
Malam kian larut dan menghadirkan suasana sepi di sekitar Casa de Luca, seakan tak pernah ada pesta yang berlangsung di tempat itu. Semua penghuni rumah pun sepertinya telah terlelap, tak terkecuali Mia. Ia tertidur dalam dekapan sang suami. Matteo mungkin menjadi orang satu-satunya yang masih terjaga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan mata setelah kejadian tadi siang dalam acara pernikahannya.
Diliriknya sang istri yang sudah tertidur nyenyak. Matteo kemudian melepaskan Mia dari dekapannya dan menidurkan wanita muda itu dengan beralaskan bantal. Matteo melakukannya dengan sangat hati-hati, tapi tetap saja hal itu membuat Mia terbangun. “Jangan tinggalkan aku!” pinta Mia dengan suaranya yang parau seraya memegangi pergelangan tangan Matteo.
Matteo yang tadinya bermaksusd untuk turun dari tempat tidur, segera mengurungkan niatnya. “Aku tidak ke mana-mana,” ucapnya seraya mengelus lembut rambut sang istri. “Lanjutkan tidurmu, Sayang." .
Mia tersenyum lembut. Ia lalu memejamkan matanya. Hingga beberapa saat kemudian, wanita muda tersebut kembali terlelap. Saat itulah Matteo memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Ia melangkah menuju dapur dengan bertelanjang dada, sehingga mengekspos seluruh tato yang tergambar di tubuhnya. Seperti biasa, Matteo membuka lemari pendingin dan mengambil sekaleng bir. Setelah itu, ia keluar dari dapur dan hendak menuju bukaan ruang tamu. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika dirinya tiba-tiba berpapasan dengan Sorella.
“Maaf, Tuan,” ucapnya dengan wajah tertunduk. Meskipun saat itu suasana temaram, tetapi Matteo dapat melihat ekspresi terkejut yang ditunjukkan oleh wanita itu.
“Dari mana kau malam-malam begini?” selidik Matteo.
“Saya pulang sebentar untuk melihat keadaan anak saya, Tuan. Kebetulan saya sudah mendapat izin dari Tuan Damiano,” jawab Sorella masih dengan sikapnya yang terlihat gugup.
“Malam-malam begini?” Matteo terdengar ragu. Pria itu menajamkan penglihatannya. Sepasang mata abu-abu miliknya seakan dipaksa untuk melihat sesuatu yang tersembunyi dan terasa begitu janggal.
“Ya, Tuan. Siang tadi saya begitu sibuk mengurusi banyak hal, karena itu saya baru sempat ke sana setelah semua urusan di sini selesai,” jelas Sorella. “Saya permisi dulu, Tuan. Selamat malam,” wanita itu mengangguk hormat kemudian berlalu dari hadapan Matteo yang saat itu mengiringi kepergiannya dengan tatapan tajam. Beberapa saat kemudian, Matteo melanjutkan niatnya untuk menuju ke arah bukaan ruang tamu, tempat biasa ia menikmati birnya di saat malam.
Matteo menyandarkan lengannya pada salah satu dinding bukaan berbentuk melengkung itu. Tatapannya menerawang jauh menembus kegelapan malam. Ketenangan hidupnya kembali terusik setelah sekian waktu berlalu. Dalam ingatannya, terus berputar-putar ucapan yang sempat dilontarkan Antonio tentang kecurigaannya terhadap Damiano.
Diteguknya bir dingin yang ia genggam. Sesaat kemudian, Matteo tertegun karena merasakan ada langkah seseorang yang menuju ke arahnya. Pria bermata abu-abu tersebut segera menoleh.
Tampaklah Damiano yang muncul dari dalam keremangan ruangan itu. Pria paruh baya tersebut melangkah semakin dekat hingga akhirnya berdiri dan mensejajari Matteo di sebelah kanannya. “Kau belum tidur, Anakku?” tanyanya pelan. Ia melirik Matteo untuk sesaat, sebelum akhirnya meluruskan pandangannya ke depan dan menatap hal yang sama. Sesuatu yang sedang menjadi perhatian putra asuhnya.
“Aku tidak bisa tidur, Damiano,” sahut Matteo datar. Sesekali ia kembali meneguk minumannya.
“Kau memikirkan insiden tadi siang, Nak?”
“Ya,” jawab Matteo. “Bagaimana kau bisa kecolongan seperti itu? Bukankah kau sudah merancang pesta tadi siang dengan serapi mungkin? Bagaimana kau bisa tidak mengetahui ada wanita asing yang menyusup masuk dan merusak pesta pernikahanku?” nada bicara Matteo terdengar penuh penekanan dan seakan menyudutkan Damiano. Akan tetapi, meskipun begitu Damiano masih terlihat tenang.
__ADS_1
“Ia bukan wanita asing, Theo. Wanita itu memang salah satu pelayan di sini. Entah berapa bayaran yang ia terima untuk melakukan hal itu. Aku rasa, pasti lebih besar dari upah yang kita berikan setiap bulannya,” terang Damiano. “Kau sudah memeriksanya? Ia ada di penjara bawah tanah. Aku sudah memerintahkan beberapa pengawal untuk menempatkan wanita itu di sana, sampai kau siap untuk menginterogasinya,” lanjut pria bermata hijau itu.
Matteo mengela napas dalam-dalam. Sesaat kemudian ia kembali meneguk minumannya. “Seharian tadi aku sibuk menemani Mia. Ia begitu ketakutan,” Matteo terdiam sejenak. “Aku tidak mengerti, dari mana orang yang menyuruh pelayan itu bisa mengetahui jika Mia memiliki trauma dengan gaun pengantin. Aku tidak mengatakan hal itu kepada siapa pun. Hanya kau dan Coco yang mengetahuinya,” Matteo melirik ke arah Damiano dengan sorot matanya yang tajam.
“Kau mencurigaiku, Nak?” Damiano membalas tatapan Matteo.
“Aku berhak mencurigai siapa pun saat ini. Dari dulu aku sudah mengetahui ada pengkhianat yang bersembunyi di dalam Casa de Luca. Namun, betapa bodohnya aku karena hingga detik ini masih memelihara dan membiarkannya hidup dengan tenang!” nada bicara Matteo terdengar jauh lebih tegas dari sebelumnya. Sepertinya ia mulai tersulut amarah yang masih berusaha untuk ia tahan.
Damiano menyentuh bahu Matteo. “Tenangkan dirimu, Anakku. Kau tidak akan menemukan apapun dalam kemarahn selain rasa kecewa yang mungkin akan semakin membuatmu putus asa. Kemarahan hanya akan membuat akal sehatmu menjadi semakin tumpul, sehingga kau tidak dapat berpikir dengan jernih. Instingmu tidak akan bekerja dengan baik, karena kau akan jauh lebih mendahulukan hawa nafsumu dibandingkan dengan rasionalitas yang seharusnya kau pegang teguh. Ingat, Theo! Kau adalah ketua dari Klan de Luca saat ini. Kau tidak bisa bertindak dengan mengikuti amarahmu yang selalu meledak-ledak seperti itu, Anakku!”
“Kau pikir aku tidak pantas marah setelah apa yang terjadi pada Mia tadi siang?” protes Matteo dengan tegas. Namun, ia tetap berusaha untuk mengontrol volume suaranya agar tidak menimbulkan kegaduhan di sana. “Kau tidak melihat bagaimana keadaan Mia selama seharian ini! Entah apa yang kau lakukan setelah pesta berakhir!” dengus Matteo dengan napas yang mulai memburu. Emosi dalam dirinya muncul dengan tiba-tiba dan mulai menguasai dirinya, menyingkirkan semua ketenangannya dengan segera.
Damiano hanya tersenyum. Rautnya masih terlihat damai dan teduh. Tak tampak rasa gelisah dan was-was sedikitpun di sana. “Setelah pesta berakhir, aku membereskan semua kekacauan di sana dan membawa pelayan itu ke penjara bawah tanah, bersama Coco tentunya. Aku juga menjelaskan kepada seluruh kolega ayahmu bahwa semua baik-baik saja. Kukatakan pada mereka, Matteo de Luca sudah mengatasi semuanya dengan baik,” tutur Damiano. “Tidak masalah jika kau mencurigaiku, Nak. Namun, aku yakin waktu yang akan menjawab semuanya,” lanjutnya.
Matteo terlihat berpikir dalam-dalam. Beberapa saat kemudian, ia mengangkat kaleng minumannya lalu meneguknya sampai habis dengan sorot matanya yang tajam, mengarah ke Damiano. “Aku akan menghubungi Zucca. Ia yang akan mengawal ke manapun kau pergi, agar aku bisa mengawasi setiap gerakanmu,” tegasnya kemudian sambil berlalu dari hadapan pria paruh baya itu.
“Tidak masalah, Nak!” ucap Damiano seraya menatap punggung Matteo hingga tak terlihat.
“Zucca, segera temui Damiano! Kawal terus pria itu sampai aku memerintahkanmu untuk berhenti!” titah Matteo dengan nada dingin.
Secepatnya Matteo mengakhiri panggilan itu. Ia khawatir jika tidur Mia akan terganggu dengan suaranya. Matteo kemudian berbaring di sisi istrinya sambil menatap lekat wajah cantik itu hingga akhirnya ia pun tertidur.
......................
Matteo memicingkan matanya, ketika ia merasa sentuhan jemari yang lembut membelai bibirnya. Tak tahan menghadapi godaan, ia menggigit pelan ujung jari itu dan membuka matanya. “Jangan nakal, Mia,” ujarnya.
“Selamat pagi, Theo,” ucap Mia seraya tersenyum.
Matteo membalasnya dengan kecupan lembut di kening sang istri.
__ADS_1
“Bagaimana suasana hatimu?” tanya Matteo.
“Jauh lebih baik. Grazie,” jawab Mia sembari meletakan kepalanya di dada bidang Matteo.
“Syukurlah,” Matteo terdiam untuk beberapa saat, sebelum kembali berbicara. “Kau tidak apa-apa jika hari ini kutinggal sebentar? Aku akan menyuruh Francesca dan Daniella untuk menemanimu."
Segera Mia mengangkat kepalanya dan mendongak pada Matteo. “Kau akan pergi ke mana? Apakah jauh? Apakah lama? Bolehkah aku ikut?” cecarnya. Matanya membulat penuh harap.
“Aku punya sedikit urusan. Tidak jauh, masih di sekitar Casa de Luca,” jawab Matteo singkat.
Lama ia menunggu jawaban dari Mia, hingga wanita muda itu menganggukkan kepalanya. Seutas senyum samar terbit di bibir Matteo.
Tak ia sia-siakan izin yang berhasil dikantonginya. Tanpa membuang waktu, Matteo segera memakai kausnya dan memanggil Francesca. Selang beberapa saat, Francesca dan Daniella sudah tiba di kamar sambil membawakan sarapan untuk Mia.
“Jaga Mia baik-baik. Aku akan segera kembali,” titahnya sebelum bergegas keluar dari kamar.
Matteo setengah berlari menyusuri lorong dan berhenti di sebuah pintu yang terletak paling ujung. Ia lalu membuka pintu itu dan terlihatlah sebuah anak tangga menuju ke bawah. Matteo pun menuruni anak tangga tersebut hingga melewati beberapa lantai.
Di lantai paling akhir, Matteo berhenti dan berjongkok. Ada sebuah tuas yang terlihat menonjol di permukaan lantai. Ia kemudian menarik tuas itu hingga lantai kayu di hadapannya bergeser dan memperlihatkan sebuah anak tangga lagi yang harus Matteo lewati untuk sampai ke ruang bawah tanah. Dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya.
Penerangan di ruang bawah tanah itu biasanya cukup baik. Ada beberapa titik lampu yang terdapat di langit-langit ruangan. Akan tetapi, saat itu justru kegelapanlah yang Matteo temui.
Berkali-kali ia berusaha menekan tombol saklar, tapi lampu-lampu itu tak mau menyala. Tak putus asa, Matteo merogoh ponsel dari saku celana, lalu menyalakan senter. Pemandangan mengerikan pun kini tersaji di hadapannya.
Pelayan yang berada di balik jeruji penjara bawah tanah itu, ia temukan dalam keadaan tak bernyawa. Matanya melotot dengan leher tergantung di tali. Sementara tali itu dikaitkan pada ruas-ruas lubang ventilasi yang terbuat dari besi. Matteo mencari kunci dengan salah satu tangan yang masih memegang ponsel. Ia membuka terali besinya secara tergesa-gesa.
Diturunkannya pelayan yang telah menjadi mayat itu lalu ia baringkan di lantai. Ada setetes buih berwarna putih yang keluar dari sudut bibir wanita itu. Dipegangnya pergelangan tangan si mayat yang masih hangat. “Kematiannya belum lama,” gumamnya. Matteo mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan bantuan senter dari ponselnya. Ia juga mengarahkan cahaya ke beberapa pasang kamera cctv yang terletak di sudut-sudut ruangan. “Ck!” kekesalan Matteo kian memuncak. Pasalnya seluruh kamera CCTV dalam keadaan pecah dan berlubang, seperti bekas terkena tembakan.
__ADS_1