
Coco sudah selesai berpakaian ketika Francesca baru keluar dari dalam kamar mandi dengan mini dress yang membuat gadis itu terlihat semakin menggemaskan. Francesca tampak sedih karena sore itu Coco akan kembali ke Brescia. Ia memeluk erat sang kekasih dari belakang, membuat Coco yang saat itu tengah merapikan rambutnya segera terdiam dan menatap bayangan mereka berdua dari pantulan cermin. “Kapan kau akan datang lagi kemari?” tanya Francesca manja. Ia membenamkan wajahnya di balik pundak Coco.
“Aku pasti akan menyempatkan untuk datang. Kau tahu 'kan aku harus fokus pada pekerjaanku, Francy,” ujar Coco seraya membalikan tubuhnya. Ia lalu membelai rambut panjang Francesca dengan lembut. “Karen itulah aku ingin agar kita segera menikah,” harapnya. Sedangkan Francesca tidak langsung menjawab. Ia masih terlihat ragu.
“Katanya kau ingin memiliki banyak anak. Tenang saja, aku tak akan keberatan dengan hal itu,” gurau Coco yang seketika membuat wajah serius sang kekasih menjadi kembali berseri. Francesca tersenyum lebar saat menanggapinya.
“Apa saja yang Mia katakan padamu?” selidik Francesca dengan sorot mata penuh rasa penasaran.
“Tak ada, hanya itu. Namun, satu kalimat tersebut telah berhasil membuatku tersedak,” celoteh Coco seraya kembali tertawa geli. Ia lalu meraih tubuh ramping Francesca hingga semakin merapat dengan dirinya. Lengan kekar bertato milik Coco, melingkar erat di pinggang ramping gadis itu. Satu, dua kali ciuman mesra seakan tak pernah cukup untuk membuat mereka rela berpisah lagi, dengan jarak lebih dari 500 Km.
Coco menggiring tubuh semampai sang kekasih untuk mundur hingga bersandar pada dinding. Seperti dalam adegan film drama ero•tis khas negara barat, pria itu mengangkat kedua tangan Francesca lurus ke atas dan menahannya pada dinding dengan tangan kiri, sementraa tangan kanannya merengkuh pinggang gadis yang kini kembali pasrah dalam cumbuannya.
Luma•tan demi luma•tan mengiringi adegan pemanasan kedua sejoli itu. Coco menggerakan tangannya ke bawah dan mulai menyusuri pinggul indah Francesca. Tanpa berhenti berciuman, pria itu lalu menurunkan sedikit celana jogger yang ia kenakan. Sesaat kemudian, ia juga melepaskan genggaman tangannya dan menurunkan tubuh Francesca. Coco membiarkan gadis tersebut melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Francesca menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan, sedangkan Coco memundurkan sedikit tubuh atletisnya, dengan lengan yang ia rekatkan pada dinding. Coco kemudian menempelkan kening di atas lengannya tersebut, ketika Francesca membuat hasrat kelelakian dalam diri pria itu semakin berkuasa. Helaan napas berat terus meluncur dan berpacu dengan gerak lincah gadis bermata hazel tersebut dalam memuaskan sang kekasih.
Pria bertubuh tegap itu tak kuasa menahan gejolak yang terlalu dalam. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Perasaan tersebut begitu bergemuruh bagaikan gunung yang akan meletus. Setelah beberapa saat lamanya, Coco kemudian menarik dirinya dari dalam mulut Francesca dan memaksa lava itu keluar dengan tangannya sendiri. Cairan tersebut menyembur, dan meleleh di sudut bibir sang kekasih. Francesca meringis kecil saat merasakan hangatnya dari sisa-sisa hasrat yang telah terlampiaskan sepenuhnya.
Coco bernapas dengan terengah-engah. Sementara keningnya masih ia tempelkan pada lengan bertato itu. Perlahan, pria bermata cokelat tersebut membuka mata yang sejak tadi terpejam. Ia lalu menunduk dan tersenyum kepada Francesca yang mendongak menatapnya. Coco kemudian membantu gadis itu untuk berdiri. Ia mengambil beberapa lembar tisu dari atas meja rias, dan mengelap pipi serta sudut bibir sang kekasih. Senyuman puas terkembang dengan sempurna di wajah tampannya.
“Kau curang!” cibir Francesca seraya memalingkan wajah dari Coco. Sedangkan Coco hanya tergelak.
“Aku sedang terburu-buru. Lain kali kita lanjutkan,” ucapnya beralasan. Akan tetapi, Francesca tampaknya tak terima. Gadis itu menghindar dan duduk di ujung tempat tidur. Coco pun segera menghampiri dan ikut duduk di dekatnya.
Melihat sikap Francesca yang terus merajuk, ia lalu berpindah posisi. Coco turun dan berlutut di hadapan gadis itu. “Sudah kukatakan padamu, mari secepatnya kita menikah. Aku ingin kita bisa segera hidup bersama. Sebenarnya tak masalah kita menikah atau tidak, tapi aku tak suka hubungan seperti itu. Aku ingin kita hidup bersama hanya setelah ada ikatan suci pernikahan, bukan sekadar tinggal di bawah satu atap dan bercinta setiap saat,” lembut tutur kata pria berambut ikal tersebut penuh dengan rayuan, membuat hati wanita manapun pasti tersentuh. Tak terkecuali Francesca tentunya. Namun, baru saja gadis itu akan menanggapi ucapan Coco, terdengar suara ketukan di pintu kamar.
__ADS_1
“Ricci, apa kau sudah selesai? Sebentar lagi Theo akan meledak karena dari tadi menunggumu lama sekali,” suara lembut Mia terdengar dari balik pintu itu.
Coco melirik Francesca setelah sebelumnya ia melihat ke arah pintu. “Benar bukan? Kakak iparmu itu pasti sekarang sudah kebakaran jenggot,” ujar Coco seraya berdiri. Ia lalu merapikan dirinya sebelum memutuskan untuk keluar kamar.
Akan tetapi, baru beberapa langkah, tangan Francesca sudah menarik ujung kemeja belakangnya. “Kapan kau akan ke Roma l
agi?” tanyanya lirih.
Coco sempat mundur dan membalikkan badan. Ia menatap kekasihnya lekat-lekat sembari menyelipkan rambut panjang Francesca ke belakang telinga. “Secepatnya, Francy. Kalau pekerjaanku di bengkel selesai, aku akan segera kemari dan menjemputmu,” jawab Coco lembut.
Lagi-lagi Francesca terlihat sendu dan sedikit menunduk. Buru-buru Coco meraih dagunya dan mengangkat wajah cantik itu. “Apakah kau mau ikut bersamaku?” Coco balik bertanya.
“Setahun lagi, aku akan lulus kuliah. Bisakah kita ....”
“Lama sekali kau, Amico!” suara Matteo yang membuka pintu kamar lebar-lebar, memotong kalimat Francesca begitu saja.
“Astaga, Theo! Tidak sabaran sekali kau, ck!” Coco berdecak kesal. Ditambah kedatangan Marco yang menyembulkan kepalanya di belakang Matteo.
“Tenang saja, Coco. Ada aku di sini yang akan menjaga mereka berdua,” sahut Marco sambil menggerak-gerakkan alisnya.
“Terserah kau sajalah,” Coco tak menghiraukan dua orang yang memandang kepadanya dari depan pintu itu. Ia malah beralih pada Francesca, lalu mencium kening dan bibir kekasihnya sekali lagi. Berat rasanya bagi Coco meninggalkan Francesca seorang diri di kamar. Namun, ia ingat bahwa Marco tetap tinggal di apartemen, membuat Coco sedikit lega.
“Akan kutelepon setelah aku sampai,” janji Coco pada Francesca sebelum tubuhnya benar-benar menghilang di balik pintu dan dibalas dengan anggukan pelan dari kekasihnya itu.
Di ruang tamu, Coco terus mengikuti langkah Matteo sambil menggerutu. Diraihnya jaket dan kacamata hitam yang sempat ia pakai saat menyetir ke Roma. “Aku juga punya banyak pekerjaan, sama sepertimu. Namun, aku tidak mau terburu-buru!” sungutnya. Meskipun demikian, ia tetap mengikuti Matteo hingga ketiganya memasuki lift dan turun ke basement.
__ADS_1
“Maafkan suamiku, Ricci. Kau tenang saja. Aku akan menyuruh Francesca datang ke Brescia saat liburan semester pekan depan,” hibur Mia sembari menepuk pundak Coco pelan.
“Benarkah? Jadi sebentar lagi Francy libur?” sikap uring-uringan Coco segera menghilang, berganti menjadi raut ceria.
“Ya, apa Francy tak mengatakannya padamu?” Mia mengerutkan kening penuh keheranan.
“Oh, itu ... tidak,” jawab Coco setengah gugup sekaligus kecewa. Namun, beberapa saat kemudian ia menoleh pada Mia sambil tertawa. “Sepertinya aku tahu kenapa Francy tidak mengatakannya padaku,” seringainya kemudian.
“Kenapa?” sahut Matteo dan Mia secara bersamaan.
“Mungkin ia ingin memberikan kejutan padaku, seperti tiga tahun lalu,” jawab Coco percaya diri.
“Tiga tahun lalu?” Mia kembali memasang mimik wajah tak mengerti. Sedangkan Theo hanya terdiam, menunggu penjelasan Coco selanjutnya.
“Eh, itu ... m-maksudku ... lupakan!” dalam hati Coco bersyukur karena pintu lift yang terbuka telah menyelamatkannya. Ia berjalan cepat menuju mobil mewah Theo yang diparkir tak jauh dari pintu lift. Segera Coco menyalakan remotenya, hingga kunci otomatis mobil itu terbuka.
“Kita lanjutkan pembicaraan ini ketika sudah sampai di Casa de Luca. Setelah ini, aku akan memegang kemudi. Aku harap kalian tidak mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Aku ingin fokus menyetir!” tegasnya seraya membuka pintu dan duduk di belakang kemudi. Coco menunggu sampai Matteo dan Mia memasuki mobil, lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Beberapa jam terlewati oleh ketiga orang itu tanpa terasa. Setelah menyerahkan kunci mobil pada Nico, Coco buru-buru berpamitan pulang pada pasangan suami istri tersebut dan berlari menuju motornya. Ia hanya tak ingin Mia mengungkit pertanyaan tentang tiga tahun lalu antara dirinya dan Francesca.
Pulang ke bengkel adalah ide bagus yang ada di benak Coco. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.
Di dalam benaknya, Coco sudah membayangkan akan bersantai di sofa kesayangannya sebelum memulai pekerjaan.
Akan tetapi, angan-angan Coco berbeda jauh dengan kenyataan yang ada di depan matanya saat ini. Tampak pintu depan bengkelnya terbuka separuh, membuatnya harus masuk dalam posisi waspada.
__ADS_1
Coco meraih sekenanya barang yang ada di halaman depan bengkel. Saat itu, ia hanya menemukan sebatang besi tua yang telah berkarat. Digenggamnya besi itu kuat-kuat, lalu melangkah mengendap-endap dan masuk.
Coco sudah hampir melayangkan besi itu ketika dilihatnya sosok seseorang yang berjalan di ruang depan. Namun segera ia tahan karena sosok itu hanyalah seorang gadis. “Lucia? Sedang apa kau di sini?” seru Coco.