
“Gadis-gadis, silakan isi dan tanda tangani kontrak itu! Aku ingin kalian bisa menjadi gadis baik yang taat pada peraturan. Ingat! Jangan sampai kalian membuat nama baikku tercoreng di depan Tuan Moriarty!” pesan Fabio dengan cukup tegas. Sesaat kemudian, ia terdiam karena melihat kedatangan seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja putih. Pria berwajah tampan khas pria Italia dengan sepasang matanya yang berwarna hijau. Pria dengan rambut coklat yang tertata rapi ke samping, dan senyuman yang sangat menawan. Itulah Silvio Moriarty.
Pandangan para gadis dengan segera tertuju kepada pemilik mansion mewah yang kini telah berdiri di hadapan mereka, dengan sikapnya yang terlihat sangat angkuh. Tidak terkecuali Lenatta. Jiwa petualangnya merasa tertantang saat melihat sosok asli yang kemarin hanya ia lihat dari selembar foto.
Silvio menatap kesepuluh gadis itu satu per satu. Pandangannya terkunci pada gadis terakhir, yaitu Lenatta. Ketika gadis yang lain tidak berani melawan tatapan Silvio dengan terlalu intens, maka lain halnya dengan Lenatta. Ia justru terkesan menantang pria itu dengan tatapan nakalnya. Silvio kemudian menghampirinya.
“Berani sekali kau menatapku dengan cara seperti itu!” ucapnya yang kini berdiri tepat di hadapan Lenatta.
Bukannya takut, Lenatta justru memerlihatkan senyuman menggodanya terhadap pria itu. “Aku hanya terlalu mengagumi Anda, Tuan. Maaf jika aku lancang, tapi kau terlihat sangat tampan,” rayu Lenatta dengan gaya sensualnya.
Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Silvio. Pria itu kemudian menoleh kepada Fabio. “Dari mana kau mendapatkan gadis ini?” tanyanya.
“Dari seorang teman lama, Tuan. Saya yakin Anda pasti akan menyukainya, karena itu saya membawanya meskipun telah menyiapkan sepuluh gadis untuk Anda,” jawab Fabio dengan hormat. Terlihat jelas jika Fabio takut terhadap Silvio.
Silvio kembali tersenyum seraya mengalihkan pandangannya kepada Lenatta. “Siapa namamu?” tanyanya dengan tatapan lekat yang terlihat buas. Ia seperti seekor macan yang tengah mengintai mangsanya.
“Valecia Mendez,” jawab Lenatta. Wanita muda itu terus melawan tatapan menakutkan yang dilayangkan Silvio terhadap dirinya.
__ADS_1
“Valecia, nama yang cantik. Persiapkan dirimu! Aku harap keberanianmu tidak berakhir dalam tatapanmu saja!” setelah berkata seperti itu, Silvio kemudian berlalu dari sana. Ia menunggu Lenatta di kamarnya nanti malam.
Lenatta sudah paham dengan maksud dari ucapan Silvio kepada dirinya. Ia kemudian melirik kepada Fabio yang tengah memerhatikanya dengan sebuah senyuman mesum. “Buatlah agar Tuan Moriarty memberimu harga yang pantas! Aku harap kau tahu bagaimana cara melakukannya!” bisik Fabio yang kemudian diiringi sebuah seringai jahat.
Sekitar pukul delapan malam, Lenatta memasuki kamar Silvio. Kamar yang begitu luas dengan segala perabotannya yang terlihat mewah. Kamar yang dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Eropa.
Di sana terdapat sebuah tempat tidur mewah, dengan dua buah lampu duduk yang cantik di samping kiri dan kanannya. Pada dinding yang berada di atas tempat tidur itu, terdapat sebuah lukisan dengan gambar yang tidak terlalu Lenatta pahami artinya.
Namun, Lenatta tidak peduli dengan hal itu, karena Silvio menyuruhnya datang ke sana bukan untuk menjadi seorang apresiator, melainkan untuk hal lain.
Lenatta tersenyum nakal ketika melihat Silvio yang baru keluar dari sebuah ruangan lain di dalam kamar itu. Sebuah handuk putih melilit dan menutupi tubuh bagian bawahnya. Lenatta berdiri dan menunggu pria itu untuk datang menghampirinya.
Silvio terlihat sangat gagah dengan beberapa tato di bagian tubuhnya. Ia menyentuh wajah Lenatta dan menelusuri setiap bagian dari wajah cantik itu. Lenatta terdiam. Ia membiarkan jemari Silvio terus bermain di sana, menyentuh bibirnya yang penuh dan terlihat sangat menantang.
Sementara itu, tangan Lenatta bergerak dengan sangat lihai. Tanpa harus diperintahkan, ia melepas handuk yang masih menempel di tubuh Silvio. Pria itupun mengakhiri ciumannya dan menurunkan tubuh Lenatta dengan kasar.
Dipeganginya tengkuk kepala Lenatta, Silvio pun mengerang pelan karena permainan o•ral yang dilakukan oleh wanita itu. “Kau sangat pintar, Sayang,” ucap Silvio di sela-sela napasnya yang terus memburu dan disertai erangan-erangan pendek, karena menahan perasaan nikmat atas pelayanan yang Lenatta berikan kepadanya. Ia lalu menyibakan rambut panjang Lenatta dan menggenggamnya. Sesaat kemudian, Silvio menarik rambut yang ia genggam, sehingga wajah Lenatta seketika mendongak dan menatapnya.
Silvio tersenyum puas. Ia kemudian melepaskan tangannya dari rambut Lenatta dan membantu wanita itu untuk berdiri. Diusapnya cairan putih yang meleleh dari sudut bibir Lenatta yang kemudian ia tempelkan pada permukaan bibir wanita itu. “Hadiah pertama untukmu. Selamat datang di mansionku, Cantik!” Silvio tampak menyeringai puas.
__ADS_1
Sementara Lenatta hanya menyunggingkan senyumannya. Ia mengisap jari Silvio dan mengulumnya sesaat, membuat Silvio kembali tersenyum puas. Setelah itu, Lenatta kemudian mendekati Silvio dan berdiri tepat di hadapannya. “Apakah hanya sampai di situ, Tuan?” tantang Lenatta membuat Silvio tergelak.
“Tentu saja tidak,” jawab pria itu seraya naik ke tempat tidurnya. Ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal empuk berisi bulu angsa, seraya merentangkan tangannya ke samping.
Silvio terus memerhatikan Lenatta yang saat itu tengah melepas seluruh pakaiannya. Tatapan tajam tapi nakal, tak jua lepas dari tubuh sintal dengan kulit eksotis yang tersaji di hadapannya. Silvio kembali menyunggingkan senyuman dingin ketika Lenatta merangkak naik ke tempat tidur, hingga akhirnya wajah mereka kini saling berhadapan.
Lenatta kemudian duduk di atas pangkuan pria yang juga telah dalam kondisi tanpa busana. Ia meraih wajah tampan Silvio dan mereka pun kembali berciuman.
Sementara, tangan kiri Silvio kini mulai menelusuri punggung mulus Lenatta dan berakhir pada pinggul wanita itu. Dire•masnya pinggul indah milik Lenatta, kemudian ditepuknya sebanyak dua kali. Lenatta pun semakin bersemangat dalam memberikan pelayanannya kepada Silvio, terlebih ia merasakan jika pria itu telah siap untuk permainan berikutnya.
"Aku akan menjadi budakmu malam ini," bisik Lenatta seraya menelusuri setiap inci dari tubuh atletis Silvio. Ia membuat pria itu tidak mampu berkata apa-apa, selain dari sebuah desa•han napas berat yang membuat Lenatta justru semakin menggila. Ia menenggelamkan dirinya dalam kegagahan seorang Silvio Moriarty.
Dengan segera, Silvio membalikan tubuh polos itu. Kini, Lenatta berada di bawah kungkungan lengan kokoh bertato miliknya. Wanita itu menyeringai dengan sebuah desisan tertahan, ketika ia merasakan sesuatu yang mulai menerobos masuk ke dalam dirinya dan menghujamnya dengan begitu dalam.
"Masih berani menantangku?" Silvio berkata dengan seringai puasnya. Ia terlihat begitu bangga ketika melihat Lenatta terengah-engah dalam kekuasaannya, bahkan ketika ia membalikan tubuh Lenatta hingga berada dalam posisi menyamping.
Silvio mencengkeram pelan rahang wanita yang kini tengah berjuang, untuk dapat memuaskan hasrat kelelakiannya.
"Perlihatkan padaku seberapa tangguh dirimu, Tuan Moriarty!" tantang Lenatta di sela-sela erangannya yang terdengar begitu ero•tis. Suara manja wanita itu, membuat Silvio semakin beringas dalam memerlakukannya.
__ADS_1
Untuk sesaat, Silvio melepaskan dirinya dari tubuh yang telah basah oleh keringat. Ia menarik tubuh Lenatta dan mengajak wanita itu untuk duduk di atas pangkuannya.
Masih dengan senyuman nakalnya, Lenatta duduk di atas pangkuan Silvio dan merangkul mesra pria itu. Kini, giliran dirinya lah yang berkuasa.