
Menjelang tengah hari, Matteo dan Mia baru kembali ke Casa de Luca. Matteo segera menyuruh pelayan untuk mengambilkan barang-barang yang akan mereka bawa ke Roma. Rencananya, ia dan sang istri akan menginap di sana selama dua hari. Sebelum berangkat, sepasang suami istri tersebut menyempatkan diri untuk berpamitan kepada Damiano.
“Kami hanya dua hari di sana. Selama aku pergi, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada Marco,” pesan Matteo seraya melirik pria berwajah kelimis yang sejak tadi hanya terdiam. Semenjak kematian Antonio, Marco memang terlihat berbeda. Sudah beberapa malam, ia tidak tampak keluar dari Casa de Luca. Pria itu juga terlihat jauh lebih pendiam. “Apa kau mendengarku, Marco?” tanya Matteo yang seketika menyadarkan lamunan pria dua puluh tujuh tahun tersebut.
Marco tampak sedikit gelagapan. Namun, ia segera mengangguk dengan yakin. “Iya, aku mendengarmu, Theo,” jawabnya.
Matteo menatap sepupunya itu untuk sesaat. Ia tahu jika ada sesuatu yang berubah dari pria yang dulu sangat ia inginkan untuk menjadi sasaran pukulannya. “Jika nanti Detektif Ranieri datang kemari dan bertanya tentang ayahmu, maka kau harus menjelaskan sesuai yang sudah kuberitahukan sebelumnya,” pesan Matteo dengan datar tapi terdengar tegas. Sorot matanya tajam ia layangkan kepada pria itu.
Marco lagi-lagi mengangguk. Ia sudah mengerti dengan semua tugasnya. Lagi pula, ia tak ingin mencari masalah dengan Matteo. Cukuplah ayahnya saja yang telah bertindak bodoh, mencari mati karena berurusan dengan sang ketua dari Klan de Luca tersebut. “Kau tenang saja, Theo. Aku sudah memahami semuanya. Kau tak perlu khawatir dan ... sampaikan salamku untuk Dani,” pungkasnya.
“Akan kusampaikan,” sahut Mia dengan senyumnya. Perhatiannya kini tertuju pada seseorang yang baru muncul dari bagian lain rumah, yaitu Coco. Ia bersikeras untuk ikut serta pergi ke Roma. Niatnya tiada lain ialah untuk menemui Francesca tentunya. Mia dapat memahami hal itu dengan baik. Karenanya, ia setuju saja saat Coco merengek minta ikut.
“Kau yang menyetir,” perintah Matteo setelah mereka berada di halaman depan. Ia memberi isyarat kepada Nico untuk menyerahkan kunci mobil kepada Coco yang saat itu hanya ternganga. Pria bermata coklat tersebut bermaksud untuk protes, tapi Coco segera mengurungkan niatnya.
“Kau terbiasa mengendarai motor ke manapun. Aku rasa bukan masalah besar jika kau harus duduk di belakang kemudi,” ujar Matteo dengan tenangnya. Ia membuka pintu mobil dengan tangan kirinya dan mempersilakan Mia untuk masuk. “Kau bebas tugas hari ini, Nico,” ucap Matteo lagi dengan entengnya. Setelah itu, ia pun mengikuti sang istri masuk lewat pintu sebelah kanan. Sementara Coco masih berdiri dan merenungi nasibnya untuk sejenak, sebelum akhirnya ia ikut masuk dan bersiap di belakang kemudi. Beberapa saat kemudian, Rolls Royce itu pun melaju dan keluar dari halaman Casa de Luca.
Selama di dalam perjalanan, Matteo dan Mia terlihat sangat mesra. Mia terus menyandarkan kepalanya di pundak sebelah kiri sang suami. Sementara Matteo pun menggenggam jemari lentik Mia. Sesekali ia mencium punggung tangan wanita yang sangat ia cintai tersebut, membuat Mia tersenyum manis yang juga diselingi dengan tawa pelan dan terdengar sangat manja. Hal tersebut membuat Coco menjadi hilang konsentrasi. Pria itu berkali-kali menggelengkan kepalanya dan mengela napas dalam-dalam. Konsentrasinya semakin buyar, ketika ia melihat dari pantulan spion dalam, saat sepasang suami istri tersebut berciuman dengan mesra.
“Ya ampun,” gumam Coco pelan. Rasa di hatinya ingin segera tiba di kota Roma dan bertemu dengan Francesca. Ia pun mempercepat laju mobil yang dikemudikannya. Tak dipedulikannya kondisi jalanan yang padat oleh kendaraan. Coco terus menambah kecepatannya.
Mia yang saat itu merasakan mobil yang mereka tumpangi melaju dengan semakin kencang, segera mencondongkan badannya ke depan. “Pelan-pelan saja, Ricci,” pintanya.
“Aku akan memelankan mobilnya jika Theo mau duduk di sampingku,” ujar Coco dengan datar. Ia memberikan penawaran yang terdengar sangat menyebalkan, tapi membuat Coco tersenyum puas.
“Ck,” Matteo berdecak kesal. Namun, ia tetap mempertimbangkan permintaan Coco, mengingat istrinya kini tampak ketakutan. Tanpa berpikir panjang, di tengah laju kencang mobil mewahnya tersebut, Matteo segera bangkit dari kursi penumpang dan melompat ke samping Coco.
“Theo!” seru Mia. Ia terlihat mengkhawatirkan suaminya yang seakan lupa pada lukanya yang belum pulih.
“Tidak apa-apa, Sayang. Aku sering melakukan hal ini,” sahut Matteo sembari menoleh kepada Mia dengan senyumnya yang menawan. Sesuai dengan perjanjian, Coco pun memelankan mobilnya. Cukup lama mereka berada di dalam kendaraan, sampai-sampai Mia merasa tak nyaman dan mengubah posisi duduknya. Matteo memperhatikan hal itu dari pantulan kaca spion dalam.
“Sebentar lagi kita sampai, Cara mia,” hibur Matteo setelah kendaraan yang mereka tumpangi sudah mulai memasuki perbatasan kota Roma. Mereka saat itu melewati jalan tol antar kota. Mia memperhatikan pepohonan rindang yang tumbuh di sepanjang sisi tol. Hal itu mengingatkannya pada kali pertama, saat ia menginjakkan kaki di ibukota Italia itu dengan membawa sejuta mimpi dan harapan. Tiba-tiba lamunannya terhenti ketika Coco mengerem secara mendadak. Tubuh Mia terhentak maju, kemudian tertarik mundur kembali dan menabrak sandaran kursi, karena saat itu ia mengenakan sabuk pengaman.
__ADS_1
“Kau tak apa-apa, Sayangku?” Matteo segera menoleh ke belakang dan melihat keadaan istrinya.
“Tidak. Aku tidak apa-apa. Apakah ada masalah, Ricci?” tanya Mia.
Belum sempat Coco menjawab, Mia telah mengarahkan pandangannya ke depan dan melihat mobil lain melintang tepat di depan mobil yang mereka tumpangi. Dari dalam mobil yang melintang itu, keluarlah empat orang pria bertubuh tinggi besar. Mereka berjalan mendekat dengan raut tak bersahabat.
Salah satu dari keempat orang itu mengetuk kaca jendela di samping Coco. Dengan santainya, pria berambut ikal tersebut membuka jendela dan tersenyum ramah. “Ada apa ini, Gentiluomini (Tuan-tuan)?” tanya Coco ramah.
“Perdonaci (maafkan kami) yang telah mengganggu kenyamanan perjalanan kalian. Kendaraan kami bermasalah dengan rem. Bolehkah kami meminta bantuan?” tanya pria asing itu.
Matteo segera memberi isyarat kepada Coco yang menyatakan bahwa orang-orang itu terlihat mencurigakan. Ia menggeleng pelan sembari menatap tajam pada pria yang menyandarkan sikunya di pintu mobil. “Memangnya kau tak punya ponsel? Ini jalan tol, kau bisa menghubungi petugas jalan raya,” ujar Matteo dingin.
“Cih, sombong sekali!” caci pria itu seraya mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeansnya. Sebuah pisau lipat kecil ia permainkan di tangan kiri.
“Theo,” ucap Mia pelan. Akan tetapi, Matteo tak menghiraukannya. Masih dengan arm sling yang tersampir di bahu, pria rupawan itu keluar dari kendaraannya dengan gagah dan berjalan menuju pria yang memegang pisau tadi. Sementara tiga orang pria asing lainnya terus mengikuti gerak Matteo.
“Kusarankan agar kau tak cari masalah denganku. Kau tak akan suka jika melihatku marah,” ucap Matteo. Sepasang mata abu-abunya tampak berkilat karena mengendalikan emosi yang mulai meninggi.
Akan tetapi, Coco hanya mengangkat bahunya.
“Biar saja. Aku sedang malas mengeluarkan tenaga,” sahut Coco dengan santainya sembari menggaruk-garuk dahi. Ia hanya menonton adegan yang tersaji di depan mobil.
Pria tinggi besar itu lalu mengarahkan pisau lipatnya kepada Matteo. Sedangkan tiga orang lainnya berpindah posisi ke sisi kiri dan kanan mobil Matteo. Mereka menghimpit dan seakan memberikan gertakan agar Matteo merasa takut. “Jika kami tidak bisa meminta tolong dengan cara sopan, maka kami akan menggunakan cara kasar!” ancamnya tegas.
Bukannya merasa takut, Matteo justru semakin mendongakkan kepalanya dan seakan menantang mereka. Tersungging senyuman sinis di sudut bibirnya. “Jelas sudah bahwa kau adalah penjahat kelas rendah yang tak bisa mengenaliku,” ejeknya.
“Ya, penjahat kelas rendah ini sebentar lagi akan memaksamu untuk membuka bagasi!” geram pria itu karena mendengar ucapan bernada mengejek dari Matteo.
“Untuk apa aku harus membuka bagasiku?” Matteo mengernyitkan keningnya.
“Tentu saja agar kami bisa memindahkan paket yang kami bawa ke dalam mobilmu,” seringai pria itu kemudian terbahak-bahak.
__ADS_1
Matteo sudah dapat menebak maksud dari pria di hadapannya tanpa harus meminta penjelasan lebih lanjut. Keempat pria asing yang berdiri mengelilinginya itu adalah pengedar narkoba yang mencari mangsa, untuk membawakan paket mereka masuk ke dalam kota. Hal itu merupakan salah satu cara agar mereka aman dari kemungkinan tertangkap oleh polisi. Namun, tidak demikian dengan si mangsa. Jika ia tertangkap, maka ia yang terpaksa harus berurusan dengan polisi, sementara pengedar asli akan melarikan diri.
“Siapa ketuamu?” tanya Matteo dingin.
“Untuk apa kau menanyakan itu?” pria asing tadi balik bertanya.
“Sapa tahu aku mengenalnya,” jawab Matteo tenang. Hal itu membuat para pria pria tersebut saling pandang. Pria yang tadi menodongkan pisau kepada Matteo pun mengernyitkan keningnya.
"Memangnya siapa kau?" tanya pria itu dengan raut yang kini tampak berhati-hati. Ia mulai merasakan sesuatu yang lain. Terlebih karena ia melihat sikap Matteo, yang sejak tadi seperti tak takut sama sekali dengan semua gertakannya.
Matteo kembali menyunggingkan senyuman sinis di sudut bibirnya. "Kau bertanya siapa aku? Aku adalah Matteo de Luca," jawab Matteo dengan penuh percaya diri.
Mendengar jawaban itu, seketika raut wajah pria tersebut berubah drastis. Pisau lipat yang ia todongkan kepada Matteo, jatuh begitu saja ke atas aspal. Tubuhnya seakan kehilangan energi saat mendengar nama yang disebutkan pria di hadapannya. Pria tinggi besar itupun hanya berdiri mematung.
“Bos, apa-apaan kau?” protes salah satu rekan pria itu. Mereka terlihat kebingungan melihat sikap pria yang di panggil ‘Bos’ tersebut.
“Hendak kau antar ke mana paket itu?” Matteo terus bertanya tanpa memberi kesempatan kepada pria tadi, untuk menjawab pertanyaan rekannya.
“Tujuan kami ke Club Angelo Notturno, milik tuan Adriano D’Angelo. Jetua kami,” jawab pria itu dengan mimik gugup.
🍒
🍒
🍒
Hai, semua. Sambil nunggu Theo sampai di kota Roma, ada baiknya yuk mampir dulu ke novel di bawah ini. Grazie🤗
__ADS_1