
Pagi-pagi sekali, Mia dan dan Matteo sudah kembali dari lantai basement setelah semalaman mereka tidur di dalam mobil. Saat itu, tampak Daniella yang tengah sibuk di dapur. Ia sedang menyeduh kopi. “Pagi, Dani,” sapa Mia seraya melepas mantelnya.
“Hai, Mia. Bagaimana acara tidur di mobil semalam? Aku harap kalian tidak kepanasan di dalam sana,” goda Daniella. “Kau ingin kopi, Theo?” tawarnya kepada Matteo yang saat itu segera duduk dan memijit keningnya. Akan tetapi, belum sempat Matteo menjawab, Mia telah terlebih dahulu beranjak dari duduknya. “Biar aku yang buatkan,” ucap Mia sambil melangkah ke arah dapur. Sementara Daniella hanya tersenyum seraya mengiringi langkah Mia dengan tatapan nakal. “Kau beruntung karena berhasil mendapatkan adikku,” ucap gadis berambut pirang itu. Ia mengalihkan tatapannya kepada Matteo.
“Kau tidak perlu memberitahuku,” jawab Matteo dingin, sambil terus mengurut keningnya.
“Hey, Theo! Kenapa kau sinis sekali padaku? Jika memang banyak pria yang mengagumi kecantikan Mia, maka seharusnya kau merasa bangga, bukannya kesal seperti itu,” protes Daniella seraya meneguk kopi panasnya. Ia tak melanjutkan perbincangannya dengan Matteo, karena saat itu Coco tampak keluar dari dalam kamar. “Hai, Ricci. Akhirnya kau keluar juga dari persembunyianmu,” ujar Daniella dengan entengnya.
“Jangan bicara padaku, Dani,” sahut Coco dengan ketus. Sontak Daniella melotot tajam pada kedua pria rupawan itu. Ia terlihat sangat kesal.
“Astaga! Kenapa kalian bersikap seperti itu padaku? Uh ... semoga calon jodohku kelak bukanlah pria Brescia!” gerutu Daniella seraya beranjak ke arah dapur.
“Cerewet!” balas Coco jengkel membuat Daniella kembali menoleh dengan tatapan tajamnya.
“Kau!" tunjuk gadis itu kepada Coco. "Aku sudah mengobati lukamu semalam! Bukannya berterima kasih, tapi kau malah ....” Daniella tak melanjutkan kata-katanya. Ia lalu tersenyum kecil. “Akan kubuatkan kau kopi, agar hidupmu jauh lebih ceria,” ujarnya. Ia segera berlalu ke dalam dapur dan meninggalkan kedua sahabat itu di ruang tamu.
Coco menyandarkan kepalanya. Sedangkan kedua matanya tampak terpejam. Begitu juga dengan Matteo, pria itu memejamkan matanya. Tadi malam, mereka tidur sebentar sekali. “Jam berapa kita akan pulang ke Brescia?” tanya Coco seraya melirik Matteo yang masih bersandar dan terlihat kacau.
“Kau tanya saja pada istriku. Nyonya de Luca adalah bosnya sekarang,” sahut Matteo dengan malas.
“Ya, kau benar sekali, Amico. Wanita memang selalu ingin menjadi penguasa,” timpal Coco sama malasnya. “Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak suka memikirkan hal seperti ini,” gumam pria itu lagi.
Matteo membuka mata. Ia kemudian melirik sahabatnya untuk sesaat. Ia tahu dan sangat memahami kegalauan yang tengah dirasakan oleh Coco, karena dirinya pun pernah berada dalam situasi seperti itu. “Kau tahu? Aku sudah bosan memakai arm sling ini. Jika bukan karena Mia, mungkin aku sudah melepasnya sejak kemarin-kemarin. Ia menjadi lebih cerewet setelah menjadi istriku,” keluh Matteo. Sementara Coco hanya terdiam. Ia masih berpikir keras dengan jalan yang akan ditempuhnya setelah ini. Berkali-kali, ia terdengar mengempaskan napas berat penuh penyesalan.
“Bagaimana jika kapan-kapan kita bermain skateboard lagi? Rasanya sudah lama sekali kita tidak bermain bersama,” cetus Matteo. Ia seperti tengah berusaha untuk menghibur sahabatnya itu.
__ADS_1
Coco menoleh dan tersenyum simpul. “Kalau begitu, kita harus secepatnya pulang ke Brescia,” sahutnya. Ia mencoba untuk terlihat biasa saja.
Sementara itu di dalam dapur, Daniella yang katanya akan membuatkan kopi untuk Coco, justru asyik menikmati kopinya sendiri sambil duduk santai di meja makan. Seperti biasa, Mia lah yang melakukan segalanya. Untuk sesaat, ia melirik saudari tirinya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan selain dua cangkir kopi. Daniella pun tersenyum. “Mia,” sebutnya pelan.
“Ya,” jawab Mia tanpa menoleh. Ia masih sibuk dengan aneka hidangan yang tengah disiapkannya.
“Bagaimana rasanya menikah dan memiliki seorang suami yang benar-benar mencintaimu?” tanya Daniella, membuat Mia seketika menghentikan pekerjaannya dan menoleh. Wanita muda itu pun tersenyum.
“Apa kau ingin segera menikah, Dani?” tanya Mia dengan mata berbinar.
“Oh, certo che no! Mi piace ancora la mia libertà (Oh, tentu saja tidak! Aku masih menyukai kebebasanku),” sanggah Daniella dengan segera. Ia lalu beranjak dari duduknya dan berdiri di sebelah Mia. Daniella meletakan cangkir kotor bekas kopi yang ia seduh tadi di dalam bak cuci piring. “Aku hanya mengkhawatirkan Francy,” ucapnya pelan. Ia mengaduk kopi yang akan disajikan untuk Matteo dan juga Coco.
“Dulu, ibu selalu berpesan padaku, agar aku bisa menggantikannya dalam menjaga Francy setelah ia tiada. Namun, kenyataannya aku tak bisa menjadi kakak yang baik bagi adikku sendiri,” Daniella terdengar mengempaskan keluhan pendek..
“Karakter Francy sangat mirip dengan ibu. Ia wanita yang gigih dan juga selalu ingin terlihat kuat, tapi sebenarnya sangat rapuh. Saat itu ketika ayah kami tiada, ibu bekerja dengan sangat keras dan tak menghiraukan kesehatannya sendiri. Ia begitu bersemangat menekuni dunia opera yang memang memberikan kami penghidupan dengan jauh lebih layak,” tutur Daniella pelan dengan nada bicaranya yang terdengar tak biasa.
“Ibu menolak banyak pria saat itu. Akan tetapi, ketika ayahmu datang, ia bisa menjadi luluh dengan sangat mudah. Awalnya aku tak suka dengan hal itu, tapi makin lama aku semakin mengenal sosok ayahmu. Aku juga pasti akan merasa jatuh cinta dengan pria berkarakter sepertinya. Ia pria pekerja keras yang sangat bertanggung jawab,” Daniella menyeka sudut matanya.
“Ah, sudahlah! Aku harus mengantarkan kopi ini untuk kedua pria Brescia itu,” ujar Daniella seraya mengangkat nampan berisi dua cangkir kopi. Ia pun berlalu meninggalkan Mia yang tertegun sendiri di dapur..Tak berapa lama, pintu kamar utama terbuka perlahan. Francesca keluar dari sana dengan matanya yang membengkak. Jelas terlihat bahwa gadis itu menangis semalaman.
“Selamat pagi semua,” sapanya sembari memaksakan senyumnya. Diam-diam, Coco memperhatikan Francesca dengan lekat. Dimulai sejak gadis bermata hazel itu menghampiri Mia, membantu memasak, hingga turut membantu menata meja makan.
“Sarapan sudah siap,” ucap Francesca. Tampak jelas raut murungnya tak dapat ia sembunyikan.
Dua orang pria rupawan yang duduk di ruang tamu, segera berdiri dan mengambil tempat di meja makan. Sementara Mia dengan luwesnya menyiapkan peralatan makan dan lauk pauk untuk Matteo. Melihat hal itu, Francesca juga berinisiatif menyiapkan hal yang sama untuk Coco. Pria berambut ikal itu tertegun sejenak, sebelum mengucapkan terima kasih pelan.
__ADS_1
“Masakan Mia selalu yang terbaik,” puji Daniella yang lebih dulu menyantap makanan di meja. “Kapan kalian kembali ke Brescia?” tanyanya kemudian.
“Segera. Setelah kami selesai sarapan,” jawab Coco dan Matteo serempak.
“Kau juga ikutlah ke sana, Francy. Akan jauh lebih baik bagimu jika turut pulang bersama kami. Untuk sementara, menjauhlah dari Filippo,” saran Mia dengan hati-hati.
Francesca sempat terdiam. Namun, pada akhirnya ia mengangguk pelan. “Aku akan bersiap-siap setelah ini,” ucapnya lesu.
Suasana canggung begitu terasa ketika sarapan saat itu. Tak ada yang berani untuk memulai percakapan. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hal itu terus berlangsung hingga sarapan usai dan semua bersiap-siap untuk pulang. Beberapa saat kemudian, mereka pun telah memulai perjalanan menuju Brescia.
Selama di dalam perjalanan tersebut, keheningan masih terus berlangsung. Suasana canggung tak jua sirna, dan sepertinya ingin terus mengiringi mereka. Coco mengemudi dengan serius. Tak ada sedikitpun senyum yang tersungging dari bibirnya. Begitu pula dengan Matteo yang berkali-kali menguap panjang.
“Apa kau tidak tidur semalaman, Amico?" tanya Coco yang akhirnya memecah keheningan di antara mereka. "Apa saja yang kau lakukan bersama Mia di dalam mobil?” tanyanya lagi.
“Seperti biasa, kami bercinta tanpa jeda dan juga sangat panas” jawab Matteo asal-asalan sambil menahan tawanya. Terlihat jelas Mia yang sedang melotot ke arahnya melalui pantulan kaca spion dalam.
“Itu tidak benar! Kami hanya mengobrol sampai tertidur!” bantah Mia, membuat Matteo tergelak. Tampaklah sederetan giginya yang putih dan rapi. Coco tertegun sesaat melihat ekspresi Matteo. Tak pernah Coco melihat sahabatnya begitu ceria seperti saat itu, sejak pertama kali mereka bertemu.
“Aku turut berbahagia untukmu, Amico. Sungguh,” ucap Coco tulus dengan tatapan mata yang tetap menjurus kemudian. Akan tetapi, suasana hangat yang mulai tercipta, harus kembali sirna ketika terdengar dering ponsel milik Francesca, beberapa menit setelah mobil yang mereka tumpangi memasuki jalan tol antar kota.
“Halo,” nada suara Francesca terdengar ragu. “Apa lagi yang kau inginkan, Filippo?” tanyanya ketus, tapi masih terkesan lirih dan lemah.
Semua orang yang berada di dalam mobil, terdiam dan menajamkan telinga.
“Kau tak perlu tahu bagaimana caranya aku keluar. Satu hal yang pasti, aku sudah pergi dari sana. Kau boleh mengambil kembali apartemenmu,” ucap Francesca. Sesaat kemudian Francesca terdiam. Ia mendengarkan Filippo yang tengah menangis dan memohon maaf kepadanya.
__ADS_1
Dengan perasaan yang penuh harap-harap cemas, Coco menunggu jawaban apa yang akan Francesca berikan untuk pria itu. Akan tetapi, pada akhirnya ia harus kecewa. Coco pasrah dan kembali menerima pil pahit, ketika Francesca mengutarakan jawabannya, “Iya, Fillipo. Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti.”