Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Lion of the Desert


__ADS_3

Matteo memulai pekerjaannya dengan segera. Cekatan, tangan pria bermata abu-abu itu merakit setiap komponen hingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam tempo beberapa menit saja, satu buah senjata laras panjang telah siap ia pamerkan kepada pria-pria yang sejak tadi memperhatikan cara kerjanya. Matteo lalu menyodorkan senjata itu kepada Adriano yang segera memeriksanya dengan teliti.


"Luar biasa, bukan?" lirik Adriano kepada Sergei. Pria Rusia itu menyeringai puas saat diperkenankan untuk memegang senjata otomatis hasil rakitan Matteo. Sergei pun berdecak kagum seraya bersiul pelan.


"Senjata buatanku tak akan bisa ditiru oleh siapapun, karena ada satu komponen khusus yang aku ciptakan sendiri sebagai pelengkap. Itu pula yang telah membuat beberapa oknum orang-orang terdekatku menjadi seorang pengkhianat. Namun, aku tak akan tinggal diam, bahkan untuk hal sekecil apapun yang telah membuatku merasa terusik," ucap Matteo dengan penekanan yang begitu tegas dan dalam. Entah untuk siapa kata-kata itu ia tujukan.


Sementara Sergei masih asyik mengamati senapan itu. Ia bahkan mencobanya. Namun, tak tahu apa maksud dari pria Rusia tersebut dengan mengarahkan senjata laras panjang yang dipegangnya kepada Matteo. "Dor!" pria itu tergelak. Sebuah guyonan yang sama sekali tidak lucu bagi Matteo. Hal tersebut justru terasa begitu aneh.


Matteo menatap tajam pria bermata hijau yang masih terus memainkan senjata hasil rakitannya. Insting sang ketua Klan de Luca mulai bekerja. Ia merasakan ada sesuatu yang janggal dari sikap yang Sergei tunjukkan di hadapannya. Namun, Matteo tak boleh gegabah dalam mengambil langkah. Tiba-tiba, ia teringat kepada Coco yang berniat untuk memata-matai Adriano. Matteo merasa jika sahabat dekatnya itu pasti mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui.


Untuk sesaat, Matteo mencoba mengabaikan pria yang menurutnya aneh tersebut. Sepertinya, apa yang Daniella katakan bahwa Sergei gila dan tak punya otak, memang pantas untuk ditujukan kepada pria itu. Matteo pun berpikiran demikian setelah melihat bahasa tubuh dari pria berperawakan tegap tersebut.


“Sudah puas bermain-mainnya, Tuan Redomir?” sindir Matteo halus sembari mengambil senjata rakitan itu dari genggaman pria Rusia tersebut.


“Aku bisa melihatnya, Tuan de Luca,” celoteh Sergei Redomir diiringi tawa renyah.


“Melihat apa?” Matteo semakin terheran-heran atas sikap aneh Sergei.


“Betapa Anda adalah seseorang yang buas dan berdarah dingin. Kukatakan jika Anda seperti singa padang pasir yang sama sekali tak takut pada apapun, bahkan dengan yang namanya kematian,” jawab pria bermata hijau itu seraya menyeringai aneh. “Aku patut berbangga, karena kita memiliki banyak kemiripan. Aku juga tak pernah memiliki rasa takut pada siapapun,” ucapnya jumawa.

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu. Sekarang, jika Anda tidak berkeberatan, maka Anda berdua bisa bersantai di Casa de Luca. Biarkan kami berempat bekerja dengan tenang, tanpa ada rasa terintimidasi. Lagi pula, aku tak mempekerjakan seorang mandor di bengkelku,” ujar Matteo dingin. Setelah itu, ia menghadap meja kerjanya yang dipenuhi dengan puluhan komponen kecil. Tampak raut serius yang kembali Matteo tunjukkan ketika dirinya merangkai benda-benda besi itu menjadi satu unit senjata.


“Kalian mendengar apa yang Tuan de Luca katakan, bukan?” lanjut Valerie dengan sorot mata yang mengarah kepada Adriano dan Sergei Redomir secara bergantian. Kedua pria itu masih berdiri, seperti seorang kontestan yang mati gaya di atas panggung.


“Zucca dan teman-temannya akan mengantarkan kalian,” selesai Matteo berkata demikian, pintu bengkel terbuka. Zucca, anak buah kepercayaan Matteo yang berpostur tinggi besar, telah sigap berdiri di sana bersama beberapa orang anak buah lainnya.


“Dari mana pria ini datang? Aku tak melihatnya sama sekali di sekitar sini sejak tadi,” ujar Sergei sembari menyapu pandangan ke segala sisi.


“Zucca adalah bayanganku. Seperti halnya sebuah bayangan, ia tak akan selalu terlihat tapi pasti ada,” seringai Matteo. “Silakan menikmati waktu Anda sembari menungguku menyelesaikan beberapa pucuk senjata untuk hari ini, atau Anda berencana untuk langsung bertolak ke Monaco?” tawar Matteo dengan entengnya.


“Sebenarnya aku masih betah di sini. Aku ingin mengamati tiap sudut bengkel Anda yang sudah membuatku penasaran. Secanggih apa milik Tuan de Luca ini,” tanpa rasa canggung, Sergei melangkahkan kakinya mengitari tiap sudut ruangan. Sementara tangannya mengambil benda apapun yang menarik perhatiannya. Setelah itu ia berjalan keluar dan mengamati halaman rumput luas yang mengelilingi bengkel. Tak dihiraukannya Zucca yang menatap tajam seakan hendak menghabisinya. Tak digubrisnya pula Adriano yang berdehem berkali-kali sebagai tanda agar ia segera menuruti perintah Matteo.


“Sudah kuduga. Tak mungkin tempat rahasia ini tak memiliki sistem keamanan berlapis, “ Sergei terkagum-kagum sampai-sampai ia bertepuk tangan. “Apakah sudah pernah ada korban sistem keamananmu, Tuan?” tanyanya.


Matteo menghentikan pekerjaannya, kemudian setengah menengadah seolah tengah memikirkan sesuatu. “Pernah ada seorang pria, mantan anak buahku ....” Matteo mulai bercerita dengan posisi kepala yang tak berubah. “Ia bermaksud hendak mencuri puluhan komponen rahasiaku yang tersimpan di dalam brankas. Rupanya ia telah mempelajari brankasku beberapa waktu sebelumnya. Hingga akhirnya ia berhasil membuka brankas dan mencuri semua yang ada di dalamnya. Aku melihat itu dari dalam ruang pengawas. Saat ia berlari melintasi lapangan rumput, aku mengaktifkan tegangan kabel listrik dan ia tewas terpanggang seketika,” Matteo bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Sergei Redomir.


“Anda tahu, Tuan? Bau hangus dari kulit dan rambut yang terbakar itu masih tercium sampai beberapa hari, di sekitar tempatnya meregang nyawa,” desis Matteo seraya mendekatkan wajah pada Sergei. Seketika raut ceria dan senyuman lebar yang sedari tadi menghiasi wajah pria Rusia itu, luruh tak tersisa. Adriano yang berdiri di antara Matteo dan Sergei Redomir, ikut merasakan ketegangan yang mulai tercipta.


“Aku rasa aku ingin beristirahat sejenak di Casa de Luca sebelum pulang ke apartemen Tuan D’Angelo,” ucap Sergei Redomir pada akhirnya. Seutas senyuman kembali tercipta. Akan tetapi, senyuman itu sirna ketika Zucca mengantarnya keluar bengkel sampai ia memasuki mobil.

__ADS_1


Tepat ketika pintu mobil tertutup, ia berkata kepada Adriano yang sudah lebih dulu duduk di sebelahnya, “Akhirnya kita menemukan rekan yang seimbang. Sayang, ia sulit sekali ditundukkan dengan bujuk rayu,” keluh Sergei. Wajahnya terlihat dingin dan kejam.


“Jangan gegabah, Sergei. Aku tak mau kehilangan kedekatan dengan Matteo de Luca. Sekarang ini, ia jauh lebih berharga bagiku daripada dirimu,” sergah Adriano. Nada bicaranya terdengar datar, tetapi mampu menohok Sergei Redomir hingga relung terdalam. Keduanya larut dalam keheningan, sampai mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman luas Casa de Luca.


Di sana, Mia berdiri dengan anggun. Tangannya melambai pada mobil sport berwarna tosca milik Marco. Sepupu Matteo itu tengah bersiap mengantarkan Daniella dan Francesca pulang ke Roma. Adriano buru-buru keluar dari dalam mobil dan menghampiri Mia. “Nyonya de Luca,” panggilnya dengan lirih.


Gemulai gerak Mia terhenti. Wanita itu membeku saat melihat Adriano yang berjalan semakin dekat. Sementara mobil Marco sudah melaju meninggalkan gerbang. “Di mana suamiku?” tanyanya dengan suara bergetar.


“Tuan de Luca masih menyelesaikan pekerjaannya di bengkel senjata,” jawab Adriano dengan sorot mata sayu. “Dengar, aku ingin ....”


“Nyonya cantik, selamat siang. Aku harap Anda bersedia menemani kami bersantai sejenak di sini,” kalimat Sergei Redomir memotong ucapan Adriano begitu saja.


Mia tak segera menjawab. Ia melirik ke arah Zucca yang baru saja keluar dari kendaraannya dan mengangguk pada pria menakutkan kepercayaan Matteo. “Apa ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya Zucca saat sudah berada di dekat Mia.


“Temani aku,” bisik Mia seraya menarik lengan Zucca agar tetap di sebelahnya.


🍒🍒🍒


Jangan lupa untuk mampir ke novel keren di bawah ini👇

__ADS_1



__ADS_2