Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Colazione Insieme


__ADS_3

Matteo tak segera menanggapi ucapan Adriano. Ia menatap pria bermata biru itu dengan tajam, tatapannya kemudian beralih kepada Mia. Namun, tentu saja dengan sorot mata yang jauh berbeda. "Istriku baru kembali ke Casa de Luca setelah berminggu-minggu menjalani perawatan di rumah sakit. Lagi pula, orang-orang yang akan membantuku belum tiba dari Palermo. Mereka baru akan datang dalam tiga atau empat hari lagi," jelas Matteo kembali mengarahkan tatapannya kepada sosok tampan Adriano.


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan de Luca. Aku telah membawa seseorang yang sangat ahli, dan pasti akan bisa membantu Anda dalam melakukan semua pekerjaan itu. Kepiawaiannya sudah tidak diragukan lagi," ujar Adriano.


"Kenapa Anda ingin sekali agar aku menerima tawaran kerja sama ini? Aku bahkan tak mengenal orang yang akan memesan senjata buatanku," ujar Matteo dengan nada penuh kehati-hatian. "Sekadar cerita, seorang sahabat yang bahkan telah kukenal saja berani mengkhianatiku. Lalu, bagaimana dengan orang asing yang tak pernah kutemui sama sekali. Aku minta maaf, Tuan D'Angelo. Akan tetapi, aku harus sangat berhati-hati," tutur Matteo dengan cukup tegas.


Adriano menatap lekat Matteo. Sepasang matanya yang berwarna biru tampak menyiratkan  sesuatu yang sulit untuk Matteo terka. Pria itu menyimpan banyak tanda tanya yang belum dapat Matteo telaah dengan jelas. Adriano kemudian menyunggingkan senyuman kalem di wajahnya. Pria itu selalu terlihat tenang dalam setiap pembawaannya. "Jika Anda berkenan, aku bisa mengenalkan Anda dengan kolegaku itu. Namun, tentunya Anda harus datang langsung ke Monaco," tawar Adriano. Tatapannya tiba-tiba beralih kepada Mia yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan pembicaraan kedua pria tersebut.


"Monaco tak kalah indah dari Italia, Nyonya de Luca. Meskipun Monaco tak seluas negara ini, tapi aku yakin Anda akan merasa sangat terkesan untuk dapat menjelajahinya," ucap Adriano dengan raut dan nada bicara yang sangat berbeda ketika ia tujukan untuk Mia.


Mia menoleh dan tersenyum. "Dengan kondisiku yang seperti saat ini, aku hanya akan menjadi penghambat saja, Tuan D'Angelo" ujar Mia pelan.


"Mengapa kau bicara seperti itu, Cara mia? Sudah kukatakan berkali-kali, kau bahkan tak memerlukan kursi roda ini selama ada aku di sampingmu," tegas Matteo membuat Mia tersenyum lembut padanya.


"Aku tahu itu, Theo. Akan tetapi, pasti ada banyak  hal yang harus kau lakukan selama di sana," bantah Mia dengan nada bicaranya yang sangat lembut.


"Ya, dan aku tak bisa meninggalkanmu sendirian di sini," tegas Matteo lagi. "Jangan membantahku!" cegahnya sebelum Mia sempat mengeluarkan kata-katanya. Wanita itu kembali mengatupkan mulut seraya menoleh kepada Adriano.


"Anda lihat, Tuan D'Angelo? Suamiku benar-benar unik, bukan? Itulah yang membuatnya berbeda dari pria lain, dan karena itu pulalah aku jatuh cinta padanya," ucap Mia dengan sejuta makna tersirat yang harus Adriano cerna baik-baik. Adriano terdiam untuk sesaat. Pria itu tampak berpikir. Sementara Matteo tersenyum kecil dan sesekali menundukkan wajahnya, menahan tawa akan rasa bangga terhadap sang istri.


"Ya, kalian memang pasangan yang sangat serasi. Jujur saja, terkadang aku sangat iri melihatnya," ujar Adriano diiringi nada candaan yang hanya berbalas tatapan penuh olok-olok dari Matteo. Adriano dapat memahami hal itu. Akan tetapi, ia mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Bagaimana, Tuan de Luca? Apa Anda akan menerima tawaranku? Kebetulan orang yang kumaksud sudah berada di Italia," ujar Adriano. Ia meyakinkan Matteo untuk sekali lagi.


"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Selain itu, ada beberapa poin penting yang memang harus dimiliki oleh seseorang yang akan menjadi asistenku. Begitulah, Tuan D'Angelo. Aku tidak dapat bekerja dengan seseorang yang tidak memiliki kriteria yang telah ditetapkan, meskipun hanya satu poin yang hilang," tegas Matteo dengan raut wajahnya yang tampak begitu serius.

__ADS_1


"Aku mengerti, Tuan de Luca. Namun, tidak ada salahnya Anda berkenalan telebih dulu dengannya,” ujar Adriano.


Matteo berpikir sejenak, lalu menoleh kepada Mia. “Bagaimana menurutmu, Sayang? Apa yang harus kulakukan?” tanyanya.


Mia menatap kedua pria rupawan itu secara bergantian dan berhenti pada Adriano. Diamatinya wajah itu dengan saksama. Hal itu membuat Adriano terlihat begitu salah tingkah.


“Kurasa Tuan D’Angelo bisa membawa temannya kemari, Theo. Tak ada salahnya kau berkenalan lebih dulu, sebelum kau memutuskan untuk menerimanya sebagai seseorang yang membantu pekerjaanmu atau tidak,” tutur Mia kemudian.


“Baiklah kalau begitu,” Matteo pun mengangguk setuju. “Kau bisa mengajaknya kemari,” ujarnya pada Adriano.


“Senang sekali aku mendengarnya. Sebentar, aku akan segera menghubunginya,” Adriano meminta izin dan merogoh ponsel di dalam saku celananya. Ia mundur lalu berjalan beberapa langkah menjauhi pasangan suami istri tersebut untuk melakukan panggilan telepon. Tak berselang lama, Adriano mengakhiri panggilannya. Ia pun kembali ke hadapan Matteo dan Mia dengan senyum terkembang. “Ia akan tiba setengah jam lagi. Tidak apa-apa, kan, Tuan de Luca?” ujarnya.


“Terserah Anda saja,” dengus Matteo agak kesal. Tak biasanya ia menerima tamu pagi-pagi begini. Namun, ia sudah terlanjur mengiyakan tawaran dari Adriano.


“Sudah beberapa kali aku memasuki Casa de Luca, tapi aku belum pernah melihat bagian rumah yang ini,” ucapnya sembari menyapu pandangannya hingga ke langit-langit bangunan. Ia kini berjalan menyusuri lorong panjang dengan dinding terbuka berbentuk lengkungan di salah satu sisinya, menampakkan pemandangan perkebunan yang terlihat sejuk dan indah.


Di ujung lorong terdapat taman kecil yang asri. Tepat di depan taman itu terdapat pintu masuk menuju ruang makan. Tampak beberapa pelayan sedang sibuk menata meja dan perlengkapan makan lainnya. Beberapa hidangan masakan juga terlihat sudah siap di sana.


“Silakan duduk, Tuan D’Angelo. Pilihlah kursi manapun yang Anda mau, asal tidak di samping istriku,” celetuk Matteo yang segera disambut oleh cubitan kecil di pinggang, oleh Mia tentunya.


Matteo meringis kecil kemudian mengangkat tangannya, seraya memanggil salah seorang pelayan. “Siapa yang berjaga di pos pertama?” tanyanya.


Seorang pelayan yang masih berusia belia, bergegas mendatangi Matteo sambil menunduk. “Tadi pagi, saya mengantarkan kopi untuk Tuan Scotti,” jawab pelayan itu sopan.


“Baiklah,” Matteo menggerakkan tangannya, sebagai isyarat agar pelayan itu segera pergi dari hadapannya. “Siapa nama anak buahmu yang rencananya akan membantuku merakit senjata, Tuan D'Angelo?” pertanyaan Matteo kini beralih pada Adriano.

__ADS_1


“Namanya Valerie Nikolaev, Tuan,” jawab Adriano yang seketika membuat Matteo terperanjat.


“Maksud Anda ia seorang perempuan?” desisnya.


“Ya, Tuan de Luca. Ia seorang perempuan, tapi tentu saja bukan perempuan sembarangan. Ia sudah ikut dan tinggal bersama keluargaku sejak berumur sepuluh tahun. Mendiang ayahku mengambilnya dari jalanan, saat ia hendak mencuri sesuatu di toko kelontong. Sejak saat itu, ia digembleng dengan didikan keras ala militer," jelas Adriano seraya memainkan pisau yang berada di tangan kanannya. Sementara Matteo mendengarkan penuturannya dengan saksama.


"Ayahku juga mengajarkannya berlatih menembak dan mengutak-atik senjata. Bayangkan, sejak umur sepuluh tahun hingga sekarang. Ia begitu terobsesi dengan segala jenis bentuk senjata. Aku rasa kalian akan menjadi tim yang hebat,” papar Adriano lagi panjang lebar.


“Ya, sudah,” Matteo segera mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya yang sedang berjaga di pos terluar area perkebunan. “Scotti, ada berapa orang di pos pertama?” tanyanya dengan nada yang terdengar begitu serius.


“Lima belas orang, Bos,” jawab seseorang di seberang sana.


“Bagus. Tak lama lagi akan datang seseorang bernama Valerie Nikolaev. Ia ingin menemuiku, jadi langsung saja antarkan ia kemari,” titahnya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2