
Matteo beranjak keluar dari kamar Mia. Ia menutup jendela balkon dengan rapat. Sebelum memutuskan untuk turun, Matteo kembali menatap Mia yang sudah terlelap dan tidak menyadari kepergiannya.
“Perasaan macam apa ini?” guman Matteo dalam hatinya. Ia sungguh tidak memahami semua yang telah terjadi kepada dirinya, dari semenjak pertemuannya dengan sosok Mia. Namun, Matteo tidak ingin terlalu larut dalam perasaan yang hanya akan membuat dirinya menjadi terlihat lemah. Bagaimanapun, untuk saat ini Matteo tidak tertarik dengan urusan asmara. Ia telah bertekad, setelah malam ini dirinya akan melepaskan perasaan aneh yang selama ini ia rasakan terhadap Mia.
Matteo bergegas turun dari balkon kamar itu. Ia melangkah ke tempat di mana mobilnya terparkir. Sebelum pergi dari sana, Matteo menyempatkan untuk melihat arlojinya. Tujuannya saat ini adalah bandara. Ia akan pergi ke Palermo dengan penerbangan pertama.
Beberapa saat kemudian, Matteo mulai menyalakan mesin mobilnya. Suasana masih sangat gelap dan sepi, karena saat itu baru jam tiga pagi. Matteo menjalankan mobilnya dengan tidak begitu terburu-buru. Ia juga terus mencoba melupakan apa yang telah dilakukannya tadi bersama Mia, meskipun kenyataannya bayangan gadis itu justru malah semakin kuat dan sering hadir di pelupuk matanya.
Beberapa saat di perjalanan, Matteo akhirnya tiba di bandara kota Venice. Ia segera memarkirkan mobilnya. Kebetulan saat itu suasana di bandara juga masih terbilang sepi. Matteo menunggu untuk beberapa saat hingga terlihat aktivitas normal di sana. Ia juga telah mengurus segala hal yang berkaitan dengan mobilnya. Ia akan menitipkan mobilnya di area parkir inap dan mengambilnya lagi saat nanti dirinya kembali dari Palermo.
Begitu yakinnya Matteo jika ia akan kembali dengan selamat. Namun, hal itu harus ia tekankan dalam dirinya. Matteo harus kembali ke Brescia, dan ia harus tetap hidup agar dirinya dapat kembali menemui orang tuanya dan juga ... Mia?
Entah perasaan apa yang ia miliki terhadap sosok lembut itu. Makin kuat Matteo menepis, semakin dalam rasa itu mengakar di dasar hatinya. “Ini tidak bagus,” gumam Matteo pelan. Ia sama sekali tak dapat berkonsentrasi pada rencana yang akan ia eksekusi dalam beberapa jam ke depan. Semua karena otaknya terus saja mengulang kegiatan yang baru saja ia lakukan bersama gadis itu.
Hampir satu setengah jam di dalam perjalanan, akhirnya Matteo tiba di kota Palermo. Coco sudah menunggunya di bandara. Ia harus bergerak cepat untuk menyusun rencana penyusupan ke dalam mansion milik Silvio Moriarty.
“Bagaimana perjalananmu, Kawan?” sapa Coco seraya merengkuh pundak Matteo dengan akrab. Ia sangat merindukan sahabatnya itu.
“Biasa saja. Aku hanya duduk di dalam pesawat. Sialan, aku tidak bisa tidur sama sekali!” jawab Matteo yang diakhiri dengan sebuah keluhan. Seperti biasa, ia selalu dengan gaya bicaranya yang dingin. Matteo kemudian masuk ke mobil van sewaan Coco. Ia begitu takjub dengan isi dari mobil itu yang dipenuhi berbagai peralatan canggih.
“Tidak perlu memuji. Aku tahu jika diriku memang dapat diandalkan,” celoteh Coco dengan penuh percaya diri. Ia mengikuti Matteo masuk ke mobil dan mulai menjalankannya. Mereka pun segera pergi meninggalkan bandara itu.
__ADS_1
“Kau yakin jika gadismu dapat diandalkan?” Matteo terdengar ragu akan kinerja Lenatta.
“Ya tentu saja,” jawab Coco dengan yakin. “Aku yakin Lenatta dapat melakukan tugasnya dengan baik,” tegasnya sambil terus menyetir. Laju mobilnya membelah jalanan kota Palermo yang saat tidak terlalu ramai.
Matteo kemudian berpindah tempat duduk ke bagian belakang, di mana terdapat layar monitor yang biasa Coco pantau. Ia segera membuka rekaman hasil dari pengamatan selama beberapa hari kemarin yang membuat dirinya sangat penasaran. Sesekali pria itu menguap panjang. Ia terlihat begitu kelelahan.
“Apa kau menyetir sepanjang malam, Kawan?” sindir Coco saat melihat sahabatnya dari pantulan spion dalam yang mengarah langsung ke arah Matteo. Sementara Matteo tidak memedulikan sindiran dari Coco. Ia masih fokus memerhatikan layar monitor dan menelisiknya dengan sangat teliti. Matteo memeriksa rekaman itu dengan sangat detail. Tidak ada satu adegan pun yang tidak ia lewatkan, terlebih saat itu ia melihat Silvio yang sepertinya akan pergi. Ia tampak terburu-buru dan meletakan sebuah remote di atas meja sebelah tempat tidurnya.
Matteo mengernyitkan keningnya. Ia merasa heran karena Silvio begitu gegabah meletakkan benda sepenting itu. “Seharusnya mudah sekali untuk mengambil remote kunci pintu rahasia itu,” celetuknya.
“Bagaimana bisa? Silvio menyimpannya di dalam saku celana. Benda itu selalu ia bawa ke manapun ia pergi,” sahut Coco sambil terus mengemudikan mobil van itu.
“Sepertinya tidak untuk kali ini. Ia melemparnya begitu saja ke atas nakas,” sahut Matteo dengan heran.
“Lalu?” Matteo menatap tajam ke arah Coco. “Ia tidak terlihat di layar kamera pengintai saat ini. Apa ia sengaja meninggalkannya di sana?" gumamnya kemudian.
“Hari ini adalah jadwalnya bersantai di sauna dan spa. Ia akan berada di sana seharian bersama .…” Coco menggantungkan kalimatnya. Ia mulai mengerti kenapa Silvio begitu terburu-buru.
“Kabar bagus untukmu, Sobat! Silvio melupakan benda sepenting itu demi gadisku,” seringai Coco.
“Jadi bagaimana?” tanya Matteo memastikan.
__ADS_1
“Kita menuju mansion Moriarty sekarang!” tegas Coco dengan semangat, sementara Matteo mengeluh pelan. Ia begitu lelah. Matteo telah salah strategi kali ini.
“Sebaiknya kita minum kopi dulu sebentar. Aku benar-benar merasa tidak karuan hari ini,” keluh Matteo. Ia mengempaskan tubuhnya pada sandaran jok mobil itu. Matteo pun memejamkan matanya untuk sejenak sambil memikirkan bagaimana caranya agar ia dapat menyelinap ke dalam Mansion Moriarty. Beberapa saat kemudian, Matteo kembali membuka matanya dan melirik Coco. “Bukannya kemarin kau mengatakan jika memiliki cara yang mudah untuk menyusup ke dalam Mansion Moriarty?”
Coco menoleh dan tersenyum. Ia menggerakan alisnya secara bersamaan. “Nanti kuberitahu. Sebentar, akan kubelikan kau kopi panas agar pikiranmu kembali jernih,” Coco membuka pintu mobil itu dan bermaksud untuk keluar. “Oh, kawan entah siapa yang telah membuatmu menjadi sekacau ini?” racau Coco seraya keluar. Sementara Matteo tidak memedulikan semua ucapan Coco. Ia hanya ingin mengumpulkan tenaganya untuk beberapa saat.
Tidak berselang lama, Coco kembali dengan dua cup kopi panas. Ia menyodorkan satu untuk Matteo dan satu lagi segera ia teguk. “Minumlah dulu, Kawan!” suruh Coco. “Kau terlihat sangat kacau, Theo,” ucap pria bermata coklat itu lagi. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri Matteo.
Matteo meneguk kopinya. Ia memang merasa sangat kacau saat itu. Namun, Matteo mencoba untuk terus menepiskan segala hal yang mengganggunya kini. “Aku tidak apa-apa,” bantah Matteo dingin dan datar.
“Kau terlihat aneh dari semenjak pelarianmu ke Venice. Aku tidak tahu siapa yang kau temui di sana, tapi untuk saat ini kau harus membuat dirimu jauh lebih fokus dari biasanya. Ingatlah siapa yang akan kau hadapi!” saran Coco. Tidak biasanya ia berbicara dengan nada seperti itu kepada Matteo.
Matteo menoleh dan tersenyum kecil. Ia lalu menepuk pundak Coco. “Kau tenang saja, Kawan! Aku masih dapat menguasai diriku dengan baik. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mengumpulkan tenaga,” Matteo mengela napas panjang dan mengempaskannya perlahan. Ia lalu terdiam dan tampak berpikir. Sesaat kemudian, Matteo kembali berkata, “Katakan bagaimana agar aku dapat masuk ke sana dengan mudah!”
Sementara itu, Mia terbangun dalam kebingungan. Ia tidak menemukan Matteo di sampingnya. Namun, Mia memiliki gelang yang kini terpasang di pergelangan tangannya. Mia menggenggam pergelangan kirinya. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja.
“Theo ....” Mia merintih pelan. Ia lalu bersandrar pada kepala ranjang seraya membetulkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Mia tidak menyangka jika Matteo akan pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada dirinya.
__ADS_1