Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
New Hope


__ADS_3

Mia duduk termenung dengan tatapannya yang kosong. Masih teringat jelas dalam ingatannya, kejadian beberapa hari yang lalu, ketika gaun pengantin putih yang ia kenakan basah dan berubah menjadi merah oleh darah Valentino. Perasaan hancur itu semakin menjadi, ketika ia teringat saat melihat jasad ayahnya yang terbujur kaku, dan sedang dimasukkan ke dalam kantong mayat oleh petugas medis dan pihak kepolisian. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Mia, bahwa ia akan mengalami kejadian menakutkan seperti saat itu.


 


Hari yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupnya, telah berubah menjadi hari yang paling menyedihkan dan terus menghantui pikirannya. Rasanya begitu berat saat harus kehilangan dua orang yang paling dekat dengannya secara sekaligus.


 


Kala itu, tak dihiraukannya Daniella yang mengusap-usap rambutnya serta meminta Mia untuk kuat dan berhenti menangis. Tak dihiraukannya pula Francesca yang sibuk menutupi tubuhnya yang menggigil dengan kain putih panjang yang entah gadis itu dapatkan dari mana.


 


Beberapa orang petugas medis juga menghampirinya, memeriksa kondisi tubuh dan denyut nadi. Mereka tak menemukan luka apapun di tubuh Mia, berkat Valentino yang menjadikan dirinya sebagai perisai. Lagi-lagi ia teringat kepada Valentino. Pria itu rela mengorbankan nyawanya demi Mia. Sekarang, Mia dapat merasakan dan memahami betapa besar cinta Valentino untuknya, lebih dari cintanya kepada dirinya sendiri.


 


Rasa sesal yang teramat dalam mulai merasuk ke hati Mia, membuat dadanya semakin terasa sesak sehingga kesulitan bernapas. Pria yang cintanya selalu ia tolak, telah merelakan nyawa demi kehidupannya. Sungguh itu bukan sesuatu yang adil bagi seorang Valentino.


 


Ingatan Mia pun beralih pada sesuatu yang lain, ketika beberapa orang polisi yang terus menanyakan kronologis kejadian tanpa memedulikan kondisi mentalnya saat itu, sampai seorang polisi mengajaknya berdiri dan memintanya untuk ikut ke kantor polisi.


 


Dengan ditemani Daniella dan juga Francesca, Mia masuk ke mobil dan harus bermalam di kantor polisi untuk menjadi saksi. Secara bergiliran mereka mendapatkan pertanyaan dari pria berseragam yang serius mencatat keterangan, sekaligus merekam suara dan video mereka. Mereka baru diizinkan pulang ketika pagi mulai menjelang.


 


Sesampainya di rumah, Francesca secara telaten memapah Mia masuk ke kamar mandi, melepas gaun pengantin yang dikenakannya dan menyiapkan bak mandi untuk Mia. Dengan lembut, Francesca menyuruh Mia untuk berendam di dalam air hangat dan membasuh tubuhnya.


Satu hal yang tak diketahui Francesca, Mia selalu menyelipkan pisau lipat di kabinet kaca yang terletak di atas wastafel kamar mandi. Ketika Francesca keluar, Mia berdiri dan mengendap-endap membuka lemari kabinet tersebut. Mia mengambil pisau lipat itu dan menyayat kulit nadinya. Beruntung, Francesca segera masuk dan memergoki Mia, lalu melarikannya ke rumah sakit.


 


................

__ADS_1


 


“Mia? Sudah selesai konsultasinya?" tanya Francesca seraya menghampiri kakak tirinya itu. "Mari, kita pulang,” ajaknya yang seketika membuyarkan lamunan gadis malang itu. Segera Mia menyalami dokter psikiater yang telah mendampinginya selama beberapa hari terakhir ia menjalani pemulihan psikologis.


Di luar ruangan, Coco berdiri menunggu dengan tatapan iba. “Apa kabar, Mia?” sapanya.


Bukannya menjawab, Mia malah mundur perlahan sambil menggelengkan kepalanya. Rautnya memancarkan ketakutan dan keresahan yang teramat sangat. Awalnya ia menatap tajam ke arah Coco. Namun, lama-kelamaan matanya mulai berkaca-kaca.


“Kenapa orang itu ada di sini, Francy? Apa dia membawa serta temannya?” wajah Mia berubah pucat pasi. Ia juga seperti tengah menahan tangisnya yang akan pecah.


“Tidak, tenanglah! Ia tidak bersama siapapun,” bujuk Francesca seraya merangkul pundak Mia dengan erat. Gadis itu mencoba untuk menenangkan Mia sebisanya.


“Aku ingin pulang! Bawa aku ke rumah dan suruh orang itu pergi jauh-jauh, Francy!” teriak Mia yang mulai bersikap histeris. Ia juga terlihat sangat gelisah.


“Baiklah, baiklah! Aku akan pergi. Lihat! Aku berjalan menjauh, Mia. Maafkan aku,” ucap Coco penuh sesal. Pria itu berjalan mundur dengan tatapan yang tak lepas dari sosok Mia yang terlihat begitu ketakutan. Coco tak menyangka jika efek yang ditimbulkan dari peristiwa mengerikan beberapa hari yang lalu itu, ternyata sedemikian parah menghantam mental Mia.


“Jangan biarkan ia atau temannya mendekati kita, Francy! Kau dengar itu? Mereka sangat berbahaya!” sayup-sayup terdengar suara Mia menasihati Francesca dengan tegas. Sementara Coco hanya bisa melihat kedua gadis itu dari kejauhan sambil tersenyum getir sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu lift.


“Adakah jalan lain yang tidak melalui lift?” resah Mia. Berkali-kali ia menggigit kuku telunjuknya, dan untuk yang kesekian kalinya, ia melakukan hal itu dengan terlalu keras sehingga terlihat sedikit darah di ujung jarinya.


“Apakah kau mau melewati tangga?" tawar Francesca. "Sebaiknya jangan, nanti kau akan merasa lelah,” gumam gadis itu pelan.


 


Francesca begitu sedih melihat keadaan Mia saat itu. Ia sama sekali tak membayangkan jika Mia sampai tak mau bertemu Coco. Padahal saat itu, Coco-lah yang mati-matian berusaha untuk menyelamatkan nyawanya.


Ingin rasanya Francesca menjelaskan hal itu kepada Mia. Akan tetapi, sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat. Akhirnya, yang ia lakukan hanyalah menghibur Mia dan menenangkannya. Dipeluknya kakak tirinya tersebut dengan penuh kasih sayang. “Kau adalah yang terkuat di antara kita bertiga, Mia. Kumohon, bangkitlah! Jangan terpuruk terlalu lama. Kau yang selalu menguatkan kami selama ini,” pinta Francesca sambil terisak. Sementara Mia hanya diam terpaku. Matanya menatap nanar. Ia seakan tak punya keinginan untuk menanggapi ucapan adik tirinya tersebut.


“Hanya kau-lah yang kami miliki saat ini, Mia. Aku dan Daniella sudah tidak punya siapa-siapa lagi,” isak Francesca kemudian.


Perlahan, kesadaran Mia kembali hadir. Diurainya pelukan Francesca. Mia menatap mata hazel adiknya sembari menangkupkan kedua tangan ke pipi Francesca. “Masih ada nonna (nenek). Beliau adalah ibu dari ibu kandungku. Bagaimana jika kau dan Dani ikut denganku ke sana untuk menemuinya?” tawar Mia penuh harap. Wajahnya terlihat mulai berseri. Ada secercah harapan dalam tatap matanya.


“Kita pergi dari tempat ini, Francy. Kita tinggalkan tempat yang membawa kenangan buruk ini. Kita mulai hidup baru di sana dengan penuh kedamaian. Kita awali lagi semuanya,” ucap Mia dengan menggebu-gebu.


Francesca tersenyum samar sembari mengangguk pelan. “Lalu, bagaimana dengan kedai peninggalan ayah?” tanyanya ragu.

__ADS_1


“Kita akan menjualnya dan membeli tempat baru di sana!” jawab Mia penuh keyakinan. "Aku yakin, meskipun pada awalnya pasti akan terasa sulit, tapi jika kita bekerja keras, semuanya pasti akan terlewati dengan mudah. Ya, Francy! Mimpi buruk ini pasti akan segera berlalu. Aku yakin itu!" tiba-tiba Mia seperti mendapat sebuah suntikan semangat ketika ia teringat kepada neneknya yang tinggal di luar kota.


“Baiklah, Mia. Kita akan bicarakan lagi hal ini nanti di rumah. Sebaiknya, sekarang kita segera pulang. Aku takut Daniella memecahkan piring dan gelas. Kau tahu sendiri bukan, gadis itu tidak biasa memegang pekerjaan rumah tangga," ujar Francesca seraya tersenyum geli saat membayangkan Daniella yang kerepotan sendiri di rumah.


Mia mengela napas panjang. Ia lalu merengkuh pundak adik tirinya itu. “Ya, sebaiknya kita segera pulang. Aku juga mencemaskan Daniella yang pasti kewalahan mengatur semua pekerjaan sendirian,” balas Mia.


Sesuai dengan apa yang diperkirakan, Daniella tampak sangat kewalahan. Ia tak pernah bekerja keras seperti itu. Namun, sekarang ia seakan dipaksa oleh keadaan untuk menjadi sosok yang berbeda. “Kau sudah pulang, Francy? Bisakah kau membantuku?” pinta Daniella, tangannya penuh membawa hidangan yang akan ia sajikan untuk beberapa kerabat yang tidak menghadiri pemakaman Mr. Gio.


Mia segera  menyambut piring-piring porselen yang berada di tangan Daniella. “Jangan, Mia! Beristirahatlah! Biarkan kami yang mengatur segala sesuatunya di sini,” tolak Daniella, membuat Mia merasa terharu. Tak disangka, kakak tiri yang selama ini selalu sinis kepadanya, bisa berubah 180 derajat dan terlihat begitu mengkhawatirkan keadaannya saat ini.


“Pergilah ke kamarmu, Mia,” suruh Francesca.


Tak ada pilihan bagi Mia selain mengangguk setuju. Segera ia melangkahkan kaki dan menuju ke kamarnya. Mia mencoba untuk tak peduli dengan kesibukan dua saudarinya yang menyambut para kerabat. Ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Tanpa sengaja, ingatannya tertuju pada saat Mr. Gio memberikan sebutir berlian, beberapa hari menjelang pernikahannya. Mia terbelalak. Ia segera bangkit dan bergerak menuju laci meja rias. Di sana Mia menyimpan berlian itu.


Dilihatnya benda itu masih aman berada di tempatnya. Mia kemudian memungut benda itu dan mendekatkan berlian tersebut ke wajahnya. Gadis itupun tersenyum kecil. Sebuah tekad membara kini hadir di dalam hatinya.


Mia ingin segera pergi dari kota Venice setelah masa berkabungnya usai. Pergi jauh dari kota yang meninggalkan kenangan buruk baginya.


Berlian yang kini ada di dalam genggaman tangannya, pasti akan cukup untuk membantu biaya hidup  untuk ia dan juga kedua saudarinya selama pindah ke tempat baru. Tentu saja, selain dari hasil penjualan kedai sang ayah. Mia hanya berharap semoga Francesca dan Daniella setuju.


“Tidak!” tolak Daniella saat Mia mengutarakan niatnya pada malam hari, setelah para kerabat pulang. “Aku sudah berjanji pada kekasihku untuk ikut bersamanya. Ia akan pindah ke apartemen baru dan aku akan tinggal di sana!” jelas Daniella dengan yakin.


Tatapan Mia kini beralih pada Francesca. “Aku memang sudah lulus sekolah dan ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi ....” gadis belia itu terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


“Kau bisa mendaftar kuliah di sana! Aku akan membantumu!” sela Mia dengan penuh semangat.


“Aku akan menjual kedai pada Nyonya Rosario si pemilik apotik. Ia pernah mengatakan tertarik dengan kedai itu. Uang hasil penjualan kedai, akan kita gunakan untuk membuka kedai baru. Kita juga bisa menjual ini untuk tambahan biaya hidup di sana,” Mia mengeluarkan sebutir berlian dan memamerkannya kepada Francesca dan Daniella.


Daniella hanya mengela napas dan meletakkan siku tangannya ke atas meja. Ia memijat pangkal hidungnya sembari berpikir keras sebelum menjawab keinginan Mia. “Kalian pergilah!” ujarnya setelah terdiam cukup lama.


“Silakan jual benda itu dan juga kedai. Setelah itu, kalian bisa pindah ke mana pun kalian mau, tapi aku tidak akan ikut. Aku tidak bisa! Aku sudah berjanji pada kekasihku,” tegasnya.


Wajah sedih Mia dan Francesca begitu terlihat, membuat Daniella tertawa geli. “Jangan khawatirkan aku! Aku akan sering-sering menjenguk kalian ke sana,” pungkasnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2