Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Vendetta


__ADS_3


Vincenzo Moriarty telah tiba di Italia. Ia mengesampingkan rasa lelahnya setelah melakoni perjalanan panjang. Ia langsung menuju ke rumah duka. Vincenzo ingin melihat jenazah sang adik untuk terakhir kalinya.


Ditatapnya wajah tampan Silvio yang terbaring tak bernyawa di dalam peti mati. Sudah lama mereka tidak bertemu. Sungguh disayangkan, karena kini dirinya hanya dapat melihat sesosok jasad tanpa nyawa. Vincenzo sempat menyentuh wajah Silvio sebelum dimakamkan.


Raut datar dan dingin yang ditunjukan Vincenzo terlihat semakin jelas, ketika peti jenazah mulai dibawa ke pemakaman. Vincenzo menatap tajam peti yang mulai dimasukan ke liang lahat. Ia tidak pernah menyangka jika adiknya akan pergi secepat itu, dan dengan cara yang sangat keji.


Sedih dan tentu saja marah bercampur menjadi satu dalam hatinya. Vincenzo bertekad bahwa ia tidak akan melepaskan siapa pun yang telah berani bermain-main dengan Klan Moriarty.


Diletakannya seikat bunga di atas pusara sang adik. Pria dengan mantel berwarna hitam itu memegang erat topinya. “Dormi, fratello mio (Tidurlah, adikku). Kematianmu akan segera kubalaskan!” janji Vincenzo seraya memakai topinya kembali. Ia kemudian membalikan badannya dan berlalu meninggalkan tempat pemakaman tersebut dengan diiringi beberapa orang pengawalnya.


Selama di dalam perjalanan menuju mansionnya, Vincenzo tidak banyak bicara. Pria dengan garis wajah yang sangat tegas itu seakan tengah berpikir. Sesekali, ia melihat ke luar jendela kaca mobilnya. Vincenzo menatap jalanan kota Palermo yang sudah beberapa tahun ini ia tinggalkan.


Kematian Silvio lebih dari sekadar mimpi buruk baginya. Ia harus kembali memutar otak untuk tetap dapat menjalankan organisasinya di dua negara yang berbeda. Tentu saja, setelah ini Vincenzo harus segera mencari seseorang yang dapat ia percaya untuk dapat menjadi wakilnya.


Dalam dunianya, Vincenzo diajari untuk tidak percaya pada siapa pun selain dirinya sendiri. Semua orang dapat berkhianat, termasuk saudaranya. Berbeda penilaiannya terhadap Silvio, meskipun ia tahu jika adiknya juga merupakan orang yang yang sulit untuk dipercaya.


Ya, Vincenzo mengetahui pengkhianatan yang Silvio lakukan terhadap sahabatnya sendiri yaitu Matteo de Luca. Pantaskah dirinya mencurigai putra mahkota dari Klan de Luca tersebut?


Vincenzo semakin terlihat serius. Sepasang matanya terlihat begitu tajam dan menakutkan. Pria tiga puluh dua tahun itu sepertinya telah menemukan sebuah petunjuk. Setelah tiba di mansion mewah miliknya, Vincenzo segera memanggil seorang pria bernama Genaro.


Genaro adalah orang kepercayaannya. Pria itu bisa juga disebut sebagai penasihat pribadinya. Namun, Genaro ia tempatkan di Italia. Sosoknya yang teliti sangat dibutuhkan untuk dapat membimbing Silvio, meskipun Genaro tidak tinggal bersama pria itu. Namun, komunikasi antara Genaro dan Silvio terjalin dengan intens.


“Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” pria dengan postur tidak terlalu tinggi itu membungkuk hormat di hadapan Vincenzo.

__ADS_1


Vincenzo tengah mengisap cerutunya saat itu. Asap tipis pun mengepul dari dalam mulutnya. Tatapan tajam dan tegas ia layangkan kepada pria dengan blazer hitam yang tampak begitu tunduk kepada dirinya.


Vincenzo kembali mengisap cerutunya. Ia belum juga berkata apa-apa. Hal itu membuat Genaro menjadi tegang. Dengan sabar ia menunggu tuannya untuk bicara.


“Ceritakan padaku tentang tragedi kemarin. Siapa yang menemukan kekacauan di mansion adikku?” tanya Vincenzo setelah beberapa saat ia terdiam. Nada bicaranya terdengar sangat tegas, datar, dan penuh wibawa. Hal itu membuat siapa pun yang berhadapan langsung dengan dirinya pasti akan merasa segan.


“Kemarin ada seseorang yang mengirimkan sinyal darurat kepada kami. Saya segera menugaskan kelompok dua untuk memeriksa ke mansion milik tuan Silvio. Namun, ketika mereka tiba di sana, keadaan di mansion itu sudah berantakan. Mereka tidak menemukan jejak siapa pun yang bisa dijadikan sebagai petunjuk,” terang Genaro dengan sikapnya yang masih terlihat begitu hormat.


"Kenapa kalian bisa sampai terlambat datang ke sana?" Vincenzo tiba-tiba berkata dengan nada tinggi. Emosi dalam dirinya sudah terlalu sulit untuk ia bendung.


"Maafkan kami, Tuan. Anda tahu sendiri jarak antara mansion ini dengan mansion milik tuan Silvio cukup jauh," kilah Genaro.


“Apakah mereka sudah memeriksa kamera pengawas?” tanya Vincenzo lagi. Ia kembali mengisap cerutunya.


“Ambil dan periksa semua rekaman selama satu minggu ini! Periksa dengan teliti dan jangan sampai ada yang terlewat! Aku ingin laporannya besok siang, bagaimanapun caranya!” perintah Vincenzo dengan tegas. Ia kembali mengisap cerutunya.


“Baik, Tuan. Saya akan segera memerintahkan beberapa orang untuk kembali ke sana. Mungkin juga kita bisa menemukan petunjuk yang lain,” ujar Genaro lagi. Setelah mendapat persetujuan dari Vincenzo, ia pun pamit dan keluar dari ruang kerja sang bos.


Vincenzo terdiam dan berpikir. Ia yakin jika bukan hal yang sulit bagi dirinya untuk dapat menemukan pembunuh Silvio. Di saat ia dapat menemukan si pelaku, maka ia akan membuat orang itu menyesal untuk seumur hidupnya. Itulah sumpah seorang Vincenzo Moriarty. Sementara Vincenzo adalah orang yang tidak akan berhenti, sebelum apa yang menjadi sumpahnya dapat terwujud.


................


Keesokan harinya.


Anak buah Vincenzo bekerja dengan sangat baik dan cepat. Sebelum tengah hari, Vincenzo sudah mendapatkan laporan yang diinginkannya, yaitu hasil dari rekaman kamera pengawas di mansion milik Silvio selama satu minggu ke belakang.

__ADS_1


Seorang pria menunjukkan rekaman secara bertahap kepada Vincenzo. Sementara Genaro yang bertugas untuk menjelaskan semua hal yang diketahuinya. Pria itu terlihat sangat cakap dan seakan mengetahui banyak hal. Mungkin karena itulah, ia dijadikan penasihat oleh Vincenzo.


“Pria itu bernama Fabio Flanelli. Ia merupakan seorang mucikari kelas kakap yang biasa memasok gadis-gadis untuk tuan Silvio. Ia datang membawa gadis-gadis untuk bulan ini. Sementara, gadis-gadis itu semuanya telah melarikan diri saat terjadi penyerangan berdarah ke sana.


Namun, kelompok dua menemukan mayat seorang wanita yang berada tidak jauh dari mayat tuan Silvio. Wanita itu merupakam salah satu dari gadis-gadis yang dikirim oleh Fabio Flanelli,” jelas pria yang masih setia berdiri di sebelah Vincenzo.


Sementara, Vincenzo sendiri saat itu terus fokus pada layar komputer di hadapannya. Sepasang matanya yang tajam semakin terlihat tajam ketika ia melihat satu rekaman yang dirasa janggal olehnya. “Siapa wanita itu?” tunjuk Vincenzo.


“Ia salah satu gadis yang dikirim Fabio untuk tuan Silvio. Mayatnyalah yang ditemukan berada tidak jauh dari mayat tuan Silvio,” jelas pria itu.


“Perjelas rekamannya!” titah Vincenzo kepada pria yang membantunya memutar kembali rekaman dari kamera pengawas itu. Vincenzo melihat rekaman ketika Coco mengirimkan pizza untuk Lenatta.


“Sejak kapan seorang kurir makanan bisa masuk ke dalam mansion Silvio?” pertanyaan yang bernada curiga dari Vincenzo. Ia melihat wajah Coco dengan cukup jelas meskipun pria itu memakai topi. Insting seorang Vincenzo mulai bekerja. Pria itu merasakan hal lain.


“Temui mucikari itu dan cari informasi darinya tentang apapun! Gadis itu, dari mana ia mendapatkannya, apa saja! Kau paham?” perintah Vincenzo dengan sangat tegas. “Aku ingin informasinya besok pagi dengan lengkap. Ingat jangan sampai ada yang terlewat!” titah pria itu lagi. Ia tampak menahan emosi yang bergejolak di dalam dirinya.


Genaro segera membungkuk tanda mengerti akan tugas yang diberikan oleh tuannya. “Baik, Tuan. Anda akan menerima laporannya dengan segera,” jawab pria itu hormat. Sesaat kemudian, ia pun berlalu dari ruangan Vincenzo. Sementara Vincenzo tampak mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya telah memuncak dan siap untuk ia lampiaskan.


Seandainya saja ia sudah mendapatkan informasi yang valid, yang dapat memperkuat apa yang menjadi kecurigaannya, maka ia akan segera mengerahkan anak buahnya untuk menghabisi orang itu. Vincenzo tidak akan memberinya ampun sama sekali. Ia bersumpah bahwa dirinya akan menghancurkan tubuh orang itu hingga berkeping-keping.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2