Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Convincerti


__ADS_3

Mia terus memeluk Francesca dengan erat. Ia begitu terharu dengan semua penuturan dari sang adik. Sementara Daniella melipat kedua tangannya di dada. Gadis itu kemudian duduk di sofa yang tidak berada jauh dari kedua saudarinya. Daniella tampaknya merasa bingung harus berkata apa. Satu hal yang pasti, ia menyimpan kemarahan terhadap kekasih adiknya yang menyebalkan itu. “Theo, tidak bisakah kau melakukan sesuatu?” tanyanya dengan tiba-tiba. Suara gadis berambut pirang tersebut sangat nyaring dalam suasana hening ruangan itu.


 


Matteo mengalihkan tatapannya kepada Daniella yang seakan memberinya sebuah tantangan. Jiwa petarung seorang Matteo tentu saja langsung tergugah dengan pertanyaan yang diberikan oleh saudari iparnya tersebut. Namun, belum sempat ia menjawab pertanyaan itu, Mia telah terlebih dahulu menyela dengan tegas. “Tidak! Aku tidak akan membiarkan suamiku untuk turun tangan secara langsung!” ada nada kekhawatiran dalam nada tegas yang ditunjukan Mia saat itu.


 


Matteo mengalihkan pandangannya kepada sang istri. Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. “Apa kau mengkhawatirkanku, Sayang?” godanya dengan raut wajah yang terlihat aneh.


 


“Kau suamiku, tentu saja aku mengkhawatirkanmu,” sahut Mia dengan setengah jengkel. Ia tahu jika Matteo mungkin masih membawa rasa kesalnya dari club milik Adriano. “Kaum pria memang aneh,” gumam Mia kesal.


 


“Permisi?” Matteo mendekatkan telinganya kepada Mia. Sementara Mia hanya mendelik kepada sang suami. Lain halnya dengan Daniella yang langsung mengernyitkan keningnya karena melihat drama suami-istri yang tersaji di depannya.


 


“Hei, ada apa dengan kalian? Di mana keharmonisan yang selalu kalian tunjukkan, yang bahkan bisa mengubah langit mendung menjadi cerah kembali. Aku heran, kalian ....”


 


“Ini semua gara-gara pakaian kurang bahan yang kau pinjamkan kepada Mia,” sela Matteo dengan sinis.


 


“Theo, hentikan!” protes Mia. “Bukan saatnya untuk membahas masalah itu! Masalah yang sedang dihadapi Francy jauh lebih penting daripada kecemburuanmu yang tidak beralasan!” sergah Mia dengan tegas.


 


Seketika Daniella ternganga mendengar ucapan Mia. Ia langsung mengarahkan perhatiannya kepada wanita muda itu. “Wow, Mia! Apa kau menjadi pusat perhatian di sana?” seru Daniella dengan antusias. “Itu berita bagus. Aku selalu ingin seperti itu,” keluh Daniella pada akhirnya. Ia pun mengempaskan napas penuh sesal.


 


“Intinya, aku tidak akan pernah membiarkan Matteo untuk turun tangan secara langsung. Lukanya belum benar-benar pulih. Aku tidak ingin jika suamiku harus mengulang kembali semua pengobatan dan terapi yang sudah dijalaninya,” tegas Mia, membuat Matteo hanya menggaruk keningnya. Ia tidak ingin bermasalah dengan Mia. Perdebatannya karena Adriano pun, telah membuatnya merasa tersiksa karena amarah yang tak dapat ia lampiaskan sepenuhnya.


 

__ADS_1


“Aku yang akan turun tangan,” ucap Coco yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar, membuat Fransesca yang sejak tadi tertunduk sambil terisak segera mengangkat wajahnya.


 


Ditatapnya paras rupawan Coco yang kini dihiasi luka lebam di beberapa tempat. Francesca pun segera menyeka air matanya. Gadis itu berdiri dan menghambur ke dalam pelukan Coco yang segera membalasnya dengan hangat. Francesca kembali menangis di dalam pelukan pria yang sangat ia cintai. “Aku senang kau tidak apa-apa,” ucap gadis bermata hazel tersebut seraya menangkup rahang tegas Coco.


 


“Aku pernah menghadapi lima orang sekaligus. Apa kau sudah lupa dengan hal itu?” balas Coco. Dengan sangat lembut, ia menghapus air mata dari wajah gadis pujaannya. “Mengapa kau tidak pernah bicara apapun padaku? Jika memang itu yang menjadi masalahmu, maka aku tak akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirimu,” sesal Coco dengan tatapan penuh cinta kepada Francesca.


 


“Aku takut, Ricci,” Francesca kembali terisak.


 


“Apa yang kau takutkan? Sudah kukatakan jika aku pasti akan membantumu sebisaku. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Apa kau tidak percaya padaku?”


 


“Tidak, tentu saja bukan karena itu,” sanggah Francesca seraya menggeleng pelan.


 


 


Francesca terdiam untuk sejenak. “Jika aku berani melawannya, maka bisa dipastikan karierku akan hancur. Demikian pula dengan mimpiku, Ricci. Aku ... aku tidak bisa,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Coco mendengus kesal dan mengurai pelukannya. “Kau masih memikirkan hal itu, Francy? Aku sama sekali tidak mengerti,” gerutunya. “Apakah mimpimu itu bisa membuatmu tersenyum lepas? Apakah mimpimu itu bisa membahagiakanmu, memberimu kebahagiaan yang sebenarnya? Karena jika tidak, naka kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri demi sesuatu yang tak sepadan!” tutur Coco lagi dengan cukup tegas.


“Kata-katamu telah menyakitiku, Ricci. Secara tak langsung, kau sudah merendahkan cita-citaku,” gumam Francesca. Rautnya terlihat begitu kecewa.


“Bukan begitu maksudku, Francy. Aku ingin kau menggapai semuanya dengan usahamu sendiri. Kau tak perlu Filippo atau siapa pun untuk menjadi terkenal. Dengan semua talenta yang kau miliki, kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan,” lanjut Coco seraya membelai lembut pipi Francesca. Akan tetapi, gadis itu tak menjawab. Ia menunduk sejenak, lalu memilih untuk kembali duduk di sebelah Mia yang sedari tadi mengamati percakapan mereka berdua.


Francesca menyilangkan tangannya, lalu mengusap lengannya sendiri. “Aku tidak mau kehilangan segala sesuatu yang kuraih dengan susah payah. Maafkan aku,” ucap gadis itu pada akhirnya.


“Apakah itu artinya kau tak membutuhkan bantuanku, Francy? Kau tak ingin kami memberi pelajaran pada si brengsek itu?” geram Coco. Tak disangkanya jika Francesca sangat keras kepala.


“Jika kau tak menjawab, maka itu artinya kau tak membantah perkataanku,” lanjut Coco. Dengan sedikit harapan ia menunggu hingga beberapa saat sampai Francesca mau bicara. Namun, gadis itu tak kunjung membuka mulut.

__ADS_1


“Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku tak akan menghalangi jalanmu lagi,” tandas Coco sembari membalikan badan dan kembali masuk ke dalam kamar.


“Tidak! Bukan begitu, Ricci! Dengarkan aku!” Francesca mendongak ke arah Coco yang telah menutup pintu kamar. Ia pun berlari menyusul Coco dan berusaha membuka pintunya kembali. Akan tetapi, Coco sudah terlebih dulu menguncinya.


“Ricci, kumohon, mengertilah!” pinta Francesca dengan suara bergetar. “Ricci, buka pintunya! Aku masih ingin bicara!” ulangnya berkali-kali. “Ricci!” tak terhitung banyaknya Francesca memanggil nama itu, tetapi Coco sama sekali tak menghiraukannya.


“Sudahlah, Francy. Kalian sama-sama sedang kalut dan lelah. Tenangkan diri masing-masing, dan sebaiknya kau segera beristirahatlah di kamar,” bujuk Mia lembut. Ia memapah adik tirinya itu masuk ke kamar utama. “Kau bisa menemani Francy, Dani,” Mia melirik pada kakak tirinya yang masih berdiri tercenung di samping Matteo.


“Lalu, kau akan tidur di mana?” tanya Daniella.


Mia tak menjawab. Ia malah menoleh kepada Matteo yang ternyata juga memandang kebingungan ke arahnya. “Apa kita bisa tidur di dalam mobilmu, Theo?” tanya Mia dengan senyuman nakalnya.


“Ya, tentu saja. Aku rasa itu adalah ide yang sangat bagus. Kalian bisa berbaikan di dalam sana,” timpal Daniella seraya mengerling nakal. Ia lalu mengikuti Francesca yang lebih dulu memasuki kamar, dan meninggalkan pasangan suami istri itu di ruang tamu. Sebelum benar-benar masuk, tatapan nakal Daniella beralih kepada Matteo. Pria itu tampak menyeringai dan berjalan mendekati Mia.


“Daniella memberiku sebuah ide yang sangat bagus,” ujar Matteo. Ia kemudian meraih remote mobil yang tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu dan memasukkannya ke dalam saku celana. Matteo lalu menarik tangan Mia.


“Theo, tapi ....” Mia berusaha mengelak saat Matteo terus menggandengnya keluar dari apartemen dan melangkah lurus menuju lift. Genggaman tangan Matteo semakin erat saat mereka berdua memasuki lift, kemudian bergerak turun perlahan.


Pintu lift terbuka saat mereka tiba di basement. Matteo sama sekali tak membiarkan Mia menjauh darinya meskipun hanya beberapa senti saja. “Tetap di dekatku,” bisiknya dengan bibir yang sengaja ia tempelkan ke daun telinga Mia. Sentuhan kecil tetapi sanggup membangkitkan sesuatu di dalam diri Mia, dan membuat bulu kuduknya meremang.


Matteo lalu merogoh remote mobil dan memencetnya. Bunyi alarm mobil rolls roycenya yang khas, menyalak sekali. Matteo segera menoleh ke arah sumber suara dan segera menghampirinya. Dengan tangan kiri, ia membukakan pintu untuk Mia dan mempersilakan sang istri masuk terlebih dahulu. Setelah itu, Matteo memutari kendaraannya dan duduk di kursi belakang sebelah kanan.


“Kau bisa menekan tombol di sampingmu dan sandaran kursi itu akan bergerak turun. Sementara kaki kursi akan naik. Ini bisa menjadi tempat tidur yang sangat nyaman,” jelas Matteo.


"Theo, tapi ....” sedari tadi Mia hanya bisa mengucapkan dua kata itu.


“Kenapa?” Matteo menghadapkan tubuhnya ke arah Mia. Akan tetapi, ia tak bisa mencondongkan tubuhnya untuk mendekati sang istri.


“Semenjak kita menikah, aku sudah terbiasa tidur dengan memelukmu,” sahut Mia malu-malu.


Matteo menggeser dirinya agar semakin mendekat, hingga kini tubuhnya bersentuhan langsung dengan tubuh Mia. Ia pun melingkarkan tangan kirinya di tubuh mungil sang istri, yang masih memakai mantel. Matteo lalu merengkuhnya dengan mesra.


Mia segera membalas perlakuan manis Matteo dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Matteo. Saat itu, jemarinya asyik memainkan kancing kemeja sang suami. “Theo,” sebut Mia lirih.


“Iya, ada apa?” sahut Matteo pelan.


“Apa kau tahu, jika kau adalah cinta pertama dan terakhir. Hatiku sudah kau genggam sejak awal mula kita bertemu saat itu. Jangan khawatirkan aku karena aku tak akan pernah berpaling darimu. Itu tidak mungkin,” ungkap Mia pelan seraya menengadah, menatap lekat sepasang mata abu-abu Matteo yang juga tengah memandang lembut kepadanya. Mia lalu semakin mengangkat wajahnya hingga mendekat dan ia pun dapat meraih serta mengecup lembut bibir sang suami.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2