
Sepulang dari kedai, Mia segera masuk ke kamarnya. Ada satu hal yang belum sempat ia lakukan sejak kemarin. Mia masih merasa penasaran dengan jati diri yang sebenarnya dari seorang Matteo.
Gadis itu segera mengambil laptopnya. Ia kemudian duduk di atas tempat tidur dan mulai membuka laptop itu. Mia mulai mencari nama Matteo Bellucci pada situs pencarian nama untuk daerah Brescia. Namun, ternyata ia tidak dapat menemukan nama itu.
Tak berputus asa, Mia lalu mencari nama Matteo de Luca. Lagi-lagi, ia tidak menemukan nama itu di sana. Namun, Mia tidak mau menyerah. Ia mencari kedua nama itu di internet. Hasilnya tetap nihil, karena saat Mia memasukan kata kunci Matteo de Luca, maka yang muncul adalah sebuah perkebunan anggur yang sangat luas dengan sebuah bangunan megah bergaya Tuscany.
Mia mengernyitkan keningnya. Ia heran karena profil tentang Matteo begitu tersembunyi dan sangat sulit untuk diakses. Namun, pada akhirnya Mia mulai tertarik untuk membaca artikel yang tertulis di sana, yang mengupas habis tentang keluarga de Luca yang merupakan keluarga petani sukses.
Mia mengeluh pelan. Ia kemudian mengempaskan tubuhnya ke atas tumpukan bantal. Niatnya untuk mencari dan mengetahui identitas Matteo yang sebenarnya sudah bulat. Mia tidak akan mundur lagi. Ia tidak ingin menjalani hari-harinya dengan membawa rasa penasaran yang kian menyiksa dan terus mengusiknya. “Ya, aku harus melakukannya,” gumam gadis itu pelan.
Untuk sesaat, ia kembali memerhatikan gelang yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Mia selalu menjaga gelang itu dengan baik, meskipun Francesca sempat memintanya. Namun, itu adalah gelang yang berharga bagi Mia. Tidak mungkin ia akan memberikannya pada siapa pun.
Mia bangkit dan kembali duduk di depan laptopnya. Ia merasa semakin penasaran dengan sejarah keluarga de Luca. Mia lanjut membaca artikel lain yang terkait dengan artikel yang telah ia baca. Makin banyak yang ia baca, Mia semakin mengetahui tentang keluarga itu. Namun, Mia tak juga menemukan nama Matteo di sana. Matteo sepertinya tak ingin siapa pun mengetahui tentang dirinya.
Mia meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak begitu saja di sebelahnya, dan menghubungi Valentino. Tak membutuhkan waktu lama bagi pemuda itu untuk mengangkat panggilan dari Mia.
“Halo, Mia,” terdengar suara lembut Valentino di seberang sana.
“Hai, Vale. Apa kau sibuk?” tanya Mia.
“Tidak pernah ada kata sibuk untukmu, Mia,” godanya seraya tertawa.
“Baguslah. Kalau begitu, tolong antarkan aku ke Brescia!” sahut Mia tanpa basa-basi.
__ADS_1
“A-apa? Untuk apa?” tanya Valentino tergagap mendengar permintaan Mia. Ia pikir Mia tidak serius saat kemarin-kemarin meminta hal itu kepadanya.
“Aku ingin menemukan Matteo. Tolong bantu aku, Vale! Aku tak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa,” pinta Mia dengan memelas.
Valentino tak segera menjawab. Ia hanya mengembuskan napas panjang sambil memikirkan tentang Mia. Memang beberapa hari terakhir sejak perginya pria misterius itu, Mia terlihat begitu murung dan tak bersemangat. Itu bukanlah raut wajah yang ingin Valentino lihat.
Ia hanya ingin melihat Mia yang kembali ceria dengan senyuman indahnya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan gadis pujaannya itu, meskipun ia tahu jika Mia pergi ke Brescia untuk menemui pria lain.
“Baiklah, Mia. Aku bersedia,” jawab Valentino pada akhirnya, membuat Mia bernapas lega.
Keesokan harinya. Pagi-pagi, Mia telah bersiap. Seusai sarapan, Valentino telah datang untuk menjemputnya. Mia segera berpamitan kepada Mr. Gio dan juga Magdalena. Tak lupa ia mencium pipi adik kesayangannya, Francesca. Namun, Mia melewatkan Daniella begitu saja. Gadis itu hanya menepuk pundak saudari tirinya seraya berlalu tanpa berkata apa-apa.
“Kalian akan pergi ke mana pagi-pagi begini?” tanya Mr. Gio seraya menghampiri sepasang muda-mudi itu. Tampak Valentino begitu sabar menunggu Mia yang tengah memakai sepatunya.
“Ya, kebetulan kami menutup kedai untuk dua hari ke depan,” sahut Mr. Gio seraya duduk dan membuka koran pagi dari langganannya.
“Apa Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya Valentino lagi. Pemuda itu terlihat sangat perhatian.
“Aku hanya ingin beristirahat. Rasanya aku begitu lelah, mungkin sudah saatnya tubuh tua ini untuk berdiam diri di dalam rumah,” keluh Mr. Gio sambil membetulkan letak kaca matanya.
“Aku sudah sering mengatakan hal itu kepada Ayah, tapi sayangnya Ayah terlalu keras kepala,” sela Mia. Ia sudah selesai memakai sepatunya dan siap untuk berangkat. Sementara Mr. Gio kini mulai fokus pada koran yang sedang ia baca.
Sesaat kemudian, Francesca muncul dengan atasan singlet putihnya. Gadis itu duduk di sebelah Mr. Gio dan segera menyenderkan kepalanya pada pundak sang ayah. “Kau yakin tidak ingin mengajakku, Mia?” tanyanya.
__ADS_1
“Lain kali saja, Francy,” jawab Mia. “Ya, sudah. Aku berangkat dulu. Aku janji tidak akan pulang terlalu malam,” Mia berpamitan kembali pada sang ayah. Ia juga tersenyum kepada Francesca.
Mia keluar dari rumah dengan perasaan yang tidak karuan. Ada rasa gugup, cemas, dan juga sedikit berharap. Entah apa yang akan ia dapatkan nanti jika telah tiba di tempat tujuan. Satu hal yang ia inginkan, yaitu mengetahui siapa Matteo sebenarnya. Setelah itu, barulah ia akan merasa tenang meskipun apa yang ia temukan di sana tidak sesuai dengan harapannya. Namun, tentu saja Mia menginginkan yang terbaik.
Mobil yang dikendarai Valentino telah melaju dengan tenangnya meninggalkan jalanan depan rumah Mia. Semakin lama, mobil semakin menjauh dari kota Venice dan mendekati kota Brescia. Perasaan Mia kian tak menentu. Jantungnya berdetak jauh lebih kencang. Kedua telapak tangannya mulai berkeringat. Ia merasa begitu gugup.
Sementara Valentino sendiri tidak terlalu banyak bicara saat itu. Ia lebih memilih untuk larut dalam pikirannya. Perasaan yang terlalu besar kepada Mia, akan ia pertaruhkan hari ini. Mungkinkah setelah ini ia akan mendapatkan perhatian dari gadis itu, atau justru sebaliknya. Mungkinkah Valentino harus mengubur dalam-dalam rasa cintanya yang lama tumbuh dan ia persembahkan untuk Mia seorang. Entahlah, yang pasti pemuda itu juga merasa sedikit cemas.
Valentino terus mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan kota Brescia, dengan suasana yang sangat berbeda dengan kota Venice. Tidak lama lagi mereka akan tiba di tempat tujuan, yaitu Casa de Luca tempat yang sebenarnya sangat ingin ia kunjungi untuk memperkuat artikel yang sedang ditulisnya.
Tidak berselang lama, akhirnya Valentino menghentikan laju mobilnya tidak jauh dari sebuah pintu gerbang yang tinggi dan terlihat mewah dengan benteng kokoh yang mengelilinginya. Di sebelah kanan tembok benteng itu, terdapat ukiran yang sangat indah bertuliskan Casa de Luca. Itu artinya, mereka telah benar-benar tiba di tempat yang mereka tuju.
Valentino segera melepas sabuk pengamannya dan keluar terlebih dahulu. Setelah itu, ia membukakan pintu mobilnya untuk Mia. Gadis dengan penampilan sederhana itu menatap nanar pintu gerbang yang terletak beberapa meter di hadapannya.
Tampak di sana ada dua orang penjaga bertubuh tinggi besar dengan pakaian berwarna gelap. Salah satu dari mereka, datang menghampiri Mia dan Valentino. Mia terlihat gugup. Ia merasa takut melihat wajah dan penampilan sangar pria itu. Tatap matanya penuh selidik dan tidak bersahabat sama sekali. Mia juga sempat melihat tato pada pergelangan kiri pria tersebut. Gambar itu sama persis dengan gambar yang dilihatnya kemarin, pada artikel yang dibuat oleh Valentino. Gambar yang juga terlukis di dada sebelah kiri Matteo.
“Siapa kalian?” tanya pria itu dengan nada bicaranya yang sangat tegas. Sikap yang ditunjukannya terasa begitu mengintimidasi bagi seorang gadis selembut Mia. Mia pun sedikit memundurkan tubuhnya.
“Um ... kami ... kami ingin bertemu dengan Tuan Muda de Luca,” jawab Valentino dengan tenangnya. Ia berdiri di depan Mia. Valentino tahu jika Mia merasa takut, karena itu ia mencoba bersikap sebagai seorang pelindung baginya.
“Ada keperluan apa dengan Tuan Muda de Luca?” tanya pria itu lagi masih dengan nada bicara yang sama. Tatapannya intens tertuju kepada mereka berdua.
Mendengar pertanyaan itu, Mia yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Valentino, segera menampakkan wajahnya. Ia berdiri di hadapan pria itu dan mencoba untuk memberanikan diri. “Tolong katakan kepada Matteo de Luca. Mia dari Venice sudah mengetahui siapa dia sebenarnya dan sangat ingin menemuinya,” tegas gadis itu.
__ADS_1