diri,” balas Matteo seraya mengikuti arah tatapan Coco.
“Dari mana kau tahu?” Coco mengernyitkan keningnya.
“Lihatlah tangan dan wajahnya, persis seperti perempuan,” celetuk Matteo. “Aku rasa, ia akan langsung pingsan dalam sekali pukul,” lanjutnya seraya meneguk minuman di dalam gelas yang ia pegang. Sesaat kemudian, ia mengalihkan tatapannya kepada Mia yang tengah berdansa dengan Damiano. Namun, tanpa sengaja tatapan Matteo tertuju pada seorang pelayan yang membawa sebuah nampan berisi mangkuk yang tertutup. Pelayan wanita itu berjalan menuju ke arah Mia.
Matteo kembali mengalihkan perhatiannya kepada Coco yang saat itu masih asyik memperhatikan Francesca dan kekasihnya. Tidak berselang lama, pandangan Matteo kembali tertuju kepada Mia. Ia seakan tengah memantau wanita muda itu. Sikapnya sama persis seperti seorang pengawal pribadi.
Mia tampak jauh lebih ceria dari biasanya. Matteo ikut senang melihat hal itu. Sampai akhirnya ia menyaksikam pelayan yang membawa nampan tadi entah dengan sengaja atau tidak telah menabrak Mia. Mangkuk yang dibawa pelayan tersebut jatuh dan isinya tumpah tepat pada gaun pengantin yang Mia kenakan.
Matteo segera melemparkan gelas berisi minuman yang sedang ia nikmati. Pria itu bergegas menghampiri Mia yang saat itu menjadi histeris karena melihat gaunnya yang dipenuhi bercak darah. Tubuh Mia pun seketika ambruk dan terduduk di rerumputan. Kembali terulang, ketika ia harus merasakan lagi gaun putihnya berubah warna dengan bau anyir darah yang sangat menyengat.
“Aku akan mati, Theo! Aku akan mati!” racaunya sembari menarik-narik gaun pengantin yang masih melekat sempurna di tubuhnya. Air matanya mulai menetes di sela-sela kepanikan yang terlihat jelas di wajahnya.
“Mia sayang, tenanglah! Ada aku di sampingmu,” Matteo segera meraih tubuh Mia yang saat itu tampak aneh. Wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu seperti tercekik dan tidak dapat bernapas. Mia sempat menatap Matteo dengan tatapan memelas sebelum akhirnya wanita malang itu tak sadarkan diri.
Damiano yang sempat terkejut, berhasil menguasai dirinya lalu sigap mengamankan pelayan tadi. Sedangkan Coco mencoba menenangkan para tamu yang hadir.
Secepat kilat Matteo membopong tubuh Mia dan membawanya menuju kamar. Francesca dan Daniella juga mengikutinya dengan cemas. Kedua gadis itu sigap menyiapkan pertolongan pertama bagi Mia, sementara Matteo menghubungi dokter pribadi keluarga de Luca. Setelah itu, ia kembali menghampiri Mia yang masih tak sadarkan diri.
“Akan kuambilkan air putih,” ucap Daniella seraya beranjak keluar kamar. Sementara Francesca yang selama ini paling dekat dengan Mia tampak menangis. Ia takut jika kejadian tiga tahun silam terulang lagi.
“Jangan biarkan Mia sendirian, Theo. Aku takut ia akan menyakiti dirinya lagi seperti dulu,” ucap Francesca dengan raut wajahnya yang dipenuhi keresahan. Ia tak juga melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mia.
__ADS_1
Matteo terdiam setelah menoleh kepada gadis itu untuk sesaat. Ditatapnya wajah Mia yang tampak pucat. “Aku akan mengganti pakaiannya,” ujar Matteo seraya beranjak dari tempat tidur. Ia berlalu menuju ruang pakaian dan mengambil salah satu dress milik Mia. Dengan telaten, Matteo melepaskan gaun yang berbau anyir itu. Perlahan ia menarik ujung gaun dari bawah kaki Mia. Beberapa bercak darah terlihat menempel di tubuh mulusnya.
“Tolong ambilkan handuk di sana dan basahi dengan air hangat,” pinta Matteo pada Francesca seraya mengarahkan telunjuknya ke ruang pakaian. Frnacesca pun segera berdiri dan melakukan apa yang Matteo perintahkan. Gadis itu kembali setelah beberapa menit kemudian.
Matteo mengambil handuk kecil yang telah dibasahi oleh air hangat. Ia lalu mengusapkannya ke bagian tubuh Mia yang kotor oleh bercak darah. Setelah bersih, barulah Matteo memakaikan pakaian yang baru dan bersih di tubuh Mia.
Semua gerak-gerik pria itu, tak lepas dari pengamatan Francesca. Di sudut hatinya yang paling dalam, Francesca bersyukur bahwa Matteo lah yang menjadi pendamping Mia.
“Engghh,” terdengar lenguhan pelan keluar dari bibir Mia yang sedikit terbuka.
“Mia?” Matteo dan Francesca mendekatkan wajahnya pada wajah pucat dan sayu Mia secara bersamaan. “Kau baik-baik saja, Sayang?” tanya Matteo cemas seraya mengelus lembut rambut sang istri.
Seketika Mia menangis seraya merangkul Matteo dengan erat. "Aku takut, Theo! Mereka akan membunuhku juga ...." resah Mia di sela tangisnya. Hal itu membuat Matteo berpikir dengan keras. Ancaman menakutkan tersebut ternyata masih ada dan membayangi mereka. Matteo tak habis pikir, padahal ia merasa telah melenyapkan semua musuhnya, tetapi Matteo telah keliru.
🍒
🍒
🍒
hai, apakah bab ini menegangkan? Ada baiknya rileks lagi yuk dengan membaca novel di bawah ini. Jangan lupa dukungannya ya 🤗
__ADS_1