
Mia terus memperhatikan sikap aneh Matteo. Tatapan yang pria itu berikan kepada Sorella dirasa janggal olehnya. Namun, Mia berusaha untuk menutupi perasaan tersebut. Segera dialihkan pandangannya kepada Sorella yang masih tertunduk. “Sorella, masuklah!” ajak Mia. Ia beranjak dari pintu kamar dan kembali ke dalam. Sorella pun mengikutinya. Wanita itu masih menyembunyikan wajahnya dari Mia.
“Terus terang saja, aku merasa bingung dengan apa yang harus kulakukan saat ini. Aku tidak tahu harus memakai pakaian seperti apa dan ....” Mia menatap wanita berambut pirang itu. “Ya, itulah kenapa kau di sini,” gumamnya kemudian, membuat Sorella mengangkat wajahnya dan tersenyum.
“Ada beberapa pakaian yang sudah disiapkan untuk Anda, Nona,” ucap wanita berkemeja putih itu. “Sesaat setelah Tuan Matteo menghubungi Tuan Damiano, beliau langsung menyuruh saya untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tuan Matteo menjelaskan ukuran tubuh Anda dengan sangat detail ....” Sorella terdiam untuk sejenak. Ia mengulum bibirnya seakan menyesali kata-kata yang telah diucapkannya barusan. “Maaf, Nona Mia. Maksud saya ....” Sorella kembali terdiam. Ia tampak kebingungan.
Mia dapat memahami maksud dari ucapan wanita itu, karenanya ia tidak merasa tersinggung. Mia justru tersenyum manis. “Apa kau gugup, Sorella?” tanyanya lembut.
Sorella menggeleng pelan. “Saya tahu seperti apa watak Tuan Matteo. Saya hanya takut membuat kesalahan, tapi saya akan melakukan yang terbaik,” jelasnya.
“Jangan terlalu tegang. Aku rasa mungkin sebaiknya kita mulai saja, tapi aku ingin mandi dulu sebentar,” ucap Mia.
“Akan saya siapkan, Nona,” balas Sorella. Dengan segera ia masuk ke kamar mandi. Selagi Mia membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, Sorella menyiapkan segala sesuatu yang akan Mia kenakan pada acara pertemuan nanti malam.
......................
Tepat sekitar pukul delapan belas tiga puluh, semua tetua organisasi telah hadir di aula Cassa de Luca. Mereka adalah orang-orang yang dulu mengesahkan Matteo saat diangkat menjadi ketua organisasi. Kali ini, restu dari mereka pun kembali dinantikan oleh Matteo.
Pria yang terbiasa dengan tatapannya yang tajam tersebut, telah bersiap dengan kemeja hitam yang dilengkapi sebuah blazer berwarna abu-abu. Matteo berdiri dengan gagahnya di hadapan para tetua organisasi, yang telah menunggu di aula sejak beberapa saat yang lalu. Ini adalah kali kedua ia harus meminta izin untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya. Jika bukan karena tradisi dan aturan di dalam organisasi, sebenarnya ia agak malas untuk menghadiri acara tersebut. Namun, apapun akan ia lakukan demi segera memiliki Mia, pujaan hatinya.
Ditatapnya satu per satu para tetua yang hadir dengan tajam. Seperti biasa, Matteo selalu terdiam sejenak sebelum ia mulai mengutarakan niatnya. “Apa lagi yang kau tunggu, Anakku?” bisik Damiano dari sebelah kanan Matteo. Sementara Antonio masih berdiri tegak dengan kedua tangan yang setengah menyilang di bagian depan tubuhnya. Tatapan pria itu lurus ke depan dan tanpa ekspresi sama sekali.
__ADS_1
“Apa Mia sudah siap?” Matteo balas berbisik kepada Damiano.
“Sorella sudah menyiapkan calon istrimu dengan baik, Theo. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu,” balas Damiano. Matteo mengangguk pelan. Ia segera membuka acara pertemuan tersebut.
“Buona sera (Selamat malam),” terdengar suara Matteo yang cukup lantang dan tegas di dalam ruangan itu. Semua tetua yang sedang berdiri, segera memberi salam khas dari Organisasi de Luca.
Para tetua yang berjumlah sepuluh orang itu, membentuk setengah lingkaran dan berhadapan dengan Matteo. Mereka kemudian setengah menunduk sambil menempelkan tangan kanannya pada dada kiri. Sesaat kemudian, Matteo mengangguk sebagai tanda terima kasih.
“Aku ucapkan terima kasih atas kesediaan Anda semua untuk hadir dalam pertemuan kali ini. Seperti yang telah Tuan Damiano Baresi beritahukan sebelumnya, maksud dari pertemuan ini ialah bukan untuk membahas tentang sesuatu yang berkaitan dengan urusan organisasi secara langsung, tapi ... aku ingin memperkenalkan seseorang kepada Anda semua ....” Matteo terdiam. Ia lalu menoleh ke arah pintu masuk aula tersebut yang masih tertutup rapat. Setelah mengempaskan napas pelan, Matteo kembali berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu itu. “Masuklah, Mia!” perintahnya dengan lantang.
Tidak berselang lama, lawang dengan dua pintu tersebut segera terbuka dan memperlihatkan seraut wajah cantik dengan rambut coklatnya yang indah. Mia telah berdiri di sana. Ia tampak begitu anggun dalam balutan dress sebatas lutut berlengan panjang dengan warna biru navy. Dress berkerah dan memiliki aksen V Neck yang tidak terlalu rendah. Pada bagian pinggang depan sebelah kiri dress tersebut, terdapat hiasan pita yang tidak terlalu besar, tapi berhasil memperlihatkan pinggang Mia yang ramping.
Sementara itu, rambut panjang Mia dibiarkan tergerai dengan sedikit jalinan di bagian atas yang berhiaskan sebuah jepitan rambut kecil dari perak. Mia juga terlihat begitu segar dengan warna lipstik dark berry yang sesuai untuk kulit kuning langsatnya.
Mia mulai melangkah masuk dengan tatapan lurus kepada Matteo yang saat itu tampak begitu terpesona dengan penampilannya. Derap langkah dari hak stiletto yang Mia kenakan pun terdengar begitu berirama, memecah kesunyian di dalam aula tersebut. Hal itu membuat rasa gugup dalam hati Mia kian besar, terlebih kini ia menjadi pusat perhatian dari semua yang hadir di sana.
Mia kembali melihat tatapan penuh cinta pada sepasang warna abu-abu milik Matteo. Ia pun tersenyum penuh arti kepada pria tersebut.
Sesaat kemudian, Matteo kembali mengarahkan tatapannya ke depan, kepada para tetua yang masih membuat kedua sejoli itu menjadi pusat perhatian. “Aku sudah mengambil keputusan untuk melangsungkan pesta pernikahan dua hari lagi. Aku tidak akan meminta pendapat Anda semua tentang keputusanku, karena ini mutlak urusan pribadi. Aku hanya ingin memperkenalkan Mia dan mengabarkan berita bahagia tersebut. Semoga Anda semua berkenan untuk menghadiri acara pernikahan kami berdua,” tutup Matteo dengan gaya bicaranya yang terlihat sangat memesona di mata Mia, membuat wanita muda berbaju biru itu tersipu.
Hening sejenak, menyelimuti ruang aula. Para tetua saling pandang dan berbisik, sebelum akhirnya salah satu dari mereka maju dan mendekat ke arah Matteo.
Seorang pria tua yang berambut putih dengan kepala yang sedikit botak, berjalan pelan menuju titik tempat Matteo berdiri. Tongkat kayunya menimbulkan bunyi nyaring saat beradu dengan lantai aula. “Tuan Matteo de Luca,” sapanya seraya mengangguk. “Nona Florecita,” ia menggenggam tangan Mia sesaat, kemudian melepasnya. “Saya mewakili para tetua lainnya, mengucapkan selamat atas kedatangan ratu baru di Istana de Luca. Kami menyampaikan penghargaan atas undangan ini,” ucapnya.
“Ternyata Tuan Matteo tidak melupakan adat dan tradisi yang sudah berjalan turun temurun. Oleh karena itu, kami sangat berbahagia dan merestui ikatan Anda berdua,” tutur pria itu yang disambut tepuk tangan dari para tetua lainnya, termasuk pula Damiano. Hanya Antonio yang tidak terlihat menggerakkan tangannya. Pria paruh baya itu masih berdiri tegak seperti sebuah patung bernyawa.
__ADS_1
“Akan tetapi, sesuai tradisi pula, jika sang Ratu ternyata berkhianat dan tidak setia pada organisasi, maka kami para tetua juga berhak memberi hukuman dan mengeluarkannya dari perlindungan Istana de Luca,” tegas pria tua itu kemudian.
Mia menahan napasnya. Apa yang disampaikan oleh salah satu tetua itu sungguh mengerikan baginya. Mia hanyalah orang awam yang tak pernah mengetahui apapun tentang dunia mafia dan segala seluk beluknya. Dire•masnya jemari Matteo dengan cukup kencang. Matteo bahkan merasakan telapak tangan Mia yang mulai basah oleh keringat.
“Anda telah membuat calon istri saya ketakutan, Tuan Giorgio Monti!” geram Matteo dengan tatapan tajamnya. “Mia hanyalah gadis sederhana yang hidup di wilayah pinggiran Venice. Ia sama sekali tak paham intrik dan politik organisasi,” papar Matteo sembari menggenggam erat jemari Mia.
Matteo kemudian mengalihkan pandangannya kepada para tetua yang lain. “Sekadar informasi untuk kalian, gadis inilah yang telah menyelamatkan nyawaku saat adik kecil Moriarty berusaha untuk membunuhku. Ia memberi perlindungan berupa tempat bernaung dan juga makanan. Gadis inilah yang telah mengobati lukaku hingga sembuh. Gadis seperti Mia, bisa kupastikan tak akan pernah berkhianat pada orang yang dicintainya!” tegas Matteo dengan lantang. Matteo sedikit mendongakkan kepala, seakan menantang siapapun yang berani membantah perkataannya.
Tak ada yang berani membalas seruan lantang dari Matteo. Semua terdiam dengan wajah tertegun. Pandangan mereka seluruhnya tertuju kepada Mia. Hingga sesaat kemudian, deheman pria tua yang bernama Giorgio Monti itu mengakhiri suasana canggung dan kaku yang sempat mendominasi. “Baiklah, Tuan Matteo. Saya sangat memahami sikap Anda yang berapi-api, karena dulunya saya juga begitu,” Giorgio terkekeh. Ia mencoba untuk menunjukan sikap tenangnya sebagai seorang sesepuh.
“Baiklah, kalau begitu kita percepat saja acara malam ini. Aku sudah tidak sabar menikmati hidangan lezat dari koki ternama di Casa de Luca,” Giorgio mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke yang kemudian segera diikuti oleh tetua lainnya.
Setelah itu, masing-masing dari mereka merogoh sesuatu dari saku dalam jas hitam yang mereka kenakan.. Sebuah pin kecil berbahan emas, mereka angkat tinggi-tinggi. Pin itu selalu menjadi bagian penting acara organisasi, seperti acara perayaan hari jadi organisasi, atau pesta kemenangan klan atas semua pesaing mereka. Mereka kemudian meletakkan pin emas itu ke dalam cawan hitam yang terletak di tengah-tengah aula.
Giorgio sendiri menyerahkan pin emas itu kepada ajudannya, dan sang ajudanlah yang meletakkan pin emas tersebut ke dalam cawan. Ajudan itu mengangkat cawan dengan hati-hati dan mengarahkannya kepada Matteo dan Mia.
“Dengan berakhirnya seremoni ini, kami menyatakan bahwa kami menerima kehadiran Nona Florecita Mia di Cassa de Luca,” ucap Giorgio dengan lantangnya.
🍒
🍒
🍒
Hai, yuhuuu! Sambil nunggu persiapan pernikahan Mia dan Matteo, ada baiknya kita mampir dulu ke novel keren di bawah ini.
__ADS_1