
Matteo dan Coco bersama puluhan anak buahnya menyebar di setiap titik Kastil Corradeo untuk mencari keberadaan Mia. Akan tetapi, semua usaha mereka tidak membuahkan apa-apa. Mereka tak menemukan Mia di manapun, hingga pencarian itu hanya berakhir dengan kekecewaan.
Matteo mencoba kembali berpikir meskipun segalanya terasa begitu gelap. “Aku akan meminta bantuan Max. Ia memiliki penciuman yang bagus. Max andal dalam hal mengendus bau seseorang,” ujar pria itu. Ia menyebut nama anjing kesayangannya, sehingga tanpa membuang waktu, Coco dan Matteo berlari menuju kandang Maximus. Sementara itu, puluhan anak buah lainnya masih meneruskan pencarian hingga ke luar kastil.
Di sisi lain, Adriano masih terus mengikuti langkah Marco yang tampak kebingungan. Mereka berdiri di tepi dermaga dengan raut bimbang, terutama Marco. Ia terus mengedarkan pandangannya ke segala arah.
“Sebenarnya apa yang kita cari di sini, Boy?” tanya Adriano yang mulai tak sabar.
“Ayahku. Aku mendengar rencananya yang akan membawa Mia kemari,” jawab Marco sambil memegangi kepalanya.
“Untuk apa ayahmu membawa Nyonya de Luca kemari?” tanya Adriano yang mulai curiga.
“Ayahku berniat untuk membawa Mia pergi dengan menggunakan speed boat dan mengeksekusinya di tengah laut lepas. Ia akan membuang mayatnya sekalian di sana,” tutur Marco pelan dan tampak menyesal.
“Brengsek!” seketika emosi Adriano memuncak. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencekik leher Marco hingga pria itu hampir tak dapat bernapas. "Lalu kau hanya diam saja melihat kejahatannya? Astaga! Mia adalah istri sepupumu sendiri, Bodoh!” bentak Adriano dengan jengkel.
“Kau tidak mengenal ayahku!” balas Marco dengan agak tersengal. Wajahnya mulai memerah karena pasokan oksigen ke otaknya mulai berkurang. Melihat hal itu, Adriano segera melepaskan tangannya dan mendorong Marco dengan kasar.
“Sekarang pikirkan kemungkinan ke mana ayahmu akan membawa Mia!” desak Adriano masih dengan nada bicara yang terus membentak Marco.
“Aku tahu bagaimana Matteo. Ia pria paling cerdas dan cekatan yang pernah kukenal. Sekarang, ia pasti telah memblokir semua ruas jalan keluar dari distrik ini. Itu artinya, ayahku masih berada di sekitar wilayah kekuasaan Corradeo,” papar Marco seraya terengah-engah dan memijit tengkuknya.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi!” tegas Adriano sambil mengeluarkan kunci mobilnya. Untuk sesaat, Marco tertegun dan bertanya-tanya, mengapa Adriano begitu peduli akan nasib Mia yang jelas baru saja dikenalnya? Namun, ia tidak mau menjadi sasaran kemarahan pria itu lagi. Marco pun segera mengikutinya.
Di tempat lain, Matteo melepaskan Maximus dan membiarkan hewan itu mencium jejak istrinya. Ia hanya perlu mengikuti anjing tersebut dari belakang. Akan tetapi, lama-kelamaan Maximus berlari ke arah semak belukar dan pepohonan rimbun di tepi jalan raya yang sedari tadi mereka lewati. Hewan itu kemudian berhenti tepat di depan seseorang yang tergeletak begitu saja di bawah sebuah pohon besar.
“Astaga, siapa itu, Amico?” seru Coco. Ia bergegas mendekat dan memeriksa sosok yang tertelungkup itu. Perlahan ia membalikkan badan yang sudah kaku tersebut.
“Sorella?” desis Matteo seraya berlutut. Ia mengenali tubuh yang sudah tak bernyawa dengan lubang bekas tembakan di dada sebelah kiri.
“Ia pelayan di Casa de Luca?” tanya Coco dengan sorot mata iba.
Matteo mengangguk. Ia tercenung untuk beberapa saat. “Beberapa waktu yang lalu, Mia memergoki Sorella sedang berbicara dengan seseorang. Ia mengatakan bahwa orang itu tampak mirip dengan Damiano atau paman Antonio. Jika bukan Damiano orangnya, apakah itu berarti ....” Matteo seakan tak mampu berkata-kata.
“Max! Cepatlah kembali ke kastil dan jemput Damiano!” suruh Matteo. Anjing itu pun segera melesat, seolah paham dengan apa yang Matteo perintahkan.
__ADS_1
“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Coco yang masih berjongkok, mendongak ke arah Matteo dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Matteo tak segera menjawab. Ia ikut berjongkok dan melepas jasnya. Diletakannya jas itu ke atas jasad Sorella sehingga menutupi wajah dan separuh badan wanita malang tersebut.
“Aku hanya akan mengandalkan instingku saja. Seandainya aku adalah paman Antonio dan ia terjebak di wilayah ini, maka satu-satunya tempat yang akan ia tuju adalah ....” Matteo menghentikan gumamannya. Matanya menerawang pada kegelapan malam dengan pepohonan yang mengelilinginya. “Sepertinya aku tahu, paman pergi ke mana,” ucap Matteo lirih.
Dengan langkah lebar dan cepat, Matteo keluar dari area pepohonan lalu melintasi jalan raya dan memasuki semak belukar di seberangnya.
Ia mulai menyalakan senter dari ponselnya dan mengamati tanah berdebu yang ia pijak. Banyak pepohonan meranggas di sekitar sana, disertai semak dan anggrek liar yang sesekali mengganggu langkahnya. Namun, Matteo terus berjalan hingga berhenti di sebuah ranting yang menarik perhatiannya.
Di ujung ranting itu, terdapat sehelai kain yang seperti sengaja dilampirkan begitu saja di sana. Matteo mengenali kain itu. “Ini bagian dari gaun Mia,” desisnya. “Ia pasti sengaja meninggalkan petunjuk bagi siapapun yang hendak mencarinya.”
tersungging senyuman samar di wajah rupawan itu, sebelum Matteo melanjutkan pencariannya bersama Coco.
Cukup lama kedua pria itu berjalan di antara pepohonan meranggas, hingga mereka tiba di satu pondok kayu kecil yang seakan tak berpenghuni. Matteo sudah berniat masuk ke sana ketika dilihatnya sekelebat bayangan melintas di depannya. Namun, ia segera berhenti dan mengambil sikap waspada. Begitu pula dengan Coco. Mereka menunggu hingga bayangan itu membentuk sosok seseorang yang dikenal oleh Matteo. “Tuan D’Angelo? Sedang apa Anda di sini?” tanya Matteo curiga.
Adriano tidak menjawab. Ia malah menempelkan telunjuk di bibirnya. Salah satu tangannya menunjuk pada pondok, seakan memberi isyarat kepada Matteo.
Penasaran, Matteo mengendap-endap hingga tubuhnya menempel di dinding kayu. Sementara Coco tetap berdiri tegak di tempatnya sambil mengawasi sekitar. Sayup-sayup, terdengar percakapan dari dua orang pria di dalam pondok, membuat Matteo semakin menajamkan indranya.
“Hentikan kegilaan ini, Padre! Mia tidak bersalah, lepaskan dia!” ujar seseorang yang membuat seluruh syaraf di tubuhnya menegang.
“Kenapa kau selalu bodoh seperti ini, Marco! Aku sangat kecewa padamu! Tidakkah kau ingat keinginan ibumu!” sahut seseorang lainnya. Matteo akhirnya tahu, siapa orang-orang itu. Namun, ia masih menahan diri dan emosi dengan tetap bertahan di tempatnya.
“Anak tidak tahu diuntung!”
Setelah itu terdengar satu kali letusan. Entah ditujukan untuk siapa tembakan itu. Matteo tak dapat lagi berpikir jernih. Spontan ia berlari ke arah pintu dan menendangnya, hingga pintu tersebut lepas dari engselnya lalu roboh. Antonio terkejut melihat hal itu. Spontan ia menembakkan pistolnya ke arah Matteo. Beruntung, Matteo sigap dan berhasil mengelak. Peluru itu malah mengenai dinding kayu hingga berlubang.
Di luar, Coco dan Adriano merasakan bahaya yang sama, sehingga Coco buru-buru menelepon anak buah Matteo yang tersebar serta mengirimkan detail lokasi tempat mereka berada. Sementara Adriano juga terlihat sibuk menghubungi seseorang. Setelah itu, Coco menyusul Matteo memasuki pondok kecil itu.
Sama halnya dengan Matteo, Coco juga disambut oleh timah panas yang beberapa senti lagi akan mengenai pelipisnya. “Tuhan masih memberiku nyawa hari ini,” gumamnya seraya mendekat kepada Antonio. “Menyerahlah, Tuan! Aku sudah menelepon semua orang untuk menyerbumu kemari,” sambungnya.
“Kau pikir aku takut mati, Anak Muda?” seringai Antonio. Tangannya yang mengacungkan senjata pada Coco dan Matteo, kini berpindah pada Mia. “Jika aku mati, maka ia pun mati!” ancamnya. Antonio bahkan telah bersiap menarik pelatuk.
“Hentikan, Paman! Apa yang kau inginkan?” Matteo sudah tidak dapat menahan kemarahannya.
“Apa yang aku inginkan?” ulang Antonio sembari memicingkan matanya. “Aku meinginkan agar wanita ini mati!”
__ADS_1
“Jangan libatkan Miaku! Apa yang kau inginkan sebenarnya?” desis Matteo. Emosinya kian memuncak, sampai-sampai suaranya bergetar.
“Seperti yang kukatakan tadi. Aku tidak ingin kau memiliki keturunan! Aku tidak suka kau menjadi ketua klan!” hardik Antonio.
“Kalau hanya itu yang kau inginkan, aku bersedia memberikan semuanya, tapi lepaskan Mia! Bebaskan istriku!” Matteo melangkah perlahan, ia mendekat ke arah Mia yang menggigil dan bersimpuh di samping Antonio.
“Aku tidak bodoh, Nak! Jika kulepaskan istrimu, kau akan kembali kepadanya! Aku tidak mau itu terjadi! Bukankah sudah kukatakan berkali-kali, aku tidak ingin ada keturunan de Luca lahir dari garismu!” Antonio semakin mendekatkan moncong senjatanya di kepala Mia. Wajah cantik itu hanya mampu memejamkan matanya sambil menangis sesenggukan.
“Kalau begitu, tukarlah nyawa Mia dengan nyawaku! Bebaskan Mia dan bunuhlah aku! Dengan begitu, semua masalah akan selesai. Klan akan kau miliki dan aku tidak akan hidup untuk menghalangimu. Akan tetapi, jika kau membunuh Miaku, maka aku akan membunuhmu dan juga Marco!” gertak Matteo. Wajahnya tak pernah terlihat mengerikan seperti saat itu.
“Sebuah penawaran yang menarik. Kuterima dengan senang hati, Nak. Kalau begitu aku setuju. Nyawa Mia diganti dengan nyawamu!” secepat kilat Antonio memindahkan arah tembakannya kepada Matteo. Ia tertawa dengan jumawa.
"Kau harus tahu satu hal, Theo," ucap Antonio sambil terus mengarahkan pistolnya kepada Matteo. "Aku sudah merencanakan kematianmu berkali-kali, tapi anehnya selalu gagal."
"Akulah yang telah menghasut Silvio Moriarty, agar ia berkhianat padamu. Aku berharap kau mati saat di Palermo, tapi nyatanya kau selamat dan kau malah kembali ke Casa de Luca dalam keadaan sehat! Belakangan aku tahu, ternyata wanita itu yang telah membantumu hingga sembuh!" tunjuk Antonio ke arah Mia.
"Jangan panggil aku Antonio de Luca, jika diriku kehabisan akal. Aku kemudian menjalin kerja sama dengan Vincenzo dan berharap agar kalian berdua bertarung sampai mati. Aku mengirimmu ke tenggara, ke seluruh pelosok Italia, hingga akhirnya kau berhadapan langsung dengan ketua dari Klan Moriarty. Apa kau tahu siapa yang telah membantai semua anak buahnya waktu itu? Aku menyesal, karena pemuda baik itu harus tewas di sana," seringai Antonio.
"Luigi?" geram Matteo pelan.
"Aku pikir kau akan mati di sana, dan sialan! Kau bahkan lolos dari bom yang sudah kupasang di mobilmu, Theo! Ada berapa nyawamu, Matteo?"
"Kau pembunuh kedua orang tuaku!" geram Matteo lagi.
"Seharusnya kau yang mati, bukan mereka! Aku tidak mengharapkan kematian kedua orang tuamu. Kau benar-benar beruntung," keluh Antonio tanpa menurunkan pistol yang ia arahkan kepada Matteo.
"Apa kau juga yang telah menghabisi nyawa pelayan di penjara bawah tanah dan Sorella?" selidik Matteo seraya mengepalkan tangannya.
"Ya. Aku juga yang telah memerintahkan untuk melakukan penyerangan pada acara pernikahan istrimu di Venice. Setelah itu, aku menyuap salah satu sipir penjara untuk menghabisi nyawa Fausto dan Santos. Sama seperti yang telah kulakukan kepada pelayan bodoh itu. Sorella, ia telah berani menentangku. Selain itu, aku tidak akan mengambil risiko dengan membiarkannya tetap hidup," aku Antonio dengan entengnya. Sesaat kemudian, Antonio tergelak. "Kau ingin menukar nyawamu dengan wanita itu? Baiklah. Ini akan jauh lebih mudah dan menyenangkan bagiku!"
“Tidak! Jangan, Theo! Jangan bersikap bodoh!” cegah Mia. Wanita muda itu begitu cemas. Sangat jelas terpancar dari wajahnya, jika ia tidak mau terjadi apapun terhadap suaminya.
“Tidak apa-apa, Mia. Percayalah padaku,” sebuah senyuman hangat dan manis terbit dari bibir Matteo, beberapa detik sebelum pistol revolver Antonio menyalak dan mengenai dada sebelah kanannya.
🍒 🍒 🍒
__ADS_1
Hai, serius banget. Ini ceuceu kasih rekomendasi novel keren. Jangan lupa untuk mampir dan baca tuntas ya 😉 Grazie mille.