
Mia menjamu Adriano dan Sergei di balkon luas yang terletak pada lantai dua. Balkon itu memang dikhususkan sebagai tempat bersantai dan dilengkapi dua meja mewah berbentuk bulat, serta beberapa kursi bergaya klasik yang juga memiliki desain tak kalah artistiknya.
Berbagai kudapan dan minuman ringan tertata apik di atas meja. Dari tempat tersebut, mereka dapat melihat dengan jelas area perkebunan anggur, dan juga perbukitan. Dataran tinggi itu terletak di belakang dan seakan menjadi benteng pelindung bagi lahan luas dengan hamparan pohon anggur yang telah siap dipanen.
Balkon itu juga dibatasi dengan pagar yang terbuat dari besi, dan dihiasi oleh tanaman hias merambat yang ditumbuhi bunga-bunga kecil beraneka warna.
Sergei Redomir terlihat sangat menikmati suasana saat itu. Sementara mulutnya tak berhenti bercanda dan terus berceloteh tentang segala sesuatu. Sedangkan Mia tak banyak bicara. Ia hanya menanggapinya dengan senyuman. Sesekali, wanita itu menoleh kepada Zucca yang berdiri tak jauh darinya. Sementara itu, Adriano terus menatap Mia dengan yang sorot yang penuh arti. Satu yang tak lepas dari pandangan sepasang mata biru pria tersebut, yaitu bibir red cherry Mia yang pernah ia nikmati meskipun dengan cara yang tidak sopan.
“Ah, aku tak menyangka jika buah blueberry bisa diproses menjadi jus yang rasanya selezat ini,” ujar Sergei sambil mengangkat gelasnya yang telah kosong. Seorang pelayan maju dan bersiap menuangkan teko kaca berisi jus blueberry, tetapi ia segera mencegahnya.
“Tidak, sudah cukup. Aku harus ke kamar mandi dulu. Bisakah pelayan Anda menunjukkan letak toiletnya?” Sergei mengalihkan tatapan kepada Mia.
“Tentu saja,” Mia segera mengangkat tangannya, memanggil salah satu pelayan pria yang berdiri di samping pintu. Pelayan itu sigap mengangguk dan mengantarkan Sergei dengan penuh hormat.
Kini, tinggal Adriano dan Mia berada dalam satu meja. Mereka duduk berhadapan, dan Mia merasakan ketegangan yang sangat besar hingga telapak tangannya terasa basah oleh keringat. Bayangan Adriano yang mencuri ciuman darinya kembali hadir. Sekuat apapun ia berusaha untuk menghilangkan memori itu, tetap saja ingatan tentang kejadian di malam tersebut tak juga hilang dari dalam kepalanya.
“Bisakah kita bicara sebentar saja, Mia?” pinta Adriano setengah memohon. Sontak Zucca melotot ketika mendengar pria itu memanggil istri tuannya tanpa sebutan ‘Nyonya’.
“Aku ingin kita bicara berdua, sebentar saja,” ujar Adriano penuh penekanan. Ia tak terlihat cemas atau takut sama sekali, walaupun Zucca sedang memandangnya dengan tatapan membunuh. “Jangan khawatir Zucca, aku masih sayang nyawaku. Tak mungkin aku berbuat macam-macam terhadap Nyonya de Luca,” Adriano pun menyunggingkan senyum tenang dan menawan, seraya melirik kepada anak buah kepercayaan Matteo tersebut.
Mia kembali menoleh pada Zucca dan menggeleng samar. Ia lalu mengalihkan perhatiannya kepada Adriano. “Apapun yang ingin Anda katakan, maka katakan saja langsung di depan Zucca!” tegasnya kemudian. Mia berusaha untuk terlihat berani dengan melawan rasa takutnya terhadap Adriano.
__ADS_1
“Apakah kau yakin?” Adriano mengangkat satu alisnya seakan menantang Mia.
Wanita cantik itu mengeluh pelan. Ia merutuki dirinya yang selalu tak mempunyai keberanian lebih meskipun telah mencoba untuk melawan. Pada akhirnya, Mia mengaku kalah. “Mundurlah beberapa langkah, Zucca. Berilah jarak sampai kau tak dapat mendengar apa yang Tuan D’Angelo katakan padaku,” titah Mia pelan.
Sebagai seseorang yang teramat loyal, Zucca hanya mampu menuruti perintah tuannya. Setelah pria tinggi besar itu mengambil jarak yang agak jauh dari Mia, Adriano mulai berbicara, “Maafkan aku, Mia. Aku benar-benar mabuk saat itu, meskipun aku masih mengingat dengan jelas setiap detail yang kulakukan padamu," ucapnya.
“Lalu, apa yang kau inginkan dariku sekarang?” tanya Mia dingin.
“Sepatah kata maaf darimu sudah lebih dari cukup bagiku,” jawab Adriano dengan lirih.
“Apakah hanya dengan kata maaf, bisa mencegahmu agar tidak mengulangi hal yang sama?” tanya Mia ragu.
“Aku berani bersumpah, Nyonya de Luca. Aku
Mia tertawa pelan. “Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan barusan, Tuan D’Angelo? Kau sama gilanya dengan Tuan Redomir. Sudah jelas aku tak akan meminta apapun darimu, apalagi memintamu untuk menyentuhku. Bagiku Matteo sudah jauh lebih dari cukup. Aku tak peduli meskipun tak diberi kesempatan untuk merasakan pria yang lain,” ejeknya. Mia sungguh berharap agar Adriano merasa tersinggung dan marah atas ucapannya. Akan tetapi, reaksi pria rupawan itu sungguh jauh dari apa yang ia harapkan.
“Kita tak pernah tahu ke mana masa depan akan membawa aku dan dirimu, Mia,” balas Adriano begitu kalem. Sorot matanya yang saat itu terlihat teduh dan tenang, memandang Mia tanpa jeda seakan ingin menguliti wanita itu dan menembus relung hatinya yang paling dalam.
Mia tampak salah tingkah. Ia membuang muka sambil menggigiti ujung kukunya. Satu hal yang tak luput dari perhatian Adriano saat itu, membuatnya tersenyum dan bergumam pelan, “Baiklah, Mia. Kuanggap sikapmu adalah bentuk pemberian maaf untukku," pria itu terlihat lega.
Mia kembali membalikan wajahnya seraya melotot tajam kepada Adriano, sebagai bentuk protes. Akan tetapi, pria itu tak menanggapi. Adriano bangkit dari duduknya dan sedikit membungkukkan badan. “Aku pamit dulu, Nyonya,” ucapnya sopan. Terlebih saat itu Sergei Redomir sudah kembali dari toilet dan bersiap untuk duduk kembali. Namun, Adriano mencegahnya dan menarik Sergei supaya berdiri. “Kita lanjutkan pembicaraan di apartemenku saja sebelum Anda bertolak ke Monaco, Tuan Redomir,” ujar Adriano.
__ADS_1
Sergei terlihat kebingungan, walaupun pada akhirnya ia menuruti perkataan Adriano. “Baiklah, jika Tuan D’Angelo yang berkata demikian, maka aku akan mematuhinya. Lagi pula, nona Daniella sudah tak berada di sini,” candanya. Sergei kemudian tersenyum kepada Mia. "Tolong sampailan salamku untuk saudari Anda, Nyonya de Luca. Katakan padanya, Monaco siap menunggu untuk ia jelajahi bersamaku," ujar pria Rusia itu dengan penuh percaya diri, dan membuat Mia merasa semakin tidak nyaman.
“Maafkan atas ketidaksopananku, tapi biarlah Zucca yang mengantarkan Tuan-tuan sampai ke gerbang depan. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa kurang enak badan,” dalih Mia dengan raut wajah yang terlihat resah.
“Tidak masalah, Nyonya. Kami sangat mengerti. Kecelakaan yang pernah Anda alami, tentu berpengaruh terhadap kesehatan Anda dalam jangka waktu yang cukup lama,” sahut Sergei tanpa beban sembari mengecup punggung tangan Mia.
Sejenak Mia tertegun. Ia lalu tersenyum saat dirinya berhasil menguasai emosinya kembali. “Terima kasih atas pengertian Anda,” balas Mia seraya mengangguk pelan. Sekilas ia melirik kepada Adriano yang tersenyum padanya. Sebuah senyuman yang terlihat begitu menawan, tetapi tak sedikitpun membuat Mia tertarik untuk menikmatinya.
“Kami permisi dulu, Nyonya de Luca. Sampaikan salam kami kepada tuan de Luca,” Adriano berkata pelan kemudian berlalu meninggalkan balkon, diiringi oleh Zucca dan beberapa pelayan Casa de Luca.
Mia mengempaskan napas pelan ketika sosok pria tampan itu tak lagi terlihat olehnya. Ia pun memutuskan untuk memindahkan satu kursi ke dekat pagar pembatas balkon dan duduk di sana. Beberapa saat lamanya Mia termenung, sampai sebuah tepukan pelan di bahu membuatnya menoleh ke belakang.
“Ricci?” sapa Mia ramah. “Kenapa kau kembali kemari?” pertanyaan yang spontan terlontar begitu saja dari Mia.
“Kudengar Adriano dan Sergei datang kemari,” jawab Coco sambil menarik satu kursi, lalu duduk di sebelah Mia.
“Mereka baru pulang,” jelas Mia pelan.
“Aku bertemu dengan mereka di gerbang depan,” ujar Coco pelan. Ia lalu terdiam untuk sejenak. "Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Mia?" tanyanya. Nada bicara Coco terdengar cukup serius.
"Tentang apa? Francy? Aku pikir kau sudah tahu banyak tentang dirinya, bahkan mungkin jauh lebih tahu dari diriku," sahut Mia tenang.
__ADS_1
"Bukan. Ini tentang dirimu dan D'angelo."