
Mia adalah wanita yang lemah lembut dan penuh kasih. Ia selalu bertutur kata dengan halus, dan seakan pantang untuk berucap kasar. Namun, saat ini kelembutan itu sama sekali tak terlihat lagi dalam dirinya. Hanya ada api amarah yang memancar dari sosok cantik itu.
Mia membanting pintu kamar dengan sekuat tenaga, sehingga membuat foto berpigura yang terpasang di dinding samping pintu langsung terjatuh. Kaca dari bingkai foto itu pun pecah dan berserakan di lantai. Selembar foto masa kecil Matteo yang tengah berada di pangkuan ibunya, tergeletak begitu saja di atas lantai.
Mia mendengus kesal. Ada sedikit perasaan menyesal dalam hatinya, saat melihat potret dari mendiang mertuanya rusak tanpa sengaja. Perlahan, ia memungut foto itu dan bermaksud untuk meletakkannya di atas meja rias. Mia pun memperhatikan foto tersebut untuk sejenak, sebelum meletakkannya kembali. Sesaat kemudian, ia lalu duduk terpekur di tepian ranjang.
Entah apa yang terjadi pada hubungannya kini dengan Matteo. Semuanya seakan hancur dengan begitu cepat, seperti bingkai foto yang terjatuh. Kemesraannya dengan Matteo yang terasa begitu panas, seketika padam bagaikan tersiram setumpuk salju. Mia menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia pun menangis.
Sementara Matteo duduk termenung di ruang kerjanya. Selama seharian ini, ia tidak melakukan apapun. Ia juga tak keluar dari sana, hingga saat menjelang malam Coco datang ke Casa de Luca. Pria berambut cokelat itu baru kembali dari Roma.
Coco langsung saja masuk ke ruang kerja Matteo. Ia mendapati sahabatnya tersebut masih dalam posisinya yang belum berubah sejak tadi siang. Matteo, tampak bersandar di kursi dengan kedua matanya yang terpejam, tapi Coco tahu jika pria itu tidak sedang tertidur. Coco kemudian duduk di kursi tamu dan memperhatikan Matteo yang duduk di belakang meja kerjanya. "Kau baik-baik saja, Amico?" tanya Coco beberapa saat kemudian.
"Tidak," jawab Matteo dengan segera. Ia lalu membuka matanya dan menoleh kepada Coco. "Sejak kapan kau duduk di situ?" tanya Matteo. Pria itu mengernyitkan keningnya.
"Sejak beberapa menit yang lalu," jawab Coco. "Apa kau sedang ada masalah, Theo?" pria berambut ikal tersebut beranjak dari duduknya dan menghampiri Matteo. Coco meletakan kedua telapak tangan di atas meja kerja dan menatap sahabatnya yang terlihat kacau saat itu.
Matteo tersenyum kecut. "Ayo, temani aku!" ajaknya seraya beranjak dari atas kursi yang sejak tadi membuatnya merasa begitu nyaman.
"Ke mana?" tanya Coco. Ia memperhatikan sahabatnya yang sudah berada di dekat pintu. Matteo menoleh, tapi ia tidak menjawab pertanyaan Coco. Pada akhirnya, pria berambut ikal itu hanya bisa mengikuti langkah sahabatnya hingga keluar dari bangunan Casa de Luca.
Matteo baru berhenti di samping mobil jeep kesayangannya yang terparkir rapi di garasi. Tanpa ragu, ia membuka pintu dan duduk di belakang kemudi. “Ayo, naik!” ajak Matteo lagi.
Coco sempat menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di samping Matteo. “Tolong, jangan mengajakku macam-macam, Amico. Aku sudah memiliki Francy. Aku tak ingin mengkhianati kepercayaannya,” celoteh pria bermata cokelat tersebut seraya mengulum senyumnya.
“Dasar bodoh! Kau pikir aku juga mau mengkhianati Mia?” dengus Matteo kesal.
Jelas terlihat keadaan sahabatnya yang sedang tidak baik. Hal itu membuat Coco mengalah dan tak berkata apa-apa lagi. Ia lebih baik mencari aman dan mengikuti apa maunya dari sang ketua klan. Coco duduk manis sampai Matteo menghentikan kendaraannya di depan sebuah swalayan.
“Eh, Amico! Apa kau tertular kebiasaan para wanita yang akan pergi berbelanja saat sedang merasa suntuk?” tanya Coco dengan muka penasaran. Lagi-lagi, ia dibuat heran oleh pria yang terlihat sedang berada dalam kegalauan tersebut.
“Ck,” Matteo berdecak kesal, lalu meninggalkan Coco begitu saja di halaman parkir. Sementara dirinya berjalan memasuki swalayan. Beberapa saat kemudian, Matteo keluar dari sana dengan membawa dua kantong belanjaan. Ia kemudian meletakkan kantong belanjaan tersebut di jok belakang.
__ADS_1
Tatapan aneh Coco terus mengikuti gerak Matteo yang kini sudah memegang kemudi dan siap melajukan mobilnya. Dengan kecepatan sedang, ia menyetir dan mulai menyusuri pinggiran kota. Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di sebuah lapangan rumput yang bersisian dengan danau kecil. Suasana di sana pun terbilang sepi dan masih terlihat alami. Meskipun saat itu gelap gulita, tetapi tak mengurangi keindahan alam sekitarnya. Apalagi Matteo tetap menyalakan lampu depan jeepnya sebagai penerang. Tempat itu, adalah tempat yang sudah biasa mereka kunjungi setiap kali salah satu dari mereka ingin menenangkan diri.
“Tak kusangka kau mengajakku ke sini. Kupikir kau akan membawaku ke tempat para gadis,” Coco tergelak dan berhenti ketika Matteo memukul lengannya dengan sedikit kencang. “Apalagi yang kau bawa itu?” Coco menoleh ke jok belakang seraya mengangkat alisnya.
“Ayo keluar,” Matteo membuka pintu samping kemudi lalu mengulurkan tangannya ke pintu belakang. Ia mengambil dua kantong belanja besar yang ternyata berisi satu krat bir dingin dan empat botol whisky. Matteo lalu menaruh minuman-minuman keras itu di atas kap mobil. Ia pun duduk di atas kap mobil itu.
Coco mengikuti apa yang Matteo lakukan. Ia duduk di samping sahabatnya tersebut, sambil mengambil sekaleng bir dingin. Sementara Matteo membuka tutup botol whisky dan langsung menenggaknya.
Coco terus mengamati semua sikap Matteo dengan wajah aneh. “Kenapa lagi kau, Amico?” tanyanya. Sementara Matteo tak segera menjawab. Ia malah terus meneguk whisky beberapa kali, lalu terdiam dengan tatapan yang menerawang.
“Mabuk tak akan menyelesaikan masalah. Kau seperti remaja labil saja,” ledek Coco seraya tertawa.
“Aku menjadi labil semenjak mengenal Mia dan tergila-gila padanya. Aku seperti bukan diriku lagi,” sahut Matteo pelan.
“Kau tak menyukai hal itu? Kau tak menyukai perubahan pada dirimu?” tanya Coco seraya meneguk minumannya.
Matteo mengembuskan napas panjang dan menjawab, “Bukan begitu. Aku sangat mencintai Mia. Aku menjadi jauh lebih bahagia saat bersamanya. Akan tetapi, di satu sisi ia juga membuatku menjadi gila.” jelas Matteo datar. Ia masih memegang botol minuman itu.
“Aku bertemu Camilla kemarin siang. Kami bertemu dengan diam-diam,” jawab Matteo lirih membuat Coco segera menoleh kepada sahabatnya itu dengan mata melotot. “Kenapa kau melakukan hal itu?” nada suaranya meninggi.
“Hanya pertemuan bisnis biasa. Lagi pula, kami tidak berduaan, ada seorang investor yang ikut bergabung saat itu. Hanya saja, orang itu datang terlambat. Sayangnya .…” Matteo menggantungkan kalimatnya begitu saja.
“Sayangnya apa?” tanya Coco sambil mengubah posisinya. Ia kini berbaring dengan menyamping dan menghadap kepada Matteo.
“Sayangnya, Mia mengikutiku. Ia pasti sempat melihatku duduk berdua bersama Camilla. Mia telah salah paham,” Matteo mengempaskan napasnya dan menenggak whisky itu lagi.
“Amico .…” Coco kembali telentang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau sering bercerita bahwa kau tak suka cara Adriano memandang Mia. Kau cemburu padanya, tapi kenapa kau tak pernah berpikir untuk berada di posisi istrimu?”
“Maksudnya?” Matteo mengernyitkan kening seraya melirik kepada Coco.
“Mia juga sangat cemburu melihatmu bersama Camilla. Jangankan bersama, melihat Camilla memandangmu dengan tatapan menggoda saja sudah cukup membuatnya marah. Kenapa kau tak bisa mengerti perasaannya?” protes Coco.
__ADS_1
Matteo menggeleng pelan, lalu menunduk. “Aku sama sekali tak ingin menyakitinya. Tak pernah sekalipun terlintas di benakku untuk membuatnya menangis. Aku sangat mencintai istriku,” tuturnya pelan.
“Lalu, kenapa kau lakukan ini padanya? Kau berbohong pada Mia,” ujar Coco lagi dengan nada tak setuju.
“Aku tidak bermaksud membohonginya, Coco! Aku berniat menjaga perasaannya. Mia sangat keberatan jika Camilla datang ke Casa de Luca. Itulah mengapa, aku mengalihkan pertemuan kami bertiga di luar rumah. Aku hanya ingin menghindari pertengkaran dengannya,” jelas Matteo. “Pertemuan kami murni bisnis. Tak ada yang lain! Camilla bahkan meminta maaf padaku atas semuanya, karena ia berniat menerima perjodohan dan akan menikah dengan putra dari kolega ayahnya,” lanjutnya.
“Jadi, Camilla akan menikah?” terkejut, Coco langsung terduduk dan mencondongkan badannya ke arah Matteo.
“Ya,” jawab Matteo singkat.
“Kalau begitu, kau harus menceritakannya kepada istrimu. Janngan biarkan semuanya berlarut-larut,” saran Coco.
“Aku belum ingin bicara padanya. Sebab, setiap kali aku melihat wajahnya, aku selalu teringat akan Adriano yang telah membawa Miaku menginap di apartemennya. Mereka berdua di sana semalaman,” geram Matteo. Sebotol Whisky sudah habis di tangannya. Kini Matteo membuka satu botol whisky lagi.
“Kau sungguh egois, Theo. Kau tak ingin Mia didekati siapa pun, tapi kau tak masalah dekat dengan Camilla,” sungut Coco. "Aku tak yakin Mia akan berani berbuat macam-macam dengan D'Angelo," ujar Coco lagi dengan ragu.
“Apakah kurang jelas penuturanku tadi? Bukankah sudah kubilang, aku dan Camilla hanya murni berbisnis? Lagi pula, aku tak bisa menolaknya. Aku tak ingin menyakiti Camilla lebih jauh lagi. Sudah cukup tiga tahun ini aku membuat hidupnya sia-sia. Aku memanfaatkannya demi kepuasanku sendiri,” papar Matteo panjang lebar.
“Itulah masalahmu, Theo! Dengan kau tak ingin menyakiti Camilla, maka kau telah menyakiti Mia. Tidak pernah kah kau berpikir bahwa Mia juga tidak akan mungkin berpaling pada Adriano, tapi kau sudah semarah ini hanya karena mereka terlihat bersama? Itulah yang Mia rasakan padamu, Amico,” setelah berkata demikian, Coco turun dari kap mobil dan memilih untuk masuk.
“Kita pulang sekarang, Amico! Aku ingin kau bicara pada Mia! Jangan sampai kau kehilangan wanita itu untuk yang kedua kalinya!” tegas Coco.
Matteo tercenung mendengar perkataan sahabatnya itu. Cukup lama ia terpekur di atas kap mobil sambil menghabiskan minumannya. Matteo kemudian turun dan berniat duduk belakang kemudi. Akan tetapi, Coco segera mencegahnya. “Aku yang menyetir! Kau terlihat mabuk!”
__ADS_1