
Pagi hari yang indah dengan langit yang begitu cerah menaungi kota Brescia. Matteo berdiri di depan cermin dan memperhatikan bayangan dirinya dalam pantulan cermin tersebut. Dirapikannya bagian depan kemeja berwarna putih yang dia kenakan saat itu. Tak berselang lama, Mia datang dan berdiri di belakang sang suami. Dia lalu memakaikan mantel hitam ke tubuh tinggi tegap tersebut. Mia pun mendekapnya dari belakang. Wanita itu membenamkan wajahnya pada tubuh bagian belakang suaminya. “Aku mencintaimu, Theo,” ucap Mia dengan kedua tangan yang melingkar di perut Matteo. Terasa begitu hangat dan mesra, bagi diri seorang Matteo de Luca.
Pria dengan mantel hitam itu hanya tersenyum kalem seraya meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Mia. Dia mengusap-usapnya perlahan dan seakan tengah memberikan sebuah jawaban tanpa untaian kata.
Matteo kemudian membalikan badan dan langsung menyambut manisnya bibir Mia. Untuk beberapa saat, sepasang suami-istri itu terlihat begitu menikmati apa yang tengah mereka lakukan. “Apa kau sudah mengatakan kepada Damiano bahwa kita akan mengajaknya pergi?” tanya Matteo setelah puas mencium sang istri. Dielusnya dengan lembut dan penuh perasaan pipi halus Mia untuk sesaat.
“Ya,” jawab Mia yang kemudian merapikan rambut dan pakaiannya. Ia juga mengenakan mantel panjang sebatas betis. “Biasanya paman Damiano selalu menolak jika kita mengajak dia keluar. Hari ini mungkin akan menjadi sesuatu yang berbeda untuknya,” ujar Mia.
“Dia selalu menyibukan dirinya di perkebunan. Tak ada salahnya kita sedikit memaksa agar dia bersedia untuk ikut,” balas Matteo. “Oh, aku sangat cemburu. Miabella ternyata jauh lebih dekat kepada Damiano dibandingkan padaku. Apa menurutmu aku bukan ayah yang baik?” Matteo tampak menautkan alisnya yang hitam dan tebal.
“Jangan bicara seperti itu, Theo,” ucap Mia tak setuju. “Dengarkan aku. Kau adalah ayah dan suami terbaik. Paman Damiano memang sangat menyayangi Miabella, dan aku senang karenanya. Kau juga harusnya merasa seperti itu, Sayang,” Mia menangkup wajah tampan sang suami dan kembali menciumnya. “Mari berangkat. Hari ini kita akan bersenang-senang,” ajak Mia seraya meraih tangan Matteo dan menariknya keluar dari kamar. Matteo tak menolak. Ia mengikuti langkah Mia menyusuri lorong, hingga akhirnya tiba di ruang tamu. Akan tetapi, mereka tak menemukan Damiano dan juga Miabella di sana.
“Di mana mereka?” tanya Matteo seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan luas itu.
“Mereka pasti sudah menunggu kita di halaman,” ujar Mia. Ia kembali menarik tangan Matteo dan mengajaknya keluar menuju halaman depan, dan benar saja bahwa yang mereka cari memang ada di sana. Damiano tengah asyik bermain dengan Miabella yang kini telah menginjak usia dua tahun. Gadis kecil itu tumbuh semakin cantik dan juga sangat aktif. Tak jarang dia membuat keributan di sekitar Casa de Luca dengan segala tingkah polahnya yang terkadang membuat Mia dan Matteo kewalahan. Namun, lain halnya dengan Damiano. Pria itu selalu sabar dalam mengasuh gadis berambut cokelat tersebut.
Hari itu, rencananya Mia dan Matteo akan mengajak Damiano pergi berjalan-jalan, makan di luar, dan melakukan segala hal yang menyenangkan. Keduanya bermaksud untuk memberikan kejutan ulang tahun, kepada pria yang kini genap berusia lima puluh lima tahun tersebut. Damiano sepertinya tak menyadari tentang hal itu, karenanya dia seakan tak mampu berkata apa-apa. Damiano tak menyangka ketika tiba-tiba Matteo dan Mia mengucapkan selamat dengan dibarengi sebuah hadiah kecil.
“Apa ini, Nak?” Damiano tampak begitu terharu dengan perlakuan yang ia terima dari Mia dan Matteo. Raut wajahnya menyiratkan sesuatu yang penuh arti mendalam, ketika memandangi kotak berwarna hitam tanpa hiasan apapun di atasnya.
“Bukalah, Paman,” sahut Mia dengan senyuman manisnya. Sementara Matteo sedang sibuk menyuapi Miabella yang tengah asyik menyantap es krim di tepi Danau Garda sambil menikmati keindahan pemandangan tempat tersebut.
Tanpa berlama-lama, Damiano segera membuka kotak kado berisi hadiah dari Matteo dan juga Mia. Seketika, senyuman lebar terkembang di wajah tuanya yang sudah mulai keriput. Dia memperhatikan semua hadiah itu.
__ADS_1
Adalah sebuah topi, jam tangan, dan juga ponsel baru. Damiano kemudian mengalihkan tatapannya kepada Mia dan Matteo secara bergantian. “Hadiah yang sungguh luar biasa, Nak,” ucapnya penuh haru.
“Kau membutuhkan topi yang baru, Damiano. Rasanya bosan sekali melihatmu setiap hari dengan topi yang sama,” ujar Matteo tanpa mengalihkan perhatiannya dari si kecil Miabella yang terlihat begitu senang melihat berbagai aktivitas di sekitar area danau itu.
Sedangkan Damiano hanya tertawa mendengar ucapan Matteo. "Itu topi kesayanganku, Theo."
“Theo benar, Paman. Aku sengaja memilih jam tangan, agar Paman tidak lupa waktu jika sudah berada di perkebunan ataupun di gudang pengecekan. Paman juga membutuhkan ponsel yang baru dengan kamera dan segala fitur penunjang yang memadai. Jadi, simpan saja ponsel lama Paman meskipun itu merupakan ponsel yang bersejarah,” Mia ikut menimpali. Dia menjelaskan alasan dari semua hadiah yang diberikannya untuk Damiano.
“Mia benar, Damiano. Segala sesuatu pasti akan berubah. Generasi lama akan berganti dengan yang baru. Itu sudah menjadi hukum alam yang tidak bisa ditentang. Aku ingin kau selalu panjang umur, agar dapat senantiasa menemani kami semua. Bagaimanapun juga, aku dan Mia sangat membutuhkan sosok orang tua sepertimu yang bisa membimbing kami berdua,” ucap Matteo. Makin lama, pemikiran pria itu semakin bijaksana dan tenang.
Setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai ketua klan, Matteo memang banyak berubah. Pria yang dulu terkenal dengan watak tempramennya, kini sudah jauh lebih terkendali. Matteo pun menjadi lebih religius dengan rutinnya dia mengunjungi gereja untuk berdoa. Niatnya agar dapat membersihkan diri dari segala macam dosa masa lalu, benar-benar dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Hal itu membuat Mia merasa begitu terharu dan juga bahagia tentunya.
“Paman dengar itu? Theo-ku sekarang sudah banyak berubah,” ucap Mia seraya melirik sang suami.
“Kau selalu dipenuhi dengan sejuta pesona, Tuan de Luca,” balas Mia. “Jangan lupa, hari ini paman Damiano yang sedang berulang tahun, jadi tolong jangan perlihatkan pesonamu sekarang karena aku pasti akan jauh lebih memperhatikanmu,” ujar Mia menanggapi lirikan nakal Matteo.
“Hey, lagi pula siapa yang akan melirik dan terpesona dengan pria tua sepertiku,” canda Damiano seraya terkekeh. Bersamaan dengan itu, Miabella turun dari tempat duduknya dan menarik tangan Damiano. Gadis kecil tersebut mengajak Damiano untuk berjalan-jalan.
“Lihat, bahkan gadis kecil saja terpesona kepadamu, Paman,” timpal Mia dengan tawanya.
“Kau ingin ke mana, Bella?” Damiano bertanya dengan nada bicaranya yang sangat lembut.
“Ke sana,” tunjuk Miabella meluruskan jari telunjuknya ke arah yang dia inginkan. Namun, sebelum menyetujui permintaan gadis kecil itu, Damiano sempat menoleh kepada Matteo seakan ingin meminta izin. Matteo membalasnya dengan sebuah anggukan kecil. Damiano pun berdiri dan menuruti ajakan Miabella. Ia menuntun gadis kecil itu untuk melihat sudut lain dari tempat tersebut.
__ADS_1
Sementara itu, Mia memperhatikan mereka dari kejauhan. Lain halnya dengan Matteo yang terlihat asyik memperhatikan Danau Garda dengan airnya yang sangat jernih. Satu kebahagiaan kecil dan sederhana yang dia ciptakan dan terasa begitu berarti, yaitu kebersamaan. Dirinya mungkin kini bukan lagi orang nomor satu di dalam klan de Luca, tetapi itu bukan yang Matteo cari saat ini. Kehadiran Mia dan juga putri kecilnya Miabella, justru telah mengantarkannya pada posisi yang bahkan mungkin tak semua orang dapat menggapainya. Hidup Matteo terasa lengkap dan sempurna dengan menjadi seorang suami dan juga seorang ayah yang selalu ada untuk kedua wanita paling berharga dalam hidupnya kini.
“Bagaimana jika kita ke gereja dulu sebentar?” cetus Matteo saat mereka dalam perjalanan pulang.
“Bukan ide yang buruk, Theo,” jawab Mia. Sedangkan Damiano setuju-setuju saja. Matteo pun mengalihkan laju mobil jeepnya menuju ke salah satu gereja di kota Milan. Setelah tiba di sana, mereka segera turun dan memasuki bangunan tersebut. Matteo dan Mia tampak begitu khusyuk berdoa. Entah apa yang mereka panjatkan saat itu, yang pasti hanya diri mereka dan Tuhan yang mengetahuinya.
Tenang dan damai, itulah yang Matteo rasakan setelah dirinya melepaskan diri dari lingkaran dunia hitam yang penuh intrik dan emosi. Pria itu sesekali melihat kedua telapak tangan yang telah sekian lama tak memegang senjata dan ternoda oleh darah lawan-lawannya. “Apakah aku sudah sepenuhnya bersih, Tuhan? Jika memang belum, dengan cara bagiamana harus kuhapuskan segala dosa-dosa yang telah kuperbuat, agar aku bisa terlahir kembali menjadi seseorang yang baru. Bantu aku untuk menghilangkan segala beban dan melepaskan setiap hasrat duniawi yang hanya akan memberatkanku nantinya. Terima kasih untuk semua berkah dan rahmat-Mu. Terima kasih telah mengirimkan orang-orang yang luar biasa dalam hidupku. Terima kasih, karena Kau telah memberikan Mia dan juga Miabella untuk menyempurnakan segala kekurangan yang selama ini aku rasakan. Terima kasih untuk segalanya, Tuhan,” Matteo berucap dalam hatinya. Kalimat yang sama dan selalu dia ucapkan sebagai penutup dari doa-doa yang dia panjatkan. Sesaat kemudian, Matteo pun membuka matanya perlahan. Diliriknya ke samping, kepada Mia yang tengah menatapnya dengan binar indah dan senyuman penuh cinta. Matteo pun membalas hal itu dengan hal yang sama.
“Aku ingin pulang dan segera beristirahat, Cara Mia,” ucap Matteo pelan.
“Kau bisa beristirahat dengan tenang dan tanpa gangguan dari apapun di atas pangkuanku, Theo. Bukankah kau senang jika aku memelukmu saat kau tertidur? Aku akan selalu melakukannya untukmu, Suamiku,” rasa haru menyeruak begitu saja dalam dada Mia, membuat wanita cantik berambut cokelat tersebut tanpa sadar meneteskan air matanya.
Dengan segera, Matteo menghapus air mata yang jatuh di sudut bibir Mia. “Apapun yang terjadi padaku, tolong jangan pernah menangis karenanya. Aku hanya ingin memberikan senyuman kebahagiaan untukmu, bukan kepedihan. Karena itu, tetaplah menjadi Mia yang kuat, terlebih saat ini kita memiliki Miabella,” Matteo kemudian beranjak dari duduknya dan mengajak Mia untuk melangkah keluar. Sementara Damiano sudah terlebih dahulu menunggu di dekat mobil. Dia tak menunjukkan ekspresi lelah meskipun harus mengikuti Miabella ke sana-kemari.
Suasana di sekitar gereja itu memang tidak terlalu ramai, mungkin karena sudah menjelang sore. Mia sempat merapikan bagian depan mantel yang Matteo kenakan. Sesuatu yang kini selalu dia lakukan setiap hari, terlebih ketika Matteo akan pergi untuk urusan pekerjaan. “Kau harus selalu terlihat rapi dan tampan, meskipun sebenarnya aku takut akan ada banyak wanita yang memandang dan bahkan menggodamu, Theo,” ujar Mia tanpa melepas senyumnya. Dia juga menyempatkan diri untuk mencium sang suami, sebelum pria itu membukakan pintu mobil untuknya.
“Ada banyak wanita, tapi bagiku hanya kau satu-satunya, Sayangku,” balas Matteo. Dia mempersilakan Mia untuk segera masuk. Setelah itu, Matteo mengitari mobilnya dan bermaksud untuk membuka pintu. Akan tetapi, tiba-tiba pria itu tertegun dengan tatapan aneh kepada Mia yang sejak tadi tak melepaskan pandangan darinya. Matteo kemudian tersenyum samar.
🍒🍒🍒
Hai, reader setia Pesona Tuan De Luca. Jangan lupa untuk mengikuti spin off dari novel ini yang berjudul : Jerat Asmara Sang Mafia.
Akan ada banyak kejutan di sana, dan pastinya tak kalah seru dari novel sebelumnya. Grazie.
__ADS_1