Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Disturbia


__ADS_3

Mia memasuki ruangan apartemen dengan perasaan gugup. Ia langsung menuju dapur dan mengambil minum. Satu gelas penuh air putih ia habiskan dalam sekali tenggak, hingga napasnya sedikit terengah. Dalam keadaan seperti itu, Matteo masuk ke dapur dan menghampirinya. "Cara mia? Kupikir kau belum kembali dari belanja?" suara berat Matteo berhasil mengejutkan Mia.


Wanita cantik bermata cokelat tersebut segera menoleh. Tanpa banyak bicara, ia menghambur ke dalam pelukan sang suami hingga Matteo mundur beberapa langkah karena belum siap. "Hey, Sayangku. Kau baik-baik saja?" Matteo tersenyum dengan ulah manja Mia.


"Aku baik-baik saja, Theo. Aku hanya sangat merindukanmu," jawab Mia sambil terus mempererat pelukan. Ia membenamkan wajah cantiknya semakin dalam di dada Matteo.


"Oh, Sayang. Aku kehabisan napas," ujar Matteo, membuat Mia segera melepaskan pelukannya. Ia lalu menangkup wajah rupawan berjanggut tipis itu, kemudian mencium bibir sang suami dengan mesra. Ciuman yang terasa sangat berbeda bagi Matteo, begitu lembut dan juga manis. Tentu saja, ia tak akan melewatkan hal itu. Matteo membalasnya dengan memberikan hal yang sama kepada Mia. "Hari ini kau berkali-kali menggodaku, memangnya kau berani bertanggung jawab jika aku benar-benar terpancing?" ujar Matteo setelah mereka berhenti berciuman.


Mia tersenyum lembut. Kedua tangannya masih berada di wajah tampan sang suami, mengelusnya dengan perlahan dan penuh perasaan. "Aku akan selalu jatuh cinta padamu, Theo. Hari ini, esok, esoknya lagi, dan selamanya. Kau pria paling luar biasa meskipun sangat pemarah," rayu Mia seraya mencubit pangkal hidung Matteo dengan gemas. Senyuman manis itu selalu ia berikan dengan tulus kepada Matteo.


"Aku tak akan membalas semua rayuanmu, Sayangku. Kau tahu kenapa?" Matteo menatap Mia yang saat itu hanya mengernyitkan kening seraya memainkan bola matanya. "Karena tak ada satu rangkaian kata pun yang mampu mewakili perasaanku padamu. Entah kenapa, meskipun aku sudah berkali-kali mengungkapkan rasa cinta dan kekaguman terhadapmu, tapi semua itu selalu terasa kurang bagiku. Kau terlalu sempurna, Florecita Mia," Matteo mengangkat tubuh Mia hingga lebih tinggi darinya. Sedangkan Mia saat itu hanya tertawa sambil mengelus lembut rambut belakang Matteo. Mia terlihat jauh lebih ceria, termasuk saat pria bermata abu-abu itu mendudukannya di atas meja.


"Apa kau ingin agar kita secepatnya kembali ke Brescia?" tawarnya.


"Apa menurutmu tak masalah jika kita meninggalkan Dani setelah semua yang terjadi? Aku sangat mencemaskan mereka, Dani dan Francy. Aku takut Alex akan kembali lagi untuk mengganggu kakakku," ucap Mia terdengar khawatir. Raut wajahnya tampak begitu cemas.


"Aku rasa ia tidak akan berani berbuat macam-macam lagi terhadap Dani," bantah Matteo.


"Siapa yang bisa menjamin hal itu? Aku masih saja merasa cemas," ucap Mia lagi dengan setengah bergumam. Wanita itu kemudian terdiam untuk sesaat, sebelum kembali berbicara, "Bagaimana jika kau suruh Marco untuk tinggal sementara di sini. Biarkan ia menemani dan menjaga kedua saudariku untuk beberapa hari, hingga semuanya dirasa kembali aman," usul Mia. Ia berharap agar Matteo menyetujui idenya tersebut.


"Kenapa tidak, Sayangku. Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Aku akan berbicara dengannya setelah ini," ujar Matteo setuju. Ia kembali menurunkan tubuh Mia dari atas meja. "Omong-omong, aku sudah lapar. Buatlah sesuatu yang enak, seperti biasanya," ucap pria itu lagi seraya mengecup kening Mia dengan lembut.


"Tentu, Tampan," balas Mia. Ia mencubit mesra pipi Matteo, sebelum pria itu beranjak keluar dari dapur. Tak berselang lama, terdengar suaranya yang tengah berbincang dengan Marco di ruang tamu. Sementara Mia, segera melakukan tugasnya yaitu membuat sesuatu yang enak sesuai dengan pesanan sang suami.


Lain Mia, lain juga Adriano. Pria rupawan itu masih duduk termenung ditemani sebotol anggur berkualitas, di dalam paviliun yang ia sewa untuk bersenang-senang. Namun, pada kenyataannya pria itu tetap memilih kembali menyendiri. Adriano duduk bersandar dengan kepala mendongak ke langit-langit ruangan. Ia memejamkan mata dan mengenang apa yang terjadi beberapa waktu ke belakang, antara dirinya dan Mia.

__ADS_1


Itu bukanlah sebuah ciuman panas yang menggairahkan. Mia bahkan tak membalasnya sama sekali. Akan tetapi, hal tersebut begitu membekas di hati dan juga ingatan Adriano. "Aku bisa gila jika terus-menerus memikirkanmu, Mia," helaan napas berat pria bermata biru itu mengiringi ucapannya yang terdengar begitu dalam. Keluhan demi keluhan pun meluncur dari bibir berhiaskan kumis dan janggut tipis, yang membuatnya terlihat semakin maskulin.


Beberapa saat kemudian, terdengar ponsel milik Adriano berdering. Akan tetapi, pria itu terlalu malas untuk memeriksa panggilan masuk tersebut. Ia membiarkan ponselnya menyala hingga kembali padam. Namun, belum sampai satu menit, suara dering ponsel itu kembali terdengar. Lagi-lagi, Adriano mengabaikannya. Barulah pada panggilan berikutnya, pria itu memaksakan diri untuk membuka mata dan membetulkan posisi duduk menjadi sedikit tegak.


Nama Sergei Redomir tertera di layar sebagai si pemanggil. Adriano mendengus kesal. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu. "Kenapa baru diangkat?" protes Sergei dari ujung telepon.


"Untuk apa kau menghubungiku? Ulah bodohmu itu bisa saja membuat posisiku berada dalam bahaya! Di mana otakmu?" bentak Adriano. Ia seakan mendapat tempat untuk melampiaskan semua amarahnya yang sejak tadi tertahan.


"Hei, bung! Kau menamparku dengan sangat keras, dan aku tidak akan melupakan hal itu," balas Sergei kesal. Pria Rusia tersebut mendengus keras, sehingga terdengar dengan begitu jelas di telinga Adriano.


Namun, pria bermata biru tersebut tak mau menghiraukannya. “Sekarang apa maumu? Kau ingin berduel denganku?” tantang Adriano tanpa takut sedikit pun.


“Hei, hei, aku tidak mengatakan ingin berkelahi denganmu, don. Tidak mungkin aku melakukan itu kepada Adriano D’Angelo, sang bos besar,” Sergei yang menciut nyalinya, mulai melemparkan gurauan untuk mendinginkan suasana. “Aku hanya ingin menanyakan tentang satu hal,” lanjutnya lagi.


“Apakah menurutmu nona Daniella mengetahui sesuatu tentang Alex? Seperti di mana ia tinggal sekarang, atau apa pekerjaannya setelah kau memecatnya?” tanya Sergei hati-hati.


“Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu tentang hal itu?” Adriano balik bertanya.


“Kenapa tidak boleh? Meskipun bodoh, ia tetap adikku!” seru Sergei dengan nada tinggi. Beberapa saat kemudian, ia menyadari kesalahannya dan kembali menurunkan volume suaranha. “Maaf, aku tak bermaksud ….”


“Sudahlah, Sergei. Aku tak ingin berbicara denganmu untuk saat ini. Suatu saat nanti, aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu,” tutup Adriano. Dengan segera ia lalu mengakhiri panggilannya. Adriano tampak berpikir keras sambil sesekali menyugar rambut. Pada akhirnya, pria itu memutuskan untuk kembali mempergunakan ponsel. Kali ini ia bermaksud untuk menghubungi Benigno.


“Tuan,” sapa Benigno dari seberang sana, sesaat setelah dua nada panggilan suara.


“Benigno, di mana posisimu?” tanya Adriano lebih tenang dari saat ia berbicara kepada Sergei.

__ADS_1


“Masih tetap di depan hotel tempat tuan Redomir menginap, tuan,” jawabnya sopan dan penuh hormat.


“Bagus! Tetaplah di sana sampai aku memutuskan untuk menyuruhmu pergi. Awasi semua gerak-gerik dan tingkah lakunya. Beri laporan padaku tentang kemana pun pria itu hendak pergi,” titah Adriano panjang lebar.


“Saya memastikan hari ini tuan Redomir tidak pergi ke mana-mana, tuan,” sahut Benigno dengan begitu yakin.


“Sadap teleponnya. Bisa saja ia tidak keluar dari kamar hotel sama sekali, tapi benda kotak pipih itu mampu mengantarkan pesan maupun perintah darinya,” tegas Adriano.


"Untuk melakukan hal itu, saya akan membutuhkan waktu maksimal selama setengah jam, tuan," ucap Benigno.


"Tidak apa-apa, segera lakukanlah," titah Adriano sebelum akhirnya menutup sambungan telepon itu. Ia lalu menuangkan anggur ke dalam gelas dan meneguknya.


Cukup gelisah ia menunggu panggilan masuk dari anak buah kepercayaan sekaligus kesayangannya tersebut. Namun, kegelisaha itu berakhir tatkala nama Benigno tertera di layar ponsel dalam panggilan masuk. Adriano segera menjawab panggilan tersebut .


"Pronto (halo). Bagaimana hasilnya?" napas Adriano terdengar menderu dengan perasaan yang campur aduk.


"Tidak ada yang mencurigakan, tuan. Sergei Redomir telah memutuskan untuk pulang ke Monaco sore ini," tutur Benigno.


"Apa Sergei tidak mengungkit nama Alex?" tanya Adriano lagi.


"Anda tidak perlu khawatir. Kami sudah bekerja semaksimal mungkin untuk menutupi jejak kematian Alex, sesuai perintah," tegas Benigno meyakinkan tuannya.


"Sergei ada sedikit membahas tentang pria tersebut. Namun, saya pastikan bahwa tak ada seorang pun yang mengetahui tentang kejadian pada hari itu," lapor Benigno lagi.


"Bagus, jangan sampai Sergei mengetahuinya. Aku tidak mau ia sampai bertindak di luar kendali. Kau tahu, kan? Sergei itu sedikit gila," ujar Adriano.

__ADS_1


__ADS_2