
“Teman macam apa kau ini? Seharusnya kau memberikan dukungan penuh padaku, bukannya malah berusaha untuk membuat nyaliku menjadi ciut!” protes Matteo. Ia mengambil sebuah bayonet dan memeriksa benda tajam itu. Matteo kemudian meletakan kembali benda itu ke dalam brankas dan menyatukannya dengan beberapa pisau lempar yang lainnya.
“Justru karena aku adalah sahabatmu. Sayang sekali, Kawan! Kau belum menikah. Aku yakin orang tuamu ingin menimang cucu terlebih dahulu darimu,” celoteh Coco. Ucapannya semakin tidak terarah.
“Brengsek!” umpat Matteo. Ia tahu jika Coco saat itu tidak serius dengan ucapannya. Namun, celotehan dari sahabatnya itu patut untuk dijadikan pertimbangan bagi Matteo. Ia tahu jika Coco mengkhawatirkan dirinya.
Ingatan Matteo kembali tertuju kepada Mia. Entah apa yang tengah dilakukan gadis manis itu saat ini. Matteo tidak dapat berkonsentrasi dengan maksimal. Bayangan wajah cantik dengan senyuman indah itu terus datang dan menggodanya.
“Jadi, apa rencanamu setelah ini?” tanya Coco lagi. Ia mengikuti Matteo keluar dari dalam kamar itu. Mereka kembali duduk di atas sofa bed tadi.
“Pesanlah makanan! Aku sangat lapar! Tuan rumah macam apa kau ini?” hardik Matteo dengan jengkel. Namun, hal itu justru membuat Coco kembali tergelak. Pria dengan tinggi 180 cm itu segera mengeluarkan ponselnya dan memesan makanan. Ia tidak perlu bertanya kepada Matteo tentang makanan apa yang disukai sahabatnya, karena Coco telah mengetahuinya dengan pasti.
Coco dan Matteo sudah bersahabat sejak lama. Sama halnya dengan hubungan persahabatan antara Matteo dan Silvio. Akan tetapi, hubungan antara Matteo dan Coco jauh lebih tulus jika dibandingkan dengan hubungan antara Matteo dan Silvio.
Awalnya, Matteo pun tidak pernah menyangka jika Silvio akan berani melakukan pengkhianatan seperti itu. Namun, kini semua sudah terbongkar jika Silvio bukanlah sahabat yang baik.
“Bantu aku untuk mengawasi pergerakan Silvio, sementara aku memersiapkan diriku!” Matteo masih dengan raut mukanya yang tanpa ekspresi.
“Pasti sulit untuk menyelinap masuk ke dalam Klan Moriarty,” gumam Coco. Ia lalu berpikir untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria tampan perayu banyak gadis itu tersenyum. Sepertinya ia telah mendapatkan sebuah ide.
“Bagaimana jika malam ini kita keluar? Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang,” ajak Coco. Ia menggerak-gerakan alisnya sebagai tanda agar Matteo bersedia ikut dengannya.
__ADS_1
Matteo mengempaskan sebuah keluhan. Ia paham dengan maksud dari sahabatnya. Dengan segera, Matteo menggelengkan kepalanya. “Tidak! Aku sedang tidak ingin bersenang-senang!” tolaknya dengan tegas. “Aku hanya ingin mandi dan berganti pakaian!” ujar Matteo lagi seraya beranjak dari duduknya.
“Ayolah, Kawan! Kau akan menyukainya! Lagi pula, kau pasti sudah lama tidak mengasah senjatamu, kan?” seru Coco diakhiri dengan tawa geli. Ia terus memerhatikan Matteo yang berlalu ke dalam kamar lain dari ruangan itu.
“Tutup mulutmu, Brengsek!” seru Matteo dari dalam kamar seraya membanting pintu kamar itu dengan cukup kencang. Coco kembali tergelak.
Itulah Coco, ia pria yang humoris dan memiliki karakter yang sangat berbeda dengan Matteo. Akan tetapi, ia adalah sahabat yang setia dan rela melakukan apapun demi Matteo. Itu semua karena Matteo telah banyak berjasa dalam hidupnya, termasuk dengan berdirinya bengkel reparasi mobil yang kini ia kelola.
Bengkel yang dulunya hanya sebuah tempat kecil sederhana, kini telah berubah menjadi bangunan yang jauh lebih besar dan dikenal di beberapa kalangan, terutama di antara beberapa anggota gangster. Karena itulah, Coco mengenal sebagian besar orang-orang berpengaruh di dalam dunia hitam.
Coco pria yang supel. Ia bisa berbaur dengan siapa saja. Hal itu sangat membantu Matteo dalam menjalankan bisnis perdagangan senjata ilegal yang dilakukan oleh Klan de Luca, karena tak jarang mereka mendapatkan pelanggan atas rekomendasi dari si playboy tampan itu.
......................
Ternyata selain pandai merayu seorang gadis cantik dan seksi, Coco juga rupanya pandai merayu pria dengan karakter dingin seperti Matteo.
“Aku sudah membuat janji dengan seseorang untuk bertemu di sini,” ucap Coco setelah meletakan gelasnya.
“Aku sedang tidak membutuhkan wanita penghibur malam ini,” bantah Matteo dengan segera. Ia seakan sudah mengetahui maksud dari sahabatnya mengajak dirinya ke club itu.
Coco lagi-lagi tertawa. Ia menepuk pundak Matteo dengan begitu akrab. “Apa kau menemukan seseorang dalam pelarianmu, Kawan?” tanyanya dengan setengah bergurau. Namun, hal itu telah membuat Matteo kembali teringat kepada Mia. Matteo kembali meneguk minumannya.
Pikirannya tak bisa lepas dari si pemilik wajah cantik nan lugu itu. Ia terbayang pada ciuman terakhirnya dengan gadis itu ketika dirinya akan berpamitan. Padahal itu hanya sebuah ciuman. Matteo sudah sering melakukannya, tapi mengapa terasa begitu istimewa saat dirinya melakukan hal itu dengan Mia.
__ADS_1
Semua lamunan Matteo tentang Mia seketika buyar, ketika Coco menyadarkannya dan membawanya kembali pada hingar bingar club itu. Matteo menoleh. Dilihatnya seorang wanita cantik dengan rambut panjang dan pakaian yang serba terbuka di beberapa bagian. Wanita bermata hazel dengan kulit coklat yang terlihat begitu eksotis. Pakaian ketat yang dikenakannya, telah membuat bentuk tubuhnya yang indah terlihat dengan begitu jelas. Wanita itu segera duduk setelah Coco memersilakannya. Sikap pria itu bagaikan seorang pelayan terhadap ratunya.
“Aw ... Ricci, kau selalu membuatku tersanjung,” ucap wanita yang sepertinya berusia tidak terlalu jauh dari Matteo dan Coco. Ia tersenyum penuh godaan terhadap Coco.
“Tentu saja, karena kau selalu terlihat menggemaskan, Sayang,” rayu Coco membuat Matteo mengempaskan sebuah keluhan pendek.
“Kau sangat manis,” balas wanita itu dengan tawa manjanya.
Coco tertawa pelan. “Seandainya saja aku datang sendiri. Sayangnya malam ini aku membawa tuan jangkung ini,” sesal Coco seraya menunjuk ke arah Matteo dengan isyarat matanya.
Wanita cantik itu segera mengalihkan pandangannya kepada Matteo yang masih bersikap tak acuh. Pria itu lebih memilih untuk menikmati minumannya yang tinggal sedikit. Ia tidak peduli meskipun di sebelahnya ada seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat menantang.
“Hey, Tampan,” goda wanita itu dengan senyum indahnya. Akan tetapi, Matteo tidak menggubrisnya sama sekali.
Wanita itu mengernyitkan keningnya seraya melirik ke arah Coco. “Ada apa dengan si tampan ini?” bisiknya.
“Ia mengalami sedikit masalah kesehatan. Kau bisa memahami hal itu kan, Sayang?” jawab Coco seraya mengulum senyumnya. Wanita itupun tampak berpikir.
“Lalu, untuk apa kau memanggilku kemari? Bukankah kita baru bercinta kemarin malam?” ucap wanita itu tanpa ada rasa malu sama sekali. Sementara Coco segera menghabiskan minumannya, terlebih karena Matteo saat itu meliriknya dengan tatapan sinis.
“Aku rasa, sebaiknya kalian berkenalan terlebih dahulu,” saran Coco seraya melirik Matteo dan wanita itu seraya bergantian. Ia memberikan sebuah isyarat kepada Matteo yang saat itu sepertinya ingin protes dengan usul dari dirinya. Akan tetapi, akhirnya Matteo pun lagi-lagi menurut saja.
“Namaku Matteo,” ucap pria bermata abu-abu itu dengan datar.
__ADS_1
“Namaku Lenatta Moralli. Senang bisa mengenalmu, Tampan. Aku tidak yakin jika kau sedang mengalami masalah kesehatan,” ucap wanita yang ternyata bernama Lenatta dengan ragu. Hal itu kembali membuat Matteo mendelik tajam terhadap Coco. Sementara Coco hanya dapat mengulum senyumnya.