Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Disappear


__ADS_3

Matteo mulai khawatir ketika sepuluh menit telah berlalu, sedangkan Mia masih juga belum kembali. Ekspresi datarnya sama sekali tak terlihat saat itu. Ia tampak begitu cemas dan juga tampak sangat gelisah. Matteo merasa seperti ada sesuatu yang aneh dan mengganjal di hatinya. Perubahan sikap Matteo itu dapat ditangkap dengan jelas oleh Coco dan Francesca yang berdiri tak jauh darinya.


"Apa ada masalah, Amico?" tanya Coco seraya berjalan mendekat, demikian pula dengan Francesca.


"Mia marah padaku. Ia tadi pamit ke toilet, tapi sampai sekarang masih belum kembali juga," keluh Matteo.


"Itu semua salahmu! Aku juga pasti akan marah jika menjadi Mia!" sahut Francesca ketus. Matteo sempat melirik kepadanya, tetapi ia tidak ingin berdebat dengan seorang wanita.


"Rasanya lebih baik ditodong puluhan senjata daripada harus dihadapkan dengan dua wanita," bisik Matteo yang seketika membuat Coco kembali menahan tawanya.


"Itulah lika-liku cinta, Amico," sahut Coco dengan entengnya.


Sesaat kemudian, Matteo berpindah kepada Damiano. “Temani tamu-tamu kita, Damiano. Aku akan menjemput istriku,” ujarnya. Rasa khawatir jika Mia yang melarikan diri darinya lagi, begitu menumpulkan logika Matteo.


“Kau bisa menyuruh seseorang untuk memeriksanya, Amico. Kau harus tetap di sini untuk menghormati para tamu,” cegah Coco.


"Aku yakin Mia tidak akan pergi dari tempat ini, Theo. Ia tidak mungkin meninggalkan aku dan Dani begitu saja, sebesar apapun kemarahannya padamu," sela Francesca dengan nada lebih tenang dibanding sebelumnya.


“Coco benar, Nak. Kau bisa menyuruh Zucca,” timpal Damiano kemudian.


Pada akhirnya, Matteo pun menurut. Ia segera memberi tanda kepada Zucca agar menjemput Mia. Sambil terus mondar-mandir, Matteo berusaha mengisi waktu, menunggu kabar dari Zucca yang tak kunjung menghubunginya setelah hampir lima belas menit berlalu.


Ketika ponselnya berdering, Matteo segera mengangkatnya. “Bagaimana, Zucca? Kenapa lama sekali?” cecarnya.


“Maaf, Tuan. Aku dan beberapa orang lainnya tidak bisa menemukan keberadaan Nyonya di mana pun,” jawab Zucca dari seberang sana.


“Sial!” umpat Matteo dengan nada tertahan. Ia mulai memukul-mukul dahinya dan menyugar rambutnya dengan kasar. Matteo tak peduli jika rambutnya kini menjadi sedikit acak-acakan.


“Tutup seluruh akses menuju wilayah Corradeo! Pastikan tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari sini!” titahnya dengan tegas. “Alihkan perhatian para tamu, Damiano. Buat mereka senang, apapun caranya,” ujar Matteo sebelum berlalu meninggalkan aula.


Damiano mengangguk paham dan berlalu dari hadapannya.


"Kau dan aku, kita akan mencari Mia di sekitar kastil. Aku yakin ia pasti belum jauh dari sini," ajak Matteo pada Coco.


"Aku ikut!" seru Francesca yang sontak menarik perhatian Daniella yang tengah mengobrol bersama Marco. Gadis itu segera beranjak dari sisi Marco dan menghampiri Francesca. “Ada apa ini?” tanyanya.


“Kalian berdua tetap di sini! Aku tidak ingin ada seorang pun yang menghambat gerakku!” tegas Matteo dengan raut tegang dan menakutkan, membuat dua kakak beradik itu seketika membeku dan hanya bisa menatap punggung Coco serta Matteo yang menjauh.


Dalam diam, Marco juga mengamati semua yang terjadi di depannya. Seperti tak ingin gerakannya diketahui siapapun, Marco berjalan mendekati Daniella dan menyentuh pundaknya lembut.

__ADS_1


“Apakah sudah terjadi?” tanyanya lirih. Sorot matanya terkesan aneh dan seakan menyimpan sesuatu.


Spontan, Francesca dan Daniella menoleh kepada Marco “Apa maksudmu?” Daniella malah balik bertanya. Sementara Francesca mengernyitkan keningnya seraya berkacak pinggang.


“Adikmu, Mia. Apa ia sudah menghilang?” suara Marco terdengar semakin lirih.


Seketika bulu kuduk Daniella meremang. “Apa kau ada hubungannya dengan semua ini?” desisnya.


“Antara ya dan juga tidak,” jawab Marco dengan mimik aneh dan semakin membuat Daniella emosi.


“Katakan, Bodoh! Jika tidak, maka ujung hak sepatuku ini akan mendarat di kepalamu!” ancam Francesca seraya melepas sepatu dan bersiap melemparkannya ke wajah Marco.


“Hei, hei! Wanita cantik tak seharusnya bertindak bar-bar seperti itu.”


Tiba-tiba saja seseorang berucap sambil memegang pergelangan tangan Francesca.


Gadis itu tertegun sejenak saat melihat sosok seorang pria yang berdiri di dekatnya dan berusaha mencegah tindakan bodohnya.


“Jangan ikut campur, Tuan!” hardik Daniella.


“Ada apa ini? Kenapa pestanya menjadi ricuh begini? Kau anggota klan de Luca juga, bukan? Katakan ada apa?” tanpa menghiraukan Daniella, pria itu mengajukan pertanyaan kepada Marco.


“Saudari kami menghilang! Itu pasti ada sangkut pautnya dengan si bodoh ini!” tunjuk Francesca.


“Siapa saudari kalian?” tanya pria yang tak lain adalah Adriano D'Angelo.


“Tentu saja, Mia. Istri dari Matteo de Luca yang baru saja dipermalukan oleh mantan pacar suaminya!” sahut Daniella ketus.


“Mia?” ulang Adriano dengan mata terbelalak. Seketika ia kini beralih mencengkeram kerah jas Marco. “Katakan apa yang terjadi? Bagaimana bisa seorang pemilik pesta menghilang tiba-tiba? Kau sedang mempertaruhkan nama besar klan de Luca, Bodoh!” umpatnya.


Tangan Marco tampak bergetar. Ditatapnya wajah pria yang memiliki postur mirip Matteo itu. Ada setitik asa yang Marco tumpukan pada pria yang kini tengah melotot tajam padanya. “Kau Tuan Muda D’Angelo, bukan?” tanya Marco hati-hati.


“Ya, itu aku!” jawab Adriano tegas.


“Kalau begitu, aku akan sangat membutuhkan bantuan dan kekuatanmu saat ini. Kita harus bergerak sebelum semuanya terlambat!” ujar Marco sembari menarik lengan Adriano dan mengajaknya keluar dari aula pesta.


Sementara itu, Mia melangkah terseok-seok mengikuti Antonio yang berjalan dengan sangat cepat. Meskipun sudah berumur, tapi stamina yang dimiliki Antonio ternyata masih terbilang kuat. Mia saat itu berjalan dengan bertelanjang kaki, karena sepatunya terlepas entah di mana. Antonio membawanya terus menjauh dari kastil tanpa berhenti sama sekali, dari semenjak Antonio memaksanya meninggalkan Kastil Corradeo secara diam-diam.


Sedari tadi Mia sudah menelusuri jalan beraspal dan harus memutar berkali-kali saat jalan di depannya diblokade oleh beberapa kendaraan SUV berwarna hitam.

__ADS_1


“Sialan! Matteo juga sudah menutup seluruh akses darat!” geram Antonio dengan tangan terkepal. “Aku harus mengambil rute ke mana lagi? Semua arah jalan sudah kulalui!” pria itu mengomel pada dirinya sendiri.


Awalnya, Antonio bermaksud membawa Mia keluar pulau melalui jalur laut dengan menaiki speed boat. Namun, di sana terlalu banyak anak buah Matteo yang berjaga dengan ketat. Antonio tak mau mengambil risiko. Ia pun terpaksa harus melewati jalan raya.


Sementara Mia sejak tadi membisu melihat gerak-gerik pria paruh baya itu. Perhatiannya hanya tertuju pada pistol kecil yang masih menempel di pinggangnya. “Kenapa kau lakukan ini padaku, Paman? Apa aku memiliki kesalahan padamu?” tanya Mia resah. Nada suaranya terdengar bergetar. "Semua yang kau lakukan ini, akan memancing kemarahan suamiku. Apa kau sudah mempertimbangkan hal itu, Paman?" cecar Mia.


“Kesalahanmu hanya satu, menikah dengan Matteo!” jawab Antonio dingin sembari menyeret Mia keluar dari jalan raya dan menembus semak-semak. Ia terus berjalan melintasi tanah berdebu di pekatnya malam. "Seharusnya kau tidak pernah masuk dalam kehidupan keponakanku!" lanjut Antonio lagi.


“Aku mau dibawa ke mana?” Mia semakin ketakutan. Jalan raya semakin jauh di belakangnya, sedangkan disekitarnya kini hanya ada pepohonan kecil yang meranggas.


“Diam!” bentak Antonio. “Kau sama merepotkannya dengan Matteo!” sungutnya.


“Seandainya Matteo tidak memutuskan untuk menikah, pasti aku tidak akan serepot ini!” gerutu Antonio lagi.


“Aku sama sekali tidak mengerti,” Mia mulai terisak. “Theo adalah keponakanmu. Ia putra dari adikmu. Kenapa kau bisa begitu kejam?” ujarnya.


Seketika, Antonio menghentikan langkahnya dan berbalik kepada Mia. Baju wanita itu sudah compang-camping di bagian bawah. Entah sudah berapa kali gaunnya tersangkut ranting dan semak yang mereka lewati.


Antonio kemudian mendekatkan wajahnya kepada Mia dan menatap wanita muda itu lekat-lekat.


Di tengah kegelapan malam, Mia masih bisa menangkap sorot kejam khas seorang pembunuh dari mata tua itu. “A-apa kau akan menghabisiku?” resahnya.


Antonio menyeringai sambil menunjuk langit. “Istriku yang sangat kucintai, sedang melihat kita dari atas sana. Ia begitu berambisi agar Marco dapat memegang tahta klan de Luca. Itu cita-citanya sebelum meninggal,” jawab Antonio dengan mimik wajah yang berubah-ubah.


“Aku hanya ingin mengabulkan wasiat darinya. Selama ini, aku tak pernah gagal membahagiakan istriku. Seharusnya, aku juga tak boleh gagal sekarang,” Antonio kembali menyeringai.


“Ta-tapi, kenapa?” tangis Mia semakin kencang.


“Kau masih bertanya kenapa? Itu karena aku kakak tertua Roberto yang sama sekali tidak mendapatkan keadilan! Dari awal, ayahku tak pernah mempercayakan segala sesuatunya padaku. Ia malah menyerahkan seluruh kekuasaannya pada Roberto, dan sekarang Matteo dengan seenaknya mengangkat dirinya sebagai ketua klan!” bentak Antonio.


“Matteo tidak boleh menikah! Ia tidak boleh memiliki anak, karena itu aku harus menghapus garis keturunannya! Cukuplah berhenti di dirinya. Aku tidak berharap ada penerus dari keponakanku!” tegas pria paruh baya itu berapi-api.


"Lalu, jika aku mati saat ini ... apa jaminannya Theo tidak akan memiliki keturunan? Ia bisa memilih wanita manapun yang diinginkannya. Theo punya segalanya. Wanita mana yang akan berani menolak ...." Mia kembali teringat pada kejadian di pesta tadi. Sedangkan Antonio hanya tergelak mendengarnya.


"Dengar, Mia. Meskipun Matteo lebih memilih Damiano untuk menjadi teman bicaranya, tapi aku tahu semua hal tentang keponakanku. Aku tahu betapa kacaunya Matteo saat kau menghilang tiga tahun yang lalu, meskipun ia melampiaskannya kepada Camilla yang malang. Namun, nyatanya Matteo menganggapmu berbeda," terang Antonio dengan wajah dan nada bicaranya yang terdengar aneh.


"Aku seorang pria. Aku sangat mencintai istriku. Ia yang paling istimewa dan aku akan melakukan apapun demi menyenangkan hatinya, termasuk menghabisi keluargaku sendiri. Lalu, kau Mia ... kau bukan siapa-siapa! Kau hanya istri Matteo. Karena itu, tidak akan menjadi sebuah beban yang terlalu berarti bagiku, untuk menghilangkan satu nyawa lagi," ujar Antonio seraya menyentuh wajah cantik Mia dengan ujung pistolnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2