Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Decisione Finale


__ADS_3

Matteo menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya. Ia masih terlihat begitu memesona, meskipun janggut dan kumisnya sudah mulai menebal. “Silakan kembali ke tempat Anda, Tuan Monti,” Matteo mengisyaratkan agar pria tua itu segera kembali ke tempatnya dan bergabung Bersama rekan-rekan tetua yang lain. Pria itu berjalan tergopoh-gopoh dan dibantu oleh ajudannya menuju ke tempat semula dengan diiringi tatapan mata abu-abu Matteo.


Setelah memastikan pria tua tersebut sudah nyaman bersama para rekannya, Matteo kembali membuka suara dengan lantang dan tegas. “Ada satu hal lagi yang harus aku sampaikan kepada Anda semua,” ucap pria bermata abu-abu itu. Tatapannya kembali menyapu satu per satu wajah tua yang berada tak jauh dari dirinya.


“Saat ini aku masih menjabat sebagai ketua dari Klan de Luca hingga Marco dilantik. Selama itu, aku akan menyusun beberapa perubahan dalam organisasi. Selebihnya, biarkan sepupuku yang melanjutkan,” suara Matteo terdengar begitu gagah, menggema di dalam ruangan aula tersebut. Tak ada satu pun yang menyahut dari semua yang hadir di dalam pertemuan itu. Mereka mendengarkan dengan serius apa saja yang akan sang ketua tuturkan, tentang perubahan yang tadi ia sebutkan.


“Berhubung istriku saat ini sedang mengandung, jadi ia membutuhkan suasana yang tenang. Dengan itu, aku telah mengambil keputusan untuk memindahkan pusat organisasi kembali ke Palermo seperti dulu. Tidak akan ada kegiatan apapun yang berkaitan dengan organisasi di Casa de Luca,” ucap Matteo lagi membuat para tetua kembali bersuara. Saling pandang dengan pertanyaan yang membuat suasana di dalam aula menjadi kembali berisik.


“Tolong tenanglah! Aku sudah memutuskannya, dan kuharap tidak ada yang memprotes hal tersebut. Aku ingin Casa de Luca, hanya menjadi rumah bagi kami dan juga Du Fontaine,” terang Matteo lantang.

__ADS_1


Grigori Monti kembali mengacungkan tangannya. Sebagai perwakilan dari para tetua, pria itu lagi-lagi maju untuk bertanya. “Apakah Anda sudah mempertimbangkan hal itu matang-matang, Tuan de Luca? Jika Anda memindahkan pusat organisasi ke Palermo, lalu bagaimana dengan kami yang sudah renta ini? Kami harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengikuti sebuah pertemuan. Itu hanya akan membuang-buang waktu,” pria itu melayangkan protesnya. “Lagi pula, dulu mendiang tuan Roberto de Luca sengaja memindahkan pusat organisasi ke Brescia agar lebih mudah untuk memantau segala sesuatunya. Sekarang Anda bermaksud untuk mengembalikannya lagi ke Palermo?” lanjutnya. "Apakah itu tidak dirasa hanya akan membuang-buang energi saja?"


Sedangkan Matteo lagi-lagi hanya menyunggingkan senyuman simpul di bibirnya saat menanggapi protes yang dilayangkan oleh pria tua tadi. Sesuatu yang luar biasa, karena dalam pertemuan saat itu, Matteo terlihat benar-benar tenang, tidak teruru-buru atau tersulut emosi sama sekali. Statusnya yang akan menjadi seorang ayah, telah mengubah pria dengan karakter cukup temperamental itu menjadi sosok yang jauh lebih dewasa dan bijaksana. “Astaga, Tuan Monti,” Matteo menggelengkan kepalanya seraya berdecak tak percaya. “Itulah mengapa aku harus selalu mengadakan perombakan pada tubuh organisasi,” lanjutnya. Matteo kembali tersenyum kecil.


“Begini, Tuan Monti. Perkembangan zaman kian pesat. Ada banyak hal yang telah berubah, dan kita semua pasti tahu serta dapat memahami hal itu dengan pasti. Aku yakin Anda juga sebagai seseorang yang masih hidup di zaman ini, dapat merasakan perubahan tersebut. Ya, meskipun aku sadar ada satu dua pemikir yang sulit untuk menerima perubahan zaman dan masih mempertahankan tradisi yang sebenarnya jika ditinggalkan pun tak akan menjadi masalah, selama masih berada dalam garis norma yang berlaku. Mengikuti perubahan zaman tak berarti bahwa kita telah keluar dari garis peraturan dan adab-adab warisan nenek moyang. Kita harus selalu beradaptasi, Tuan Monti. Dengan begitu Anda dapat bertahan,” tutur Matteo panjang lebar.


"Mengapa Anda begitu merisaukan hal sekecil itu? Jangankan hanya Brescia-Palermo, Anda bahkan bisa berbicara pada cucu-cucu Anda yang berada di Argentina, tanpa bertemu langsung dengan mereka. Bukankah begitu, Tuam Monti?" Matteo mengempakan napas pelan.


“Aku harap, apa yang kujelaskan tadi bisa dipahami dan tidak menjadikan sebuah kegaduhan yang terlalu berarti, karena aku Matteo de Luca telah mengambil keputusan. Aku menghormati pendapat dari Anda semua sebagai tetua, tapi tetap dirikulah yang menjadi penentunya!” tegas Matteo.

__ADS_1


“Selain itu, sepupuku Marco sudah melangsungkan pernikahannya kemarin. Kebetulan istrinya merupakan saudari dari istriku. Sebagai calon ketua yang baru, maka kupersilakan kepada Marco untuk membawa dan memperkenalkan pendampingnya ke hadapan Anda semua,” Matteo menoleh dan memberi isyarat kepada sepupunya tersebut.


Marco segera mengangguk tanda mengerti. Tanpa berlama-lama, ia memberi kode kepada seorang penjaga di dekat pintu untuk membukanya dan mempersilakan Daniella agar masuk ke aula pertemuan tersebut.


Dengan langkah penuh percaya diri, wanita berambut pirang itu berjalan ke arah sang suami berada. Setelah itu, ia lalu berdiri anggun dan tak terlihat gugup sama sekali. Daniella menunjukan bahwa dirinya layak untuk menjadi istri dari calon ketua Klan de Luca yang baru.


Matteo mempersilakan Marco untuk memperkenalkan wanita yang baru dinikahinya tersebut. Pria yang belum terbiasa dengan prosesi seperti itu, awalnya merasakan sebuah kecanggungan yang luar biasa. Namun, dengan segera Daniella menggenggam erat jemari Marco dan membuatnya merasa jauh lebih tenang. Marco kemudian mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya perlahan. Siap tak siap, ia harus menghadapi takdirnya untuk beberapa waktu ke depan, hingga ada seseorang berdarah de Luca yang dirasa pantas untuk menggantikannya.


“Baiklah, ini adalah pertama kalinya bagiku harus berbicara di forum seperti ini. Jika di antara Anda semua masih banyak yang meragukan seperti apa kinerjaku, maka akan kujawab keraguan itu dengan sebuah pembuktian. Aku akan mempersembahkannya secara khusus untuk Matteo yang tak lama lagi akan menjadi seorang ayah. Kupastikan organisasi de Luca akan jauh lebih berkembang dalam pemerintahanku. Namun, sebelum aku melaksanakan semua itu, izinkan aku memperkenalkan wanita cantik ini,” pandangan Marco beralih kepada Daniella yang saat itu tampak begitu tenang dan tak terlihat gugup sedikitpun. Wanita bermata hazel tersebut tampil begitu cantik dengan dress dan tatanan rambut yang telah disesuaikan, membuat mata para tetua tak lepas dari dirinya.

__ADS_1


“Saudara-saudara sekalian, perkenalkan istriku Daniella Riccarda de Luca,” Marco memandang wanita cantik di sebelahnya. Sementara Daniella tersenyum penuh percaya diri kepada para tetua yang tengah memperhatikan dan membuat wanita berambut pirang tersebut menjadi pusat perhatian sepenuhnya. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya tak diragukan lagi. Karakter yang kuat dan tegas juga dirasa cocok untuk menjadi pendamping Marco. Daniella akan menjadi partner yang sempurna bagi pria itu dalam menjalani segala tugas-tugasnya nanti.


__ADS_2