
Matteo kembali ke tempat Coco dengan langkah penuh waspada. Sepasang mata abu-abu miliknya, tak jua berhenti untuk terus menyapu setiap sudut jalanan yang ia lalui. Matteo harus tetap berhati-hati, karena bisa saja pria yang tadi sempat melarikan diri masih berada di sekitar sana. Namun, suasana di tempat itu terasa begitu sunyi. Matteo kemudian tertegun di depan bangunan tempat tinggal Mia. Di sana juga terlihat begitu sepi. Entah ada apa dengan keluarga itu, karena seharian ini pun Matteo tidak melihat Mr. Gio sama sekali.
Matteo yang saat itu berjalan sambil menenteng mantel-nya yang kotor dan dipenuhi dengan bercak darah pria itu, segera menyebrang jalan dan masuk ke bangunan yang Coco tempati. Di dalam kamar, Matteo mendapati Coco yang tengah berdiri dan termenung dengan hanya ditemani sebatang rokok.
Dilemparkannya mantel kotor itu ke atas ranjang. Matteo lalu mengambil rokok yang tergeletak begitu saja di atas meja. Setelah menyulut rokoknya, ia berdiri di dekat jendela dengan meghadap kepada Coco. “Malam ini aku melihat mereka, Sobat. Dua orang pria mencurigakan yang mengendarai sepeda motor,” tutur Matteo. Tatapannya tertuju ke arah kamar Mia yang sudah tertutup tirai dengan rapat.
Coco segera mengalihkan pandangannya kepada Matteo. Asap tipis mengepul dari mulutnya. “Kau yakin, Amico?” tanyanya.
Matteo mengangguk dengan yakin. "Aku berhasil menghabisi salah satu dari mereka. Namun, seorang lagi melarikan diri. Tadinya aku ingin mengorek sedikit informasi dari pria itu, tetapi ... ia memilih untuk bunuh diri di hadapanku. Bodohnya lagi aku membiarkan hal itu terjadi begitu saja! Sialan!” Matteo mendengus kesal. Ia mengisap rokoknya dengan gelisah. Sementara Coco juga hanya terdiam. Sepertinya pria itu tengah memikirkan sesuatu.
“Kau tahu apa yang mengganggu pikiranku saat ini?” Matteo melirik sahabatnya.
“Apa?” tanya Coco.
“Aku melihat tato Klan de Luca pada pergelangan kiri pria itu. Kau benar, Sobat. Ada pengkhianat di dalam Organisasi de Luca, dan aku harus bekerja keras untuk menemukan siapa yang menjadi dalang semua ini. Aku yakin jika mereka pasti ada di bawah arahan orang penting dalam organisasi,” terang Matteo.
“Kau mencurigai seseorang, Amico?” tanya Coco dengan datar.
“Aku patut mencurigai setiap orang saat ini, baik orang dalam apalagi yang berasal dari luar. Aku rasa ini juga masih ada kaitannya dengan Vincenzo Moriarty. Seperti yang pernah kau katakan, Sobat. Vincenzo tidak akan membiarkanku hidup tenang hingga dendamnya terbalaskan. Silvio sialan! Bajingan itu sudah membuatku berada dalam lingkaran kekacauan ini!” Matteo kembali mendengus kesal.
“Aku sudah memperingatkanmu dulu. Sekarang tidak ada yang harus kau sesali. Aku rasa mungkin sebaiknya kau menyusun rencana dengan jauh lebih matang,” saran Coco. Ia mematikan rokoknya di dalam asbak yang sejak tadi ia pegang. Setelah itu, Coco kemudian menyodorkan asbak tersebut kepada Matteo.
__ADS_1
“Mana yang akan kau dahulukan? Moriarty atau pengkhianat de Luca? Menghabisi Vincenzo Moriarty tidaklah semudah saat kau menjerat leher Silvio. Namun, jika kau bisa menundukan Klan Moriarty, maka kekuasaan akan langsung berada di tanganmu. Ingat, seberapa luas jaringan yang telah dikuasai oleh organisasi itu. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan jika Vincenzo pasti memiliki anak buah yang sangat loyal terhadapnya. Maka, jika kau ingin meghabisi pria itu ... aku sarankan untuk membabat habis semuanya, tanpa tersisa,” jelas Coco. Nada dan raut wajahnya saat itu terlihat begitu serius. Ia seperti bukan Coco yang biasanya.
“Mendiang padre yang mengenal baik Vincenzo. Aku rasa, mungkin sebaiknya aku membuka rak buku miliknya dan mencari tahu tentang pria itu. Aku ingat jika ia dulu pernah bercerita tentang seorang sahabatnya yang pernah sangat dekat dengan keluarga de Luca. Mereka bahkan merintis bisnis bersama-sama, tapi padre tidak pernah menceritakan dengan terperinci padaku tentang bisnis bersama sahabatnya itu,” terang Matteo.
“Apakah sahabat tuan de Luca adalah ayah dari Vincenzo Moriarty?” tanya Coco penuh rasa penasaran. Ia sampai membalikkan kursi kayu yang didudukinya, dan menjadikan sandaran kursi sebagai tumpuan kedua siku tangan yang ia lipat.
Matteo mengangguk sembari menghisap rokoknya dalam-dalam. Asap putih berbentuk lingkaran keluar dari mulutnya. Ibu jarinya ia tempelkan pada pelipis dan ia gerakan perlahan, sementara jari telunjuk dan tengah mengapit rokok yang kini telah terbakar separuh. Matteo tampak memikirkan sesuatu. “Aku masih tidak paham tujuan mereka menguntit Mia,” gumamnya.
“Tidak mungkin jika mereka hendak mencelakai gadismu, Amico. Apa manfaatnya untuk mereka?” timpal Coco.
“Entahlah, Sobat. Kepalaku serasa mau meledak,” geram Matteo seraya mengacak-acak rambutnya.
“Sepertinya kau butuh tidur,” Coco berdiri dari tempat duduknya lalu berpindah ke sisi ranjang. “Kemarilah,” godanya pada Matteo sambil menepuk-nepuk permukaan ranjang dengan posisi menyamping. Ia menopang kepalanya dengan tangan tangan kiri yang ditekuk.
“Hei, mau kemana kau?” seru Coco yang segera bangkit dari tempat tidurnya.
“Izinkan aku meminjam motormu!” sahut Matteo tanpa memedulikan pertanyaan Coco. Ia bergegas menuju tempat parkir dan menyalakan motor sport milik sahabatnya. Secepat kilat Matteo memacu kendaraannya hingga menyejajari langkah Mia.
“Ayo, Mia naiklah!” titah Matteo, membuat Mia terperanjat kaget. Ia tak percaya melihat Matteo yang tiba-tiba ada di sana.
“Kau? Mau apalagi kau? Bagaimana kau bisa ada di sini malam-malam begini?” balas Mia dengan nada yang teramat ketus bercampur heran.
__ADS_1
“Nanti saja marahnya. Aku akan mengantarkanmu sekarang,” balas Matteo tanpa memedulikan amarah Mia. “Kita akan ke mana?” suara Matteo kini terdengar lebih lembut dari sebelumnya.
Bukannya menjawab, Mia malah terisak. “Ibuku kritis. Ayahku mengatakan jika kemungkinannya untuk hidup sudah tidak ada. Tidak ada harapan lagi untuknya. Aku menyesal, seharusnya tadi aku tidak meninggalkannya rumah sakit,” sesal Mia lirih.
“Naiklah, Mia!” ajak Matteo. “Semoga masih ada harapan untuk ibumu," lanjutnya.
Sempat berpikir selama beberapa saat, akhirnya Mia memutuskan untuk menuruti Matteo. Ia segera naik dan duduk di belakang Matteo. Mia juga segera melingkarkan tangannya di perut pria itu, bahkan sebelum Matteo melajukan motornya. Sesaat kemudian, Matteo menjalankan motor itu dengan cukup kencang.
Tak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi mereka berdua, untuk tiba di rumah sakit tempat ibu tiri Mia dirawat. Gadis itu segera turun dari motor. Meskipun agak canggung, tapi Mia tetap mengucapkan terima kasih pada Matteo.
“Aku akan menunggu di sini,” seru Matteo sebelum Mia memasuki gedung rumah sakit. Mia menoleh dan sempat tertegun. Sesaat kemudian gadis itu mengangguk pelan. Matteo tidak banyak bicara. Pria itu hanya menatap kepergian Mia dengan mata abu-abunya yang bercahaya.
Sementara itu, Mia yang baru saja sampai di depan unit gawat darurat, harus menelan ludahnya berkali-kali ketika melihat ayahnya bersandar di dinding dengan tatapan kosong. Sedangkan Daniella dan Francesca menangis sambil berpelukan. “Ada apa ini?” tanyanya dengan suara yang bergetar.
Mr. Gio mengalihkan tatapannya kepada Mia. Ia tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Namun, sorot matanya terlihat menahan pilu yang begitu besar. Pria paruh baya itu berjalan menghampiri Mia. Segera dipeluknya tubuh putri kesayangannya dengan erat. Terdengar berapa kali tarikan napas berat dari pria itu, yang membuat perasaan di dalam diri Mia kian tak karuan. "Ada apa, Ayah?" bisik Mia dengan lirih. "Apa yang terjadi pada ibu?" tanyanya lagi.
“Kekasih hatiku telah pergi, Mia. Magdalena-ku yang cantik telah meninggalkanku untuk selamanya,” ucap pria paruh baya itu dengan tangisan yang tertahan.
Seketika Mia merasakan sekelilingnya berputar dengan begitu cepat, saat mendengar kata-kata sang ayah. Terlebih ketika itu tubuh Mr. Gio tiba-tiba lemas dan hampir terjatuh. “Ayah!” pekik Mia. Ia tak akan sanggup memegangi badan ayahnya yang jauh lebih besar dari dirinya. Akan tetapi, sepasang tangan kekar sudah lebih dulu menahan tubuh Mr. Gio sehingga pria itu tidak terjatuh. Sosok itu begitu kuat mengangkat Mr. Gio dan mendudukkannya di kursi panjang. “Bertahanlah, Tuan,” terdengar suaranya yang begitu dalam. Suara berat dari sosok yang tiada lain adalah Matteo de Luca.
__ADS_1