
Francesca memilih untuk keluar dan berdiri di depan rumah sakit. Ia ingin menghirup udara bebas, karena di dalam sana terasa begitu menyesakkan baginya. Francesca termenung sambil memerhatikan mobil yang lewat sesekali. Di kota Venice, orang-orang lebih senang berjalan kaki atau memakai alat transportasi air seperti gondola.
Francesca berdiri sendirian. Tatapannya tampak kosong. Ia membiarkan rambut panjangnya meriap-riap dimainkan angin sore itu. Gadis belia tersebut tidak menyadari jika Coco masih berada di sana dan memerhatikannya. Pria bermata coklat itu duduk tenang di atas motor-nya.
Coco yang merasa penasaran, segera turun dari motornya dan segera menghampiri Francesca. Ia berdiri di sebelah gadis itu. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Francesca tidak menjawab. Gadis itu terisak dan dan segera menghambur ke dalam pelukan Coco, membuat pria dua puluh enam tahun tersebut sedikit kebingungan. Coco belum pernah berurusan dengan seorang gadis remaja. Ia menyukai wanita dewasa yang sebaya dengan dirinya. Namun, jika sudah seperti itu, mau bagaimana lagi? Coco merengkuh pundak Francesca. Ia anggap jika dirinya tengah menenangkan adiknya sendiri.
"Ibuku sakit parah. Tim dokter memindahkannya ke ruang ICU, dan kami semua tidak diperbolehkan untuk menjenguknya sama sekali," isak Francesca.
Mendengar hal itu, tanpa disadari tangan Coco bergerak sendiri. Ia mengelus lembut rambut Francesca. "Mereka tahu apa yang terbaik untuk ibumu. Semua tindakan yang diambil pasti sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kita lihat saja perkembangannya nanti. Semoga itu membuat kondisi ibumu menjadi semakin membaik," sahut Coco. Lembut dan terdengar begitu menenangkan. Coco memang sangat pintar memerlakukan seorang wanita.
"Iya, tapi aku tidak tega melihat ibuku terbaring dengan banyak sekali alat medis di tubuhnya. Ayahku juga tampak sangat terpukul. Ia pernah kehilangan istrinya dulu sewaktu Mia masih sangat kecil, dan sekarang ia merasa begitu takut," isak Francesca lagi. Ia masih menangis di dalam dekapan Coco.
"Jangan berpikir seperti itu. Berharaplah untuk segala sesuatu yang terbaik. Ingat, apa yang kita pikirkan akan sangat berpengaruh pada hidup kita. Oleh karena itu, selalu biasakan untuk berpikir positif dan juga tenang. Karena jika melakukan sesuatu dengan tenang dan penuh perhitungan, kemungkinan untuk gagal atau kecewa akan semakin sedikit," ujar Coco. Ia terus mencoba menenangkan kegelisahan dalam hati gadis itu.
Coco tidak menyadari jika semua yang ia lakukan dan ia katakan, telah membuat Francesca menjadi semakin tertarik kepadanya. Ya, meskipun Francesca sadar jika Coco terlalu dewasa bagi gadis remaja seperti dirinya. Namun, dalam hal cinta dan perasaan, rasanya itu bukan sesuatu yang tidak mungkin dan sah-sah saja.
Sementara itu, mereka yang masih berada di dalam rumah sakit hanya saling terdiam. Mr. Gio terduduk lesu. Di sampingnya Mia menemani dengan setia. Gadis itu terus menggenggam tangan sang ayah. Ia ingin memberikan kekuatan lebih kepada pria paruh baya itu, dan meyakinkannya bahwa pria itu tidaklah sendiri.
"Kalian pulanglah," ucap Mr. Gio pelan. Suaranya terdengar begitu lesu, "biar Ayah yang menjaga ibu kalian di sini," lanjutnya.
__ADS_1
"Aku juga harus bekerja besok pagi," keluh Daniella.
"Apa Ayah butuh sesuatu?" tawar Mia.
Mr. Gio menggeleng dengan lesu. Ia terlihat tidak bersemangat sama sekali. "Kau pulang dan istirahat saja, Nak. Lagi pula, kau sedang memersiapkan kelulusanmu. Kau harus menjaga kesehatan dengan baik. Kau juga pasti harus memersiapkan pernikahanmu dengan Vale. Dua bulan bukan waktu yang sebentar. Sudahlah, jangan cemaskan Ayah!" ucap Mr. Gio dengan wajah yang masih tertunduk lesu. Semua sikap tegas yang selalu ia tunjukan selama ini, sirna seketika saat ia melihat wanita yang dicintainya terbaring tak berdaya, dan tengah berjuang melawan maut.
Itulah kekuatan cinta yang mampu memutar balikan kehidupan dan karakter seseorang dengan begitu mudah. Sama halnya dengan apa yang terjadi pada diri Matteo de Luca yang kembali duduk di titik favoritnya, menghadap jendela sembari memandang bangunan rumah di seberang. Kamar Mia masih terlihat gelap, pintu menuju balkon juga tertutup rapat. Tak hanya itu, seluruh lampu di bangunan rumah Mia padam, tak ada satu pun yang menyala. Rumah di depannya seakan tak berpenghuni. Matteo melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
Ada sedikit perasaan was-was yang muncul di sudut hati Matteo. ‘Apakah terjadi sesuatu pada keluarga gadis itu?’, tanyanya dalam hati. Matteo sudah hendak meraih ponselnya dari dalam saku, ketika terdengar deru suara kendaraan berhenti di depan rumah Mia. Ia lalu melongok ke luar jendela dan melihat Mia keluar dari vw kodok berwarna merah. Jelas terlihat raut kesedihan dari wajah gadis itu. Mia tampak begitu rapuh. Dilihatnya pula Valentino yang memeluknya berkali-kali.
“Apa yang terjadi?” gumam Matteo. Ingin rasanya ia menghambur ke bawah sana dan ikut menenangkan Mia. Sesaat kemudian ia terkekeh pelan. Matteo menertawakan dirinya sendiri, karena selalu berubah menjadi pria lemah ketika berada di dekat Mia. “Aku tak peduli lagi,” ujarnya seraya berdiri dan bermaksud hendak meninggalkan sisi jendela itu. Namun, gerakannya terhenti ketika matanya menangkap dua bayangan hitam yg duduk tenang di atas motor, jauh di sudut blok beberapa puluh meter dari tempat Mia berdiri.
Matteo kembali duduk di kursinya. Saat itu Valentino sudah melajukan kendaraan, meninggalkan Mia yang termenung sambil melambaikan tangan ke arah Valentino. Dengan wajah lusuh. Mia membalikkan badan dan memasuki rumahnya. Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan, hingga ke lantai dua. Kamar Mia terlihat terang. Tampak gadis itu membuka tirai pintu balkon. Terdiam sebentar di sana, lalu menghilang di balik dinding kamar. Sementara, dua sosok mencurigakan itu masih tetap berdiri di tempatnya.
Tak ingin membuang waktu, Matteo bergegas turun. Dengan penuh kehati-hatian, ia berjalan mendekati orang-orang misterius itu. Sebisa mungkin Matteo berusaha agar gerak-geriknya tidak menarik perhatian orang-orang itu.
Sigap, Matteo menarik pria yang posisinya paling dekat dengan dirinya. Pria itu terjatuh di depan kaki Matteo, sementara rekannya sudah melarikan diri entah ke mana. Tak ingin menimbulkan kegaduhan, Matteo memukul dan membekap pria itu, lalu memitingnya. Ia kemudian menyeret pria asing yang tak berdaya tersebut memasuki gang-gang sempit yang berujung di sebuah gedung tua yang tak terpakai dan terletak tepat di tepi kanal besar. Di seberang kanal, terdapat dermaga dengan ratusan kapal yang bersandar.
Matteo melemparkan pria itu begitu saja ke atas tanah hingga jatuh tersungkur. Didekatinya pria yang masih tertelungkup itu. Matteo menarik baju bagian belakang pria tersebut hingga tubuhnya terangkat. Tak hanya itu, Matteo juga menginjak betis pria asing itu sehingga si pria mengaduh dan membalikkan badan.
Matteo tak pernah melihat wajah itu sebelumnya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya tersentak. Pria itu memiliki tato klan de Luca di pergelangan tangan kirinya. “Siapa kau? Dari mana kau mendapatkan tato ini?” Matteo menarik kerah kaus pria itu dan mendekatkan wajahnya, agar ia bisa melihat dengan detil rupa dari pria tersebut.
“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Tuan,” seringai pria itu. Ia seakan tidak takut sama sekali kepada Matteo.
__ADS_1
“Aku tanya sekali lagi! Dari mana kau mendapatkan tato ini?” ulang Matteo dengan nada tinggi. Akan tetapi, pria itu tetap pada pendiriannya meskipun pukulan Matteo sudah bersarang berkali-kali di wajah dan perutnya. Pria itu bergeming, ia tak jua mau membuka mulutnya.
“Berani juga kau rupanya, ya,” satu tangan Matteo mencengkeram kerah pria asing itu, sedangkan tangan lainnya terkepal dan bersiap ia daratkan di hidung mancungnya. Namun, entah bagaimana caranya, tiba-tiba satu tangan pria itu sudah memegang pistol berukuran kecil yang dilengkapi dengan peredam suara di ujungnya. Matteo terbelalak dan sudah bersiap menghadapi yang terburuk. Ujung pistol itu lalu bergerak. Akan tetapi, bukanlah ke arahnya melainkan ke arah pelipis pria itu sendiri.
“Hei, apa yang kau lakukan?” sergah Matteo. Pria itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis sambil menggumamkan sesuatu.
“Letakkan senjata itu!” desis Matteo tegas.
Pria itu menanggapinya dengan gelengan kepala pelan. “Saya sudah bersumpah setia kepadanya, Tuan,” ucap pria itu sebelum menembak kepalanya sendiri. Kejadian itu berlangsung sedemikian cepat. Matteo begitu terkejut hingga tubuhnya membeku. Cipratan darah segar mengenai wajah rupawannya. Setetes darah berbau anyir juga berhasil melewati sela-sela bibir, yang segera Matteo seka dengan ujung ibu jarinya.
Matteo terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia berhasil menguasai emosinya kembali. Matteo meninggalkan mayat itu, sementara ia menyusuri gedung tua dan sekitarnya, mencari besi dan semacamnya agar bisa ia gunakan sebagai pemberat.
Setelah beberapa saat mencari, ia menemukan sebuah jangkar besar yang terbuat dari besi yang telah berkarat. Benda itu tergeletak begitu saja di sudut gudang. Matteo juga menemukan rantai besi yang bisa ia manfaatkan. Ia kemudian mengangkat jangkar besar beserta rantainya, lalu membawa dan menaruhnya di dekat tubuh pria asing yang sudah tak bernyawa tersebut.
Dengan sangat hati-hati, Matteo mengikat rantai besi beserta jangkar di betis mayat itu. Ia kemudian menyeret jasadnya hingga ke tepian kanal. Setelah itu, Matteo melemparkannya ke dalam air. Gelembung-gelembung tercipta di permukaan air, hingga akhirnya sosok mayat tanpa nama itu menghilang tertarik besi ke dasar kanal.
Tak lupa, Matteo juga membasuh muka dan tangannya yang penuh dengan noda darah. Ia juga menghilangkan genangan darah di atas tanah, dengan menggunakan pasir yang didapatkannya dari sekitar tempat itu. Ketika dirasa semuanya sudah bersih dan tak meninggalkan jejak sedikitpun, Matteo berbalik arah. Ia berniat untuk kembali ke tempat Coco. Matteo sudah tak sabar untuk menceritakan penemuannya kepada pria itu.
Jangan lupa, kunjungi juga novel keren di bawah ini, karya salah satu sahabat ceuceu othor. Dijamin pasti ga akan nyesel.
__ADS_1