Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Matteo's Dark Side


__ADS_3

“Theo!” pekik Mia dan Coco secara bersamaan. Seketika gangguan kecemasan yang Mia alami datang kembali, akibat melihat darah yang mulai mengucur dari dada bidang Matteo.


Matteo sempat goyah dan mundur beberapa langkah, untuk kemudian maju dan menerjang Antonio. Sebuah letusan kembali terdengar. Namun semua orang di sana tak tahu, ke mana peluru itu bersarang.


Sementara Matteo yang sudah kesetanan, tak menghentikan gerakannya meski ia dalam keadaan terluka. Pria itu bahkan semakin beringas dan terus menyerang ke arah Antonio. Sebilah belati kecil yang begitu runcing, muncul dari pergelangan tangan. Belati yang awalnya tersembunyi di balik lengan kemejanya itu kini terlihat dengan jelas. Mia bahkan tidak menyangka jika sang suami menyembunyikan senjata tajam di balik pakaiannya.


Gerakan tangan Matteo begitu lincah saat menggenggam belati tersebut. Secepat kilat ia menusukkannya ke pipi sang paman, hingga menimbulkan luka sobek dan menganga.


Antonio memekik kesakitan, seiring dengan darah yang mengucur dari wajah dan membasahi janggut lebat kesayangannya.


Antonio menjadi tak fokus dalam menembakkan senjatanya. Hal itu, dimanfaatkan oleh Matteo sebagai kesempatan besar untuk terus melakukan serangan secara bertubi-tubi. Matteo menusukkan belatinya ke punggung tangan sang paman, sehingga pistol kecil yang ia pegang terlepas dari genggamannya.


Lagi-lagi, Antonio memekik dan ambruk. Namun, Matteo tak menghentikan aksinya. Ia yang telah dikuasai amarah tak terbendung, terus menusukkan belati kecil itu berkali-kali ke punggung dan leher pamannya. Matteo terlihat sangat beringas saat itu. Ia benar-benar seperti sebuah mesin pembunuh yang tak memiliki hati nurani sama sekali. Raut wajahnya begitu menakutkan, dengan sorot mata setajam belati yang terus ia hujamkan kepada Antonio. Saat itu, ia seakan tidak peduli siapa yang tengah dihadapinya. Matteo terus menyerang sang paman hingga pria paruh baya tersebut benar-benar ambruk dan tak berdaya.


Sementara Mia hanya bisa terbelalak menyaksikan kejadian tersebut. Selama ini, ia belum pernah melihat adegan sesadis itu. Namun, kini pemandangan tersebut begitu jelas tersaji di depan matanya, dengan pelaku suaminya sendiri.


Perlahan wanita malang itu beringsut mundur. Wajahnya begitu pucat dan ia sangat ketakutan.


Kengerian yang ia saksikan tak berhenti sampai di situ. Matteo dengan terseok-seok meraih pistol dari atas tanah. Tanpa ampun lagi, ia menembakkan pistol tersebut tepat di belakang kepala Antonio hingga pria paruh baya itu tewas seketika.


"Ayah!" pekik Marco yang sedari tadi tak mampu berbuat apa-apa. Ia terlalu pengecut untuk menjadi seorang pria. Sementara Matteo masih berdiri dengan napas terengah-engah. Ia membalikkan badannya dengan perlahan dan menjatuhkan pistol tersebut.


Matteo mengusap bahunya yang terus mengucurkan darah akibat tembakan terakhir yang dimuntahkan oleh Antonio. Deru napasnya kian memburu dan kini menjadi tersengal-sengal. Namun, ia masih memaksakan dirinya untuk tetap berdiri dengan tegak. Matteo juga mulai maju dan menghampiri ke arah Mia, meskipun setiap langkahnya terlihat goyah. Ia seperti tengah berada di ujung kematian.


Mia saat itu hanya terpaku. Kedua bola matanya yang indah terbelalak sempurna. Wanita cantik itu terduduk di lantai, dan menatap kepada Matteo dengan rona tidak percaya. Ada rasa yang berkecamuk di dalam dirinya. Satu hal yang pasti, inilah pertama kalinya bagi Mia melihat sisi gelap dari seorang Matteo de Luca yang selama ini hanya menjadi sebuah cerita baginya. Pantaslah jika Mia merasa begitu terkejut. Matteo terlihat sangat mengerikan ketika ia sedang dikuasai amarahnya. Pria itu dapat menghabisi siapa saja dengan tanpa ampun dan sangat brutal.


Sesaat kemudian, pandangan Mia kemudian beralih pada kemeja putih yang dikenakan Matteo malam itu. Darah segera terus keluar dan mulai membasahi bagian depan kemeja tersebut, membuatnya berubah warna hanya dalam sekian detik saja. Darah itu terus keluar, termasuk dari luka yang berasal dari dekat leher Matteo.

__ADS_1


"Mia ...." suara Matteo terdengar serak dan begitu berat, di sela-sela napasnya yang kian terasa sulit. Pria itu merentangkan tangannya, mencoba untuk meraih sang istri yang masih terpaku dengan ekspresi tak percaya.


Perlahan, Mia merentangkan tangannya ke depan meskipun tampak gemetaran. Namun, sebelum Mia sempat menggapai tangan Matteo, tubuh pria itu telah terlebih dulu ambruk di atas lantai.


"Theo!" pekik Mia histeris. Tangisnya seketika pecah. Mia segera merangkak ke arah sang suami. Ia tak lagi peduli jika gaun mahalnya akan kembali berlumur darah. Segera diraihnya tubuh Matteo. Mia meletakkan kepala pria tersebut di atas pangkuannya. Disentuhnya wajah rupawan pria yang kini sudah mulai tak sadarkan diri.


Rasanya seperti saat pertemuan pertama mereka dulu ketika di dalam kedai. Saat pertama kali Matteo datang dan ambruk di hadapan Mia. Namun, kali ini tentu saja berbeda. Kecemasan dalam diri Mia jauh lebih besar. Air matanya pun tak kunjung berhenti menetes, sama derasnya dengan darah yang keluar dari tubuh Matteo.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," ujar Adriano yang menyaksikan kejadian itu. Ia memberanikan diri untuk mendekati Mia yang saat itu seakan tak mampu berkata apa-apa. 


Sementara itu, Marco yang masih tak mempercayai kematian ayahnya. Ia terduduk di sudut ruangan pondok dengan tatapan kosong.


Kebetulan, saat itu Maximus datang bersama Damiano, beserta belasan kendaraan SUV milik anak buah Matteo. Anjing hitam tersebut segera menghampiri sang tuan dan duduk di sebelah majikan kesayangannya. Ia menatap Matteo yang sudah tak sadarkan diri. Maximus pun menurunkan badannya ke lantai, dan mendekatkan kepalanya di sebelah tubuh Matteo.


"Astaga, Theo!" seru Damiano. Ia terkejut setengah mati saat mendapati kondisi Matteo yang sudah bermandikan darah segar.


Damiano mengangguk setuju. "Kita bawa Matteo ke Fiorentina. Di sana ada rumah sakit besar. Fasilitasnya juga sangat memadai," usul Coco yang juga ada di sana. Damiano kembali mengangguk setuju. Dengan segera, mereka membawa Matteo ke dalam mobil. Setelah itu, mereka segera menuju ke Kastil Corradeo. Di sana ada helikopter yang stand by selama dua puluh empat jam. Rencananya, Matteo akan dibawa ke rumah sakit di luar pulau.


Dalam perjalanan menuju Kastil Corradeo, Damiano menghubungi sang pilot helikopter agar bersiap-siap. Tak berselang lama, mereka tiba di bangunan megah itu. Segera mereka membawa Matteo ke landasan di mana terdapat dua buah helikopter yang selalu siaga.


"Mia!" panggil Francesca dan Daniella serempak saat mereka melihat kedatangan Mia di sana dengan gaunnya yang kembali ternoda oleh darah segar. Kedua kakak beradik itu segera memeluk Mia dan mencoba untuk menenangkannya. Sementara Camilla berdiri terpaku dan tampak menahan tangisnya.


"Tidak akan terjadi apa-apa terhadap suamimu, Mia. Kau harus tetap bersikap tenang. Bernapaslah dengan teratur dan jangan panik. Matteo akan baik-baik saja," ujar Francesca. Ia khawatir jika trauma yang dialami sang kakak akan kambuh lagi.


"Apa kau membawa obatmu, Mia?" tanya Daniella. Mia segera menggeleng sembari menangis sesenggukan. "Ya, sudah. Tidak apa-apa. Lihatlah, mereka sudah mengurus dan akan segera membawa Matteo. Suamimu pria yang kuat!" lanjut gadis itu. Ia terus memberikan semangat kepada Mia.


"Mia, Anakku! Sudah waktunya berangkat!" seru Damiano. Tanpa banyak bicara, Mia segera menghampiri pria paruh baya tersebut dan naik ke helikopter yang sudah siap untuk lepas landas. Mia dan Damiano berada dalam satu helikopter yang membawa Matteo dengan kapasitas empat penumpang. Sementara yang lainnya, diangkut dengan menggunakan helikoper charter yang dapat menampung hingga delapan orang.

__ADS_1


Selama di dalam perjalanan udara, Mia tak henti-hentinya mengelus wajah Matteo. Ia terus memastikan jika Matteo masih bernapas dengan normal. "Bertahanlah, Theo. Kau akan baik-baik saja," ucap Mia di sela-sela derai air matanya.


Dalam waktu kurang lebih sekitar lima belas menit, helikopter yang mereka tumpangi sudah tiba di kota Fiorentina. Sebelumnya, sang pilot telah meminta izin kepada menara pengawas untuk mendaratkan helikopter tersebut di atas atap rumah sakit yang menjadi tujuan mereka. Kebetulan, rumah sakit yang mereka tuju adalah rumah sakit paling besar dan mewah di kota itu.


Damiano juga sudah mengkonfirmasi pihak rumah sakit di sana. Sehingga ketika helikopter itu mendarat, beberapa petugas medis telah bersiap menunggu dan langsung membawa Matteo untuk ditindak lanjuti. Mereka segera membawa Matteo ke ruang tindakan.


Tak berselang lama, seorang dokter keluar dan menghampiri Mia dan Damiano. "Siapa perwakilan dari keluarga pasien?" tanya dokter itu.


"Saya istrinya," jawab Mia dengan segera.


"Kami harus melakukan tindakan operasi dengan segera. Ada satu luka tembak di dada dan satu luka lainnya yang menembus tulang selangka. Luka di bagian inilah yang harus segera dioperasi karena peluru itu mematahkan tulang selangka suami Anda," terang sang dokter.


"Tulang selangka adalah tulang yang berada di dekat leher. Di sana ada banyak pembuluh darah yang mengalir, sehingga jika tidak segera ditangani maka akibatnya akan sangat fatal," jelas dokter itu lagi membuat tubuh Mia lemas seketika. Namun, untungnya Damiano terus mendampingi di sisinya.


"Suami Anda kehilangan banyak darah dan itu sangat berbahaya. Detak jantungnya meningkat cepat. Jika hal itu dibiarkan, maka akan mengganggu organ lainnya dan bahkan dapat mengakibatkan kegagalan fungsi. Bukan maksud kami untuk menakut-nakuti, tapi kami hanya mempersiapkan Anda untuk kemungkinan kondisi yang terburuk,” tutur dokter itu.


“Apakah kemungkinan terburuk itu, Dokter?” tanya Damiano, mewakili Mia yang sudah tak memiliki kekuatan untuk berbicara.


“Pasien akan berada dalam kondisi koma,” jawab sang dokter hati-hati.


Cemas, tentu saja. Wajah-wajah yang ada di sana terlihat sangat tegang ketika mereka mendengar penjelasan dari dokter itu. Mia segera menyembunyikan wajahnya di dada Damiano. Tangisnya kembali pecah di sana.


"Tenanglah, Nak. Theo pria yang kuat. Ia pasti dapat bertahan," hibur Damiano seraya merengkuh pundak Mia. Sementara Coco hanya dapat menyandarkan tubuhnya. Ia sama terpukulnya dengan Mia.


🍒🍒🍒


Hai, reader. Jangan risau dan jangan gundah, karena ceuceu bawa rekomendasi novel keren lainnya. Jangan lupa untuk di cek ya😉

__ADS_1



__ADS_2