Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Incollato


__ADS_3

Seketika Mia menoleh kepada sang suami dengan mata melotot. Ia seakan tahu apa yang akan Matteo lakukan. “Theo, jangan katakan jika kau ... tidak! Kita bisa meminta kunci cadangan,” ujar Mia tak setuju dengan apa yang akan Matteo lakukan.


“Tidak ada waktu, Sayang. Kau hanya akan mengganggu tidur orang lain,” sahut Matteo dengan sorot mata yang terlihat menakutkan.


“Memangnya yang akan kau lakukan tak ....” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya terpaku ketika pintu itu sudah terbuka, bahkan hingga terlepas dari engselnya. “Ya. Kau memang paling luar biasa,” gumam Mia seraya melirik Matteo.


“Sungguh?” balas Matteo dengan bernada sindiran seraya melirik ke arah Mia yang saat itu hanya tersenyum manis padanya. Ia lalu melihat ke sekeliling, karena saat itu ada beberapa dari tetangga sebelah yang keluar. Mereka pasti terbangun karena mendengar kegaduhan akibat suara pintu yang didobrak paksa oleh Matteo.


“Tak, apa. Adikku kehilangan kunci apartemennya. Maaf sudah mengganggu istirahat anda,” ucap Mia dengan ramah. Ia pun segera masuk. Sementara Francesca segera menyambut Mia dengan sebuah pelukan. Gadis itu terlihat sangat gelisah.


“Apa yang terjadi, Francy? Bagaimana kau bisa terkunci di dalam apartemenmu sendiri” tanya Mia seraya menyeka air mata sang adik.


“Bukan bagaimana, tapi siapa yang telah menguncimu?” sela Matteo membuat Mia menoleh kepadanya dengan rona tidak mengerti.


“Maksudmu, Theo?” Mia mengernyitkan keningnya.


Matteo mendekat kepada Francesca. Ia mengamati gadis itu dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Dari luar tak terlihat ada bekas penganiyayaan. Apa yang dilakukan pria itu selain mengurungmu?” selidik Matteo membuat Francesca semakin terisak.


“Aku tidak peduli dengan yang dilakukannya padaku, tapi aku sangat mencemaskan Ricci. Aku tidak bisa menghubunginya sejak tadi,” resah Francesca.


Matteo berpikir untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia lalu merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi Coco. Namun, ternyata ponsel sahabatnya itu memang tidak aktif. Matteo kembali berpikir. Setelah itu, ia lalu melirik Mia yang masih terlihat tak mengerti dengan kejadian yang membuatnya terus bertanya-tanya. “Mia, coba kau hubungi Dani dan tanyakan keberadaan Coco di apartemenmu,” suruh Matteo. Pria itu tampak sangat serius.


Mia segera melakukan apa yang Matteo perintahkan. Ia menghubungi Daniella. Beberapa saat kemudian, panggilan itu pun tersambung. “Dani, apa kau sudah tidur?” tanya Mia.


“Tidak Mia, aku baru selesai mengobati luka Ricci. Ia pulang dengan wajah babak belur,” jawab Daniella membuat Mia tersentak.


“Baiklah, kami akan segera pulang,” tutup Mia. Ia segera mengakhiri perbincangannya dengan Daniella dan mengalihkan tatapannya kepada Matteo. “Ricci sudah pulang ke apartemenku. Dani mengatakan jika ia pulang dengan wajah babak belur,” terang Mia.

__ADS_1


“Brengsek!” geram Matteo. “Francy, ikutlah dengan kami!” ajaknya. Setelah menutup kembali lawang pintu yang terbuka meskipun dengan daun pintu yang sudah rusak, mereka bergegas menuju lantai dasar. Setibanya di sana, Matteo menemui seorang security yang sedang berjaga dan mengatakan jika pintu ruang apartemen milik Francesca perlu diperbaiki. Setelah itu, mereka bertiga kemudian bergegas menuju ke apartemen Mia dengan menaiki taksi. Tak berselang lama, mereka pun tiba di sana.


Matteo berjalan dengan terburu-buru. Ia juga tampaknya sangat mengkhawatirkan keadaan Coco. Sesampainya di ruang apartemen Mia, Matteo segera mencari keberadaan sahabatnya tersebut. Namun, di sana hanya ada Daniella. “Di mana Coco?” tanya Matteo dengan wajah serius.


“Aku menyuruhnya tidur di kamarku. Rasanya kasihan sekali jika ia harus tidur di sofa,” jawab Daniella. Ia lalu melirik kepada Francesca yang saat itu hanya diam tertunduk. “Francy? Katakan padaku apa yang telah terjadi?”


Francesca tidak segera menjawab. Ia segera berlalu menuju kamar yang ditempati Daniella. Francesca mencoba membuka pintu kamar tersebut, tapi sepertinya pintu itu terkunci dari dalam. “Ricci, apa kau sudah tidur? Tolong buka pintunya, aku ingin bicara sebentar,” pinta Francesca seraya mengetuk pintu itu berkali-kali. Namun, tak ada jawaban dari dalam.


“Ricci, maafkan aku,” Francesca kembali terisak di depan pintu kamar tempat Coco menginap. Awalnya gadis itu bersandar di sana, tetapi lama- kelamaan tubuhnya merosot dan meringkuk seraya memeluk lutut.


“Oh, Francy,” Mia iba melihat Francesca yang seakan tak punya tenaga dan segera menghampirinya. Mia memeluknya erat sembari mengusap lembut punggung adik tirinya tersebut. “Katakan apa yang terjadi? Siapa yang tega menyakitimu seperti ini?” tanya Mia dengan sikapnya yang penuh dengan kelembutan.


“Apakah Fillipo yang telah mengurungmu, di apartemenmu sendiri?” tanya Matteo datar, tapi cukup nyaring terdengar hingga ke dalam kamar.


Coco segera terduduk. Ia menajamkan indera pendengarannya. Sesaat kemudian, Coco lalu berjalan ke arah pintu. Pria itu menempelkan telinganya di sana. Sementara Francesca yang masih berada pada posisi yang sama, hanya mengangguk lemah tanpa bersuara.


“Kurang ajar!” umpat Daniella. “Apa karena Fillipo yang memberikan apartemen itu, lantas ia bisa berbuat seenaknya padamu?” omelnya dengan jengkel.


“Aku tak ingin membebanimu, Mia. Sudah terlalu banyak yang kau pikirkan,” jawab Francesca lirih.


“Apalagi yang dilakukan pemuda itu padamu? Apa ia pernah melakukan kekerasan seperti memukulmu misalnya?” cecar Matteo.


Lagi-lagi Francesca menggeleng. “Fillipo tidak pernah melukaiku secara fisik, tapi jika ia marah, ia selalu berteriak dan mencaciku sampai puas. Setelah itu, ia akan merasa menyesal dan segera meminta maaf, lalu kembali bersikap lembut padaku,” tuturnya.


“Astaga! Pacarmu itu gila, Francy! Kenapa tidak kau putuskan saja pria itu!” sentak Daniella yang sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. “Sepenting itukah kariermu, sampai-sampai kau mengorbankan kebahagiaan dan perasaanmu sendiri?” Daniella masih terus mengomel dengan nada tinggi, membuat dada Francesca semakin sesak.


“Kau tidak mengerti, Dani,” gumam Francesca sembari menunduk dalam-dalam. Digigitnya bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan semua beban yang selama ini ia pendam.

__ADS_1


“Kalau begitu, katakanlah sesuatu agar kami dapat mengerti. Tolonglah, Francy. Aku sangat sedih melihatmu seperti ini,” bujuk Mia lembut.


Francesca memejamkan matanya rapat-rapat. Pikirannya mulai menimbang-nimbang kalimat Mia. Sebuah rahasia yang selama ini ia simpan, sepertinya harus ia ungkapkan sekarang juga, atau tidak untuk selamanya. Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya dan memandang Mia, Matteo serta Daniella secara bergantian. Francesca mengembuskan napasnya pelan, lalu mulai membuka suara. “Aku tidak bisa lepas dari jerat Filippo,” ujarnya membuat semua yang ada di sana seketika mengernyitkan keningnya.


“Kenapa?” selidik Matteo.


“Karena Filippo memegang rahasiaku yang paling kelam,” jawab Francesca lirih, sampai-sampai semua harus menajamkan pendengarannya. Namun, tidak demikian dengan Coco. Ia dapat mendengar dengan jelas perkataan Francesca.


“Rahasia macam apa yang kau sembunyikan dari kami, Francy?” Mia mulai tak sabar. Ia kemudian berdiri sambil menarik tubuh Francesca dan mengajaknya duduk di sofa. Gerak tubuh Francesca yang awalnya tegang, kini mulai tampak lebih rileks. Sementara Matteo dan Daniella masih tetap berdiri menghadap Mia dan Francesca.


“Dulu, ketika pertama kali aku mengenal Fillipo, ia pernah mengajakku ke sebuah pesta. Saat itu, aku tak mengenal siapa pun di sana selain Fillipo. Ia memberikan sesuatu padaku, sebuah pil. Fillipo mengatakan jika itu adalah vitamin. Aku meminumnya tanpa curiga. Namun, setelah itu tubuhku terasa aneh. Di saat aku setengah sadar, Fillipo kemudian memberikanku sebuah serbuk. Ia menyuruhku untuk menghirupnya. Bodohnya, karena aku kembali menuruti permintaannya. Aku tidak tahu jika ternyata ia telah merekam semua itu,” Francesca mulai terisak. Air matanya jatuh tak terbendung lagi.


“Fillipo menyimpan rekaman video saat aku mengonsumsi barang ilegal itu. Ia selalu menggunakan rekaman tersebut untuk mengancamku, setiap kali aku ingin pergi meninggalkannya. Ia mengatakan bahwa dirinya akan menyebarluaskan video itu dan menyerahkannya pada polisi,” lanjut


Francesca tanpa berhenti terisak.


“Ya, Tuhan,” Mia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Begitu pula Daniella yang terlihat sama terkejutnya. Sementara Matteo mengepalkan tangannya erat-erat sambil memandang tajam ke arah Francesca. “Sudah kuduga. Instingku mengatakan bahwa ia bukan pria baik, sejak aku melihatnya di club Adriano,” geramnya.


Francesca mengangguk. "Fillipo sudah lama menjadi pemakai. Terkadang ia menggunakan barang haram itu di depanku, tapi aku selalu menolak meskipun ia kerap memaksa. Aku tidak mau menjadi seorang pecandu sepertinya. Bagaimanapun juga, aku masih selalu mengingat semua nasihat ayah," tutur Francesca lagi. Ia mengarahkan tatapannya kepada Daniella dan Mia secara bergantian. "Maafkan aku, Mia," tangisan Francesca pecah di dalam pelukan Mia. Sementara Coco hanya terduduk di lantai seraya bersandar pada daun pintu yang tertutup rapat.


🍒


🍒


🍒


hai, jangan bosan ya karena ceuceu masih punya stok banyak novel seru untuk dikupas habis, salah satunya di bawah ini 👇👇👇

__ADS_1



 


__ADS_2